Di kamar Yunza.
Lin Jian berdiri di samping ranjang tidur sambil menatap Yunza yang terbaring tak berdaya. "Kenapa tidak memanggil tabib?" tanyanya pada Mi Anra.
"Hamba sudah beberapa kali menemui tabib, tapi tak satu pun dari mereka datang," jawab Mi Anra.
Lin Jian duduk di tepi ranjang dengan ekspresi dingin. "Wang Xi, seret tabib Istana dan bawa ke sini. Aku ingin lihat siapa yang berani tidak mematuhiku," ucapnya. Wang Xi memberi hormat, lalu pergi melaksanakan perintah Lin Jian.
Tak lama Mi Anra berjalan menghampiri meja dan mengambil mangkuk kompresan. "Aku akan mengganti airnya. Tolong Tuan temani nona sebentar," ucapnya kemudian pergi membawa mangkuk besar tersebut.
Keheningan menemani kedua insan tersebut, hanya terdengar igauan Yunza yang tak henti-hentinya. Lin Jian menatapnya dengan wajah dingin, namun tak bisa dipungkiri ada sedikit rasa khawatir di hatinya.
"Orang sepertimu bisa sakit juga?"
Yunza merespon dengan kedua mata yang berkedut. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya ke kiri dan langsung menyabet tangan Lin Jian. Didekapnya tangan besar nan kuat itu membuat Lin Jian terkejut.
Lin Jian berusaha menarik tangannya namun tidak bisa, cengkraman Yunza amat kencang. "Ibu ... maafkan Yunza. Yunza janji akan menjadi anak yang baik," igaunya.
Mendengar hal itu Lin Jian terdiam. Dia melemahkan otot tangannya yang semakin Yunza peluk erat. "Shen Yun Ja, ibunya meninggal tepat setelah melahirkan dirinya. Ia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dan bahkan dibenci oleh saudara dan ibu-ibu tirinya," gumam Lin Jian.
"Dia yang tidak mengerti apapun mengenai peperangan, mengenai masalah antar negara, malah harus menanggung beban pernikahan ini. Apa seharusnya, aku tidak terlalu keras padanya?"
Tanpa sadar, dia mengangkat satu tangannya dan menjulurkannya. Ingin sekali mengelus kepala wanita berstatus istrinya tersebut.
Krek!
Pintu terbuka membuat ia menghentikan tindakannya dan langsung menarik kembali tangannya. Satu tangan yang didekap Yunza pun ditarik dengan sangat kasar.
Di depan pintu, Mi Anra berdiri mematung dengan mangkuk besar di tangannya. "Oh, tidak. Aku datang di waktu yang tidak tepat," batinnya dengan wajah bengong.
"Sedang melamun apa? Cepat bawa airnya kemari!" berang Lin Jian kemudian.
Namun tak berselang lama, Wang Xi datang bersama seorang tabib pria. Dia membawanya dengan sangat kasar ke hadapan Lin Jian.
Tabib itu berlutut di hadapan Lin Jian, di bawah tekanan yang sangat besar dari tatapan mematikan pangeran kedua tersebut.
"Aku dengar, kau menolak untuk memeriksa dan mengobati istriku. Apa itu benar?" tanya Lin Jian.
Sekujur tubuh tabib itu gemetaran, beberapa tetes keringat dingin mulai membasahi lantai. "Ampun pangeran, hamba tidak berniat mengabaikan permaisuri. Hanya saja saat itu hamba---"
"Aku tidak ingin mendengar alasanmu. Bangun dan periksa istriku!" perintahnya.
Tabib langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Lin Jian. Sementara ia dan yang lainnya berdiri sambil menunggu hasil pemeriksaan.
Di belakang, Mi Anra menatap Lin Jian. "Pangeran gentle sekali. Mungkin saat nona sadar, aku harus menceritakan semuanya padanya. Hihi, entah bagaimana reaksinya nanti," gumamnya sambil cekikikan.
Beberapa saat kemudian, tabib selesai memeriksanya. Ia beranjak sambil menenteng tasnya, dia berkata, "permaisuri hanya demam saja---"
"'Hanya' kau bilang?" berang Lin Jian sambil menyipitkan matanya.
"Y-yang Mulia, jangan marah dulu. A-aku sudah memberikan pil obat padanya, permaisuri akan membaik setelah malam ini," imbuh tabib.
Lin Jian terdiam. Setelah melirik Yunza sebentar, dia pun membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi. "Kau! Jaga dia malam ini!" perintahnya pada Mi Anra.
Mi Anra mengernyitkan dahinya. "Tidak bisa," jawabnya membuat Lin Jian menghentikan langkahnya seketika.
"M-maksudku aku tidak bisa menjaga Nona malam ini karena aku terkena diare sejak tadi pagi." Mi Anra gelagapan dan segera mencari alasan. Namun sepertinya, Lin Jian tak mempercayainya.
Mi Anra kemudian memegangi perutnya dan berekspresi seolah sedang merasakan sakit. "Tabib, bisakah kau memeriksaku juga? Aku sungguhan diare sejak tadi pagi," ucap Mi Anra pada tabib.
Tabib itu sedikit terkejut mendengar permintaan Mi Anra yang secara tiba-tiba. "Y-ya, baiklah," jawabnya setelah mendapatkan isyarat dari Mi Anra untuk mengiyakan ucapannya.
"K-kalau begitu, ayo." Mereka berdua pun keluar dari kamar dengan sangat tergesa-gesa.
Kini tinggal Lin Jian dan Wang Xi yang berada di sana. "Wang---" baru saja Lin Jian hendak mengatakan sesuatu, Wang Xi segera menyerobot.
"Y-yang Mulia, aku baru ingat ada yang harus aku lakukan. Aku pamit pergi dulu." Setelah mengatakan hal itu, Wang Xi langsung pergi bak debu ditiup angin kencangnya.
Lin Jian mengepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi. Dia tahu bahwa mereka melakukan hal itu dengan sengaja. Namun, ia tak memiliki pilihan lain.
Akhirnya dia kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati tempat tidur. Di sana, dia berdiri dan terdiam sejenak.
"Hey, minggir sana!" Dia mengulurkan tangannya dan mendorong Yunza untuk memberinya tempat. Akan tetapi, ringisan Yunza membuat Lin Jian merasa bersalah.
'Mungkin ia tak seharusnya bersikap kasar padanya', begitu pikirnya.
Lin Jian menggendong tubuh Yunza untuk digeser sedikit dan memberinya tempat untuk tidur. "Sssh, berat sekali!" gerutunya. Setelah itu, dia berbaring di samping Yunza dan tidur.
Malam hari. Saat udara dingin mencoba menerobos sampai ke tulang, Lin Jian tak sengaja merasakan sesuatu menyentuh perutnya. Dia membuka mata, dan alangkah terkejutnya melihat Yunza yang sudah menempel dengannya.
"Tch! Minggir sana! Menjauh dariku!" hardiknya sambil mendorong kasar tubuh Yunza.
Yunza masih memejamkan mata. Dia meringis kesakitan sambil memejamkan mata, lalu kembali mengigau. "Ibu ... Ayah ... Yunza rindu. Yunza ingin pulang."
Hal itu telah menyentuh hati Lin Jian. Rasa iba pun muncul di hatinya. "Kalau rindu, pulang sana. Dasar bodoh!" Meski itu yang dikatakannya, namun dia malah menarik Yunza ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.
"Panasnya menurun," batinnya.
Ia terdiam. Merasakan kehangatan yang kian menjalar di sekujur tubuhnya. Aroma tubuh Yunza hampir saja membuatnya mabuk kepayang. Yunza pun berhenti mengigau, lalu mereka kembali tertidur.
Sampai pagi datang.
Kicauan sepasang burung yang hinggap di ranting dekat jendela kamar telah membangunkan Yunza. Ia merasa agak baikan mesti kepalanya masih terasa pusing sedikit.
Sambil terpejam dia meraba-raba. Apa yang ada di hadapannya seperti sebuah bidang datar yang kekar namun sedikit lembut. Yunza terheran, kamudian ia membuka matanya.
Dia menengadah dan melihat Lin Jian sedang menatapnya dengan tatapan sinis. "Tanganmu menyentuh di mana?"
Yunza melirik tangannya yang tengah asyik meraba dada Lin Jian, dan ia amat terkejut. Sepasang matanya mulai melebar, bulat sempurna.
"D-dasar mesum!" teriak Yunza, sangat keras sampai orang-orang luar mendengarnya.
Sementara itu. Mi Anra duduk di tepi ranjang tidurnya. Dia memegangi perutnya dengan wajah pucat pasi dan seperti sedang menahan sesuatu. "Sepertinya aku kualat. Tch! Lain kali tidak akan bohong lagi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments