Esok hari, di negara Long.
Xiao Lu berjalan tergesa-gesa sambil diikuti dua dayangnya. Langkahnya terhenti di depan pintu ruang baca milik kakaknya, Han Xi. Akan tetapi, saat hendak mendorong pintu, seorang penjaga menghentikannya.
"Maaf, Nona kedua, pangeran Han Xi sedang tidak bisa diganggu!" ujarnya sambil mengangkat tangan menghalangi Xiao Lu.
Xiao Lu lantas melempar tatapan tajam padanya sambil berkata, "menyingkir! Jangan menghalangi jalanku!"
"Maafkan hamba. Namun hamba tidak bisa membiarkan Anda masuk karena itu perintah langsung dari Yang Mulia pangeran," tuturnya.
Kedua alisnya mengernyit, sambil menggertakkan giginya dia mulai mengepalkan tangan. "Lancang!" Xiao Lu mengangkat tangannya hendak menampar, namun seseorang muncul dan langsung memegang tangannya.
Ia terkejut kemudian menoleh ke arah pintu. "Kak Han Xi?" ucap Xiao Lu.
Han Xi melepaskan tangan Xiao Lu seraya bertanya, "apa yang kau lakukan di sini, adik Shen Xiao?" tanyanya.
Ekspresi wajah Xiao Lu seketika berubah. Dia memegang tangan Han Xi dengan tatapan penuh harapan. "Kakak, aku dengar, kau akan pergi ke negara Hou. Apa itu benar?" tanyanya.
Kendati menjawab, Han Xi malah menepis tangan Xiao Lu lalu berjalan keluar dari ruangannya. Beberapa saat berlalu dia masih belum menjawab. Xiao Lu pun mengikutinya dari belakang.
"Kak Han Xi, apa kau mendengarku?" tanyanya sambil membuntuti.
"Dengar, Shen Xiao, kembalilah ke kamarmu!"
Xiao Lu langsung cemberut mendengar hal itu. Ia menahan emosinya dan tersenyum. "Kak Han Xi, boleh aku ikut---"
"Tidak!" Han Xi menolak mentah-mentah permintaan Xiao Lu. Dia menghentikan langkahnya kemudian. "Shen Xiao, lebih baik kau memikirkan baik-baik permintaan ayahanda mengenai pernikahanmu dengan pangeran---"
"Aku tidak mau!" teriak Xiao Lu.
Saat Han Xi menoleh, ia sudah mendapati adiknya berderai air mata. "Kenapa kalian tidak memikirkan perasaanku? Aku bilang aku tidak ingin menikah!" ujar Xiao Lu sambil menyeka air matanya.
"Jika ibu masih ada, mungkin dia akan membelaku. Tidak seperti kalian!" lanjutnya.
Mendengar hal itu, Han Xi pun luluh hatinya. Dia menyadari adanya kesepian di hati Xiao Lu terlebih setelah Yunza tidak ada.
Dia mengulurkan tangannya lalu memeluk Xiao Lu. "Maafkan kakak, ya, Shen Xiao. Ya sudah, jangan menangis lagi. Lekaslah bersiap. Kita akan pergi secepatnya agar bisa tiba tepat waktu di sana. Kau juga merindukan adikmu, kan?"
"S-siapa yang merindukannya!" Meski itu yang dikatakannya, Xiao Lu diam-diam tersenyum.
Sementara itu, di negara Hou.
Seorang wanita sedang sibuk meracik sesuatu di kamarnya. Di atas meja, terdapat beberapa mangkuk kecil berbentuk bulat. Ia adalah wanita yang Yunza buntuti malam itu di sekitar pasar.
"Yosh! Tinggal beberapa tahap lagi!" ujarnya dengan tatapan sangat teliti.
Ia berjalan ke arah ranjang tidur lalu mengambil sesuatu dari bawah bantal tidurnya. Sebuah botol kecil dengan tulisan kuno yang berarti 'obat keras'.
Sejenak dia tersenyum penuh kepuasan sambil menatap botol tersebut, sampai akhirnya kembali ke dekat meja. Perlahan, dia membuka tutup botol dan menuangkan isinya sedikit demi sedikit ke atas sesuatu seperti tepung di atas meja.
Benda yang terlihat seperti tepung itu memiliki warna yang agak menguning, namun teksturnya tak jauh beda seperti tepung biasanya.
Setelah dirasa cukup, dia kembali menutup botol dan meletakkannya di dekat mangkuk-mangkuk kecil. Wanita itu kemudian mengambil sendok kayu dan mulai mengaduk tepung dengan obat tersebut.
"Sekarang, kita lihat karya seniku. Mungkin jika aku menjual bedak racikanku aku akan menjadi kaya hanya dengan satu malam. Sayangnya aku tidak tertarik dengan uang. Kehormatan menjadi selir kerajaan adalah segalanya."
Beberapa saat kemudian. Setelah bahan tercampur, dia mengambil sedikit menggunakan sendok kemudian mengoleskannya pada telapak tangannya.
Tunggu beberapa saat kemudian, tangan yang diolesi bedak tersebut mulai memerah disertai adanya rasa panas yang sangat membakar. Dia meringis kesakitan dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Sakit sekali! Tapi tidak apa-apa. Demi bisa masuk ke keluarga kerajaan, aku bisa menahan rasa sakit seperti ini," gumamnya.
Setelah itu ia mulai menakarnya ke dalam mangkuk-mangkuk kecil dengan takaran yang sama. Lalu memadatkannya menggunakan sebuah logam yang ditekan keras.
Kriet!
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan masuklah beberapa orang. Wanita itu panik dan langsung menutupi meja dengan tubuhnya.
"N-nona ... Nona Lin Shen? Mengapa Anda datang ke sini? A-apa ada perlu sesuatu?" Ia gelagapan sebisa mungkin menyembunyikan barang-barang di atas meja dengan tubuhnya.
Shenshen berjalan mendekatinya. "Lan Mei, putri tunggal dari menteri Xinzou. Sangat menggemari bidang obat-obatan, bahkan ... racun."
Dia tiba di dekat meja dan melihat apa yang sudah dikerjakannya. Alih-alih marah, Shenshen malah tersenyum dengan senyum seringai.
Melihat hal itu, Lan Mei yang ketakutan kemudian berlutut di hadapan Shenshen. "Aku salah, tolong ampuni aku. Jangan laporkan aku pada Kaisar!" pintanya dengan tubuh gemetaran dan keringat mengucur di pelipis.
Dengan penuh kehati-hatian Shenshen mengambil salah satu mangkok kecil berisi bedak buatan Lan Mei. Dia mendekatkannya ke hidung dan mencium aromanya sekilas. Begitu menyengat sampai dia mengerutkan hidungnya.
Lan Mei sedikit mengintip ke atas. Dalam hati ia bergumam, "aku tidak akan membiarkannya merusak rencanakan! Ketika dia pergi untuk mengadu pada Kaisar, aku akan menyiramnya dengan botol racun itu!"
Shenshen tersenyum sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Apa kau sedang berpikir untuk menyerangku sebelum aku pergi mengadu pada Kaisar?" tebaknya.
Lan Mei menggelengkan kepalanya dengan raut wajah panik.
"Dengar, aku tidak akan mengadukanmu pada Kaisar. Namun dengan satu syarat ...."
Ketika rasa penasaran melanda, Lan Mei pun menengadahkan kepalanya. "Benarkah? Apa syaratnya?" tanyanya.
Terdiam sejenak.
Shenshen meletakkan kembali mangkok bedak ke meja. "Tidak sulit, kok. Buatkan aku satu bedak seperti ini untuk kuberikan kepada permaisuri pangeran kedua," ucapnya sambil tersenyum.
Lan Mei terperangah kaget. "P-permaisuri pangeran kedua? B-bagaimana mungkin aku melakukannya! Jika aku ketahuan, aku akan langsung dipenggal oleh pangeran kedua!"
"Untuk masalah itu, kau tenang saja. Aku pastikan kau tidak akan terkena masalah apapun. Bagaimana, apa kau bersedia?" tawarnya.
Shenshen melihat masih ada keraguan di wajah Lan Mei.
"Tapi kalau kau tidak bersedia, aku tidak menjamin bahwa Kaisar akan memaafkan kejahatanmu ini. Jika pun kau menyakitiku di sini, sayangnya aku sudah memberitahu pelayanku untuk memberitahu ayah Kaisar jika terjadi hal buruk di sini," lanjutnya.
Mendengar ancaman Shenshen, Lan Mei tak bisa berkutik lagi. Dia berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengambil keputusan.
"Baik, aku setuju. Tapi aku juga memiliki syarat."
Shenshen menatap Lan Mei dengan tatapan dingin. Tak lama dia menarik sebuah kursi tak jauh dari meja, kemudian mendudukinya.
"Katakan! Apa syaratnya?"
Lan Mei menegakkan tubuhnya dengan posisi kaki bersujud. "Aku ingin ... kau menjaminku. Jika sesuatu terjadi pada permaisuri pangeran kedua, maka aku tidak akan disalahkan dan tidak akan mendapatkan hukuman. Apa bisa?" tanyanya.
"Heh!" Shenshen tertawa meremehkan. "Perlu kau tahu, apapun yang aku inginkan pasti bisa aku dapatkan. Ayah Kaisar maupun kakak-kakakku, mereka selalu senantiasa mendukungku. Jadi, kau tidak perlu khawatirkan mengenai hal itu ...."
"... Aku menyetujui syaratnya," jawab Shenshen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments