"Nona, kita mau pergi kemana?" tanya Mi Anra. Dia terus membuntuti Yunza dan mengikutinya, meski tidak tahu kemana akan dibawanya.
Malam itu udara cukup dingin, meski sudah memakai mantel tebal tapi masih saja rasa dingin datang menusuk.
Sejak tadi terus berjalan menyibak keramaian pasar. Mi Anra bertanya dalam hatinya, apa yang sedang Yunza cari sebenarnya.
"Pemilihan selir tahap kedua akan dilaksanakan lusa. Apa salahnya kalau kita jalan-jalan dulu. Lagian Mi Anra, ini pertama kalinya aku pergi ke pasar di malam hari. Tidak disangka disini sangat ramai," timbal Yunza.
"Aku pikir, Nona menikmati kompetisi itu. Apakah tidak takut pangeran mencintai wanita lain?" celetuknya.
"Aku bisa apa. Kau tahu sendiri, pernikahanku dengannya bukan atas dasar cinta. Terlebih, seorang pangeran maupun Kaisar memang seharusnya memiliki istri lebih dari satu, bukan."
Mi Anra terdiam. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya namun ia ragu. "Nona, aku pikir pangeran sedikit menyukaimu," celetuknya lagi tapi kini dengan nada serius.
Yunza terkekeh lucu mendengar hal itu. "Jangan becanda, Mi Anra. Bagaimana mungkin dia menyukaiku, aku saja tidak menyukainya," balas Yunza.
Mi Anra melangkahkan kakinya mendahului Yunza lalu menghalaunya. "Aku serius, Nona. Malam itu tak ada satu pun tabib istana yang sudi datang untuk mengobati Nona, tapi kemudian, berkat pangeran kedua tabib pun datang. Aku yakin, saat itu ada kekhawatiran di hati pangeran pada Nona," ucapnya dengan tegas dan percaya diri.
Yunza tertegun mendengarnya. Ia terdiam sejenak sampai akhirnya membalas dengan senyuman. Lalu ia mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Mi Anra sampai dia meringis kesakitan.
"Sudah, jangan bicara lagi. Apa kau tidak ingin membeli sesuatu di sini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Lagian Nona tidak punya uang, kan." Mi Anra cemberut sambil memegangi pipinya. Penuturannya bagai pedang bermata dua bagi Yunza.
Yunza tersenyum pahit. "Aku lupa kalau aku miskin. Meski tinggal di Istana, pengurus hanya memberi sebagian kecil dari uang bulanan yang semestinya. Mungkin lain kali, aku harus meminta keadilan," batinnya.
"Hm?" Sepasang pandangannya tak sengaja melihat sosok yang sepertinya tak asing. Tak lama, Yunza mengukir senyum seringai. Nampaknya dia sudah menunggu hal itu terjadi.
"Mi Anra, lihat, bukankah dia salah satu peserta pemilihan selir?" Yunza menunjuk ke suatu arah dan Mi Anra langsung mengikutinya.
Seorang wanita dengan penutup kepala terlihat di tengah keramaian. Mereka berdua pun memutuskan untuk mengikutinya setelah melihat gerak-gerik yang mencurigakan.
Diam-diam dia membuntuti wanita itu, dengan penuh kehati-hatian. Beberapa saat kemudian, dia pun berhenti di depan sebuah bangunan. Ia mengetuk pintu sembari terus waspada. Tak lama, pintu terbuka lalu dia masuk.
Yunza dan Mi Anra mendekati bangunan itu. Bersama-sama mereka menengadah. "Tulisan di papan itu menggunakan aksara kuno dan aku tidak tahu artinya. Tapi menurut cerita, wanita itu pergi ke tempat bernama Bei Fanrong untuk membeli sebuah obat," batin Yunza.
"Apa yang dia lakukan ditempat ini?" tanya Mi Anra.
Yunza tersenyum lebar. Wajahnya menunjukan kepuasan, seperti seseorang yang baru saja menemukan harta karun.
"Mungkin dia sedang membeli suatu ramuan kecantikan. Itu wajar, menurutku. Kompetisi tahap kedua bertemakan 'kecantikan', bukan?" Setelah mengatakan hal itu Yunza membalikkan tubuhnya dan pergi.
Sedikitnya, apa yang Yunza katakan dapat Mi Anra mengerti. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ada sesuatu yang masih menimbulkan tanya di benaknya.
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang, aku tidak punya banyak uang. Sial! Aku harus mencari uang, tapi bagaimana caranya?" batinnya.
Mereka kembali menyusuri ramainya jalanan. Sembari memutar otak dengan cepat untuk mencari solusi. "Mi Anra, apa di sekitar sini ada tempat berjudi?" tanya Yunza.
Mi Anra terkejut setengah mati mendengarnya. "N-nona! Apa yang ingin Nona lakukan? Meski kita tidak punya uang, juga tidak boleh bermain judi!" sergahnya.
"Tidak, tidak." Yunza mengibas-ibaskan tangannya sambil tersenyum sungkan. "Aku hanya ingin tahu saja. Bisa kau tunjukan padaku dimana tempatnya?" pintanya kemudian.
Mi Anra tidak langsung mempercayai ucapan Yunza, dan ia ragu untuk memberitahunya. Ia menatap Yunza dengan sendu sambil berkata, "aku punya sedikit tabungan, Nona pakai saja dulu."
Yunza menghela napas kasar. Rupanya tak mudah membujuk Mi Anra, itu membuatnya sakit kepala. Tak lama Yunza menoleh ke sana kemari, seperti sedang mencari seseorang.
"Dimana Gun Rong ini. Sebagai pengawal yang dikirim Han Xi, dia seharusnya ada di sekitarku, kan?" gumamnya.
"Nona cari apa?" tanya Mi Anra.
Kedua tangan Yunza mencengkram bahu Mi Anra. "Dengar, Mi Anra. Antar aku ke tempat judi, ya. Aku akan memakai cadar, dengan begitu tidak ada satu pun yang akan mengenaliku. Bagaimana?" negosiasinya.
Mereka saling menatap. Tatapan penuh keyakinan yang diberikan Yunza membuat Mi Anra tak bisa menolaknya. "Baiklah," ucapnya sambil menghela napas.
Setelah itu, mereka pun pergi ke tempat perjudian. Tempatnya lumayan jauh dari pusat pasar namun tak kalah ramai dari pasar.
Sesuai janji, Yunza memasuki tempat itu dengan memakai cadar hitam. Akan tetapi dia hanya masuk seorang diri saja. Mi Anra diperintahkan untuk berjaga di luar.
Suasana di dalam sangat ramai, bising, dan bau alkohol yang sangat menyengat. Yunza melihat suatu kerumunan di sudut tempat itu lalu menghampirinya.
"Di jaman kuno seperti ini, kalau tidak salah ada suatu permainan dengan menggunakan dadu. Tapi aku lupa nama permainannya. Adapun cara bermainnya cukup mudah, si pemain hanya perlu menebak apakah jumlah dadu yang berada di dalam memiliki jumlah yang besar atau kecil, ada juga ganjil atau genap," gumam Yunza.
Yunza menunduk dan melihat telapak tangannya. Di sana, terdapat beberapa koin sisa yang dipunyainya.
"Ahaha. Aku menang lagi!" Teriak seorang pria dengan penuh kemenangan sambil meraup semua koin yang ada di atas meja.
"Tuan Jiu hebat sekali. Tak ada satu orang pun yang bisa mengalahkannya, pantas saja dia menjadi juara bertahan di tempat ini selama beberapa tahun." Beberapa orang mulai memujinya.
Brak!
Yunza maju dan meletakkan koin miliknya di atas meja. "Tuan, ayo kita bermain!" tantangnya.
Semua orang terdiam mendengar hal itu. Tapi beberapa saat kemudian mereka langsung tertawa terbahak-bahak dan meremehkan Yunza.
"Nona, apa kau becanda?"
"Apa yang dilakukan wanita itu di sini? Bukankah seharusnya diam di rumah dan menyusui anaknya?"
Mereka mulai menggunjing satu sama lain. Tuan Jiu yang paling keras tertawanya, dia sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Nona, maaf. Aku tidak pernah bermain dengan orang lemah," tuturnya diselang tawanya.
"Apa Anda takut?" tanya Yunza dengan wajah serius.
Suasana pun berubah. Semua orang mulai diam satu persatu. Tuan Jiu pun begitu, dia menatap baik-baik wanita di hadapannya. Tak lama dia memasang senyum meremehkan lalu bertanya, "Nona ingin bermain? Dengan uang sebanyak itu?"
"Benar," jawab Yunza dengan percaya diri.
"Bisa, tapi aku tidak menginginkan uang itu. Jika Nona kalah, Nona harus mau menjadi istriku. Bagaimana?" tawarnya.
"Hihihi. Ayo bilang setuju. Setelah itu aku akan memenangkan permainan ini dan kau akan menjadi milikku selamanya. Setelah aku akan menikmatimu sepuasnya dan jika aku bosan, aku bisa menjualnya ke rumah bordil. Hihihi." Akal bulus Tuan Jiu.
"Aku setuju. Tapi jika Tuan kalah, Tuan harus menyerahkan semua uang yang Tuan miliki padaku. Bagaimana?" tanya Yunza.
Tuan Jiu tersenyum mesum. "Tidak masalah."
Dia kemudian meletakkan semua uangnya di atas meja. Seorang pengocok dadu pun sudah siap di posisinya. "Aku mulai!"
Note: guys jangan ditiru ya. Kalo gapunya uang lebih baik kerja kalo nggak minta ke ayang, jan maen judi:D
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Wanda Wanda i
like
2022-09-16
1