Pertemuan

Suatu hari, Mi Anra pergi ke kamar Yunza sambil membawa seember air hangat untuk mandi. Namun dalam perjalanan, dia tak sengaja mendengar sebuah berita yang cukup mengejutkan.

"Tidak lama lagi, akan ada pemilihan selir untuk pangeran kedua."

"Hey jangan asal bicara. Jika sampai terdengar seseorang, tamat sudah hidupmu!"

"Aku tidak asal bicara! Aku dengar beritanya sudah diumumkan di balai kota tadi pagi---" Kedua pelayan yang sedang bergosip itu tak sengaja melihat Mi Anra di hadapan mereka. Mereka pun langsung bungkam saat berpapasan dengannya.

Mi Anra terdiam sejenak. Setelah itu dia mempercepat langkah kakinya, tak peduli meski air yang dibawanya dalam ember itu bertumpahan ke sana kemari. "Aku harus segera memberitahu nona," batinnya.

Ia berjalan sambil tergesa-gesa. Tiba di depan pintu kamar Yunza pun tak perlu mengetuk, dan langsung masuk begitu saja.

"Nona! Bangun Nona!" serunya pada gadis yang masih membelenggu dirinya di dalam selimut. Dia menaruh ember ke lantai secara kasar lalu menghampiri Yunza.

"Nona, bangun! Ada yang ingin aku beritahukan!" Mi Anra menarik-narik selimut yang membalut tubuh Yunza.

Yunza menggeliat kasar. Kendati langsung bangun, ia malah membalikkan tubuhnya menghadap Mi Anra lalu berkata, "ada apa? Sepertinya aku sedikit merasa tidak enak badan. Aku akan bangun agak siangan. Jika seseorang bertanya---"

"Nona, tidak lama lagi akan diadakan pemilihan selir untuk pangeran kedua!" serobot Mi Anra sambil memasang wajah serius.

Mereka saling bertukar pandangan. Yunza yang sudah menduga hal itu akan terjadi tak menunjukkan reaksi terkejut apapun di depan Mi Anra. Tak lama dia menutup wajahnya dengan selimut dan kembali meringkuk.

"Kenapa serius sekali. Pemilihan selir di Istana bukannya sudah biasa, ya. Setiap pangeran memang diharuskan memiliki lebih dari satu istri, bukan?" ucapnya.

Mi Anra merasa kesal dengan jawaban Yunza yang terdengar acuh tak acuh itu. "Sebagai seorang permaisuri dari pangeran kedua, mengapa dia bisa mengatakan hal itu dengan sangat santai," batinnya.

Dia berdiri tegak di samping tempat tidur kemudian langsung menarik selimut yang dikenakan Yunza sampai terlepas dari tubuhnya.

"Pokoknya Nona harus bangun, kita harus melihat berita yang diumumkan di balai kota." Dia membangunkan Yunza lalu memapahnya berjalan ke kamar mandi.

Siang hari. Di bawah terik matahari yang sudah berada di atas kepala, mereka berdua pun tiba di balai kota. Lautan manusia terlihat sepanjang mata memandang, mengerumuni sebuah papan pengumuman dimana di sana tertera titah Kaisar.

Yunza menghela napas kasar dengan tatapan sayu. Hiruk pikuk serta kebisingan keramaian kota membuat telinganya terasa sakit. "Sssh," desah Yunza.

Mi Anra menoleh ke arah Yunza. "Rumor yang kudengar mengatakan bahwa putri bungsu negara Long bahkan tak bisa menulis dan membaca. Membawanya ke sini untuk membaca pengumuman bukankah sudah termasuk menghinanya? Bodoh sekali kau Mi Anra!" umpat Mi Anra dalam hati.

"Nona." Yunza menoleh mendengar Mi Anra memanggilnya. "Nona tunggu di sini. Aku akan mendekat ke papan pengumuman dan melihatnya. Setelah itu aku akan memberitahukannya pada Nona. Tunggu di sini, jangan kemana-mana!"

Setelah mengatakan itu dia pun pergi menerobos padatnya kerumunan dengan tubuh kecilnya itu. Yunza hanya diam melihatnya, sampai akhirnya tubuh pelayan pribadinya hilang ditelan kerumunan.

Sekali lagi dia menghela napas kasar sambil memejamkan matanya. Kemudian Yunza membalikkan tubuhnya berniat meninggalkan tempat itu dan mencari tempat teduh.

Yunza berjalan perlahan sambil melamun. "Sudah sejauh ini, tapi aku belum banyak melakukan apapun. Sekarang bagaimana? Apa benar-benar harus mengikuti alur cerita? Semenjak kematian adiknya Mi Anra, aku tidak berani mengubah alur lagi. Takutnya berhadapan dengan resiko yang lebih besar lagi."

Seseorang berpakaian hitam dan bertubuh tinggi tiba-tiba muncul dan menabraknya. Saat Yunza hampir terjatuh, orang itu segera menahannya dengan merangkul pinggang serta memegang tangan Yunza.

"Nona, apa kau baik-baik saja? Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu," ucap orang itu.

Yunza mengernyitkan dahinya. "Jelas-jelas dia sengaja menabrakku," batinnya. Dia menegakkan tubuhnya dan mendorong pria itu sedikit menjauh darinya.

Tudung hitam dengan tirai menjuntai membuat Yunza tak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa pria tersebut. Namun dari suara serta postur tubuhnya menunjukan bahwa dia seorang pria.

"Tuan, lain kali hati-hati dalam berjalan. Jangan sampai menabrak orang seperti itu lagi." Yunza memasang wajah dingin kemudian melangkah pergi dari hadapan pria itu.

Tepat saat Yunza melewatinya, terdengar pria itu tertawa kecil. "Tidak lama lagi, kita akan bertemu, Yunza," bisik pria itu dengan suara lirih pelan, nyaris tak terdengar ditengah kebisingan tempat itu.

Namun, telinga tajam Yunza mendengar kalimat tersebut dengan sangat jelas. Dia terkejut sampai tak bisa mengatakan apa-apa. Sebelum akhirnya menoleh, namun sudah tak mendapati pria itu di sana.

"Siapa dia? Mengapa dia bisa mengenalku?" Yunza mencari ke sana kemari, menyapu pandangannya ke semua tempat namun tetap tak melihatnya lagi. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di hatinya.

"Apa dia sudah datang? Bagaimana bisa lebih cepat dari pada dalam cerita?" Yunza kalut untuk sementara waktu. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Pendengarannya menangkap begitu banyak suara sampai membuat kepalanya terasa sakit.

Dia kemudian berjalan menuju tempat teduh sambil sempoyongan. Sekali lagi, seseorang tak sengaja menabraknya dan hampir membuatnya jatuh. Beruntung, Mi Anra datang.

"Nona, Anda baik-baik saja?" tanyanya.

Ia tak mendapatkan jawaban apapun dari Yunza. Kemudian memapah Yunza dengan langkah perlahan. "Suhu tubuhnya panas sekali. Aku harus cepat membawanya kembali, takutnya Nona sedang sakit."

Di kediaman Yunza. Mi Anra merasa gelisah karena sejak tadi siang demam Yunza belum juga turun. Berulang kali dia menemui tabib, memintanya untuk datang dan memeriksa Yunza, namun tak satu pun tabib yang datang.

"Ini salahku. Andai aku tidak memaksa mengajak nona pergi ke balai desa untuk melihat pengumuman itu, hal ini mungkin tidak akan terjadi," ucap Mi Anra sambil memeras handuk kompresan.

Yunza terbaring dengan mata terpejam. Ia terus-menerus mengigau menyebut nama kedua orang tuanya. "Ayah ... Ibu ... Yunza ingin pulang." Begitu igaunya.

Mi Anra tak bisa menahannya lagi. Melihat Yunza tersiksa seperti itu sangat menyakitkan, seperti melihat adiknya, Su Li.

"Nona, tunggu sebentar, ya. Aku akan memanggil pangeran kedua ke sini. Aku pasti akan membawanya datang. Jadi, nona tunggu aku, ya."

Mi Anra turun dari ranjang tidur dan mulai berjalan pergi dengan keraguan saat meninggalkan Yunza seorang diri. Di ambang pintu, dia menoleh ke belakang. "Aku akan segera kembali." Kemudian meninggalkan kamar.

Sementara itu di ruang baca.

Lin Jian bersama seorang menteri sedang mendiskusikan suatu urusan yang sangat penting. "Pemilihan selir dilakukan mulai besok? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Lin Jian.

"Menurut Yang Mulia, jika dilaksanakan dengan cepat maka itu lebih baik. Kita harus secepatnya mendapat banyak dukungan dan kekuatan. Pangeran Lin Jian, mungkin tidak lama lagi, kau yang akan menduduki tahta kekaisaran untuk memimpin negara Hou."

"Menteri Ming, kakak pertamaku masih hidup. Dia putra mahkota yang akan duduk di singgah sanah kekaisaran dan memimpin negara Hou ini," balas Lin Jian.

"Tapi pangeran, putra mahkota memiliki kesehatan yang buruk. Dia tidak mungkin bisa memimpin negara Hou---"

Lin Jian melemparkan tatapan tajam padanya dan seketika menteri itu diam. Keheningan pun terjadi di sana. Namun itu tak bertahan lama setelah terdengar adanya kegaduhan di luar ruangan.

"Wang Xi, kenapa di luar berisik sekali?" tanyanya pada pengawalnya.

"Hamba akan pergi melihat---"

Belum ia menyelesaikan ucapannya, seseorang masuk menerobos pintu. Dia berlari menghampiri Lin Jian kemudian berlutut di hadapannya sambil terisak. Sementara di belakangnya datang penjaga berniat menangkapnya.

Namun sebelum itu terjadi, Lin Jian mengangkat tangannya untuk menghentikan penjaga-penjaga itu.

"Pangeran kedua, tolong ikut denganku. Nona ... dia sedang sakit."

Episodes
1 Awal Mula
2 Kegelisahan Han Xi
3 Saat Xiao Lu Kecil
4 Lin Jian Menyebalkan
5 Si Wanita Jelek
6 Selamat Tinggal Su Li
7 Penolakan Orang-orang
8 Tuduhan Palsu
9 Dia Tidak Bisa Diremehkan
10 Pertemuan
11 Merawat Yunza
12 Pria Di Kursi Roda
13 Obsesi Ran Jao dan cinta Su Jin
14 Bermain Judi
15 Curang dibalas Curang
16 Lin Jian Mesum
17 Kerja Sama Shenshen
18 Bertamu Ke Bei Fanrong
19 Senjata Makan Tuan
20 Kekalahan Shenshen
21 Pria Misterius
22 Sekutu
23 Kelahiran Yunza dan pesan Ibunda
24 Perasaan Shen Xiao Lu
25 Gadis Buta
26 Mi Anra Salah Paham
27 Sebuah Dendam
28 Menghianati Yunza
29 Kedua Pangeran
30 Latihan Menari Chen Su
31 Serangan tak Terduga
32 Penyambutan Yu Qin
33 Serangan balik
34 Kelicikan Chen Su
35 Mi Anra dan Gu Rong
36 Identitas Yu Qin
37 Aku Menang!
38 Mi Anra Jangan Pergi
39 Rencana Chen Su
40 Senjata Makan Tuan
41 Pagi Setelahnya
42 Hilangnya Mi Anra
43 Rencana Perburuan Musim Panas
44 Menguji Yu Qin
45 Siapa Kau Sebenarnya
46 Tidak Ingin Menikah
47 Gagal Belah Duren
48 Memergoki
49 Hadiah Untuk Lin Jian
50 Pengakuan
51 Permaisuri Vs Selir
52 Pertarungan Satu Lawan Satu
53 Apa Aku Akan Mati Di Sini?
54 Naluri
55 Karma
56 Kematian Gu Rong
57 Berita Tentang Gu Rong
58 Kabar Menyakitkan
59 Wanita Bernama Mu Jiangyu
60 Cinta Jenderal Thang
61 Rencana Bulan Madu
62 Berita Kematian Lin Yu
63 Cerita Kepala Desa
64 Kecurigaan Kaisar
65 Yang Terabaikan
66 Konsekuensi Menyakiti Permaisuri
67 Diantara Dua Pilihan
68 Kebenaran Tentang Yu Qin
69 Yang Terpilih
70 Firasat Buruk
71 Malam Berdarah
72 Hidup dan Kematian
73 Bala Bantuan
74 Perhatian Shen Tian
75 Diantara Dua Pilihan
76 Comeback
77 Setelah hari itu
78 Licik
79 Resiko dan Harapan
80 Pertemuan Guru dan Murid
81 Munculnya Musuh Lama
82 Bala Bantuan
83 Kilas Balik
84 Perpisahan dan Pertemuan
85 Terima kasih semua
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Awal Mula
2
Kegelisahan Han Xi
3
Saat Xiao Lu Kecil
4
Lin Jian Menyebalkan
5
Si Wanita Jelek
6
Selamat Tinggal Su Li
7
Penolakan Orang-orang
8
Tuduhan Palsu
9
Dia Tidak Bisa Diremehkan
10
Pertemuan
11
Merawat Yunza
12
Pria Di Kursi Roda
13
Obsesi Ran Jao dan cinta Su Jin
14
Bermain Judi
15
Curang dibalas Curang
16
Lin Jian Mesum
17
Kerja Sama Shenshen
18
Bertamu Ke Bei Fanrong
19
Senjata Makan Tuan
20
Kekalahan Shenshen
21
Pria Misterius
22
Sekutu
23
Kelahiran Yunza dan pesan Ibunda
24
Perasaan Shen Xiao Lu
25
Gadis Buta
26
Mi Anra Salah Paham
27
Sebuah Dendam
28
Menghianati Yunza
29
Kedua Pangeran
30
Latihan Menari Chen Su
31
Serangan tak Terduga
32
Penyambutan Yu Qin
33
Serangan balik
34
Kelicikan Chen Su
35
Mi Anra dan Gu Rong
36
Identitas Yu Qin
37
Aku Menang!
38
Mi Anra Jangan Pergi
39
Rencana Chen Su
40
Senjata Makan Tuan
41
Pagi Setelahnya
42
Hilangnya Mi Anra
43
Rencana Perburuan Musim Panas
44
Menguji Yu Qin
45
Siapa Kau Sebenarnya
46
Tidak Ingin Menikah
47
Gagal Belah Duren
48
Memergoki
49
Hadiah Untuk Lin Jian
50
Pengakuan
51
Permaisuri Vs Selir
52
Pertarungan Satu Lawan Satu
53
Apa Aku Akan Mati Di Sini?
54
Naluri
55
Karma
56
Kematian Gu Rong
57
Berita Tentang Gu Rong
58
Kabar Menyakitkan
59
Wanita Bernama Mu Jiangyu
60
Cinta Jenderal Thang
61
Rencana Bulan Madu
62
Berita Kematian Lin Yu
63
Cerita Kepala Desa
64
Kecurigaan Kaisar
65
Yang Terabaikan
66
Konsekuensi Menyakiti Permaisuri
67
Diantara Dua Pilihan
68
Kebenaran Tentang Yu Qin
69
Yang Terpilih
70
Firasat Buruk
71
Malam Berdarah
72
Hidup dan Kematian
73
Bala Bantuan
74
Perhatian Shen Tian
75
Diantara Dua Pilihan
76
Comeback
77
Setelah hari itu
78
Licik
79
Resiko dan Harapan
80
Pertemuan Guru dan Murid
81
Munculnya Musuh Lama
82
Bala Bantuan
83
Kilas Balik
84
Perpisahan dan Pertemuan
85
Terima kasih semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!