Malam hari di kamar Yunza.
Yunza duduk dengan anggun sambil meneguk secangkir teh hangat. Tak lama ia menurunkan satu kakinya lalu bertanya, "Mi Anra, apa kau sudah bertemu dengan kakak ipar Mei An seperti yang aku perintahkan?"
"Sudah, Nona. Nona Mei An sangat menyukai sapu tangan dengan ukiran 'angsa di musim panas' pemberian Nona," jawabnya.
Yunza beranjak dari tempat duduknya kemudian memakai kembali pakaian luarnya. "Baiklah, sepertinya sebentar lagi, kita akan kedatangan seorang tamu tak di undang."
Tepat setelah Yunza mengatakannya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Yunza dan Mi Anra menoleh secara bersamaan, lalu mereka saling menatap dan tersenyum.
"Aku akan membukanya," ucap Mi Anra.
Dibukalah pintu kamar Yunza. Di sana, berdiri seorang pelayan dengan raut wajah kaku. Terdapat benjolan seperti sesuatu sedang disembunyikan dibalik pakaiannya.
"N-nona, aku pelayan selir Ning Ning. Beliau mengundang Anda ke kediamannya malam ini sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri perjamuan waktu itu," katanya.
"Selir Ning Ning? Bukankah ia sedang mengandung? Ibu hamil seharusnya sudah tidur di jam begini. Aku akan menemuinya besok," balas Yunza.
Penuturan Yunza membuat raut wajah pelayan itu berubah. Wajahnya pucat dan dia seperti orang yang sedang ketakutan.
"S-selir Ning Ning belum tidur. Dia sedang menunggu Nona. Jadi, aku harap Nona tidak mengecewakannya," ucap pelayan itu.
Terhening sejenak. Yunza menoleh ke arah Mi Anra namun Mi Anra hanya terdiam seribu bahasa.
"Baiklah. Lagian, aku juga belum terlalu mengantuk. Jalan-jalan sebentar mungkin lebih baik. Sekalian bertemu selir Ning Ning, siapa tahu dia orang yang sangat menyenangkan."
Yunza melangkahkan kaki, di susul Mi Anra yang membawakannya mantel berbulu miliknya. Segera mereka pun keluar dari kamar lalu Mi Anra menutup rapat-rapat pintu kamar Yunza.
Tiba-tiba langkah kaki Yunza terhenti, dia menoleh seraya berkata. "Kau tidak ikut dengan kami?" tanya Yunza pada pelayan itu yang malah diam saja di depan pintu kamar.
Dia pun menjadi gelagapan dan salah tingkah. "A-aku akan pergi ke dapur untuk menyiapkan teh terlebih dahulu. Anda pergilah duluan," ucapnya.
Setelah itu, pelayan itu pergi ke arah yang berlawanan dengan Yunza. Tipu muslihatnya sudah diketahui Yunza saat dia malah berbelok ke arah taman dan bukan ke arah dapur Istana.
Yunza menghela napas kasar. "Kenapa anak kecil itu begitu ingin menjatuhkanku? Dia tidak tahu, semakin dia berniat menjatuhkan orang lain malah dia yang akan semakin terjerumus," ucapnya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Nona?" tanya Mi Anra.
Yunza membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kaki. "Mengikuti apa yang diinginkannya. Sebenarnya tidak peduli aku pergi ke tempat selir Ning Ning atau kemanapun. Tujuannya hanya untuk memasuki kamarku dan melakukan rencana mereka," jawabnya.
"Nona, Anda mengatakannya seperti sudah mengetahui hal ini akan terjadi," celetuk Mi Anra. Yunza terkejut sampai melotot kedua matanya.
"A-aku tidak tahu, kok. Hanya menebak saja," jawabnya sambil terbata dan senyum terpaksa.
Mi Anra menatap Yunza sekilas, lalu tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya ke langit. "Entah kapan terakhir kali aku bisa tersenyum. Berada di sampingnya terasa sangat menenangkan. Tidak perlu takut tidak makan, tidak perlu takut dirundung orang-orang lagi. Ke depannya, aku pasti akan setia padanya," gumamnya.
Hari berganti.
Harem Istana digemparkan oleh berita adanya seorang pencuri yang sudah berani memasuki kamar selir kesayangan Kaisar, selir Ning Ning.
Seorang pelayan memberikan kesaksian palsu bahwa dia melihat Yunza dan pelayannya diam-diam memasuki kamar selir Ning Ning, tadi malam. Sekali lagi, dia pun dipanggil menghadap Kaisar untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Aku menyangkal tuduhan itu, Yang Mulia," ucap Yunza.
"Bagaimana bisa kau mengatakannya, Nona Yunza. Seorang pelayan mengatakan kalau dia melihatmu berkeliaran di kediamanku, tadi malam," tampik selir Ning Ning.
"Aku sungguh melihatnya, Yang Mulia, selir Ning Ning. Malam itu, Nona beserta dayangnya mengendap-endap memasuki kediaman selir Ning Ning." Si pelayan tadi malam memberikan kesaksian palsu.
Yunza berusaha bersikap setenang mungkin. Bagaimanapun, dialah pemegang kartu As saat ini.
"Jika yang dikatakannya benar, bagaimana kalau kita menggeledah kamarnya untuk memastikannya. Kakak ipar Yunza tidak keberatan, kan?" Shenshen turut mengompori.
Yunza melirik Shenshen sambil tersenyum. "Aku tidak keberatan. Silakan geledah kamarku jika perlu," ucapnya.
Segera, Kaisar menyuruh beberapa pelayan dan penjaga untuk menggeledah kamar Yunza. Sementara mereka tidak diperbolehkan pergi meninggalkan tempat itu dan menunggu hasilnya.
Beberapa saat kemudian, pelayan dan penjaga pun datang. Mereka lantas berlutut di hadapan Kaisar.
"Yang Mulia, kami tidak menemukan perhiasan selir Ning Ning yang hilang di kamar Permaisuri pangeran kedua," ucap salah seorang penjaga.
Pernyataannya membuat semua orang terkejut terutama Shenshen. Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa kalian sudah mencarinya dengan benar? Tidak satu tempat pun terlewat, bukan? Dengar, jika kalian tidak melakukannya dengan benar, ayah Kaisar akan menghukum kalian!" ancam Shenshen.
"Adik Shenshen, apa kau menuduhku yang mencuri perhiasan selir Ning Ning?" tanya Yunza.
"Memangnya apa lagi? Seorang saksi sudah ada di depan mata. Semua orang juga sudah mendengarnya. Kakak ipar Yunza, bukannya tadi malam kau tidak ada di kamarmu?" Shenshen bersikeras untuk menjatuhkan Yunza.
Tak lama, Mei An datang bersama seorang pelayan. "Adik Yunza berada bersamaku tadi malam," ucapnya.
Kedatangannya membuat orang-orang bingung, terlebih dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Dia membungkukkan badannya lalu berkata, "Mei An memberi hormat, semoga Yang Mulia diberkahi umur yang panjang."
"Bangunlah, menantu," balas Kaisar.
Mei An menegakkan tubuhnya. Dia melihat Yunza kemudian tersenyum, seolah kata 'semua akan baik-baik saja' tersirat dari balik senyumnya itu.
"Ayah Kaisar, tadi malam adik Yunza datang ke kediamanku dan kami mengobrol banyak hal. Jadi, dia tidak mungkin menyelinap ke kediaman selir Ning Ning seperti yang dikatakan pelayan itu. Sedangkan malam itu, aku malah tak sengaja melihatnya mengendap-endap masuk ke kediaman selir Ning Ning." Mei An menunjuk pelayan itu.
Matanya seketika melotot, tubuhnya gemetaran dan keringat mulai mengucur di pelipis. Pelayan itu menoleh ke arah Shenshen, seolah meminta bantuan padanya. Namun Shenshen malah memelototinya.
Bruk!
Pelayan itu jatuh berlutut di hadapan Kaisar.
"Itu tidak benar, Yang Mulia. Itu fitnah. Malam itu hamba berada di kamar pelayan. Hamba mengatakan yang sebenarnya," ucap pelayan itu.
"Jika apa yang kau katakan benar, bagaimana kalau kita buktikan," ucap Mei An. "Ayah Kaisar, aku meminta ijin untuk menggeledah kamar miliknya. Aku yakin dia yang mencuri perhiasan selir Ning Ning," lanjutnya.
Kaisar meruncingkan tatapannya. "Lakukan!"
Begitu perintah diturunkan, mereka pun bergegas pergi ke kamar pelayan. Saat itu perasaan Shenshen menjadi tak karuan. Ada rasa takut menghampirinya.
Dia berusaha bersikap tenang. Tak sengaja dia melihat Yunza yang tengah tersenyum penuh kemenangan sambil menatapnya.
"Dia ... dia melakukan sesuatu!" tebak Shenshen.
Tak butuh waktu lama, para penjaga kembali. "Yang Mulia, kami menemukan beberapa perhiasan di bawah tempat tidur pelayan itu!" ucap penjaga sembari menunjukkan beberapa perhiasan di tangannya.
"Itu perhiasanku," aku selir Ning Ning.
"Kurang ajar!" hardik Kaisar sambil menggebrak meja.
"Pelayan yang kurang ajar! Tidak hanya mencuri, kau bahkan menuduh orang lain atas semua perbuatanmu! Penjaga! Seret dia dan masukkan ke dalam penjara!" titah Kaisar.
Sedetik kemudian, pelayan itu langsung diseret keluar. Dia menangis dan terus memohon ampun, serta memohon pertolongan pada seseorang yang tak berani dia sebut namanya di sana.
Shenshen berkeringat dingin dibuatnya.
Melihat hal itu dari kejauhan, Lin Jian terdiam sambil menatap Yunza. "Dia memang tidak bisa diremehkan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments