"Yang Mulia, hamba meminta keadilan atas apa yang sudah dilakukan permaisuri pangeran kedua pada hamba. Lihatlah luka-luka ini. Dia menganiayaku, Yang Mulia. Mohon beri aku keadilan," ucap pelayan itu sambil bersujud di depan Kaisar.
Tak lama Lin Jian datang. Ayah Kaisar yang sudah merasa muak dengan keadaan itu lantas bertanya, "dimana istrimu? Tidakkah dia ikut denganmu?"
"Dia akan tiba sebentar lagi, Ayahanda," balas Lin Jian.
Lin Jian menatap pelayan yang bersujud sambil menangis dan memohon di hadapan Kaisar. Kaisar kembali melontarkan pertanyaan padanya, "bagaimana tanggapanmu mengenai tindakan yang sudah istrimu perbuat, pangeran Lin Jian?"
"Ijin menjawab, Ayahanda. Aku percaya pada istriku dan dia tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu," jawab Lin Jian.
"Itu benar, Yang Mulia pangeran kedua. Aku tidak berbohong! Permaisuri menganiayaku tanpa sebab di hadapan banyak orang. Banyak pelayan menjadi saksinya!" kekeh pelayan tua itu.
Tetiba Yunza muncul. "Kalau begitu aku ingin tahu yang mana orangnya. Mata sebelah mana yang mereka gunakan saat melihatku menganiayamu?" tanyanya.
Melihat Yunza di sana, pelayan itu kembali berakting. Dia mundur seolah-olah ketakutan pada Yunza. "Yang Mulia, aku tidak berbohong. Permaisuri menganiayaku saat aku mengangkat jemuran sore tadi. Anda bisa menanyakannya pada para pelayan di sana."
Kaisar menatap Yunza. "Menantu, apa benar yang dia katakan?" tanyanya.
Yunza membungkuk dan menjawab, "benar, Yang Mulia. Akan tetapi, aku hanya menamparnya saja. Itu pun karena dia tidak mau berlutut di hadapanku dan dengan terang-terangan melawanku."
"Itu bohong! Jelas-jelas Permaisuri memukuliku dengan sebuah rotan, menendang serta menjambakku dengan kasar! Dia bahkan mengancam akan membunuhku!" ucap pelayan itu sambil berisak tangis.
Yunza terdiam, ia merasa bingung harus melawan bagaimana lagi. Ia menoleh ke arah Lin Jian, namun Lin Jian malah memalingkan wajahnya.
"Yang Mulia, aku---"
"Permaisuri tidak melakukan hal buruk itu, aku saksinya, Yang Mulia." Mi Anra muncul dan menyatakan kesaksiannya.
Kaisar meruncingkan tatapannya. "Siapa kau?" tanya Kaisar pada gadis asing yang kini memakai pakaian pelayan kediamannya.
Mi Anra masuk kemudian berlutut. "Hamba seorang gadis biasa yang dibawa Permaisuri untuk dijadikan pelayan pribadi," ucap Mi Anra.
"Hari ini, Permaisuri membawa hamba ke Istana. Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan seorang pelayan dan tanpa sepengetahuan siapapun dia mencuri uang di saku pakaian Permaisuri. Hamba yang melihat kejadian itu kemudian mengadu. Permaisuri marah barulah menampar pelayan itu---"
"Bohong! Dia berbohong! A tidak mencuri apapun! Aku hanya mengatakan kalau aku tidak sudi berlutut pada musuh---" Pelayan itu segera menutup rapat mulutnya saat tak sengaja mengatakan kebenaran.
"Lancang! Pelayan yang tidak patuh pada majikan harus dihukum! Penjaga! Seret dia dan beri hukuman cambuk sebanyak 100 kali!" titah Kaisar.
"Tidak, Yang Mulia! Dia benar-benar menganiayaku. yang Mulia!" teriak pelayan itu saat diseret oleh beberapa penjaga.
Ayah Kaisar menghela napas panjang. "Menantu, kau sudah terlepas dari tuduhan. Kembalilah ke kamarmu. Sedangkan Lin Jian, tetaplah di sini. Ada yang ingin Ayahanda bicarakan denganmu," tuturnya.
Lin Jian menganggukkan kepalanya. Sementara Yunza dan Mi Anra pergi dari tempat itu, kini hanya tinggal Lin Jian dan Kaisar yang berada di sana.
Beberapa saat kemudian, Ayah Kaisar kembali menghela napas panjang sambil kembali duduk di tempatnya. Ia menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membahas masalah selanjutnya dengan Lin Jian.
"Aku dengar, kesehatan Ayahanda menurun akhir-akhir ini. Ayahanda lekaslah beristirahat. Urusan negara, biar kakak pertama dan aku yang mengurusnya," tutur Lin Jian.
"Kakak pertama? Apa dia benar-benar bisa dipercaya?" tanya Kaisar.
"Lin Jian, ada yang ingin Ayahanda bicarakan. Terlepas dari kekalahan perang dari negara Long, kita harus segera menambah kekuatan negara kita. Ayahanda tidak mau terus-menerus berada di genggaman Kaisar Long itu!"
"Apa ada yang ingin Ayahanda aku lakukan?" tebak Lin Jian.
Kaisar tersenyum masam. Tak disangka putranya itu bisa menebak niatnya. "Memilih beberapa selir dari para anak pejabat. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan dukungan. Tak hanya dari negara Hou saja, Ayahanda akan mengundang teman Ayahanda yang berada di luar negara Hou," bebernya.
"Aku tidak keberatan. Selama itu bisa mempertahankan negara Hou, aku bersedia mengikuti keinginan Ayahanda," jawab Lin Jian.
Kaisar cukup puas dengan keputusan putra kesayangannya. "Sayang sekali, jika tidak terikat peraturan, aku mungkin sudah menjadikannya putra mahkota sejak dulu," batin Kaisar.
"Ada sesuatu yang perlu kau ingat baik-baik, Lin Jian. Seorang menteri dari Nansu memiliki beberapa anak gadis yang cantik dan berbakat. Tapi kau hanya perlu mendapatkan satu dari mereka. Ingat baik-baik, namanya adalah ...."
Lin Jian menganggukkan kepalanya sambil memasang wajah serius. "Aku akan mengingatnya, Ayahanda," ucapnya.
"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Kaisar.
"Oh ,ya. Lin Jian, kau harus berhati-hati pada istrimu itu. Aku pikir, dia bukanlah putri bungsu Kaisar Long yang terkenal bodoh itu," sambungnya.
Lin Jian membungkukkan badan. "Aku mengerti, Ayahanda. Kalau begitu, aku pamit pergi." Lin Jian pun pergi dari tempat itu.
Sementara itu, beberapa saat yang lalu.
Yunza dan Mi Anra keluar dari aula bersama-sama. "Ah, lega sekali rasanya. Terima kasih, Mi Anra, kau sudah menolongku tadi," ucap Yunza pada Mi Anra.
Mi Anra tersenyum sungkan. "Jangan mengatakan hal itu, Nona. Anda juga pernah menolongku beberapa kali," balasnya.
Yunza menoleh ke arahnya. "Ayolah, jangan berbicara seformal itu denganku. Apa kau tahu, selama ini aku tidak pernah memiliki teman. Jadi, saat kau membelaku tadi, aku merasa sangat senang."
Keduanya kemudian tertawa bersama sambil berjalan menuju ke kamar.
Di belakang mereka, berdiri Shenshen beserta dua pelayannya. Dia menatap ke arah Yunza dan Mi Anra dengan tatapan aneh.
"Siapa wanita yang bersamanya itu?" tanyanya.
"Dia pelayan pribadi yang dipungut Permaisuri dari pasar, aku mendengarnya dari para pelayan cuci. Saat dibawa ke Istana, wanita itu sangat kumuh dan bau," jawab salah satu pelayannya.
Shenshen tersenyum menyeringai. "Sampah berteman dengan sampah, benar-benar cocok sekali," cemoohnya.
"Oh, ya. Apa selir Ning Ning ada di kediamannya?" tanya Shenshen.
"Selir Ning Ning? Semenjak berita kehamilannya tersebar, dia tidak diperbolehkan keluar kediaman oleh Kaisar. Nona, kenapa Anda menanyakannya? Jangan bilang kalau Nona ingin menemuinya."
Shenshen membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kaki. "Bukan aku yang akan menemuinya, tapi kalian. Dengarkan baik-baik, aku ingin kalian melakukan ini," ucapnya terhenti.
Ia menjelaskan rencananya pada kedua pelayannya tersebut. Apa yang direncanakan hanya dia yang tahu, dan tujuannya tak lain dan tak bukan adalah menjatuhkan Yunza.
"Shen Yun Ja, kekalahanku waktu itu anggap saja sebagai salam pertemuan kita. Aku tidak percaya jika kedepannya aku tidak bisa menjatuhkanmu. Aku, Lin Shenshen, tidak pernah kalah dari siapapun!" batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments