Mi Anra dikeroyok dua wanita tersebut. Yang satu menendang dengan kaki, yang satunya memukul dengan rotan. Sementara Mi Anra meringkuk dengan pasrah sambil menangis.
"Adik, maafkan aku."
Melihat kejadian itu membuat Yunza merasa sangat kesal. Namun ia sadar, dia tidak akan bisa membantu Mi Anra melawan kedua wanita itu.
Di sana, Yunza melihat seekor anjing sedang tidur tak jauh dari keributan terjadi. Dia kemudian mengambil batu kerikil dan mengambil ancang-ancang untuk melemparkannya tepat sasaran.
"Satu ... dua ... tiga! Bangun kau anjing pemalas!" Dileparkanlah kerikil tersebut.
Percobaan pertama tak membuahkan hasil, kerikil yang dilemparnya entah pergi ke mana. Tapi Yunza tak menyerah, dia kembali mengambil batu kerikil dan melemparkannya kembali.
Kali ini berhasil. Batu yang dilemparnya mendarat tepat di kepala anjing dan membuatnya bangun seketika. Sepasang tatapan mata anjing langsung tertuju pada keributan para wanita itu. Dia menggonggong sangat keras membuat mereka terkejut.
"Apa-apaan anjing jelek itu!" sungut salah satu wanita yang mengeroyok Mi Anra.
Dia yang merasa risih dengan suara geraman anjing jelek itu lantas melemparkan rotan di tangannya sambil berkata, "pergi sana, dasar anjing jelek!"
Hal itu memicu kemarahan hewan buas berbulu hitam tersebut. Tak lama setelah itu, anjing tersebut berlari ke arah mereka sambil menggonggong dan menunjukkan rentetan gigi tajamnya.
"Hey, dia berlari ke sini!" Ia mulai ketakutan.
"Bodoh! Cepat masuk!" ajak satunya.
Namun, pintu belakang restoran tempat mereka keluar tadi ternyata dikunci oleh si pria tadi. Mereka pun menjadi gelagapan saat harus berhadapan dengan binatang buas tersebut.
Si perempuan yang melempar rotan tadi gemetar ketakutan, dia bahkan terkencing-kencing di sana. "Aku tidak mau menjadi santapan binatang kelaparan itu," ucapnya.
Perempuan satunya mencengkal tangannya lalu menariknya pergi. "Tidak akan, biarkan binatang itu menggigit si Mi Anra jelek itu! Cepat lari!" Mereka pun lari tunggang langgang.
Sementara itu, Mi Anra beranjak sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Aku harus pergi dari sini. Jika sampai digigit anjing penyakitan itu, aku juga mungkin ...." Ia tak menyelesaikan ucapannya.
Ia berdiri dan melangkahkan kakinya. Meski perlahan, dia mulai berlari menjauh dari kejaran anjing tersebut. Semakin lama semakin cepat, Mi Anra akhirnya bisa menyusul kedua perempuan itu.
Mereka berlari tak tentu arah, menyusuri gang-gang sempit dan kumuh. Di tengah perjalanan, sebuah tangan tiba-tiba muncul dan menarik Mi Anra dari sebuah gang gelap. Hal itu membuatnya terbebas dari kejaran anjing kelaparan tersebut.
Bruk!
Tubuhnya terasa lemas dan ambruk ke tanah dengan napas terengah-engah. Saat itu seseorang memberikan sebotol air padanya sambil bertanya, "apa kau baik-baik saja?"
Mi Anra lantas menengadahkan kepalanya. Di hadapannya berdiri wanita yang sangat cantik, membuat ia yang jelek merasa minder. "Terima kasih, Anda sudah membantuku," ucap Mi Anra sambil menunduk.
"Tidak masalah. Aku ingin meminta maaf karena sebenarnya aku yang membuat anjing itu mengejar kalian," tutur Yunza sambil tertawa sungkan.
"Kalau begitu, Anda sudah menyelamatkanku dua kali." Mi Anra kembali berdiri setelah meneguk habis sebotol air dengan satu tegukkan.
Di hadapan Yunza dia kemudian membungkukkan badannya. "Siapapun Anda, terima kasih sudah menolongku. Lain kali aku akan mencari Anda untuk membalas budi ini," ucapnya.
"Tidak perlu 'lain kali'. Mi Anra, bagaimana kalau mulai saat ini, kau menjadi pelayan pribadiku?" tawar Yunza.
Mi Anra menatap Yunza dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Pelayan pribadi? Berarti dia bukan orang biasa. Menjadi seorang pelayan ada baiknya, selain bisa hidup enak, juga bisa mendapatkan upah besar. Tapi jika aku menerimanya, itu berarti aku harus tinggal di tempatnya dan tidak bisa merawat adik," batin Mi Anra.
"Dia merasa ragu?" batin Yunza.
Yunza menyandarkan tubuhnya ke dinding lalu menyilang kedua tangannya di depan dada. "Aku dengar, adikmu sedang sakit parah dan kau butuh uang untuk berobat. Aku bisa membantumu untuk itu," ucapnya.
Suasana terhening. Yunza menunggu jawaban Mi Anra. Namun apa yang Mi Anra katakan justru mengejutkan Yunza.
"Aku menghargai kebaikan Anda, tapi sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa. Aku pamit pergi, sampai jumpa!" Mi Anra pergi begitu saja meninggalkan Yunza.
Yunza merasa putus asa, dia membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. "Padahal dalam cerita dia langsung setuju, kenapa sekarang seperti ini?" gumamnya terheran.
Tak lama dia menegakkan kembali tubuhnya, lalu menaruh tangannya di dagu. "Apa aku cari orang lain saja untuk kujadikan pelayan, ya? Aku juga tidak harus mengikuti alur ceritanya, bukan?"
Beberapa saat kemudian. Di sebuah rumah kecil nan kumuh, Mi Anra berdiri mematung di depan pintu rumah yang sudah keropos tersebut. Tak lama, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan kemudian menangis.
"Ibu, aku tidak berguna. Aku tidak bisa menyelamatkan adik." Dia menangis tersedu-sedu. Perlahan menurunkan tubuhnya dan berjongkok, ia benar-benar merasa putus asa dengan keadaan yang menimpanya itu.
Ia bahkan tak berani masuk dan menemui adiknya yang sakit di dalam sana. Tiba-tiba teringat percakapannya dengan Yunza di gang. Dalam lubuk hatinya Mi Anra ingin menerima pekerjaan itu, namun di sisi lain dia benar-benar tidak bisa meninggalkan adiknya seorang diri.
Bugh!
Dari dalam terdengar suara sesuatu terjatuh. Mi Anra mengkhawatirkan adiknya kemudian langsung bergegas masuk. Di sana, dia sangat terkejut saat melihat adiknya terbaring di tanah sambil batuk tak henti-henti.
"Su Li!" Dia menghampirinya.
"Su Li, kau akan baik-baik saja. Kakak sudah di sini. Su Li---" Mi Anra diam membeku setelah melihat adanya darah di tanah. Mulut Su Li terus mengeluarkan darah sambil terbatuk-batuk.
Dia kemudian menggendong Su Li dan membaringkannya di ranjang usang.
"K-ka ... kak. Aku ... ingin bertemu ibu---"
"Tidak Su Li, jangan katakan itu! Su Li akan sembuh! Kakak janji akan cari uang untuk bawa Su Li ke tabib."
Akan tetapi, Su Li tak menjawab ataupun mengatakan apapun lagi. Hal itu membuat Mi Anra takut. "Tuhan, jangan renggut Su Li dariku, aku hanya memiliki dia di dunia ini." Ia memohon sambil menangis.
"Aku bisa membantumu." Perkataan Yunza kembali melintas di kepala Mi Anra. Dia pun mengambil keputusannya.
Dia memegang kedua tangan Su Li dan berkata, "tunggu kakak kembali, ya. Kakak akan bawa Su Li ke tabib. Tunggu sebentar saja, jangan tinggalkan kakak, ya. Su Li harus janji, bertahan sedikit lagi."
Setelah mencium tangan Su Li, Mi Anra pun bergegas pergi untuk mencari Yunza. "Satu-satunya orang yang bisa membantuku, wanita itu," batinnya.
Sementara itu, di pasar.
Yunza duduk di sebuah kedai teh. Setelah tegukkan terakhir habis, dia pun meletakkan beberapa koin sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
"Kemana lagi harus mencari seseorang untuk dijadikan pelayan? Rata-rata yang menjadi budak di sini adalah seorang pria. Huh~"
Tiba-tiba seseorang mencekal tangan Yunza, membuatnya terkejut dan membalikkan badan seketika. Namun yang dilihatnya di sana ternyata Mi Anra.
"Mi Anra, ada apa?" tanya Yunza.
Mi Anra membungkukkan badannya. "Aku mohon, bantu aku. Adikku mungkin ...." Ia tak kuasa menahan tangis lagi di hadapan Yunza.
Yunza menyentuh pundak Mi Anra dan membantu mengangkat tubuhnya. "Tenanglah, Mi Anra. Semua akan baik-baik saja, percaya padaku," ucapnya.
Mi Anra menganggukkan kepalanya lalu berhenti menangis. "Bisakah kau ikut denganku?" ajaknya.
Yunza menganggukkan kepalanya. Setelah itu Mi Anra memandu Yunza menuju ke rumahnya yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Saat itu, firasat buruk menyelimuti perasaan Yunza.
"Perasaan apa ini?" batinnya.
Tak lama, tibalah mereka di dekat rumah Mi Anra. Seketika Mi Anra menghentikan langkah kakinya saat melihat beberapa orang memenuhi rumahnya. Dia kembali diam membeku, matanya melotot dan mulut gemetaran.
Lalu, seorang nenek tua menghampiri Mi Anra. Dia menunjukan raut wajah sedih. Setibanya di depan Mi Anra, dia langsung memeluknya.
"Mi Anra, kau harus kuat. Semua pasti akan kembali kepada Tuhan."
Sekujur tubuh Mi Anra lemas dan dia jatuh ke tanah. "Tidak mungkin! Su Li ... tidak! Jangan tinggalkan kakak!" Dia langsung berdiri dan berlari masuk.
Melihat tubuh Su Li yang sudah terbujur kaku benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dia mendekat dan memeluk tubuh Su Li.
"Tidak Su Li, jangan tinggalkan kakak! Su Li janji akan menunggu kakak, bukan? Kakak akan bawa Su Li ke tabib. Bangunlah! Jangan pergi menemui ibu dulu! Jangan tinggalkan kakak sendiri!" Ia benar-benar merasa kehilangan.
"Aaarrghhhh! Ibu kenapa kau mengambil Su Li dariku!"
Yunza diam mematung, dia merasakan sakit yang teramat sangat saat melihatnya. Mungkin, ayah dan ibunya juga merasakan hal yang sama saat kehilangan dirinya, begitu pikirnya.
Namun terlepas dari semua ini, Yunza-lah yang berhak disalahkan. "Jika aku berhasil meyakinkan Mi Anra saat itu, hal ini pasti tidak akan terjadi. Jika aku tidak merubah alur cerita, adik Su Li ... mungkin tidak akan mati. Ini salahku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Kembar Oppo
lanjut Thor
2022-07-18
2