suasana saat ini begitu lengang, karena warga berkumpul dirumah Dewi, acara kenduri untuk anaknya yang khitanan. Bahkan sebagian ibu-ibu juga ikut kerumah buk Dewi untuk membantu memasak dan sebagainya.
rumah Mala sedikit berjarak dengan rumah warga lainnya, didepan rumah Mala yang berhadapan dengan jalan, terdapat lahan kosong yang penuh semak belukar. jarak seratus meter baru menemukan rumah warga lainnya.
disamping kiri dan kanan rumah Mala, terdapat pohon-pohon besar, seperti pohon mangga, rambutan, jengkol dan lainnya. dibagian belakang rumah, terdapat kebun pisang milik warga, yang lahannya sepadan dengan tanah milik Mala.
[tok...tok...tok...] suara ketukan pintu, bersamaan dengan degup jantung Mala yang masih menderu karena kejadian yang baru saja menimpanya.
Mala tidak menyadari bahwa Ia masih mengenakan handuk. fikirannya kacau. mendengar suara ketukan pintu yang kedua kali, Mala tersadar. "Bang Roni?" Mala bergegas menuju pintu depan, dengan hanya menggunakan handuk, Ia membuka pintu dengann terburu-buru. lalu masuk seorang pria berbadan kekar, menggunakan penutup wajah seperti topeng.
pria itu mendesak masuk sebelum Mala sempat tersadar dengan apa yang terjadi. Pria itu dengan sigap mengunci pintu, lalu membekap mulut Mala yang masih mematung karena bingung.
pria itu menodongkan sebilah senjata tajam berbentuk bulan sabit, namun berukuran kecil, biasa mereka menyebutnya badik. badik itu dilingkarkan ke leher Mala, dengan isyarat agar Mala tidak melawan, jika ingin nyawanya selamat.
pria itu menggiring Mala kedalam kamar, handuk yang dipakai Mala melorot begitu saja didepan pintu kamar. mendapati korbannya tanpa busana, pria bejad itu semakin bersemangat menggiring tubuh Mala dalam kamar. Ia mengalihkan badiknya dari leher Mala, lalu mendorongnya hingga terjatuh keatas ranjang.
Mala terjatuh dalam posisi telungkup, dengan cekatan, Ia menyumpal mulut Mala, agar tidak berteriank. lalu kembali lagi menodongkan senjata badik itu. Mala yang berada dalam ancaman, diam mematung. air matanya mengalir, menangis sesenggukkan berharap akan ada orang yang datang menolongnya.
bukannya merasa kasihan melihat kondisi Mala, pria bejad itu semakin bringas menatap liar ke arah tubuh Mala tanpa sehelai benangpun.
jika saat mandi tadi Mala menggunakan underware berwarna merah tua, kali ini tanpa menggunakan apapun, sehingga tubuh moleknya begitu terexpose. tangannya mulai liar menggerayangi tubuh Mala.
tanpa menunggu lama, pria bejad itu menyalurkan hasrat birahinya, Ia menyetubuhi Mala dengan posisi telungkup, tanpa belas kasihan sedikitpun. Ia begitu terobsesi dengan kecantikan dan kemolekan Mala selama ini.
setelah menyelesaiakn aksinya, Ia memandangi Mala yang terus sesenggukan menangis. Ia menyeringai puas. seperti ada dendam yang selama ini dipendamnya. Ia meninggalkan Mala yang masih dalam keadaan lemah terbaring diatas ranjang.
pria itu menyelinap keluar melalui pintu depan, Ia memastikan tidak ada warga yang melihatnya. setelah itu Ia berjalan cepat, menghilang dikegelapan malam, lalu membuka topengnya dan menyimpannya disaku celananya.
Ia bejalan dengan santai dan bersiul, hatinya begitu syahdu, karena telah mampu menyalurkan hasrat terpendamnya selama ini, hasrat yang Ia pendam selama belasan tahun. bahkan Ia tak pernah menduga, bahwa Mala memiliki kemolekan tubuh yang sempurnah.
pria ini sepertinya memanfaatkan situasi dengan baik, kondisi sepi karena warga sedang berkumpul diacara kenduri, dan mengetahui bahwa beberapa malam ini suami Mala pulang malam, karena lembur bekerja. Pria bejad ini sudah lama mengintai keadaan Mala.
jika pria itu merasa puas dengan apa yang dilakukannya, namun sebaliknya. Mala merasakan luka hatinya yang teramat dalam. baru saja Ia syok denga kejadian makhluk astral yang menyeramkan, kini Ia harus menerima kenyataan bahwa Ia telah dinodai oleh manusia yang berakhlak bejad dan tak bermoral. bahkan Mala tidak mengenali siapa pria bejad itu.
pria itu berjalan menyusuri jalanan desa yang berbatu, menggunakan jaket hoodie nya, memakai sungkupnya agar tak dilihat orang lain.
bathin Mala teriris pilu, hatinya begitu sakit. namun bukan hanya saja nyeri dihatinya yang yerasa perih, rasa nyeri yang teramat sangat juga dirasakannya di area vaginanya, serta perutnya terasa keram. perlakuan kasar pria tersebut, membuatnya traumatik.
Mala teringat akan Roni, suaminya. Ia tidak ingin Roni tau akan apa yang baru saja menimpanya. Mala tidak ingin suaminya merasa jijik padanya. karena pernah disentuh pria lain, meskipun itu pemerkosaan.
Mala berusaha bangkit untuk membersihkan sisa sp*r*a yang menempel ditubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih, memegangi perutnya yang keram, rasa nyeri di area vaginanya, membuatnya menghentikan langkahnya sejenak. lalu memungut handuk yang terjatuh saat si Pria bejad menyekapnya tadi. lalu melilitkan ditubuhnya yang lemah.
dengan tertatih Ia menuju kamar mandi yang terletak didapur, menggapai pintu kamar mandi dan membukanya. Ia membersihkan menggunakan air dalam ember kecil yang dibawanya dari sumur belakang.
Ia merasakan nyeri diperutnya semakin menjadi dan teramat sakit. Mala mempercepatnya, menyabun dan membasuhnya dengan air. setelah selasai, Ia berjalan keluar kamar mandi.
rasa keram dan nyeri diperutnya, semakin lama semakin terasa sakit. keringat dingin bercucuran dari pori-porinya, kepalanya mendadak pusing, darah mengalir dari area vaginanya, merembes dengan cepat ke selangkangannya, dan menetesi lantai.
Mala berusaha sekuat tenaga mencapai ruang tengah,agar segera sampai di kamarnya. sayup-sayup Mala mendengar suara Roni suaminya, mengetuk pintu. dan tanpa Ia sadari lagi, pemandangannya tiba-tiba menjadi gelap, lalu ...[bruuuuuk...] suara Mala tersungkur dilantai, dengan wajah pucat pasi.
darah merembes dengan cepat, handuk yang digunakan Mala bersimbah darah, Mala tak sadarkan diri.
***
Mala mengerjapkan matanya, Ia melihat keselilingnya. Ia sudah berada diranjangnya, bahkan sudah bersalin pakaian. Ia melihat suaminya, Roni berada di sisinya, membelai rambutnya dengan penuh cinta kasih. lalu Mala melihat si Mbok, juga sudah berada disisi ranjang. bahkan bidan Sri juga sudah berada dikamarnya juga.
"Mala ingin bangkit, untuk duduk. namun dicegah oleh bidan Sri. "istirahat saja dulu Mbak, jangan banyak bergerak. Mbak Mala tadi pendarahan" ucap Bidan Sri menjelaskan.
Mala diam, dan menuruti perintah bidan Sri. rasa nyerinya kini mulai berkurang, karena bidan Sri menyuntikkan obat pereda nyeri. "ini obatnya diminum ya, mbak Mala. petunjuknya ada disetiap tabletnya. dan saya permisi pulang"ucap bidan Sri menjelaskan.
Mala mengangguk lemah. Ia kembali teringat peristiwa pemerkosaan barusan. tanpa Ia sadari Ia menitikkan air matanya. Roni, suaminya menyeka air mata yang mengalir dipipi istrinya.
"tadi waktu abang pulang kerja, abang panggil adik tidak ada sahutan. sepertinya adik lupa mengunci pintu, saat abang buka pintu, abang nemuin adik sudah tergeletak pingsan dilantai." ucap Roni menjelaskan sembari memeluk Mala.
Mala meratapi nasibnya, mengapa Ia begitu sangat malang. Ia tak mungkin menceritakannya kepada suaminya atau si Mbok sekalipun. baginya ini adalah aib yang harus Ia tutupi. Ia tidak ingin jika sampai masalah ini menyebar keseluruh warga. Ia tidak akan sanggup membayangkannya. mungkin sebagian akan bersimpati, tetapi bisa jadi sebaliknya. bahkan siapa yang akan mempercayainya? apalagi pria itu memakai penutup wajah.
"apa sebenarnya yang terjadi dik? mengapa adik sampai terjadi pendarahan?" ucap Roni, sembari membelai rambut istrinya.
"Mala tadi terjatuh dilantai kamar mandi bang, karena lantainya mungkin licin." ucap Mala berbohong. Ia sesenggukan. ucapannya begitu lirih, lalu ia menitikkan air matanya kembali.
Roni mengira bahwa Mala menangis karena pendarahannya. Roni merasa sedih tidak ada yang merawat istrinya pasca keguguran. sehingga kejadian seperti ini terjadi.
"maafin si Mbok, ya nduk. tadi Sebenarnya si Mbok mau kemari, tapi ada undangan dari keluarga bu Dewi untuk membantu acaranya." ucap si mbok merasa bersalah.
"tidak apa-apa Mbok." ucap Mala sembari menyeka air matanya. Ia menghela nafasnya. mencoba mengatur ritme detak jantungnya. Ia akan menyimpan masalah ini sendiri, dan akan mencari tau, siapa pria yang telah menorehkan noda ditubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
kimiatie
mala juga pelik...kenapa mandinya seksi sekali
2024-12-24
0
Bunda Silvia
heran sama keluarga mala si mbok lebih mentingin tetangga dari pada anak ,kan bisa minta maaf ngga bisa bantu Laggan sudah banyak orang yg bantu berhubung anaknya juga butuh di jaga
2024-09-01
0
Sugi Yanto
minta nambah gak tuh ?!!!!!!
2023-06-26
1