Singkat cerita, pemilihan selir pun tiba.
Aula terbuka yang terletak di dekat gerbang masuk istana ramai didatangi orang-orang yang ingin menyaksikan kompetisi pemilihan selir tersebut. Di satu sisi aula, duduk berjajar keluarga Istana, menyaksikan.
Yunza duduk di kursi di sebelah Lin Jian, ditemani Mi Anra yang berdiri di belakangnya. Saat menunggu kompetisi dimulai, Mi Anra melirik Yunza yang sedang melamun.
"Permainan yang seru akan segera dimulai. Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya." Jawaban Yunza hari itu kembali melintas di kepalanya. Ada sedikit rasa penasaran terhadap majikannya itu di hati Mi Anra.
"Dimulai!" Sorot mata Yunza menatap ke arah suatu pintu yang mana sedang dibuka secara perlahan. Dari sana, keluar beberapa wanita cantik yang merupakan seorang kontestan dari pemilihan selir.
Seluruh peserta yang kira-kira terdiri dari puluhan orang gadis mulai berbaris rapi, berdasarkan instruksi seseorang. Kemudian dia menjelaskan kompetisi pemilihan selir tahap pertama pada mereka dan semua orang.
Di tahap pertama ini, semua peserta akan diberi suatu kertas berisi beberapa pertanyaan. Yang mana pertanyaan yang didapat para peserta berbeda satu sama lain.
"Dari beberapa pertanyaan tersebut terdapat satu pertanyaan jebakan yang telah di siapkan. Bagi peserta yang memberikan jawaban mendekati jawaban yang telah di siapkan, maka dia akan lolos. Huh! Jadi teringat masa sekolah," batin Yunza.
Kini para peserta sudah duduk di kursi yang di siapkan. Beberapa lembar kertas dan pena tinta pun mulai dibagikan satu persatu.
Terdengar Yunza menghela napas kasar. "Bosan sekali," gumamnya sambil memalingkan wajahnya.
Saat menoleh, tak sengaja ia melihat Lin Yu turut hadir menyaksikan kompetisi itu. Di sampingnya duduk Mei An, istrinya. Juga beberapa saudara Lin Jian dan para menteri.
Sampai saat ini Yunza masih saja memikirkan pertemuannya dengan Lin Yu. Pasalnya, kejadian itu tak ada di dalam cerita yang sesungguhnya. Khawatirnya, apa yang sudah dilakukannya telah mengubah sebagian besar garis cerita.
"'Kakak ipar Lin Yu mati di bunuh Yu Qin', begitu yang tertulis dalam cerita. Dia tak banyak muncul dalam cerita. Jadi, tak banyak yang aku ketahui tentang dirinya," lamun Yunza.
Tiba-tiba saja Lin Yu menoleh dan memergoki Yunza sedang memperhatikannya. Hal itu membuat Yunza terkejut dan langsung memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
"Tamat riwayatku!" batinnya.
Di sana Lin Yu tersipu sambil tersenyum. Di suatu sisi lainnya Lin Jian mengerutkan dahinya dengan tatapan tajam. "Wanita ini, apa tidak cukup punya satu suami?" geramnya.
Bong!
Gong besar sudah dibunyikan, pertanda kompetisi sudah dimulai. Semua mata pun tertuju pada aula dengan seksama untuk menyaksikan.
Para wanita cantik itu pun mulai mengerjakan tugas tahap pertama mereka dengan sangat teliti dan hati-hati. Dapat di lihat dari raut wajah mereka, betapa pertanyaan itu mungkin amat sulit untuk dijawab.
"Memangnya, seperti apa pertanyaannya? Apa sama seperti saat aku sekolah dulu?" gumam Yunza dengan nada pelan, nyaris tak terdengar.
"Soal yang diberikan pasti tidak jauh dari buku-buku kajian, kuno, dan karya sastra. Apa Nona tahu, pria berpakaian biru langit yang duduk di sana, merupakan seorang seniman. Dia seorang penulis syair yang karyanya sudah dikenal bahkan ke negara seberang," jelas Mi Anra sambil mengarahkan pandangannya pada seseorang.
Yunza mengikuti arah pandang yang Mi Anra tujukan. Lalu dia berdecak kagum tatkala melihat seorang pria berwajah cantik nan berwibawa duduk di sana. "Pria-pria di jaman kuno ini benar-benar sangat tampan," gumamnya.
Tanpa seseorang sadari, Kaisar memanggil seorang pelayan dan membisikkan sesuatu padanya. "Pastikan dia lolos di tahap ini." Pelayan itu pun menganggukkan kepalanya.
Dia mengangkat tangannya lalu pelayan itu pergi. Pandangannya langsung tertuju pada Lin Jian yang berada di sebelah kirinya, kemudian mengisyaratkan sesuatu.
60 menit lamanya kompetisi berlangsung. Sampai terdengar suara gong yang kembali di pukul tanda kompetisi sudah berakhir.
Kertas jawaban mereka pun telah dikumpulkan dan akan diperiksa oleh orang-orang terpercaya sebelum akhirnya diumumkan peserta yang lolos.
Ditengah pemeriksaan, si pelayan yang tadi menemui Kaisar sudah berada di samping orang yang memeriksa jawaban. Entah ia membisikkan apa, satu lembar jawaban yang tadinya tidak lolos tiba-tiba ia pindahkan.
"Aku kira kecurangan dalam ujian hanya terjadi di duniaku saja, tapi ternyata tidak," gumam Yunza.
Mi Anra melihat hal yang sama seperti Yunza. Dia membungkukkan badannya lalu membisikkan sesuatu pada Yunza. "Nona, sepertinya ada yang berbuat curang," bisiknya sambil menutup mulut dengan telapak tangan.
Yunza hanya menganggukkan kepala saja sebagai jawaban. "Nama yang disebutian dalam cerita, sebenarnya yang mana orangnya?" batin Yunza.
Dia melihat satu persatu, barang kali ada yang cocok dengan deskripsi yang penulis cerita itu berikan. Lalu, pandangannya berhenti pada seorang gadis yang memakai cadar menerawang berwarna pink. Dalam hatinya, Yunza yakin dia orangnya.
Penilaian pun selesai. Kini hasilnya akan di umumkan dan siapa saja yang akan lolos ke tahap selanjutnya. Hal itu tentu saja membuat hati mereka berdebar kencang. Apalagi saat beberapa nama mulai di sebutkan.
"Yiyin Xu ... Min Ang ... Xien Li ...." Dan masih banyak lagi. Mungkin, hampir sebagian dari jumlah keseluruhan peserta telah di sebut. "Terakhir ... Ran Jao. Kalian tidak lolos ke tahap selanjutnya!"
Dengan perasaan kecewa bercampur malu, para peserta yang gugur pun mulai pergi meninggalkan aula sambil menutup wajah mereka. Namun, ada satu wanita yang masih saja berdiri padahal namanya jelas di sebut tadi.
"Aku ... aku tidak percaya, aku pasti hanya salah dengar," ucapnya sambil diam membeku.
Seorang wanita yang juga gugur kemudian menepuk pundaknya. "Ran Jao, ayo pulang. Sudahlah, jangan terobsesi dengan pangeran kedua lagi!" tegurnya.
"Tidak! Aku tidak bisa pergi, aku akan menjadi selir pangeran kedua." Dia berkata sambil memasang wajah seperti orang gila.
"Hei! Cepat pergi dari sini!" usir penjaga.
Si wanita yang mengajak Ran Jao pergu menjadi ketakutan. Sementara Ran Jao keras kepala dan enggan mendengarkannya, dia pun memilih pergi meninggalkannya.
Melihat Ran Jao yang masih berdiri mematung, seorang penjaga menghampirinya. "Ran Jao? Ini kau?" tanyanya.
Ran Jao menoleh. "Su Jin?"
Su Jin mencengkram tangan Ran Jao berniat menariknya turun dari aula, tapi Ran Jao enggan pergi. "Su Jin, aku akan menjadi selirnya pangeran kedua." Dia mengucapkan hal itu sambil tersenyum.
Sejenak ia terdiam, kemudian kembali menarik tangan Ran Jao. Su Jin takut, pangeran kedua melihat hal itu dan marah yang mungkin bisa mengantarkan Ran Jao pada hukuman.
"Ran Jao, cepat pulang!"
Akan tetapi, Ran Jao malah menarik tangannya. "Tidak Su Jin. Aku harus menjadi selir pangeran---"
"Hentikan itu, Ran Jao! Apa kau tahu apa yang kau lakukan ini? Jangan kekanakan dan lekas pergi!"
Ran Jao merasa kesal pada Su Jin. Tak lama dia mendorong tubuh Su Jin hingga dia tersungkur ke tanah. Hal itu telah menyita banyak perhatian.
Ditengah kebingungan banyak orang tentang apa yang terjadi, Ran Jao berlari ke tengah aula dengan tangan mengambil sesuatu dari balik pakaiannya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah belati kecil.
"Aku tidak mau pergi! Aku akan menjadi selir pangeran kedua!" teriaknya sambil menempelkan ujung belati di lehernya. "Jika kalian berani mengusirku, aku akan bunuh diri!" ancamnya.
Yunza yang melihat hal itu hanya menghela napas kasar. Meski ada sedikit takut jika dia harus menyaksikan kematian dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa wanita itu sudah gila?" Beberapa orang pun mulai bergunjing.
Namun, adegan memuakkan itu tak ada artinya di mata Lin Jian. Dia beranjak dari tempat duduknya dan dengan wajah dingin mengacuhkannya.
Ran Jao yang melihat hal itu kembali berteriak. "Pangeran kedua! Lihat aku!" Seketika langkah Lin Jian terhenti.
"Aku akan menjadi selirmu atau aku mati!"
Lin Jian melemparkan tatapan sinis. "Kalau begitu ... lebih baik kau mati!"
Jawaban dingin Lin Jian menusuk hati Ran Jao. Pikirannya menjadi kacau dan membuatnya nekat melakukan hal buruk.
Dia mengangkat tinggi-tinggi belati di tangannya, mengambil ancang-ancang untuk menancapkannya di lehernya. "Aku ... tidak bisa hidup tanpamu. Kalau begitu, lebih baik aku mati---"
Ia mengayunkan tangannya. Namun sebelum belati menembus, Su Jin segera menahannya.
"Apa kau bodoh! Ran Jao, apa kau akan meninggalkan ibu dan adikmu demi seorang pria?" Seketika Ran Jao tersadar.
Genggamannya melemah dan dia menjatuhkan belati itu. Dia jatuh terduduk kemudian menangis, menyesali perbuatannya. Sementara Su Jin memeluknya di sampingnya.
"Seperti drama Korea saja," celetuk Yunza. Semua jajaran keluarga istana beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan aula.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
nova hermalinda
seperti itulah yg namanya drama tonton aja kan lumayan untuk hiburan selama di dunia antah berantah🤣🤣🤣🤣🤣
2022-07-24
1