Si Wanita Jelek

Larut malam setelah perjamuan usai. Lin Jian yang sedikit mabuk berjalan ke kamar sambil sempoyongan. "Kenapa ayah menyuruhku tidur di kamar gadis bodoh itu! Konyol sekali!" gerutunya.

Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Yunza. Tanpa pikir panjang, dia pun segera membuka pintu dan masuk. Di dalam, dia menghampiri ranjang tidur. Raut wajahnya seketika berubah saat melihat posisi tidur Yunza yang sangat berantakan.

"Aku pikir sikapnya tadi hanya tipuan saja, bodoh tetaplah bodoh!" gumamnya sambil menatap jijik.

Lin Jian mendekati ranjang lalu menarik kaki Yunza dengan kasar. "Menyingkir dari tempat tidur ini! Tidurlah di lantai!" ucapnya.

Yunza tersadar. Alih-alih menuruti perkataan Lin Jian, dia malah membalikkan tubuhnya dan membelakangi Lin Jian sambil berkata, "tidak mau!"

Hal itu membuat Lin Jian geram. Sekali lagi dia menarik kaki Yunza, namun tak juga membuat gadis itu menyerah.

"Dengar! Kalau kau tidak pergi dari sini, aku tidak bisa menjamin tidak akan berbuat sesuatu padamu. Dan aku pastikan akan membuatmu menyesalinya!" ancamnya.

Yunza membalikkan tubuhnya. "Tuan, kau memiliki banyak tempat untuk kau tinggali. Mengapa harus mengusik orang lain seperti ini?" sungutnya.

"Aku sudah pernah mengatakannya. Semua tempat di negara Hou ini adalah milik keluarga Lin. Aku tidur di mana pun itu bukan urusanmu! Sekarang, menyingkir dari sini!" Untuk yang kesekian kalinya Lin Jian menarik kasar kaki Yunza.

Yunza pun tak memiliki pilihan lain selain mengalah. Ia turun dari ranjang tidur, dan segera Lin Jian menggantikannya.

Dia berdiri kebingungan. Menoleh kesana kemari mencari tempat untuknya tidur. Hanya ada sebuah kursi panjang namun permukaannya kasar, tidak nyaman jika digunakan untuk tidur.

"Tapi, tidak ada pilihan lain," batin Yunza. Dia mengambil satu bantal kemudian membaringkan tubuhnya di atas kursi tersebut.

Esoknya, saat Yunza bangun dia sudah tak mendapati Lin Jian di kamarnya. Seorang pelayan wanita pun tidak ada satu pun. Terpaksa dia harus membersihkan tempat tidurnya dan mengurus semuanya seorang diri.

Namun setelah itu apa? Paviliun yang ditempatinya benar-benar sepi bak kuburan. Paviliun Chang timur yang cukup jauh dengan inti istana, mungkin bisa juga disebut istana dingin.

"Bagian paling membosankan dari cerita ini sedang terjadi sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin benar-benar terbawa arus begitu saja. Sampai kapan? Sampai dia datang?" Ia menggerutu sambil berkacak pinggang.

Tak lama dia mengingat sesuatu saat perjalanan. Dia melihat adanya pasar di kota yang sangat ramai. "Di halaman belakang seharusnya ada lubang anjing, kan? Baiklah, ayo kita pergi jalan-jalan."

Yunza pergi meninggalkan kamar tidurnya tanpa sepengetahuan siapapun. Dia pergi ke halaman dan mencari-cari lubang anjing di sekitar tembok pembatas.

"Ah~ ketemu!" ucapnya saat berhasil menemukan lubang tersebut.

"Tapi, muat tidak, ya," lanjutnya.

"Coba, deh!" Yunza mulai berjongkok. Lubang itu mungkin bisa dilaluinya jika dia sedikit merendahkan tubuhnya lagi. Setelah melakukan hitungan, Yunza pun mulai memasukkan kepalanya ke lubang.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, setidaknya, separuh tubuh Yunza sudah berhasil keluar. Namun bagian pinggulnya tersangkut lubang tersebut yang membuatnya kesulitan keluar.

"Aaahh~ Shhhh~ sedikit lagi!" erangnya. Dia berusaha sangat keras untuk bisa keluar dari lubang itu. Meski sakit dirasa, ia tetap menahannya.

Akan tetapi, usahanya tak membuahkan hasil. Tak sedikitpun dari usahanya dia berhasil menarik pinggulnya. Dia menghembuskan napas panjang dengan raut wajah putus asa.

Tak berapa lama muncul seseorang yang kemudian dia mengulurkan tangannya ke hadapan Yunza. Tanpa ragu Yunza pun menggapai tangan tersebut dan sekuat tenaga keluar dari lubang. Kali ini, berkat bantuan orang itu dia berhasil keluar.

Yunza merasa lega. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Dia sudah tertangkap basah oleh seseorang dan mungkin akan segera mendapatkan hukuman.

"Nona?" seru orang itu membuat Yunza terkejut.

Sontak Yunza membalikkan tubuhnya dan segera membungkuk. "Tuan, tolong ampuni saya! Jangan adukan saya pada Kaisar, saya mohon." Yunza memohon pada orang itu.

Menanggapi sikap Yunza, orang itu malah tertawa kecil. Yunza mengangkat kepalanya dan menatapnya.

"Tidak perlu bersikap seperti itu, aku tidak akan mengadukan Nona pada Kaisar. Aku justru sengaja menunggu Nona di sini," tuturnya.

Di depannya, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang. Rambutnya hitam dan dia memiliki pupil mata berwarna coklat cerah.

"Mata-mata yang Han Xi kirimkan untuk melindungi adiknya. Oh tidak, bagaimana bisa aku melupakan bagian ini!" gumam Yunza.

Tak lama pria itu merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kantong berisi uang koin. "Nona akan pergi ke pasar, kan. Bawalah ini." Dia menyerahkannya pada Yunza.

Yunza menerima kantong tersebut. "Terima kasih," ucapnya.

"Kalau begitu aku pergi dulu, jika Nona membutuhkan sesuatu panggil saja." Setelah mengatakan hal itu dia pun pergi dengan sangat cepat.

Yunza terbengong. "'Panggil saja', katanya. Aku bahkan tidak ingat siapa namanya. Guan Song? Gu Rong? Beneran tidak ingat!" gerutunya sambil memasukkan kantong berisi uang koin pada pakaiannya.

Beberapa saat berlalu, Yunza tiba di pasar kota.

"Tidak disangka, pasarnya sangat ramai sekali. Padahal negara ini baru saja mengalami kekalahan perang. Negara Hou dianugerahi beberapa sumber daya alam yang tidak dimiliki negara lain termasuk Long. Mungkin, itu sebabnya ayah Kaisar membiarkan negara ini tetap berada dipimpinan keluarga Lin dan lebih memilih mengontrolnya ketimbang mengambil alih."

Dia menutupi wajahnya dengan cadar hitam, kemudian mulai berbaur dengan banyaknya orang yang berlalu-lalang di sana.

"Bukankah aku harus pergi ke tempat bernama Hanjong? Dalam cerita, tidak diberitahukan dengan detail dimana letak tempat tersebut. Jadi, aku harus mencarinya sendiri," gumamnya.

Yunza menyusuri jalanan pasar sambil mencari-cari tempat bernama Hanjong tersebut. Hanjong merupakan satu-satunya restourant megah yang terletak di pusat kota. Menurut cerita, seseorang akan ditemui Yunza di sana.

Terik matahari sudah berada di atas kepala Yunza, namun ia belum juga menemukan tempat itu. Dia berdiri di dekat sebuah gang dan menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil terengah-engah.

"Seharusnya penulis memberitahukan detail tempatnya. Jika terus begini, sampai mati pun tidak akan menemukan tempat itu di kota yang sangat luas ini!" gerutunya.

Bruk!

Tetiba terdengar suara keras dari gang tersebut. Yunza yang merasa penasaran lantas mendekati asal suara.

"Cepat pergi dari sini! Jangan mengotori tempatku!" teriak seorang pria pada seorang wanita yang terduduk di tanah sambil berderai air mata.

Si wanita kemudian berlutut di depan pria itu sambil menangis tersedu-sedu. "Tuan, aku mohon. Ijinkan aku bekerja di sini lebih lama. Aku butuh uang untuk pengobatan adikku," pinta wanita itu.

Pria itu merogoh saku bajunya lalu melemparkan beberapa koin uang padanya. "Ambil dan pergilah! Jangan kembali lagi ke sini!" Setelah itu dia masuk ke dalam dan meninggalkan wanita itu.

Wanita itu memungut koin-koin tersebut sambil menyeka air matanya. Tak berlangsung lama, keluarlah dua orang wanita dari pintu si pria tadi masuk.

"Lihatlah, enak sekali jadi dia. Baru bekerja sehari sudah mendapatkan uang," ucap salah satu dari mereka.

"Benar, padahal sedari pagi kerjanya hanya mengacau saja." Satu lainnya kemudian berjongkok dan langsung merampas uang itu darinya. "Kau tidak berhak mendapatkannya!"

"Bibi, aku mohon kembalikan uang itu. Aku sangat membutuhkannya untuk membawa adikku berobat," ucapnya. Namun, kedua wanita itu tampaknya tak merasa iba sedikitpun.

"Hei, Mi Anra, wanita paling jelek dan kumuh di kota ini. Memangnya siapa yang peduli tentang itu? Jika sembuh pun tidak akan membuat adikmu menjadi berguna. Biarkan saja dia mati!"

Perkataan wanita itu membuat Mi Anra marah. Dia memegang salah satu kaki wanita itu lalu menggigitnya dengan sangat keras. Teriakan keras pun terdengar memenuhi sudut gang tersebut.

"Lepaskan! Dasar wanita jelek! Wanita kasar! Apa kau anjing yang suka menggigit!" teriak wanita yang digigit kakinya sambil memukul-mukul kepala Mi Anra. Satu wanita lainnya juga ikut memukul. Mereka mengeroyok Mi Anra sementara dia hanya bisa menangis.

"Adik, maafkan aku."

Episodes
1 Awal Mula
2 Kegelisahan Han Xi
3 Saat Xiao Lu Kecil
4 Lin Jian Menyebalkan
5 Si Wanita Jelek
6 Selamat Tinggal Su Li
7 Penolakan Orang-orang
8 Tuduhan Palsu
9 Dia Tidak Bisa Diremehkan
10 Pertemuan
11 Merawat Yunza
12 Pria Di Kursi Roda
13 Obsesi Ran Jao dan cinta Su Jin
14 Bermain Judi
15 Curang dibalas Curang
16 Lin Jian Mesum
17 Kerja Sama Shenshen
18 Bertamu Ke Bei Fanrong
19 Senjata Makan Tuan
20 Kekalahan Shenshen
21 Pria Misterius
22 Sekutu
23 Kelahiran Yunza dan pesan Ibunda
24 Perasaan Shen Xiao Lu
25 Gadis Buta
26 Mi Anra Salah Paham
27 Sebuah Dendam
28 Menghianati Yunza
29 Kedua Pangeran
30 Latihan Menari Chen Su
31 Serangan tak Terduga
32 Penyambutan Yu Qin
33 Serangan balik
34 Kelicikan Chen Su
35 Mi Anra dan Gu Rong
36 Identitas Yu Qin
37 Aku Menang!
38 Mi Anra Jangan Pergi
39 Rencana Chen Su
40 Senjata Makan Tuan
41 Pagi Setelahnya
42 Hilangnya Mi Anra
43 Rencana Perburuan Musim Panas
44 Menguji Yu Qin
45 Siapa Kau Sebenarnya
46 Tidak Ingin Menikah
47 Gagal Belah Duren
48 Memergoki
49 Hadiah Untuk Lin Jian
50 Pengakuan
51 Permaisuri Vs Selir
52 Pertarungan Satu Lawan Satu
53 Apa Aku Akan Mati Di Sini?
54 Naluri
55 Karma
56 Kematian Gu Rong
57 Berita Tentang Gu Rong
58 Kabar Menyakitkan
59 Wanita Bernama Mu Jiangyu
60 Cinta Jenderal Thang
61 Rencana Bulan Madu
62 Berita Kematian Lin Yu
63 Cerita Kepala Desa
64 Kecurigaan Kaisar
65 Yang Terabaikan
66 Konsekuensi Menyakiti Permaisuri
67 Diantara Dua Pilihan
68 Kebenaran Tentang Yu Qin
69 Yang Terpilih
70 Firasat Buruk
71 Malam Berdarah
72 Hidup dan Kematian
73 Bala Bantuan
74 Perhatian Shen Tian
75 Diantara Dua Pilihan
76 Comeback
77 Setelah hari itu
78 Licik
79 Resiko dan Harapan
80 Pertemuan Guru dan Murid
81 Munculnya Musuh Lama
82 Bala Bantuan
83 Kilas Balik
84 Perpisahan dan Pertemuan
85 Terima kasih semua
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Awal Mula
2
Kegelisahan Han Xi
3
Saat Xiao Lu Kecil
4
Lin Jian Menyebalkan
5
Si Wanita Jelek
6
Selamat Tinggal Su Li
7
Penolakan Orang-orang
8
Tuduhan Palsu
9
Dia Tidak Bisa Diremehkan
10
Pertemuan
11
Merawat Yunza
12
Pria Di Kursi Roda
13
Obsesi Ran Jao dan cinta Su Jin
14
Bermain Judi
15
Curang dibalas Curang
16
Lin Jian Mesum
17
Kerja Sama Shenshen
18
Bertamu Ke Bei Fanrong
19
Senjata Makan Tuan
20
Kekalahan Shenshen
21
Pria Misterius
22
Sekutu
23
Kelahiran Yunza dan pesan Ibunda
24
Perasaan Shen Xiao Lu
25
Gadis Buta
26
Mi Anra Salah Paham
27
Sebuah Dendam
28
Menghianati Yunza
29
Kedua Pangeran
30
Latihan Menari Chen Su
31
Serangan tak Terduga
32
Penyambutan Yu Qin
33
Serangan balik
34
Kelicikan Chen Su
35
Mi Anra dan Gu Rong
36
Identitas Yu Qin
37
Aku Menang!
38
Mi Anra Jangan Pergi
39
Rencana Chen Su
40
Senjata Makan Tuan
41
Pagi Setelahnya
42
Hilangnya Mi Anra
43
Rencana Perburuan Musim Panas
44
Menguji Yu Qin
45
Siapa Kau Sebenarnya
46
Tidak Ingin Menikah
47
Gagal Belah Duren
48
Memergoki
49
Hadiah Untuk Lin Jian
50
Pengakuan
51
Permaisuri Vs Selir
52
Pertarungan Satu Lawan Satu
53
Apa Aku Akan Mati Di Sini?
54
Naluri
55
Karma
56
Kematian Gu Rong
57
Berita Tentang Gu Rong
58
Kabar Menyakitkan
59
Wanita Bernama Mu Jiangyu
60
Cinta Jenderal Thang
61
Rencana Bulan Madu
62
Berita Kematian Lin Yu
63
Cerita Kepala Desa
64
Kecurigaan Kaisar
65
Yang Terabaikan
66
Konsekuensi Menyakiti Permaisuri
67
Diantara Dua Pilihan
68
Kebenaran Tentang Yu Qin
69
Yang Terpilih
70
Firasat Buruk
71
Malam Berdarah
72
Hidup dan Kematian
73
Bala Bantuan
74
Perhatian Shen Tian
75
Diantara Dua Pilihan
76
Comeback
77
Setelah hari itu
78
Licik
79
Resiko dan Harapan
80
Pertemuan Guru dan Murid
81
Munculnya Musuh Lama
82
Bala Bantuan
83
Kilas Balik
84
Perpisahan dan Pertemuan
85
Terima kasih semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!