Trak! Trak! Trak!
Suara dadu di dalam wadah besar mulai terdengar nyaring karena benturan. Tidak seperti sebelumnya, orang-orang yang menjadi penonton kini terdiam menyaksikan dengan sangat serius permainan itu.
Setelah berhenti mengocoknya dia pun meletakkan wadah berisi dadu di atas meja. Kemudian dia bertanya, "Ganjil ... atau genap?"
Dia melirik Tuan Jiu dan memberinya suatu isyarat dengan kedipan mata sebelah kanan sebanyak dua kali. "Mereka bersekongkol!" kata Yunza dalam hati.
Tak lama Tuan Jiu pun menjawab, "genap." Dia begitu yakin dengan jawabannya sampai menjawab dengan secepat itu.
Brak!
Tiba-tiba Yunza menggebrak meja membuat semua orang terkejut. Dia menoleh ke arah kerumunan di belakangnya sambil bertanya, "siapa yang berani menyentuhku tadi?"
Namun, tak ada satu pun yang menjawab. Tuan Jiu yang sudah tidak sabaran mengernyitkan dahinya, lalu bertanya, "Nona, apa jawabanmu?"
Yunza menghela napas panjang sambil menatap ke arah wadah itu. Ada sedikit rasa takut di hatinya. Meski ia sudah tahu cara mainnya, namun tetap saja dia takut perkiraannya salah.
"Jawabanku ... ganjil."
Senyum penuh kemenangan kembali terukir di bibir Tuan Jiu. Ia begitu yakin bahwa dirinya akan menang. Dengan begitu, apa yang sudah direncanakannya untuk mendapatkan Yunza akan berhasil.
Wadah pun perlahan dibuka. Semua mata memandang ke arah yang sama dengan seksama untuk menyaksikan siapa yang akan memenangkan permainan.
"Jika sebelumnya angka yang ada di dalam adalah angka genap, setelah aku menggebrak meja seharusnya berubah menjadi angka ganjil, kan?" kata Yunza dalam hati.
Ketika wadah dibuka dan dadu terlihat, alangkah terkejutnya mereka sampai melotot dengan mulut menganga. Tuan Jiu juga berlaku demikian.
"Yes! Ganjil!" Yunza segera meraup semua koin yang ada di atas meja dengan rakus, disaat mereka masih tidak mempercayai kekalahan yang menimpa Tuan Jiu.
Tuan Jiu murka dan menatap di pengocok dadu. Dia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "aku yakin tadi adalah angka genap. Tapi ... kenapa yang keluar angka ganjil?" herannya.
Amarah Tuan Jiu yang tidak menerima kekalahannya kian memuncak saat orang-orang mulai menggunjingnya di belakang. Mereka mencemooh Tuan Jiu yang dikalahkan oleh seorang perempuan.
Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya, suatu kejadian saat Yunza tiba-tiba menggebrak meja. Tuan Jiu mengalihkan tatapan tajamnya pada Yunza. "Nona, apa kau bermain curang?" tuduhnya.
"Benar! Dia pasti bermain curang!"
"Tadi aku lihat dia menggebrak meja, mungkin hal itu membuat angkanya berubah!"
Yunza tak bisa membantahnya. Namun bagaimana pun, dia harus segera pergi dari tempat itu. Tak lama dia menoleh ke lantai atas dan langsung membungkukkan tubuhnya. "Hamba memberi salam, semoga Kaisar berumur panjang."
Sontak semua orang terkejut. Yang duduk langsung berdiri, dan leha-leha langsung berdiri dengan tegak. Mereka menoleh ke arah yang sama dan langsung membungkuk seraya berkata, "kami memberi hormat pada Yang Mulia Kaisar." Secara serentak.
Beberapa saat berlalu, mereka tak mendengar jawaban apapun. Tuan Jiu yang merasa curiga langsung menoleh ke atas. "Dia ... dia penipu! Tangkap wanita itu!" berangnya.
Sayangnya, saat menoleh kembali mereka sudah tak mendapati Yunza di sana. Yunza berlari ke arah pintu keluar, namun mata jeli Tuan Jiu berhasil menemukannya.
"Jangan biarkan dia pergi! Aku akan membayar mahal bagi siapapun yang bisa membawanya ke hadapanku!" teriak Tuan Jiu.
Hal itu membuat Yunza ketakutan, terlebih saat orang-orang itu mulai menghalaunya dan menutup pintu keluar.
"Sial!" Yunza memeluk uang dalam sebuah kantong dengan sangat erat. Perlahan dia menarik langkah kakinya mundur dan mendekati sebuah tangga menuju ke lantai dua.
Saat puluhan orang mulai mendekatinya, dia pun mengubah arah kakinya dan berlari ke atas.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia lolos!" perintah Tuan Jiu.
Sorot mata elangnya terus mengikuti kemana Yunza pergi. "Kurang ajar. Kau lihat saja, wanita. Setelah kau tertangkap kau akan tahu apa akibatnya jika berani menipuku," kata Tuan Jiu dalam hati.
Yunza memacu langkahnya terus menaiki anak tangga. Untuk menghalangi si pengejar, dia mendorong orang-orang yang ada di tangga.
Tak berselang lama dia pun tiba di lantai dua. Alih-alih terus berlari, Yunza malah menghampiri sebuah jendela. Di sana, dia mencari-cari sesuatu di bawah. "Mi Anra!" teriaknya.
Mi Anra pun muncul dan terkejut melihat Yunza di sana. "Nona, apa yang Anda lakukan di sana?" Ia turut khawatir Yunza melakukan hal buruk.
Tanpa berkata apapun lagi Yunza langsung melempar kantong berisi uang koin itu padanya. "Pergilah! Kembali ke kediamanku duluan!" perintahnya setelah itu dia pergi.
Mi Anra bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Di sisi lain dia amat mengkhawatirkan Yunza. "Apa Nona sedang dalam masalah? Aku harus menolongnya tapi bagaimana? Ah! Aku akan memberitahu pangeran kedua!" Setelah mengatakan hal itu dia pun pergi.
Di dalam, Yunza berlari menyusuri sebuah koridor dengan beberapa pintu. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat bertemu dengan jalan buntu.
"Bagaimana ini?"
"Cepat! Cari wanita itu dan kita akan mendapatkan uang dari tuan Jiu."
Kepanikan bertambah saat suara mereka mulai terdengar mendekati. Yunza tak pikir panjang lagi, dia membuka salah satu pintu dan masuk ke dalamnya.
Dia berdiri di belakang pintu sambil mencoba mendengar apa yang terjadi di luar. Benar saja, mereka berhasil menyusulnya. Entah apa yang terjadi jika dia tak segera masuk ke sana.
Yunza menghela napas panjang.
Namun, situasi itu tak berlangsung lama setelah seseorang tiba-tiba muncul di belakang Yunza dan menggebrak pintu dengan tangan kanannya. Yunza dibuat terkejut setengah mati.
Kini laju deru napasnya sangat kencang, jantungnya berdebar kencang seperti genderang di medan perang.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara yang sangat tidak asing. Tanpa menjawab pertanyaannya, Yunza pun mulai menoleh secara perlahan. Semakin lama semakin jelas, bahkan hembusan napasnya sampai menyentuh daun telinganya.
Sementara itu.
Mi Anra berlari tunggang-langgang kembali ke kediaman. "Aku harus cepat! Atau Nona akan berada dalam masalah besar!" gumamnya sambil mempercepat langkah kaki.
Dia yang berlari sambil menundukkan kepalanya, tiba-tiba menabrak seseorang sampai jatuh tersungkur. Mi Anra tak mau membuang waktu, dia langsung bangkit dan kembali melangkah sambil berkata, "maaf, aku tidak sengaja."
Akan tetapi, orang itu tak membiarkannya pergi. Dia mencekal tangan Mi Anra dan menariknya ke hadapannya. "Kau ... bukankah kau pelayannya nona ke---maksudku permaisuri pangeran kedua, ya?"
Mi Anra menengadah. Sayangnya sosok di hadapannya tak dapat dia kenali. "Tuan, aku sedang buru-buru. Maaf."
Namun sekali lagi dia menahan kepergian Mi Anra. "Dimana permaisuri? Dimana nona Yunza? Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Apa yang terjadi?" Ia langsung menyerbu dengan berbagai pertanyaan.
"Tuan, aku tidak tahu siapa kau. Tapi aku benar-benar sedang buru-buru. Kalau tidak, mungkin akan terjadi sesuatu pada nona!"
"Apa maksudmu? Dimana dia sekarang? Bawa aku ke sana!"
Awalnya Mi Anra ragu untuk memberitahunya, tapi setelah melihat raut wajahnya dia pun mulai mempercayainya. Jika pun dia kembali ke kediaman, entah pangeran bisa di bawanya atau tidak.
"Tuan, silakan ikut denganku!" Mereka pun pergi ke tempat itu bersama-sama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Wanda Wanda i
miluan tegang euy
2022-09-16
1