Sore harinya, di ruang baca Lin Jian.
Sejak tadi pagi dia disibukkan dengan beberapa dokumen penting. Satu lembar dokumen di tangannya adalah yang terakhir.
Setelah membacanya dengan sangat teliti, tangan Lin Jian perlahan meraih kuas di atas meja. Ia menyelupkannya ke dalam sebuah tinta kemudian langsung menulis di atas kertas tersebut.
Tiba-tiba, tak sengaja tangannya terkilir. Ia yang tengah memegang kuas tak sengaja meninggalkan coretan berbentuk setengah bulat.
Melihat hal itu dia sangat terkejut sampai membelakkan matanya. Bagaimana tidak, gambar tersebut sepertinya mirip dengan sesuatu. Lin Jian kemudian tersipu dengan wajah yang perlahan mulai memerah.
"Sial!"
Ia meletakkan kuas di tempatnya, satu dokumen terakhir pun ditaruhnya bersama beberapa tumpuk dokumen lainnya. Kemudian, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Wang Xi," serunya memanggil pelayannya.
Seperti sebuah sihir, Wang Xi pun muncul di hadapan Lin Jian dengan posisi membungkukkan badan. "Hamba di sini, Yang Mulia," tuturnya.
"Bagaimana penyelidikan terhadap Jenderal Thang Su?" tanyanya.
"Menurut orang yang Tuan kirim untuk menyelidiki Jenderal Thang Su, Jenderal Thang Su tidak melakukan pergerakan apapun setelah perang dengan negara Long. Namun informasi sebelum perang mengatakan, ada dalang lain dibalik itu," jawab Wang Xi.
"Dalang lain? Maksudmu, selain panglima Shin dan jenderal Thang Su, masih ada orang lain dibalik ini semua?"
"Kemungkinan besar, benar begitu, Yang Mulia. Mengenai orang ketiga itu, dia tak bisa menemukan informasi apapun mengenai identitasnya. Sepertinya dia bukan orang yang bisa diremehkan."
"Seharusnya, setidaknya dia mengetahui bagaimana bentuk orang itu. Ataupun ciri-cirinya. Seperti apa dia?"
Wang Xi terdiam sejenak. "Dia ... seorang pria bertubuh tinggi, berpakaian serba hitam dengan tudung hitam di kepalanya. Hanya itu yang diinformasikannya," jawabnya.
"Bahkan nama pun tidak tahu?"
"Tidak, Yang Mulia."
Lin Jian mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada Wang Xi untuk pergi dari hadapannya. Sebelum itu, Wang Xi mengatakan sesuatu pada Lin Jian.
"Hamba mendapatkan kabar, bahwa pangeran Lin Zhong, pangeran Lin Xian, dan pangeran Zhou Yu dari negara Bei Xinxia akan tiba sore ini di Istana."
"Ya, aku sudah tahu. Kau boleh pergi sekarang!" Wang Xi secepat kilat menghilang dari pandangan Lin Jian.
Saat yang bersamaan, di toko Bei Fanrong.
Yunza duduk di kursi dengan menyilangkan kaki. Di sampingnya berdiri Gu Rong sedangkan di depannya duduk Tuan Bei, pemiliki toko Bei Fanrong.
"Aku pikir siapa yang datang bertamu sore-sore begini, ternyata Nona Shen Yun Ja dari negara Long. Atau, apa aku lebih baik memanggilmu permaisuri pangeran kedua?" tanyanya sambil menaruh tangan di dagu.
Pria tua dengan jenggot tebal itu jelas tengah merendahkan Yunza secara tidak langsung. Namun Yunza membalasnya dengan senyuman.
"Sebelumnya, aku sungguh ingin berterima kasih karena Tuan Bei sudah mau menjamuku. Adapun tujuan dari kedatanganku, aku hanya ingin menanyakan sesuatu saja," jawab Yunza.
"Oh, apa itu?" tanya tuan Bei.
Tangan Yunza meraih telinga cangkir berisi teh hangat, namun sebelum menyeruputnya dia bertanya, "apa Tuan Bei mengenal seorang wanita bernama Lan Mei? Dia merupakan salah satu kontestan pemilihan selir. Kemarin malam aku tidak sengaja melihatnya pergi ke tempat ini. Jadi, apa yang dia lakukan di sini?" Lalu menyeruput teh.
Tuan Bei terkejut dengan pertanyaan yang Yunza lontarkan. Kepanikan terlihat di wajahnya.
Dan dia berkata, "aku tidak kenal. La-lagian banyak orang yang datang ke tokoku ini, mana bisa aku menghapalnya satu persatu." Ia menjawab sambil terbata-bata.
Tak!
Yunza meletakkan cangkir ke atas tatakan dengan kasar hingga menimbulkan suara keras. Bahkan teh hangat yang ada di dalam cangkir pun bertumpahan ke sana ke mari dan mengenai tangan Yunza.
Gu Rong mengambil sebuah sapu tangan dan memberikannya pada Yunza. Dia membersihkan tangannya dengan wajah dingin membuat Tuan Bei bergidik ngeri.
"Aku sangat kecewa mendengarnya. Tuan Bei, bagaimana bisa kau mengatakan tidak kenal dengan keponakanmu sendiri? Aku rasa jika dia mengetahuinya dia pasti akan bersedih," ujar Yunza.
Tuan Bei diam membeku, dia tak bisa mengelak lagi. "Apa ... apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyanya.
Yunza tersenyum lalu menengadahkan tangannya ke hadapan Gu Rong. Gu Rong kemudian meletakkan kantong berisi uang koin yang banyak.
"Tidak sulit. Aku ingin Anda datang ke istana dan memberitahukan ulah keponakanmu. Sebagai gantinya, aku berikan uang ini untukmu." Yunza meletakkan kantong itu di atas meja.
"Coba Anda bayangkan, dengan uang sebanyak ini berapa banyak ramuan langka yang bisa Anda beli. Anda bahkan bisa membuka cabang toko jika Anda mau---"
"Jangan becanda! Kau pikir aku tertarik? Aku tidak akan mengorbankan keponakanku demi uang!" berangnya.
Yunza menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dengar, Tuan Bei. Kejahatan yang akan keponakanmu lakukan benar-benar tidak bisa dimaafkan. Jika Kaisar sampai mengetahuinya, dia pasti akan di hukum bahkan hukum mati."
Mendengar hal itu tuan Bei terperangah kaget.
"Jika kau bersedia datang dan memberi kesaksian, saat keponakanmu di hukum, aku janji akan membebaskannya. Atau setidaknya membuat dia menerima hukuman ringan," sambungnya.
"Tapi jika tidak. Tidak hanya dia akan di hukum mati, namun aku bisa memastikan bahwa jika Kaisar tahu keterlibatan tokomu, Ia akan menutup usahamu bahkan mengasingkanmu ke perbatasan."
Tuan Bei gemetar ketakutan dengan kedua mata melotot. Ia membeku setelah mendengar ancaman Yunza.
Gu Rong melirik Yunza. "Apa dia sungguhan Nona Shen Yun Ja? Entah mengapa, aku merasa bahwa yang ada di hadapanku ini orang yang berbeda," batinnya.
Tak lama Yunza berdiri. Dia mengambil kembali kantong berisi koin uang dan berjalan pergi. "Sepertinya Tuan Bei tidak tertarik dengan tawaranku. Mari kembali ke kediaman, Gu Rong," ajaknya.
"Tunggu!" Tak butuh waktu lama, Tuan Bei masuk ke dalam perangkap Yunza. Senyum penuh kepuasan terukir di sudut bibir berwarna merah ceri tersebut.
"Apa kau bisa menjaminnya? Keponakanku dan toko ini akan baik-baik saja, kan?" tanyanya.
"Tentu saja! Aku menjaminnya dengan nama Shen-ku!" kata Yunza.
Tuan Bei terdiam. Dia berusaha mengambil keputusan diantara rasa ragu dan takutnya. Sampai akhirnya dia berkata, "baiklah, aku setuju. Tapi kau harus menepati janjimu!"
Yunza menganggukkan kepalanya. "Kau bisa mempercayaiku," ucapnya sambil melempar kantong berisi uang koin. "Kalau begitu, pembicaraan kita sampai disini saja. Gu Rong, ayo kembali," ajaknya.
Yunza dan Gu Rong pun meninggalkan tempat itu tanpa sia-sia. Dalam perjalanan pulang ke kediaman, raut wajah senang tak bisa Yunza sembunyikan.
"Aaah~ tidak sabar ingin segera melihat pertunjukan menarik," batinnya.
"Nona?" seru Gu Rong.
Yunza menoleh dan Gu Rong bertanya, "padahal Nona sudah membuatnya menyetujui permintaan Nona, mengapa Nona masih memberikan uang itu?"
"Itu ... sebenarnya hanya untuk membuatnya yakin dengan ucapanku. Dengan begitu, dia akan datang. Aku sangat ingin membuat seseorang jera di sana," jawabnya.
"Benar juga, ya, padahal aku mendapatkan uang itu dengan susah payah." Jiwanya menangis tersedu-sedu.
"Oh iya, Gu Rong. Bisa tolong belikan bahan masakan untuk membuat sup jamur kesukaan kakak Han Xi? Aku ingin menjamunya saat dia tiba di sini," ucapnya.
Gu Rong terkejut bukan main mendengar penuturan Yunza. "Dari mana Anda mengetahui bahwa pangeran kedua akan berkunjung ke sini?" tanyanya.
Akibatnya, dia jadi salah tingkah dan menjawabnya dengan asal-asalan. "Aku ... aku tahu dari mimpi, semalam. Kakak datang dan ... dan memberitahuku bahwa dia akan datang berkunjung. Yah~ aku pikir itu bukan sebuah kebetulan," jawabnya.
Gu Rong menghela napas panjang. "Baiklah, hamba akan beli bahannya di pasar," ujar Gu Rong.
"Terima kasih, Gu Rong. Kalau begitu kau sudah boleh pergi."
Seperginya Gu Rong, Yunza pun tiba di benteng. Dia berjongkok di depan lubang anjing kemudian mulai memasukinya.
Saat berhasil masuk, sosok Mi Anra yang tiba-tiba sudah berdiri di sana membuat Yunza terkejut. "Nona habis dari mana? Kenapa tidak mengajakku?" tanyanya
Yunza berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor. "Hanya jalan-jalan sebentar. Oh ya, Mi Anra. Apa kau tahu? Tadi aku bertemu dengan penjaga itu, lho!" Yunza menggoda Mi Anra untuk mengalihkan perhatian.
"Ck! Apa, sih, Nona. Aku tidak tertarik, ya," jawabnya.
"Benarkah? Tapi, aku pikir dia tampan juga."
"Sudah cukup, jangan menggodaku seperti itu lagi. Nona cepatlah ikut denganku, ada tamu yang sudah menunggu Nona sejak tadi."
Mereka pun tiba di kamar Yunza. Namun, tamu yang dikatakan Mi Anra ternyata sudah tidak ada di sana. "Kemana dia pergi? Tadi katanya ingin bertemu dengan Nona-ku," ujar Mi Anra.
Yunza menanggapinya dengan senyuman. Kemudian dia menoleh ke arah meja rias. Sebuah bedak terletak cukup berantakan, tidak seperti biasanya. Mangkoknya memiliki corak yang sama, namun Yunza yakin bahwa itu bukanlah miliknya.
"Seorang calon selir berani melakukan ini pada permaisuri? Benar-benar bodoh!" batin Yunza.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments