Pria Di Kursi Roda

Siang hari. Yunza duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya. Sejak pagi dia terus saja menggerutu. "Bisa-bisanya dia tidur di ranjangku! Bahkan berani melecehkanku!" gerutunya sambil mencengkram erat sisir.

"Tapi, bukankah aku yang melecehkannya?" pikirnya. "Sssh! Pokoknya dia yang salah. Siapa suruh tidur di kamarku!" sambungnya membela diri.

Tak lama dia menoleh, mencari-cari sesuatu. "Dimana Mi Anra. Biasanya sudah datang," ucapnya.

Selesai menyisir dan berdandan, dia pun beranjak dari tempat duduknya. Perut yang terus keroncongan mengharuskannya pergi mencari makan. Namun beruntung, Yunza sudah sembuh dari demam.

"Pertama, cari Mi Anra dulu, deh," gumamnya.

Yunza keluar dari kamarnya. Di sana, dia malah bengong karena tidak tahu mana jalan untuk pergi ke kamar pelayan. Ia pun memilih jalan yang mengarah ke arah timur.

Dia menyusuri jalanan yang malam membawanya ke sebuah taman bunga. Bunga-bunga yang bermekaran membuat Yunza merasa terpukau. "Indah sekali."

Dedaunan hijau mendominasi tempat itu. Pohon-pohon tumbuh subur dan berdaun lebat meneduhkan. Di sebelah kiri ada sebuah jembatan kayu yang mana dibawahnya terdapat kolam ikan.

Ia melihat, tak seorang pun berada di tempat itu. Dia pun mengubah langkahnya dan berjalan ke arah jembatan untuk menikmati kedamaian tersebut.

"Haaah~ entah sudah berapa lama aku tidak healing. Jika masih hidup di duniaku, mungkin pergi ke pantai atau mendaki gunung akan sangat menyenangkan," gumamnya.

Yunza menyandarkan tubuhnya ke pinggiran jembatan seraya memejamkan mata dan menghirup udara segar. Ia merasa begitu puas sampai tak ingin pergi dari tempat itu.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, tetiba terdengar suara sesuatu terjatuh. Yunza membuka matanya dan melihat ke arah tersebut.

Ada seseorang di dekat kolam. Seorang pria tak sengaja terjatuh dari kursi roda saat hendak memberi makan ikan. Melihat hal itu, Yunza pun bergegas menghampiri untuk membantunya.

"Tuan, kau baik-baik saja?" tanyanya setibanya.

Yunza membantunya duduk ke kursi roda dengan susah payah. "Syukurlah, untung tidak jatuh ke kolam," ucap Yunza.

Pria itu tersenyum dan menoleh, kemudian ia berkata, "terima kasih. Nona sudah membantuku." Dia begitu tampan dengan mata sipit dan hidung mancung. Rambutnya digerai begitu saja.

"Ya. Tuan, lain kali sebaiknya ditemani seseorang jika hendak pergi kemana-mana," ucap Yunza.

Dia menganggukkan kepalanya. "Aku pikir, mereka mengatakan yang tidak benar. Ternyata ... Nona Yun Ja dari negara Long memiliki hati yang baik," pujinya.

Alih-alih senang, Yunza malah bingung. "Anda mengenalku?" tanyanya.

Dia tertawa geli dengan mata terpejam. "Mana mungkin aku tidak mengenal adik iparku. Namun wajar jika kau tidak mengenalku, karena setiap hari aku hanya bisa duduk di kursi roda," ucapnya.

"Namaku Lin Yu, kakak pertama Lin Jian. Nona, senang bertemu denganmu," lanjut Lin Yu.

"Lin ... Yu?"

Yunza bengong, mencoba mengingat nama tersebut. Alhasil, dia gagal mengenali pria itu dari apa yang sudah dibacanya dari buku.

Tak lama, datang dua orang pelayan wanita. Dia mendekat sambil tergesa-gesa dan dengan raut wajah khawatir. "Yang Mulia, syukurlah Anda baik-baik saja. Kami sudah mencari kemana-mana tadi," ucap salah satu pelayan.

Lin Yu tersenyum. "Aku hanya melihat-lihat ikan saja tadi. Baiklah, antar aku ke kamarku," perintahnya. Kedua pelayannya menganggukkan kepala, lalu berjalan ke belakang kursi roda dan mulai mendorongnya perlahan.

"Kalau begitu, Nona Yunza, aku pamit dulu." Dia pun pergi.

Yunza terdiam membeku. "Lin Yu, siapa Lin Yu? Apa aku melewatkan sesuatu? Ataukah, alurnya berubah? Lin Yu ... Lin Yu ...." Yunza meninggalkan tempat itu sembari terus bergumam dan melamun.

Sementara itu. Tak jauh dari tempat itu berdiri Lin Jian dan Wang Xi. Mereka tak sengaja menyaksikan kejadian tersebut. "Wanita gatal! Malam tidur dengan siapa, siangnya menggoda siapa!" gerutu Lin Jian.

Wang Xi diam-diam tersenyum. "Pangeran kedua cemburu," batinnya. Setelah itu mereka pun pergi.

Lin Jian dan Wang Xi pergi ke sebuah tempat terpencil. Di sana, beberapa orang sudah menunggu kedatangannya. "Yang Mulia pangeran kedua, orang itu ada di dalam," ucap seorang penjaga yang menjaga tempat tersebut.

Dia mengisyaratkan mereka untuk menjaga pintu, sementara ia masuk ke dalam. Dia berjalan perlahan sambil menyilang tangannya ke belakang.

Di dalam tempat gelap dan pengap itu, berdiri seorang pria yang kedua kaki dan tangannya di rantai pada sebuah tiang besar. Dari kepalanya mengucur darah.

Mendengar langkah kaki Lin Jian, pria itu menengadah dan membuka mata. "Yang Mulia," ucapnya.

"Oh, kau masih menganggapku demikian setelah kau menghianatiku, panglima Shin," tutur Lin Jian.

"Itu tidak benar, Yang Mulia. Aku difitnah! Yang berkhianat adalah panglima Ming. Karena ... karena dia bekerja untuk Jenderal Thang!" tampiknya.

"Jenderal Thang?" Lin Jian menyipitkan mata.

"Benar. Aku memergoki panglima Ming bekerja untuk Jenderal Thang, dan mereka menjadikanku kambing hitam atas semua yang terjadi, atas semua penghianatan ini! Percayalah padaku, Yang Mulia!"

Lin Jian tak mengatakan apapun lagi. Dia malah membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan pergi. Namun, panglima Shin menghentikannya.

"Aku mohon. Setidaknya, lepaskan anak dan istriku," pintanya.

Lin Jian melirik salah satu pojok ruangan tersebut. Seorang wanita dan anak laki-laki meringkuk sambil menangis karena ketakutan.

"Tolong lepaskan mereka, Yang Mulia. Mereka tidak bersalah!" pinta panglima Shin lagi.

Dengan dingin dan angkuh Lin Jian mengabaikan mereka. Dia terus melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu diatas teriakan-teriakan permohonan panglima Shin.

Sesampainya di luar dia berkata, "beri makan wanita dan anak laki-laki itu. Namun sebelum semuanya terbongkar, jangan lepaskan mereka! Aku ingin menggunakan mereka menjadi umpan dan menangkap penghianat sesungguhnya." Dia pun pergi bersama Wang Xi.

Tok! Tok! Tok!

Yunza mengetuk pintu kamar para pelayan, dan langsung membukanya kemudian melangkah masuk. "Mi Anra, kau di dalam?" tanyanya sambil celingukan.

"Aku di sini, Nona." Suara Mi Anra didengarnya.

Yunza menghampiri sebuah ranjang tidur dan mendapati Mi Anra sedang meringkuk. "Mi Anra, apa kau sedang sakit?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjang tidur.

"Ya, aku terkena karma---maksudku, aku salah makan kemarin," jawab Mi Anra.

"Tunggulah sebentar, aku akan memanggil tabib untukmu." Yunza beranjak namun Mi Anra menghentikannya.

"Aku sudah pergi ke tabib dan sudah mendapatkan obat. Mungkin sekarang hanya perlu beristirahat saja. Apa Nona perlu sesuatu?" Mi Anra bangun dan duduk di dekat Yunza.

Raut wajah lemahnya membuat Yunza khawatir. "Beneran sudah pergi ke tabib?" tanyanya ingin menyakinkan. Mi Anra membalasnya dengan anggukkan kepala saja.

Yunza menghela napas kasar. "Mi Anra, apa kau tahu? Semalam, ada seorang pria yang melecehkanku. Aku kesal sekali! Bukannya meminta maaf, dia malah menuduhku yang sembarangan. Menyebalkan sekali, kan!" gerutu Yunza.

Mi Anra senyum terpaksa. Ia tak berani mengakui perbuatannya. "N-nona jangan salah paham dulu. Sebenarnya malam itu demam Nona tak kunjung turun, aku berusaha mencari tabib namun tak ada satu pun yang datang. Jadi, aku yang memanggil pangeran kedua datang."

Yunza melongo mendengar pengakuan Mi Anra. "Jadi, kau juga yang menyuruh dia tidur di kamarku?" tuduh Yunza sambil melempar tatapan sinis padanya.

"Ahaha ... A-aku? tidak mungkin. H-hanya saja malam itu aku terkena diare, jadi, tidak bisa menemani Nona. Sedangkan tabib mengatakan bahwa Nona harus ditemani seseorang. Jadi ... begitulah," jawab Mi Anra.

"Adegan kemarin seharusnya tidak ada di dalam cerita, kan. Mengapa bisa jadi seperti ini? Padahal aku hanya mengubah sedikit alurnya. Apa mungkin akhir cerita ini juga akan berubah?" Yunza melamun.

"Nona?" Mi Anra menepuk pundak Yunza.

"Nona masih sakit, aku akan mengantar Anda ke kamar." Dia hendak menurunkan kakinya namun dihalangi oleh Yunza.

"Tidak perlu. Dengar, istirahatlah baik-baik. Jangan pikirkan aku dulu. Jika terjadi sesuatu segera beritahu, oke."

Mi Anra menganggukkan kepalanya. Keduanya terdiam sejenak, tak lama Mi Anra memulai pembicaraan lagi. "Apa yang akan Nona lakukan ... di pemilihan selir yang akan berlangsung tak lama lagi?"

Keduanya kemudian saling menatap penuh arti.

Terpopuler

Comments

Isabel Hartono

Isabel Hartono

lanjut

2022-07-22

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Kegelisahan Han Xi
3 Saat Xiao Lu Kecil
4 Lin Jian Menyebalkan
5 Si Wanita Jelek
6 Selamat Tinggal Su Li
7 Penolakan Orang-orang
8 Tuduhan Palsu
9 Dia Tidak Bisa Diremehkan
10 Pertemuan
11 Merawat Yunza
12 Pria Di Kursi Roda
13 Obsesi Ran Jao dan cinta Su Jin
14 Bermain Judi
15 Curang dibalas Curang
16 Lin Jian Mesum
17 Kerja Sama Shenshen
18 Bertamu Ke Bei Fanrong
19 Senjata Makan Tuan
20 Kekalahan Shenshen
21 Pria Misterius
22 Sekutu
23 Kelahiran Yunza dan pesan Ibunda
24 Perasaan Shen Xiao Lu
25 Gadis Buta
26 Mi Anra Salah Paham
27 Sebuah Dendam
28 Menghianati Yunza
29 Kedua Pangeran
30 Latihan Menari Chen Su
31 Serangan tak Terduga
32 Penyambutan Yu Qin
33 Serangan balik
34 Kelicikan Chen Su
35 Mi Anra dan Gu Rong
36 Identitas Yu Qin
37 Aku Menang!
38 Mi Anra Jangan Pergi
39 Rencana Chen Su
40 Senjata Makan Tuan
41 Pagi Setelahnya
42 Hilangnya Mi Anra
43 Rencana Perburuan Musim Panas
44 Menguji Yu Qin
45 Siapa Kau Sebenarnya
46 Tidak Ingin Menikah
47 Gagal Belah Duren
48 Memergoki
49 Hadiah Untuk Lin Jian
50 Pengakuan
51 Permaisuri Vs Selir
52 Pertarungan Satu Lawan Satu
53 Apa Aku Akan Mati Di Sini?
54 Naluri
55 Karma
56 Kematian Gu Rong
57 Berita Tentang Gu Rong
58 Kabar Menyakitkan
59 Wanita Bernama Mu Jiangyu
60 Cinta Jenderal Thang
61 Rencana Bulan Madu
62 Berita Kematian Lin Yu
63 Cerita Kepala Desa
64 Kecurigaan Kaisar
65 Yang Terabaikan
66 Konsekuensi Menyakiti Permaisuri
67 Diantara Dua Pilihan
68 Kebenaran Tentang Yu Qin
69 Yang Terpilih
70 Firasat Buruk
71 Malam Berdarah
72 Hidup dan Kematian
73 Bala Bantuan
74 Perhatian Shen Tian
75 Diantara Dua Pilihan
76 Comeback
77 Setelah hari itu
78 Licik
79 Resiko dan Harapan
80 Pertemuan Guru dan Murid
81 Munculnya Musuh Lama
82 Bala Bantuan
83 Kilas Balik
84 Perpisahan dan Pertemuan
85 Terima kasih semua
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Awal Mula
2
Kegelisahan Han Xi
3
Saat Xiao Lu Kecil
4
Lin Jian Menyebalkan
5
Si Wanita Jelek
6
Selamat Tinggal Su Li
7
Penolakan Orang-orang
8
Tuduhan Palsu
9
Dia Tidak Bisa Diremehkan
10
Pertemuan
11
Merawat Yunza
12
Pria Di Kursi Roda
13
Obsesi Ran Jao dan cinta Su Jin
14
Bermain Judi
15
Curang dibalas Curang
16
Lin Jian Mesum
17
Kerja Sama Shenshen
18
Bertamu Ke Bei Fanrong
19
Senjata Makan Tuan
20
Kekalahan Shenshen
21
Pria Misterius
22
Sekutu
23
Kelahiran Yunza dan pesan Ibunda
24
Perasaan Shen Xiao Lu
25
Gadis Buta
26
Mi Anra Salah Paham
27
Sebuah Dendam
28
Menghianati Yunza
29
Kedua Pangeran
30
Latihan Menari Chen Su
31
Serangan tak Terduga
32
Penyambutan Yu Qin
33
Serangan balik
34
Kelicikan Chen Su
35
Mi Anra dan Gu Rong
36
Identitas Yu Qin
37
Aku Menang!
38
Mi Anra Jangan Pergi
39
Rencana Chen Su
40
Senjata Makan Tuan
41
Pagi Setelahnya
42
Hilangnya Mi Anra
43
Rencana Perburuan Musim Panas
44
Menguji Yu Qin
45
Siapa Kau Sebenarnya
46
Tidak Ingin Menikah
47
Gagal Belah Duren
48
Memergoki
49
Hadiah Untuk Lin Jian
50
Pengakuan
51
Permaisuri Vs Selir
52
Pertarungan Satu Lawan Satu
53
Apa Aku Akan Mati Di Sini?
54
Naluri
55
Karma
56
Kematian Gu Rong
57
Berita Tentang Gu Rong
58
Kabar Menyakitkan
59
Wanita Bernama Mu Jiangyu
60
Cinta Jenderal Thang
61
Rencana Bulan Madu
62
Berita Kematian Lin Yu
63
Cerita Kepala Desa
64
Kecurigaan Kaisar
65
Yang Terabaikan
66
Konsekuensi Menyakiti Permaisuri
67
Diantara Dua Pilihan
68
Kebenaran Tentang Yu Qin
69
Yang Terpilih
70
Firasat Buruk
71
Malam Berdarah
72
Hidup dan Kematian
73
Bala Bantuan
74
Perhatian Shen Tian
75
Diantara Dua Pilihan
76
Comeback
77
Setelah hari itu
78
Licik
79
Resiko dan Harapan
80
Pertemuan Guru dan Murid
81
Munculnya Musuh Lama
82
Bala Bantuan
83
Kilas Balik
84
Perpisahan dan Pertemuan
85
Terima kasih semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!