Tok! Tok! Tok!
Seorang pria berpakaian serba hitam memasuki sebuah ruangan. Di sana, duduk menunggu pria berparas tampan dengan mata sipit dan hidung mancungnya. Si pria berpakaian hitam menghampirinya lalu memberikan sebuah surat padanya.
"Yang Mulia pangeran Lin Jian, panglima Shin dan pasukannya yang berkhianat telah ditangkap. Sekarang, mereka ditahan di benteng utara. Para petinggi menunggu keputusan Kaisar Hou, dan Kaisar menyerahkan masalah ini kepada Anda."
Lin Jian membaca isi surat dengan sangat teliti. "Apa panglima Shin memiliki seorang anak istri?" tanyanya.
"Beliau memiliki tiga istri dan beberapa anak. Yang ketiga merupakan istri tersayangnya karena telah melahirkan seorang putra," jawab orang itu.
"Kalau begitu tangkap istri ketiga dan anak laki-lakinya. Bunuh tepat di hadapannya. Biarkan semua orang lihat, biarkan semua orang tahu itu konsekuensinya jika berani menghianatiku." Lin Jian mendekatkan surat tersebut pada lilin dan membakarnya seketika.
"Baik, Yang Mulia." Setelah itu dia pergi untuk melaksanakan perintah dari Lin Jian.
Lin Jian menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani menghianatiku!"
Sementara itu. Di ruang baca, Han Xi duduk dengan beberapa tumpuk buku di atas meja. Jemarinya begitu lihai memainkan kuas, namun pikirannya entah sedang di mana saat ini.
Kemudian teringat perbincangannya dengan ayah Kaisar.
"Aku tidak setuju!" Han Xi beranjak dari tempat duduknya sambil menatap ayah Kaisar yang duduk tepat di depannya.
"Ayahanda, aku tidak setuju jika adik Yunza menikah dengan pangeran negara Hou itu. Ayahanda tahu betul sifat pangeran yang satu itu. Bengis dan kejam!"
"Apa yang kau katakan ada benarnya. Meski begitu, keputusanku tidak akan berubah. Meskipun kita telah memenangkan perang, namun negara Hou belum sepenuhnya berada di tangan kita. Pernikahan itu akan mengikat mereka, dengan begitu---"
"Bukan itu yang aku maksud, Ayahanda. Ini mengenai Yunza! Ayahanda tahu bagaimana polosnya Yunza, sedangkan pangeran Lin Jian itu kebalikannya. Aku khawatir, dengannya adik Yunza---"
"Cukup Shen Han Xi!" Han Xi bungkam seketika.
"Tch, pergilah!" perintahnya pada Han Xi. Han Xi kecewa dengan keputusan ayahnya, dia pun pergi dari tempat itu setelah memberi salam.
Ingatan hari itu usai. Tak henti-hentinya Han Xi merasa bersalah karena tidak bisa membela Yunza. "Mengirimnya pergi ke negara Hou, sama saja dengan mengirimnya ke neraka," gumamnya.
Di kamar Yunza.
"Ssshh!" Yunza meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ia membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar. Tak lama, dia bangkit dan duduk.
Dibawah rasa heran yang masih melanda, rentetan ingatan kecelakaan hari itu mulai bermunculan. "Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Aku ... tidak mungkin mati! Aku tidak mau mati! Tidak!" Ia kemudian menangis sejadi-jadinya.
Tangisan Yunza tersebut terdengar oleh seorang wanita, dia kemudian bergegas masuk. "Nona, Nona baik-baik saja? Ada yang terasa sakit? Nona tunggu sebentar, aku akan panggil tabib."
Yunza tak menghiraukannya. Kemudian dia menghentikan tangisnya dan melihat ke sekitar. Semua sudut ruangan tak luput dari pandangannya satu inch pun.
"Putri bungsu negara Long, Shen Yun Ja. Ini ... tidak mungkin! Bagaimana bisa ... aku masuk ke dalam cerita novel?" batinnya. Apa yang sudah terjadi padanya benar-benar tak bisa dipercaya.
Hari berganti.
Sejak pagi-pagi buta sekali, beberapa pelayan sibuk mengemas barang-barang di kamar Yunza. Kegaduhan itu membuat Yunza bangun dari tidurnya. Dia turun dari ranjang dan menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya.
Seorang pelayan menjawab, "kami sedang mengemas pakaian Anda, Nona. Siang nanti, Anda akan pergi dan tinggal bersama suami Anda di negara Hou."
Yunza terdiam. Ia baru mengingat hal itu. "Lin Jian dari negara Hou, seorang pangeran yang kejam dan dingin. Jadi, aku masuk ke dalam cerita dan saat itu tepat pada adegan pernikahan. Kala itu, aku masih kebingungan, jadi tidak membatalkan pernikahan itu. Tapi sekarang, bagaimana? Aku tidak mau tinggal bersama pria seperti itu. Aku harus memikirkan cara untuk pergi darinya!" Yunza melamun.
"Nona!" Seorang pelayan wanita mengejutkannya.
"Nona, ayo. Anda juga harus segera bersiap." Pelayan yang bertugas mendandani Yunza kemudian membawanya untuk mandi, lalu berhias diri.
Menjelang siang, semuanya sudah selesai dikemas. Saat Yunza masih berhias, kakak perempuannya Xiao Lu datang berkunjung. Kedatangannya tak sedikit pun mengejutkan Yunza, ia malah sudah menduga hal itu sebelumnya.
"Adik Yunza, selamat atas pernikahanmu. Tak lama lagi kau akan pergi dan tinggal bersama suamimu, aku turut merasa sedih. Untuk itu, aku membawakan beberapa buku sebagai kenang-kenangan." Salah satu pelayannya meletakkan beberapa buku di meja.
"N-nona pertama ... buku itu---" Segera, Xiao Lu melempar tatapan tajam yang membuat pelayan Yunza bungkam seketika.
Meski sudah mengetahuinya, Yunza merasa penasaran dengan bentuk buku yang dibawa Xiao Lu. Dia pun menoleh sekilas. "Buku dewasa. Dia berniat mempermalukanku seperti di dalam cerita," batin Yunza.
"Adik Yunza, aku tahu kau masih marah padaku karena masalah di danau waktu itu. Tapi itu tidak sepenuhnya salahku. Aku hanya becanda mengenai ikan yang tenggelam, tapi kau langsung loncat begitu saja. Lihatlah ke sini." Xiao Lu memegang dagu Yunza dan menariknya menghadap dirinya.
"Beberapa buku ini juga anggap saja sebagai permintaan maafku. Ya, aku tahu adik tidak bisa membaca dan menulis. Jadi, nanti di sana kau bisa tanya langsung mengenai buku ini pada suamimu," tuturnya sambil tersenyum menyeringai.
Yunza menepis tangan Xiao Lu dengan wajah datar. Tatapan berbeda yang Yunza lempar membuat Xiao Lu terkejut dan diam.
"N-nona pertama. Sebaiknya ... Anda bawa kembali buku-buku itu. Kalau pangeran Han Xi sampai tahu ...." ucap pelayan dengan sedikit ancaman.
Mendengar hal itu membuat Xiao Lu geram. Dia menghampiri pelayan tersebut dan langsung menamparnya keras hingga jatuh tersungkur.
"Lancang! Seorang pelayan berani mengancamku! Apa kau sudah bosan hidup! Penjaga! Seret pelayan rendahan ini dan berikan hukuman cambuk sebanyak 50 kali---"
"Kakak Xiao Lu!" Yunza berdiri di belakang Xiao Lu. "Tolong hentikan. Aku ... aku akan menuruti perkataan kakak tapi jangan hukum pelayan itu," sambungnya.
Xiao Lu tersenyum puas mendengarnya. Dia membalikkan tubuhnya lalu menepuk-nepuk pundak Yunza secara perlahan. "Baiklah, adik yang patuh. Kalau begitu, kakak tidak ganggu lagi. Kau juga jangan terlalu lama berdandan, kasihan semua orang sudah menunggu. Sampai jumpa."
Seperginya Xiao Lu, barulah Yunza dapat bernapas dengan lega. Ia tak bisa mengubah banyak hal, namun setidaknya, pelayan itu tidak mati karena hukuman yang diberikan Xiao Lu.
"Terima kasih, Nona. Tapi buku itu ...." Ia masih memikirkan tentang buku itu.
"Kau tidak perlu khawatirkan itu. Bawa barang-barang itu terlebih dahulu, aku akan segera menyusul setelah selesai berdandan." Yunza membalikkan tubuhnya dan kembali duduk di depan meja rias.
Dia kembali melamun. "Bagaimana keadaan ayah dan ibu. Mereka pasti sangat sedih atas kematianku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
aflanufi
dimanapun selalu ada kakak / ayah yg jahat🤦
2022-08-01
2