Di sebuah kamar yang lumayan luas dan bersih, Yunza membereskan barang-barang bawaannya seorang diri setelah selesai mandi. Baru beberapa saat saja dia sudah merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya karena harus mengangkat barang-barang yang cukup berat.
"Mereka tak mengirimkan satu pelayan pun ke kamarku, benar-benar jahat sekali," gerutu Yunza sambil memindahkan sebuah bungkusan.
"Namun, bagaimana selanjutnya? Apa aku akan terus tinggal di tempat ini? Di dunia ini? Tapi sampai kapan? Bagaimana dengan kehidupanku di dunia itu? Meskipun aku ... mungkin sudah mati."
"Sebenarnya, hidup di sini pun tidak apa-apa. Hanya perlu menjaga jarak saja dengan pria jahat itu. Jika mengubah alur, takutnya menimbulkan resiko yang tak terduga. Semua yang sudah terjadi seperti sebuah mimpi, di sisi lain terasa amat nyata."
Brak!
Yunza tak sengaja menjatuhkan sebuah bungkusan, beberapa buku yang diberikan Xiao Lu pun berserakan di lantai. "Aku kira pelayan itu sudah membuang buku-buku ini," batinnya.
Dia hendak memungut kembali buku-buku itu, namun tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Lin Jian. Keduanya saling menatap satu sama lain untuk waktu yang cukup lama, beberapa saat kemudian pandangan Lin Jian tertuju pada buku yang berserakan di bawah.
Karena rasa penasaran, dia pun berjongkok dan mengambil salah satu buku. "Ini ... buku dewasa?" batin Lin Jian sambil menyerengit.
Menyadari hal memalukan itu, Yunza langsung menyabet buku yang di pegang Lin Jian. Dia juga segera memungut buku lainnya dan menyembunyikannya. "Memalukan sekali!" gumamnya dengan wajah memerah.
"T-tidak bisakah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" tanya Yunza.
"Apa kau lupa? Di istana Hou Zzi semua tempat adalah milik keluarga Kaisar. Entah itu masuk ke kamarmu atau ke mana pun, aku tidak butuh nasehat dari gadis bodoh sepertimu," cercanya.
Yunza menahan amarahnya setelah mendengar penuturan menyebalkan Lin Jian tersebut. Tak lama, Lin Jian membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki ke luar.
Namun, ia berhenti dan berkata, "Ayahanda mengadakan jamuan makan malam keluarga. Aku akan memerintahkan pelayan untuk menjemput dan mengantarmu ke tempat jamuan. Jadi, lekaslah bersiap diri."
"Oh, ya ...." Dia menoleh dan menatap Yunza. "Di sana, jangan mempermalukanku di hadapan banyak orang. Ingat itu!" Sambungnya kemudian pergi meninggalkan kamar.
Kedua tangan Yunza mencengkram keras buku di tangannya, giginya menggertak dengan mata melotot yang hampir loncat bola matanya.
"Ternyata di dunia nyata ... dia lebih menyebalkan! Aku tidak tahan jika harus tinggal bersama orang seperti itu lebih lama lagi!" gerutunya sambil menahan amarahnya.
Malam hari, di aula khusus keluarga Hou. Beberapa kursi dan meja kecil berjajar rapi, beberapa diantaranya sudah memiliki tuan. Kursi besar dengan ukiran kuno diduduki oleh Kaisar. Ia menatap ke arah pintu dengan tatapan serius.
"Putraku, Lin Jian, dimana istrimu?" tanya Kaisar.
"Ijin menjawab, Ayahanda. Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Maaf atas keterlambatannya," jawab Lin Jian.
Kaisar menegakkan tubuhnya, sikut tangan kanan diletakkan di atas meja kemudian telapak tangan menyanggah dagu yang berjenggot tebal.
Ia teringat pada sesuatu beberapa saat sebelumnya, dimana seorang bawahannya datang untuk memberitahukan informasi penting padanya.
"Katakan!" ucap Kaisar yang saat itu sedang memeriksa beberapa berkas negara di ruang bacanya.
Sementara orang itu berlutut, dia menjawab, "pangeran Han Xi telah menaruh mata-mata pada rombongan penjaga yang kembali bersama pangeran Lin Jian, tadi siang."
Brak!
Kaisar menggebrak meja dengan sangat keras. "Kurang ajar! Berani-beraninya dia melakukan hal itu! Xi Ming, temukan orang itu dan bunuh!" perintahnya.
"Hamba rasa itu bukanlah pilihan yang baik, Yang Mulia-ku." Seseorang masuk ke dalam ruangan. Dia berpakaian rapi dengan rambut panjang dan sebuah buku di tangannya.
"Penasehat Li?"
"Yang Mulia, tujuan pangeran Long mengirim mata-mata itu tak lain hanya demi adiknya. Aku dengar, dia yang sangat garang di Medan perang ternyata seorang yang sangat menyayangi adik perempuannya. Besar kemungkinan, bukan untuk memata-matai urusan negara kita. Namun hal itu juga tak menutup kemungkinan. Yang harus kita lakukan sekarang hanya mengikuti keinginannya saja."
"Keinginannya? Maksudmu?" tanya Kaisar.
"Si kakak penyayang itu hanya menginginkan adiknya hidup dengan baik di sini. Jadi, selama kita memulihkan pertahanan kerajaan lebih baik kita memperlakukan gadis itu dengan baik. Toh, hanya gadis bodoh yang mudah di bohongi," jelasnya panjang lebar.
Kaisar yang mendengar hal itu mulai mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa yang kau katakan ada benarnya. Kita tidak boleh gegabah dalam hal ini."
Ingatan pun usai. Bersamaan dengan datangnya Yunza di aula keluarga tersebut.
Beberapa orang dibuat tertegun saat melihatnya. Tak bisa dipungkiri bahwa Yunza dari negara Long memiliki paras yang sangat cantik jelita dengan rambut hitam panjang dan kulit putih bersih.
"Jadi, dia putri bungsu Kaisar Shen Qin Yao negara Long itu?" batin Kaisar dengan sepasang mata yang menatap tajam.
"Wah~ sangat cantik. Apa benar dia putri bodoh negara Long seperti yang dirumorkan banyak orang?" Beberapa tamu mulai berbincang, berbisik satu sama lain.
Kaisar menegakkan tubuhnya lagi dan menurunkan tangannya. Wajah seriusnya seketika berubah 180°. Dia tersenyum dan berkata, "menantu, masuk dan duduklah."
Terdapat satu kursi kosong di samping Lin Jian yang disediakan untuknya. Yunza mulai melangkahkan kakinya, masuk dengan sangat anggun sampai membuat beberapa orang terkagum.
Ia menghampiri Kaisar terlebih dahulu, lalu memberi salam sambil membungkukkan sedikit badannya. "Yunza memberi salam, semoga Yang Mulia panjang umur," ucap Yunza.
"Bangunlah, nak. Duduklah di samping suamimu," perintah Kaisar.
Yunza mengangkat kepalanya. Namun, sebelum pergi ke tempatnya, dia memberi salam pada tamu keluarga yang hadir terlebih dahulu. Sikapnya itu lagi-lagi membuat banyak orang kagum. Setelah itu, barulah berjalan ke tempat duduknya.
"Dia gadis yang sopan, apa benar dia gadis bodoh itu?" Beberapa orang kembali berbincang-bincang.
Tibalah Yunza di samping tempat duduknya. Namun sebelum menduduki kursi, matanya yang teliti melihat salah satu kaki kursi yang rusak. Seseorang sengaja merusaknya.
"Adik perempuan Lin Jian, Shenshen!" batin Yunza sambil menatap gadis kecil itu. Shenshen yang menyadari tatapan Yunza cukup terkejut dan sedikit merasa takut.
Kemudian Yunza menghampiri tempat duduknya dan duduk. Beberapa saat berlalu namun tak ada yang terjadi pada Yunza. Dia duduk dengan tenang dan bersikap biasa-biasa saja.
Shenshen terheran. "Bagaimana bisa? Kursi itu sudah aku rusak, kenapa dia tidak jatuh!" gerutu Shenshen.
"Shen Yun Ja, kau lihat saja! Aku tidak akan menyerah! Aku pasti akan membalas penghinaanmu saat itu!" sambungnya.
Makan malam pun berlangsung. Di sana, Kaisar memperkenalkan beberapa kerabat dan tamu keluarga kerajaan Hou pada Yunza. Yunza pun diperkenalkan pada mereka sebagai menantu dan permaisuri dari pangeran kedua, Lin Jian.
Ditengah obrolan, kedua kaki Yunza mulai gemetaran. "Sial! Aku hampir tidak bisa menahannya lagi!" batinnya.
Sedari tadi, dia menjadikan kedua kakinya sebagai tumpuan saat duduk. Jadi, hal itu yang membuatnya tidak terjatuh. Namun, semakin lama ia merasa semakin tidak kuat untuk menahannya.
Yunza menyerah, dia baru saja akan berdiri namun ternyata didului Lin Jian. "Ayahanda, sepertinya istriku masih kelelahan karena perjalanan yang sudah kami lalui beberapa hari ini. Hamba mohon Yang Mulia mengijinkannya untuk kembali ke kamar lebih awal untuk beristirahat," tuturnya.
Kaisar memandang Yunza. Wajahnya memang sedikit pucat kini. "Lin Jian, bawalah istrimu untuk beristirahat."
Yunza menyusul berdiri. "Terima kasih, Yang Mulia. Tapi hamba bisa kembali ke kamar sendiri. Pangeran mungkin masih memiliki beberapa kepentingan dengan beberapa tamu," ucap Yunza.
Kaisar menghela napas panjang. "Baik, kembalilah dan beristirahatlah."
"Terima kasih, Yang Mulia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments