Hari berganti.
Kompetisi tahan kedua dimulai namun di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Tempat itu bernama taman selatan. Memiliki luas dua kali lipat dari pada taman biasa dengan rumput hijau dan bunga-bunga sepanjang mata memandang. Pemilik tempat ini adalah Permaisuri Nan Ziyang, istri Kaisar.
Di tahap kedua ini, hanya disaksikan oleh para anggota keluarga dan kerabat kerajaan saja. Beberapa wajah asing pun muncul di sana, dan sayangnya, Kaisar tidak bisa hadir karena suatu urusan.
"Kami memberi hormat, semoga permaisuri diberkati umur yang panjang." Semua orang berlutut tatkala permaisuri datang.
"Bangunlah, anak-anakku," ucap permaisuri Nan Ziyang. Kemudian dia duduk di kursinya.
"Hari ini, kontes pemilihan selir tahap kedua akan dilaksanakan. Kaisar tidak bisa menghadirinya karena suatu urusan. Jadi, beliau memberikan tanggung jawab ini kepadaku. Aku harap, keputusan apapun yang aku ambil nanti dapat kalian terima," sambungnya.
Semua orang terdiam menyetujui ucapannya. Berdasarkan instruksinya, kontes pun dimulai. Mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing selama para kontestan di panggil masuk.
Yunza menoleh ke belakang. "Kenapa kak Han Xi belum juga datang?" batinnya. Kemudian dia kembali menoleh dan mendapati Shenshen sedang mengobrol akrab dengan permaisuri.
"Aku tidak tahu kalau dia bisa seakrab itu dengan orang lain," gumam Yunza.
"Dia bukan orang lain, permaisuri adalah ibu kandung Shenshen dan pangeran ke tujuh," jawab seseorang di sampingnya. Yunza terkejut lalu menoleh.
"Kakak ipar?" Dia baru menyadari bahwa seseorang yang duduk bersebelahan dengannya ternyata Mei An.
"Sejak malam itu kita belum pernah bertemu lagi. Kakak ipar, bagaimana kabarmu?" tanya Yunza.
"Cukup baik, adik ipar. Sebenarnya beberapa terakhir ini aku cukup sibuk karena harus menemani putraku belajar," jawabnya.
"Oh, ya, aku lupa. Pernikahan kak Mei An dengan putera mahkota dianugerahi seorang pangeran yang cerdas dan tampan. Tapi aku sedikit ragu. Bagaimana bisa orang cacat yang kesehariannya duduk di kursi roda bisa ... tidak tidak! Yunza jangan kotori kepalamu dengan pemikiran seperti itu!" Yunza melamun sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh, ya, kakak ipar. Lain kali aku akan berkunjung ke kediamanmu pada siang hari. Jadi, aku bisa bertemu dan bermain dengan pangeran kecil," ujar Yunza.
Mei An terkekeh mendengarnya. "Adik ipar, jika kau menyukai anak-anak lekaslah mengandung. Kebetulan aku sangat menginginkan bayi perempuan, buatlah yang perempuan, ya." Ucapan ngawur Mei An dibalas dengan senyum terpaksa.
"Membuat anak dengannya? Heh! Tidak akan!" kata Yunza dalam hati sambil menatap tajam ke arah Lin Jian.
Tiba-tiba lonceng berbunyi, tanda kontes telah di mulai. Para peserta disuguhi seember air hangat dan lap untuk mereka gunakan untuk menghapus riasan wajah mereka.
Satu persatu dari mereka mulai menghapus riasan yang mereka kenakan di wajahnya. Seseorang dengan warna kulit dibawah standar langsung didiskualifikasi. Alis pun tidak boleh terlalu tebal, apalagi harus memiliki hidung mancung yang alami.
Berdasarkan penilaian langsung dari permaisuri Nan Ziyang, kontes tahap kedua pun berlangsung dengan baik dan tak membutuhkan banyak waktu.
Kini hanya tinggal sepertiga dari keseluruhan peserta yang masih berdiri di sana.
Yunza menatap dengan seksama tingkah laku Lan Mei. "Tuan Bei mengatakan, obat yang digunakan Lan Mei memiliki efek yang akan timbul setelah 12 jam." Yunza menaruh tangannya di dagu.
"Setelah melihat produknya, bedak itu memiliki tekstur kental, sama sekali berbeda dari bedak biasanya. Kemungkinan, mereka menggunakannya saat hendak tidur pada malam hari. Jadi, jika dihitung-hitung, beberapa detik lagi mungkin permainan akan dimulai," gumam Yunza.
Di suatu sudut, Shenshen melirik Yunza dengan senyum jahat. "Baiklah. Cepat menjerit kakak iparku yang bodoh!"
Bersamaan dengan itu, jeritan pun terdengar namun bukan dari arah Yunza. Seorang kontestan yang lolos tiba-tiba jatuh sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tak hanya satu orang, beberapa orang lainnya mulai menyusul.
Keadaan menjadi kacau seketika. Terlebih saat mereka membuka tangannya, wajah mereka berubah menjadi merah menyala. Ada yang tumbuh jerawat yang sangat besar-besar dan ada yang warna kulitnya langsung menggelap.
"Tabib! Panggil tabib!" teriak permaisuri.
"Tch, ada apa ini? Mengapa hal ini bisa sampai terjadi?" gelisahnya. "Bawa mereka ke ruang pengobatan! Untuk yang lainnya, kembali ke kediaman!" perintahnya kemudian.
Mereka pun berangsur-angsur meninggalkan tempat itu. Permaisuri yang mengkhawatirkan Shenshen lantas menoleh ke arahnya sambil berkata, "Shenshen-ku, kau juga kembali---a-ada apa dengan wajahmu?"
Permaisuri seketika terkejut melihat wajah Shenshen yang perlahan memerah.
"Ada apa dengan wajahku?" Shenshen menyentuh permukaan kulitnya. Namun saat itu juga rasa sakit langsung menyerang.
"Aarrghh!" Dia berteriak sangat kencang sampai yang lainnya terperangah kaget.
"Shenshen, Shenshen kau baik-baik saja?" tanya permaisuri.
"Panas! Sakit, Ibunda sakit! Wajah Shenshen sakit!" teriaknya.
"Lin Jian! Bawa adikmu kembali ke kediaman dan panggil tabib istana!"
Lin Jian menggendong Shenshen yang terus-menerus berteriak kesakitan. Saat itu Shenshen membuka matanya dan melihat Yunza. Betapa ia terkejut saat melihat ternyata Yunza baik-baik saja.
Sementara itu, Lan Mei yang merasa ketakutan setelah melihat Shenshen kemudian melarikan diri. "Bagaimana bisa? Kenapa malah Shenshen yang kena?" Lalu dia melirik Yunza.
"Dia yang melakukannya!" batin Shenshen dan Lan Mei secara bersamaan saat melihat Yunza tersenyum penuh arti.
Beberapa saat kemudian.
Shenshen diobati oleh tabib istana dengan ditemani permaisuri, Mei An, dan juga Yunza di kamarnya. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah permaisuri. Hal itu membuat Yunza teringat ibunya.
"Mungkin, ibu juga merasakan hal yang sama saat aku pergi dari dunia itu tanpa pamit. Naasnya, saat itu kami sedang bertengkar." Yunza menengadahkan kepalanya. "Ayah dan ibu sudah baikan belum, ya? Semoga mereka tidak bercerai," batinnya.
Saat Yunza mengakhiri lamunannya, Shenshen sudah diobati dan dia sudah berhenti berteriak-teriak, hanya sesekali meringis kesakitan saja.
"Jadi, apa yang terjadi, tabib? Mengapa wajah Shenshen bisa terbakar seperti itu? Dan yang lainnya juga mengalami hal yang sama," tanya permaisuri mewakili pertanyaan banyak orang yang penasaran.
"Dia!" Tiba-tiba Shenshen menunjuk ke arah Yunza. "Ibunda, pasti dia yang melakukannya! Aku yakin!" tuduhnya.
Permaisuri menatap Yunza, dia berada diantara percaya dan tidak terhadap perkataan Shenshen. Karena Yunza yang dikenalnya adalah seorang wanita bodoh dari negara Long.
"Menantu, bisa kau jelaskan tentang semua yang terjadi di sini? Ibunda bukan ingin menyalahkanmu, akan tetapi Shenshen mengatakan bahwa kau orang yang menyebabkan ini semua. Jadi ...." Ia menghentikan ucapannya.
"Yang Mulia, Anda tidak perlu merasa sungkan seperti itu. Menantu tahu apa yang Anda rasakan. Namun, bukankah sebaiknya kita dengarkan apa kata tabib terlebih dahulu?" ujar Yunza.
"Benar juga. Kita harus mendengar hasil pemeriksaan tabib terlebih dahulu," kata Mei An.
"Yang Mulia, menurut apa yang hamba periksa, apa yang terjadi pada putri Shenshen dikarenakan pemakaian produk yang mengandung bahan berbahaya."
Penuturan tabib membuat semua orang terperajat kaget.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments