Tiga Bulan kemudian...
yang penasaran wajah Mala, dia hampir mirip dengan Artis bollywood prety zienta. Pembaca tinggal bayangin saja ya gimana cantiknya dia.
setelah tiga bulan berlalu, kesehatan Mala sudah membaik. dengan rutin meminum obat dari bidan Sri serta jamu buatan si mbok. ketelatenan si Mbok yang merawatnya, mempercepat kesehatan Mala. kini Ia sudah dapat beraktifitas dengan baik.
Mala berniat ingin berbelanja, untuk makan siangnya. kerena akang sayur tak kunjung juga lewat, Ia berniat untuk pergi kewarung milik pak RT Joko. beliau selain menjadi ketua RT, juga memiliki usaha warung sembako yang cukup besar. berjarak seratus meter dari rumah Mala.
pagi ini, Mala berdandan ala kadarnya, daster model circle atau kembang payung dengan panjang dibawah lutut, membentuk bodynya yang seperti alat musik biola, ditambah perutnya yang selalu datar. lalu Ia merias wajahnya dengan bedak tabur baby, lipstik warna pink nude, namun sudah membuatnya begitu memesona. rambutnya yang lurus sebahu ia biarkan tergerai begitu saja.
Roni suaminya sudah berangkat bekerja, Ia sudah membuatkannya sarapan dengan lauk telur ceplok. apapun yang dimasak Mala, Roni tidak pernah menolak, Ia begitu mencintai istrinya, meski tanpa anak sekalipun.
Mala berjalan melewati jalanan berbatu, semak belukar sekitar 20 meter yang terdapat didepan rumahnya, tampak begitu menyeramkan, apalagi saat suasana malam, menjadi sangat gelap karena tertutup pohon-pohon perdu dan pohon akasia dan tumbuhan lainnya. pemilik tanah itu ingin mendirikan rumah disitu, namun masih tersendat dana.
sepasang mata pria, memperhatikan Mala yang sedang berjalan ke arah warung, dari semak belukar. Ia menyeringai, Ia begitu terobsesi dengan Mala. ternyata, kecantikan seseorang tidak selamanya selalu membawa keberuntungan, tetapi dapat juga mendatangkan bahaya bagi sipemiliknya.
Mala telah sampai diwarung pak Joko, saat ini warung terlihat ramai, karena akang sayur sepertinya sedang cuti. maka ibu-ibu semuanya berbelanja kebutuhan diwarung ini.
"dik Mala, sudah sehat?" ucap mbak Ratna tulus, dengan senyum sarkasnya.
"Alhamdulillah sudah mbak." jawab Mala ramah.
"oh..syukurlah dik." ucap mbak Ratna dengan lembut.
mbak Rumi dan mbak Lisa menatap ke arah Mala, ada rasa iri melihat kecantikan Mala dihati mereka. mengapa Mala seberuntung itu, lahir dengan wajah rupawan, disebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. bahkan mereka sangat takut, jika suami mereka kepincut dengan Mala.
"mau belanja apa mbak Mala?" ucap pak Joko ramah dengan nada sedikit genit. saat itu sedang bertugas menjaga warung, karena istrinya sedang sibuk berberes didapur.
"giliran Mala, pak Joko ramahnya bukan main ya pak" sindir bu Dewi yang juga sedang berbelanja.
"ya bukan begitu toh, bu Dewi" kan Malanya baru datang, jadi saya sebagai penjual harus ramah kepada pelanggan." ucap pak Joko sembari tersenyum kepada bu Dewi.
namun tak dapat dipungkiri, hati Pak Joko juga mengakui, jika Mala memang memesona siapa saja yang melihatnya, ditambah lagi bodynya yang begitu molek, tentu membuat para pria berimajinasi yang indah-indah.
Mala mulai risih dengan sindiran para ibu-ibu. Ia mempercepat belanjanya. setelah selesai Ia melangkah pulang, dan mencoba tersenyum ramah kepada ibu-ibu yang sudah menyindirnya sinis.
"apa salahku? mengapa ibu-ibu sepertinya begitu sinis terhadapku?" ucap Mala berguman dalam hatinya.
sinar mentari pagi, bersinar amat terang. cahaya menerpa kulit putih mulus milik Mala. kulit itu tampak berkilau. kaki jenjang miliknya, begitu menambah keanggunannya saat berjalan. ditambah wajahnya yang kian bertambah cantik dengan terpaan sinar mentari yang membuatnya semakin kian berseri.
Mala membuka pintunya yang terkunci. Ia mulai memasak didapur. Ia menyiapkan menu oseng tempe plus tekokak, bening bayam jagung, serta goreng ayam kalasan kesukaannya. Ia membuat resep sesuai yang diajarkan si Mbok padanya.
hari ini, Roni suaminya pulang lebih cepat, sekitar pukul 5 sore. Mala sengaja mengasingkan menu tersebut untuk suaminya. setelah selesai memasak, Mala membereskan rumah dan dapurnya. lalu Ia bersantai diruang tengah untuk menonton televisi.
saat membaringkan tubuhnya dikursi tamu, Ia teringat keranjang sampahnya yang berada didapur sudah sarat muatan. tentu akan menimbulkan aroma tak sedap dan mengundang hewan menjijikkan, seperti tikus dan kecoa, jika sampah itu dibiarkannya begitu saja. maka Mala beranjak dari kursi tamu, berniat membuang sampah tersebut.
Mala membuka pintu dapur, menenteng keranjang sampah, berniat membuangnya dibawah pohon mangga dekat sumur belakang.
Mala membuang sampah tersebut, saat hendak berbalik melangkah kedapur, Ia melihat sesuatu di bawah pohon mangga, sebelah sisi saat Ia membuang sampah tadi. Mala yang penasaran memberanikan diri memeriksa sesuatu yang dilihatnya.
Mala mendekatinya, Ia terperangah saat melihat benda itu. sesuatu seperti sesaji dibawah pohon mangga, berada dalam nampan yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bundar. diatasnya tersaji seperti daging burung utuh yang dipanggang, jika diperhatikan seperti daging burung gagak, karena lengkap masih dengan paruhnya. ada kopi pahit hitam, bunga kenanga, bunga mawar merah dan putih, rokok, pisang dan sedikit bertih (padi yang dioseng menjadi mirip popcorn).
dinampan itu juga terdapat seperti kemenyan yang sudah terbakar bersama dupa. seperti tadi malam pembakarannya, karena tinggal debunya saja.
"siapa yang meletakkan sesaji ini disini? dan apa tujuannya?"ucap Mala lirih, Ia memperhatikan kesekeliling, untuk mencari petunjuk. namun semuanya terlihat lengang.
"aku akan memberitahu mas Roni, peristiwa ini saat Ia pulang kerja nanti" ucap Mala lirih. Ia bergidik melihat semuanya, apalagi daging gagak bakar tersebut, seolah-olah mata burung gagak yang sudah matang itu memperhatikannya.
Mala beranjak meninggalkan sesaji itu, masuk kedapur dan mengunci pintu dapur, dengan fikiran yang masih menerawang jauh.
sepasang mata pria yang sedari tadi memperhatikan Mala dari sebalik pohon jengkol yang berada tak jauh dari pohon mangga, merasa jakunnya naik turun. Ia seperti tak mampu menahan gejolak birahi yang setiap saat menggerogotinya jika membayangkan Mala. Ia seperti gila.
bagi pria itu, melihat Mala saja sudah membuatnya konak, bahkan Ia dapat melakukan o**ni sendiri. apalagi Ia pernah merasakan tubuh molek itu, Ia ingin mengulanginya lagi dan lagi. Ia menyusun siasat untuk melancarkan aksinya.
Mala berbaring dikursi tamu, Ia masih berfikir tentang sesaji itu. kira-kira siapa yang meletakkannya disitu. siapapu itu, pastilah memiliki niat yang tidak baik. Ia berharap Roni suaminya segera kembali bekerja, agar Ia dapat mengadukan prihal itu.
tanpa Mala sadari, seseorang sedang memperhatikannya, dari kaca jendela yang berada disamping rumah, mata itu terus memandangi kaki jenjang nan mulus milik Mala. namun Ia menahan keiinginannya karena ini siang hari. Ia takut kepergok warga.
****
sore itu Roni pulang bekerja, Mala menyambutnya antusias. Ia menyalim tangan suaminya. setelah suaminya berada di kursi tamu, Ia membuatkan kopi ginseng kesukaan suaminya, memberikan camilan roti cracers yang dibelinya di warung pak Joko saat berbelanja tadi. Mala menyajikannya dengan ikhlas dan penuh cinta.
Roni meneguk kopi buatan istrinya, lalu memakan beberapa keping cracers. Mala bergelayut manja disamping suaminya. lalu Roni membelai rambut Mala dengan penuh cinta kasih.
meskipun Roni hanya seorang buruh, namun kelembutan sikapnya serta kesetiaannya yang membuat Mala memilihnya menjadi pasangan hidupnya."kamu cantik sekali sayang hari ini" ucap Roni lembut.
sesaat Roni menginginkan sesuatu dari istrinya yang cantik. tanpa menunggu persetujuan Mala, Ia membopong tubuh mungil istrinya kedalam kamar. baginya Mala adalah candu yang tak pernah habisnya.
Roni menutup pintu kamar, membaringkan tubuh Mala diranjang dengan lembut. aroma tubuhnya yang berbau keringat saat bekerja membuat Mala bergairah. lalu mereka melakukan rutinitas suami istri.
setelah mencapai *******, Roni memeluk tubuh Mala yang tanpa sehelai benangpun. Ia mengecup lembut kepala istrinya dengan penuh cinta. "terimah kasih sayang, sudah menerimaku dengan segala kekurangannku." ucap Roni dengan lirih, ada penyesalan disana, karena Ia belum mampu memberikan kebahagiaan berupa harta berlimpah kepada istrinya, Mala.
Mala yang berada dalam pelukannya, tersenyum manis, lalu mengeratkan pelukannya. perlakuan Mala membuat Roni bangkit bergairah lagi. lalu mereka melanjutkan asmara mereka yang menggebu untuk kedua kalinya.
Mala kelelahan dibuat ulah suaminya sore ini. setelah selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, Mala beranjak dari ranjangnya, tanpa menggunakan apapun Ia berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri mandi junub. karena dirumah hanya Ia dan suaminya saja yang tinggal berdua, membuat Mala begitu sembrono.
Ia berjalan melenggang tanpa busana, meliukkan tubuh indahnya, membuat suaminya menggelengkan kepalanya. andai saja Ia tidak lelah karena menguras tenaga bekerja nafkah lahir dan bathin, mungkin Ia akan mengejar Mala kekamar mandi, namun Ia sudah kelelahan untuk dua ronde saja.
saat melintasi dapur, sepasang mata memperhatikan mala melalui jendela kaca yang menghadap ke pohon mangga, aksi gila Mala berjalan tanpa busana membuatnya kelimpungan, namun sekejap sirna, saat melihat Roni juga sudah berada didapur membuntuti Mala tanpa busana. pria pengintai itu menaruh kebencian, dengan wajah mememerah, menggeretakkan giginya, lalu berjalan menghilang dibalik semak.
****
setelah selesai mandi, Roni bersantai dikursi ruang tengah, diikuti Mala yang terus ingin bermanja dengannya. tiba-tiba Mala teringat sesuatu, Ia ingin menyampaikan penemuan sesaji yang dilihatnya siang tadi. Roni yang penasaran, beranjak bangkit dari kursi, dan ingin memeriksanya.
Roni berjalan kearah petunjuk yang diberikan istrinya, lalu diikuti oleh Mala dari belakang.
sesampainya mereka dibawah pohon mangga, mereka tak menemukan apapun. sesaji itu sudah tidak ada lagi. hilang tanpa bekas. "dimana sesaji itu dik?" ucap Roni penasaran.
"tadi ada disini bang. adik yakin sekali." jawab Mala, dengan nada kebingungan.
"kalau memang benar ada, kemana perginya? apa ada seseorang yang mengambilnya?" ucap Roni.
"tapi jika ada yang mengambilnya siapa ya bang?" ucap Mala tak kalah bingung.
"entahlah, yang pastinya Ia memiliki niat tidak baik" ucap Roni menimpali . lalu mereka beranjak dari tempat itu. tanpa mereka sadari, ada seputik bunga kenanga yang tertinggal, mungkin terjatuh saat sesorang membereskannya tadi, lalu putik bunga kenanga itu berbaur bersama tumpukan daun mangga kering.
saat melintasi sumur belakang, Roni melihat ada pipa saluran air yang pecah.
"sepertinya habis terkena pijakan kaki manusia dewasa, ini seperti kejadian tiga bulan yang lalu." ucap Roni berguman dalam hatinya.
"berarti ada seseorang yang sering melintas dari arah belakang, tanpa sepengetahuan mereka. tapi siapa?" ucap Roni penasaran.
"ada apa bang? koq bengong? ucap Mala yang sedari tadi memperhatikan suaminya berdiam didekat pipa saluran air.
"gak ada apa-apa, pipa airnya pecah lagi. tolong ambilkan abang karet bekas ban dalam motor dan gergaji ya, biar abang perbaiki." ucap Roni kepada Mala.
"iya bang, sahut Mala. bergegas masuk kedapur, mengambil peralatan yang diminta suaminya.
setelah mendapatkannya, Mala menyerahkannya kepada Roni, lalu Menyelesaikan memperbaiki pipa. hari beranjak petang, mereka masuk kedalam rumah, karena sayup-sayup terdengar suara lantunan adzan Maghrib yang berkumandang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
kimiatie
pasti reze pelakunya...tambah sikap mala yang terlalu careless lagi
2024-12-24
0
Bunda Silvia
si wanitanya juga ngga jaga aurat sama teledor udah lah mangsa empuk buat penjahat kelamin
2024-09-01
0
Mimik Pribadi
Inilah gunanya sumur didlm rmh mencegah hal2 seperti itu,,,,mengundang orng utk ngintip apalgi penghuninya seperti Mala
2023-11-08
1