"Bagaimana bisa hal itu terjadi? Semua hal yang berhubungan dengan anggota keluarga kerajaan, entah itu makanan, pakaian, maupun produk kecantikan seharusnya melalui pemeriksaan terlebih dahulu!" berang Permaisuri.
Semua orang terdiam tak berani menjawab menjawab. Sampai akhirnya, Yunza angkat bicara. "Bedak itu, aku baru ingat kalau sepertinya aku juga mempunyainya. Kemarin, seorang wanita bernama Lan Mei memberikannya padaku."
"Lan Mei?"
"Benar, Yang Mulia."
Setelah berpikir panjang, permaisuri pun menurunkan perintah. "Penjaga, cari wanita bernama Lan Mei dan seret ke hadapanku!" ucap permaisuri sambil mengepalkan tangannya.
Yunza bersikap untuk setenang mungkin. Tetiba dia teringat obrolannya bersama Mi Anra tadi malam.
"Jika Nona sudah mengetahuinya, mengapa tidak menggagalkan rencana mereka saja?" tanya Mi Anra.
"Tidak semudah itu, Mi Anra. Sebenarnya semua ini bisa dibilang menguntungkanku, seperti pepatah 'menembak dua burung dengan satu batu'," jawab Yunza sambil menyisir rambutnya.
"Lalu, mengapa Nona meminta tuan pemilik toko untuk memberi kesaksian? Wanita itu akan mendapatkan hukumannya dan nona Shenshen mendapatkan karma atas perlakuannya. Bukankah itu sudah lebih baik?"
"Mi Anra, kau hanya tidak tahu seberapa kejam hukuman jika berani mencelakai anggota keluarga kerajaan. Mungkin hukuman mati tengah menanti. Aku pikir, sejak awal Lan Mei tidak ada niat untuk mencelakaiku jika bukan karena hasutan Shenshen," balas Yunza.
"Aku benci dengan kematian. Ada banyak kata yang belum terucap, ada maaf yang belum tersampaikan, dan ada orang-orang yang harus ditinggalkan. Itu sangat menyakitkan," batin Yunza.
Mi Anra merespon dengan helaan napas kasar. "Aku sungguh tidak mengerti, mengapa orang-orang itu sangat jahat padahal mereka memiliki paras yang cantik," ujarnya.
"Rupa hanya sebuah topeng yang nampak, sedangkan cantik yang sesungguhnya ada di dalam."
Lamunannya berakhir saat suara bising datang dari para penjaga yang menjemput paksa Lan Mei. Setibanya, dia langsung di dorong hingga bersujud di hadapan permaisuri.
"Dia yang bernama Lan Mei?" tanya permaisuri.
"Hamba tidak melakukannya! Ini fitnah, Yang Mulia!" sangkal Lan Mei.
"Oh? Jadi, menurutmu pengakuan permaisuri pangeran kedua yang bohong?" tanya permaisuri.
"Itu benar, Ibunda. Aku rasa, kakak ipar yang melakukannya. Dia tadi mengatakan kalau dia juga mempunyai bedak yang sama, lalu kenapa wajahnya masih baik-baik saja," ucap Shenshen sambil menatap Yunza.
Semua orang menjadi kebingungan, mereka tidak tahu mana yang benar dan siapa yang salah. Tuduhan terhadap Lan Mei pun tidak memiliki bukti yang kuat, sedangkan Shenshen terus memojokkan Yunza dengan tuduhan.
"Tuan Bei tidak datang tepat waktu, itu sebabnya aku menyuruh Mi Anra untuk menjemputnya. Namun, entah dia akan datang atau tidak," batin Yunza.
"Menantu, kenapa kau diam?" tanya permaisuri.
"Ijin menjawab, Yang Mulia. Aku mempunyai bedak yang sama, namun kenapa aku masih baik-baik saja bukan karena aku yang membuatnya. Aku tidak memakainya karena pelayanku tidak sengaja menjatuhkannya sebelum kupakai dan bedak itu hancur," jawab Yunza.
Shenshen terperangah kaget. "A-apa? Dia tidak memakainya?" batinnya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu memecah ketegangan. Mei An membuka pintu dan di sana berdirilah Mi Anra bersama Tuan Bei. Alangkah terkejutnya Lan Mei saat melihat pamannya di sana.
Matanya melotot sempurna, mulutnya menganga dengan keringat dingin bercucuran serta tubuh yang mulai gemetaran.
"Siapa?" tanya permaisuri sambil menyipitkan mata.
"Yang Mulia, beliau Tuan Bei, pemilik toko obat-obatan Bei Fanrong yang terletak di pasar ibu kota. Beliau juga merupakan ... paman jauh Lan Mei," jawab Yunza.
Lan Mei semakin ketakutan saat pamannya berjalan mendekati. Setelah tiba di hadapan permaisuri, dia pun berlutut seraya berkata, "apa yang dikatakan permaisuri pangeran kedua benar. Yang Mulia, tolong maafkan keponakan hamba. Dia hanya khilaf."
Permaisuri mengerutkan alisnya sambil menatap tajam ke bawah. "Khilaf katamu? Jelas-jelas apa yang diperbuatnya dilakukan dengan sengaja. Dia membuat beberapa kontestan gugur dengan cara yang menjijikan. Bukan hanya itu, dia juga berani mencelakai putriku!"
Tuan Bei diam-diam menatap Yunza dan dibalasnya dengan anggukan kepala.
"Untuk menebus perbuatannya, hamba akan membuatkan ramuan untuk menyembuhkan wajah tuan putri, dan akan mengganti semua kerugian."
Permaisuri terdiam sejenak. Apa yang terjadi benar-benar membuatnya terkejut. Entah apa yang harus dikatakannya di depan Kaisar nanti.
Rupanya ia tetap pada keputusannya untuk memberikan Lan Mei hukuman. "Penjaga, bawa dia ke penjara. Untuk hukuman yang akan didapatkannya, biar Kaisar yang putuskan!"
Beberapa penjaga memegangi Lan Mei dari kedua sisi kemudian mengangkatnya. Saat itu, Lan Mei melempar tatapan tajam ke arah Yunza. "Dia merusak rencanaku! Aku tidak akan membiarkannya menang!"
Lan Mei memberontak saat hendak dibawa pergi. Ditengah pemberontakannya dia memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya dan mengambil sesuatu.
Dikeluarkannya sebuah botol obat. Dia membukanya dengan tergesa kemudian menyiramkannya ke arah Yunza sambil berteriak. "Mati kau!"
Yunza terkejut sampai tak sempat menghindar. Beruntung saat itu, seseorang datang dan menghadang cairan itu dengan tangannya.
Seketika saat cairan itu menyentuh tangan pria itu, pakaian yang terkena cairan langsung meleleh, begitu juga dengan kulit tangan yang langsung melepuh.
Yunza menengadahkan kepalanya untuk melihat sosok itu. Betapa terkejutnya dia sampai tak bisa mengatakan apapun. "K-kak ... Han Xi ...."
Semua orang kembali terperajat kaget.
"Lancang! Penjaga! Seret wanita itu ke dalam penjara sekarang juga!" teriak permaisuri.
"Lepaskan aku! Dasar kau wanita bodoh! Kau merusak rencanaku! Lepaskan aku, biarkan aku memberinya pelajaran!" Lan Mei memberontak sambil terus mencemooh Yunza.
Yunza tak bisa menahan diri lagi. Dia melangkah cepat ke arah Lan Mei kemudian melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras. Suara yang ditimbulkan membuat semua orang yang mendengarnya diam membeku.
Namun ia rasa itu belum cukup untuk memberinya pelajaran. Kini ia mengepalkan tangannya dan dengan tatapan kesal siap memukul Lan Mei. Akan tetapi, Mei An menghampiri dan menahannya.
"Tenanglah, adik ipar," ucapnya menenangkan.
Yunza pun berhenti. Dia berdiri dengan napas terengah-engah, saat mendengar suara ringisan Han Xi dia pun segera menghampirinya.
"Kakak, kau baik-baik saja? Apa ini sakit?" tanyanya.
Han Xi yang tak ingin membuat kedua adiknya khawatir kemudian tersenyum dan berkata, "kakak baik-baik saja, kok. Ini tidak sakit," ujarnya sambil menahan rasa sakit.
Lan Mei pun dibawa pergi oleh beberapa penjaga. Tak lama setelah itu, Tuan Bei turut undur diri.
"Ini memalukan." Permaisuri angkat bicara. Ketika mereka menoleh, ia sudah berdiri dan berjalan menghampiri Han Xi.
"Aku harap pangeran Shen Han Xi dan Nona Shen Xiao Lu bisa memaafkan negara Hou atas kejadian memalukan hari ini. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas semua ini, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya." Ia membungkukkan badannya di hadapan mereka.
"Tolong jangan membuat kami malu dengan mengatakan hal itu, Permaisuri Nan Ziyang. Kejadian hari ini, tiada satupun yang bisa menduganya. Mohon angkat kepala Anda," ucap Xiao Lu.
Perasaan malu dan merasa bersalah masih menghantuinya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata pada Yunza, "menantu, bawalah pangeran ke kediamanmu. Tabib istana akan ikut untuk mengobati lukanya."
Yunza menganggukkan kepalanya. Kemudian bersama Xiao Lu membawa Han Xi pergi ke kediamannya.
"Shenshen, beristirahatlah." Setelah itu, permaisuri dan Mei An pun meninggalkan kamar Shenshen.
Kini Shenshen duduk seorang diri di kamar. Apa yang sudah terjadi benar-benar membuatnya kesal. "Kenapa dia selalu berada satu langkah di depanku? Kenapa? Apa dia seorang peramal yang mengetahui masa depan?" gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments