Su Li dimakamkan di dekat makam ibunya, di tepi sungai yang jauh dari perkotaan. Setelah meletakkan bunga di dekat batu nisannya, Mi Anra pun berjalan pergi menyusul yang lainnya yang sudah lebih dulu pergi.
"Mi Anra!" seru Yunza.
Mi Anra menghentikan langkah kaki kemudian menoleh. Ia baru teringat bahwa dia sudah melibatkan Yunza. Sementara Yunza berjalan mendekat, Mi Anra pun membungkukkan badannya.
"Maafkan aku yang sudah melibatkan Anda. Terima kasih karena Anda sudah bersedia membantuku waktu itu," ucapnya.
Yunza menggelengkan kepalanya perlahan. "Ini semua salahku, andai waktu itu aku membantumu mungkin hal ini tidak akan terjadi. Untuk itu, untuk menebus kesalahanku, aku ingin kau tinggal bersamaku." Yunza mengulurkan tangannya sebagai ajakan.
Alih-alih menjawab, Mi Anra malah terdiam sambil menatap Yunza. Setelah itu dia memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
"Maafkan aku, aku tidak bisa meninggalkan semua kenangan yang ada di rumah. Aku tidak ingin melupakan Su Li---"
Greb!
Kedua tangan Yunza mencengkram bahu Mi Anra. "Apa kau akan seperti itu selama hidupmu? Mi Anra, aku tidak tahu Su Li orang yang seperti apa tapi aku yakin dia menginginkan kau hidup dengan baik! Dia tidak ingin melihatmu terus terpuruk seperti ini!"
Mi Anra terperangah kaget, lalu mulai menangis. "Su Li." Hanya kata itu yang terus menerus ia katakan menggunakan lisannya.
Yunza kemudian memeluk Mi Anra. "Kau bisa tinggal di sisiku selama kau mau. Aku akan menjamin hidupmu selama kau mau mengabdi padaku. Mi Anra, kau tidak seorang diri, ada aku. Kau bisa menganggapku teman atau bahkan kakakmu," ucapnya.
"Aku juga sendiri, tidak ada teman maupun saudara di dunia ini. Aku sama kesepiannya denganmu," batin Yunza.
Setelah membujuknya, Mi Anra pun bersedia ikut bersama Yunza ke kediamannya. Saat memasuki istana, Mi Anra terkejut bukan main.
"I-ini istana Hou Zzi, N-nona tinggal di sini?" tanyanya.
Seketika Yunza menghentikan langkah kakinya dan balik menghadap Mi Anra. "Sepertinya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Shen Yun Ja, putri bungsu dari negara Long dan permaisuri pangeran Lin Jian."
Mi Anra membelakkan matanya hingga nyaris bulat sempurna. "A-anda ... si bod---putri bungsu kerajaan Long?"
Yunza tertawa terpaksa. "Ya ... ya." Setelah itu membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah. "Aku si bodoh dari negara Long," sambungnya.
"M-maafkan aku, aku tidak bermaksud berkata demikian," ucap Mi Anra.
Yunza kembali tertawa sambil mengibas-ibaskan tangannya. "Jangan khawatirkan hal itu, aku tidak tersinggung, kok."
Perjalanan di lorong, tak sengaja bertemu dengan beberapa pelayan cuci yang tengah mengangkat jemuran pakaian. Mereka melihat Yunza dan wanita jelek, dan langsung bergosip.
"Siapa wanita yang pulang bersamanya? Terlihat kotor dan bau sekali, sssshh!" Mereka menggunjing sambil menutup rapat kedua lubang hidung dengan tangan mereka.
Mi Anra merasa minder dan menundukkan kepalanya. Yunza yang mendengar pelayan bergosip kembali menghentikan langkah kakinya. Sepasang matanya kemudian menatap ke arah kerumunan para penggosip itu.
"Apa dia liat-liat seperti itu."
"Sssttt, diam! Dia Permaisuri pangeran Lin Jian, tahu tidak!"
"Heh? Siapa yang peduli? Semua orang juga tahu, dia gadis bodoh dari negara Long. Memangnya kenapa kalau seorang permaisuri?" sungut salah satu pelayan yang usianya bisa dibilang tua dengan rambut yang mulai beruban.
Tak lama, Yunza melangkahkan kaki menghampiri mereka. Kendati takut saat dihampiri majikannya, pelayan satu itu malah menatap seolah menantang Yunza.
"Apa sudah cukup bicaranya?" tanya Yunza.
"Seumur hidupku, aku paling benci orang yang membicarakanku di belakang," batin Yunza.
Saat tiba di hadapannya pun pelayan itu tidak membungkuk dan memberi hormat pada Yunza.
"Berlutut!" perintah Yunza sambil menunjuk ke tanah.
Namun pelayan itu malah menyerengit. "Kau hanyalah orang luar, putri bungsu bodoh dari negara Long. Darah Hou yang mengalir di tubuhku tidak sudi berlutut pada musuh sepertimu!"
"Hey, ini sudah keterlaluan! Berlutut saja!" pelayan satunya menasehati wanita tua itu. Namun ia sangat keras kepala. Dia menunjukkan kebenciannya secara terang-terangan dan tidak takut dengan hukuman.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah pelayan itu, semua orang yang melihatnya tercengang. "Persetan dengan ketidaksudianmu itu. Seorang budak yang tidak menuruti perintah tuannya berhak mendapatkan hukuman!"
Yunza membalikkan tubuhnya. "Anggap itu sebagai peringatan. Lain kali, barang siapa yang menghinaku atau dia, aku tidak akan berbelas kasih padanya!" ancam Yunza.
Kemudian, dia pergi dengan Mi Anra yang membuntutinya dari belakang. Namun, perlakuan Yunza sepertinya tak menimbulkan jera di hati pelayan itu.
Tibalah mereka di kamar Yunza.
"Mi Anra, mandilah dulu. Aku cari pakaianku yang agak kecilan untuk kau pakai," ucap Yunza.
"T-tidak perlu, aku akan memakai pakaianku yang ini saja," balas Mi Anra.
Baru saja Yunza membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetiba pintu kamarnya terbuka. Ia dan Mi Anra menatap ke arah pintu, menyaksikan masuknya seseorang tersebut.
"Lin Jian?"
Lin Jian yang baru melangkahkan kakinya masuk langsung menutup hidung tatkala mencium aroma yang tidak sedap. Pandangannya kemudian teralih pada sosok kumuh di belakang Yunza.
"Siapa dia? Bau sekali!"
Mi Anra menunduk dan bersembunyi di belakang Yunza. "Pelayanku yang baru," jawab Yunza.
Lin Jian mengernyitkan kedua alisnya. "Siapa yang memberimu wewenang untuk membawa orang asing ke sini? Keluarga Lin tidak kekurangan pelayan, jika kau menginginkan pelayan kau tinggal mengatakannya saja," tuturnya.
"Penjaga! Seret wanita bau ini dan lempar keluar istana!" titahnya.
Yunza mengangkat tangannya untuk menghadang. "Kau tidak bisa melakukan itu sesukamu! Siapa yang menjadi pelayanku itu pilihanku, kau tidak berhak ikut campur!" sergah Yunza.
Lin Jian semakin meruncingkan tatapannya. Perlawanan yang dilakukan Yunza membuatnya kehilangan kesabaran.
"Bagaimana ini? Takutnya tidak bisa melindungi Mi Anra dari iblis ini," batin Yunza.
"Aku membawanya pulang bukan tanpa alasan. Aku ingin membalas budinya," celetuk Yunza.
"Balas Budi?" tanya Lin Jian.
"Ya! Dia menyelamatkanku dari penculik di pasar, sedangkan aku tidak punya uang untuk membalas kebaikannya. Jadi, aku membawanya pulang dan berniat menjadikannya pelayan pribadiku ..."
"... Tapi jika kau tidak mengijinkan, tidak apa. Aku akan meminta seseorang untuk membuatkan surat lalu mengirimnya pada kakakku di negara Long agar dia mengirimkan pelayan pribadiku ke sini," lanjutnya.
Saat mendengar hal itu Lin Jian terdiam. "Dia sedang mengancamku?" batinnya.
Tatapan matanya kembali menatap Mi Anra. "Penjaga! Antar wanita itu ke tempat para pelayan. Katakan pada mereka, dia akan menjadi pelayan pribadi dari Permaisuriku!" titahnya.
Mendengar penuturan Lin Jian membuat Yunza senang. Tak lama seorang penjaga datang, Mi Anra pun pergi bersamanya untuk pergi ke tempat pelayan.
Di kamar, tinggalah Yunza dan Lin Jian. Namun ia yang hanya diam tak berbicara membuat Yunza bingung, Yunza akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Mengabaikan keberadaan Lin Jian.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi?" tanya Yunza.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Lin Jian.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Yunza malah bertanya balik.
"Apa yang sudah kau lakukan pada pelayan itu? Sampai ia mengadu dan meminta keadilan di depan ayah Kaisar," tuturnya.
Yunza membalikkan tubuhnya. "Pelayan cuci itu? Aku menamparnya saja tadi," jawab Yunza dengan polos.
Lin Jian mendengus kesal. Ia memutar badannya lalu berkata, "ayah Kaisar menunggumu di aula. Segera selesaikan masalah ini, jangan sampai mempermalukanku!" Setelah itu dia pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
EL CASANDRA
harusnya Langsung pancung aja wkwk😈
2023-01-20
2