Barang-barang yang sebelumnya sudah dikemas sudah dinaikkan ke atas kereta. Yunza pergi ke gerbang ditemani beberapa orang yang mengantar kepergiannya.
"Adik Yunza, jaga kesehatan baik-baik di sana, ya. Jangan takut, kakak pertama dan kakak kedua akan melindungimu dari jauh," ucap seorang wanita yang berusia lebih tua dari Yunza.
Wanita itu memiliki wajah cantik dengan rambut sedikit pirang, ia merupakan kakak ipar Yunza, istri dari pangeran pertama.
Mendengar penuturan kakak iparnya, Yunza hanya membalas dengan anggukkan kepala saja.
Tibalah di depan gerbang, beberapa orang turut hadir untuk menyaksikan kepergian tuan putri mereka diantaranya Han Xi, Xiao Lu, dan beberapa orang. Namun, anehnya ayah Kaisar tak terlihat batang hidungnya.
Tetiba Yunza menangkap basah Xiao Lu yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, namun terlihat lemah dan sendu seperti menyembunyikan sesuatu. "Apa liat-liat?" cecarnya sambil memasang muka galak.
Yunza mengabaikannya, tak lama Han Xi menghampirinya. "Adik Yunza, apa tubuhmu sudah merasa baikan? Jika belum, perjalanan ini ditunda saja beberapa hari ke depan," ucapnya.
Yunza mengalihkan pandangannya pada sebuah kereta kuda. Di dalam sana, duduk Lin Jian yang sudah sedari tadi menunggunya.
"Kakak kedua, terima kasih. Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Yunza menoleh ke arah Han Xi dan menatapnya. "Selama aku pergi, aku titip ayahanda, kakak Xiao Lu, juga kakak ipar dan yang lainnya, ya," lanjutnya.
Xiao Lu yang mendengar hal itu lantas membelakkan matanya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tak hanya Xiao Lu yang merasakannya, Han Xi juga. Ia merasa Yunza yang dihadapannya adalah Yunza yang berbeda.
"Semenjak kejadian tenggelam di danau, Yunza kehilangan keceriaannya. Ia cenderung suka melamun dan duduk seorang diri," batin Han Xi sambil menatap khawatir adik bungsunya.
"Kak Han Xi, kakak ipar, aku pergi dulu."
Yunza berpamitan pada mereka. Sampai akhirnya seorang penjaga dari negara Hou menjemputnya dan membantunya naik ke dalam kereta. Beberapa saat kemudian, kereta pun berjalan pergi.
Yunza duduk di dekat jendela kereta, dia mengintip keluar dan melambaikan tangannya pada mereka.
Xiao Lu mengerutkan dahinya. "Apa-apaan dia! Jangan sok perhatian seperti itu. Itu ... sangat membuatku muak! Menjijikan sekali!" Gumaman kejamnya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya.
Secepat kilat Xiao Lu membalikkan tubuhnya, menundukkan kepala untuk menutupi fakta bahwa sepasang matanya ternyata berkaca-kaca. Setelah itu dia melangkahkan kaki kembali ke paviliun miliknya.
Dalam perjalanannya, Xiao Lu teringat masa kecil.
Xiao Lu kecil berdiri di samping tempat tidur bayi. Dilihatnya makhluk bertubuh mungil itu sangat lucu. Jemarinya yang lembut terangkat ke udara seakan hendak menggapai sesuatu.
Namun, di samping mereka berdiri beberapa orang dewasa. Mereka menangisi sesuatu yang tak dapat dimengerti oleh anak berusia 4 tahun tersebut.
Xiao Lu melihat sebuah peti. Karena merasa penasaran, dia pun bertanya pada ayahnya, "Ayahanda, mengapa ibunda tidur di dalam kotak kayu itu?" Dengan polos ia menunjuk ke arah kotak kayu di depannya.
Ayah Kaisar tak menjawab pertanyaan Xiao Lu. Dia malah memanggil beberapa pelayan untuk membawa Xiao Lu dan adik Yunza pergi dari tempat itu. Semenjak hari itu, Xiao Lu tidak pernah bertemu dengan ibunya lagi. Hingga beranjak dewasa, dia pun mulai mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
Tibalah Xiao Lu di depan kamarnya, ia membuka pintu dan masuk. "Jangan salahkan aku, jika aku begitu membencimu, Yunza!" Kemudian dia menutup pintu kamar dengan sangat keras.
Sementara itu. Di dalam kereta, Yunza dan Lin Jian duduk saling berhadapan. Keheningan tercipta tanpa adanya sepatah dua patah kata yang mereka ucapkan sejak kepergiannya dari istana Long.
Yunza membuka tirai jendela di sampingnya, lalu menekuk tangan dan menyanggah dagunya. "Bagaimana caraku pergi dari sini? Bagaimana pun, aku tidak boleh ikut dengannya. Tidak boleh sampai tinggal bersamanya," gumam Yunza.
Lin Jian sedari tadi menutup matanya dengan memasang wajah datar. "Entah dia tidur atau tidak. Yang pasti, melihatnya saja sudah membuatku takut. Yah~ memang tidak bisa dipungkiri kalau dia memang tampan. Namun, di sisi lain kejam," sambungnya.
Tiba-tiba, roda kereta menginjak sebuah lubang di tanah membuat kereta menjadi tidak seimbang. Yunza yang tak berhati-hati hampir saja jatuh tersungkur ke bawah. Beruntung, Lin Jian menahannya.
Untuk pertama kalinya mereka saling menatap. "Mata merah seperti yang digambarkan dalam cerita. Indah namun mengerikan," batin Yunza.
Suasana menjadi canggung sampai akhirnya mereka saling menjauh dan kembali duduk dengan benar.
"Kenapa kalian membiarkan orang buta ini menjadi kusir kereta!?" Kata-kata tajam keluar dari mulut Lin Jian.
"M-maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak becus, hamba pantas mendapatkan hukuman," ucap kusir kereta tersebut.
"Tch!" Lin Jian mendengus kesal, namun setelah itu dia kembali memejamkan matanya dengan kedua tangan bersidekap di dada.
Perjalanan dari negara Long ke negara Hou berlangsung beberapa hari lamanya. Melewati beberapa kota dan pedesaan, hutan dan ladang-ladang penduduk. Kemudian tibalah mereka di negara Hou, istana Hou Zzi.
Yunza keluar dari dalam kereta. Dia melihat dua orang perempuan berdiri di dekat gerbang istana ditemani beberapa pelayan. Satu perempuan yang sedikit tua memasang senyum sambil menatap kearahnya, satu lagi perempuan muda berwajahkan masam.
"Tidak bisakah kau turun sendiri?" tanya Lin Jian. Ia mengira, Yunza yang terdiam memintanya untuk membantunya turun.
Yunza menunduk dan melihat adanya pijakan yang disediakan untuknya, dia pun segera turun dari kereta tanpa menjawab ucapan Lin Jian. Setelah itu, dia berjalan menghampiri dua perempuan tersebut.
"Kakak ipar Mei An, permaisuri putra mahkota. Ia berbakat, cerdas dan berhati baik. Ia seperti seorang dewi. Sedangkan yang di sampingnya, adik bungsu Shenshen. Ia memiliki paras yang sangat cantik. Namun ... sangat membenci tokoh Yun Ja," gumam Yunza.
Belum tiba di hadapannya, Mei An segera menyambut Yunza. "Adik ipar, selamat datang di negara Hou," ucapnya sambil tersenyum. "Tapi, aku harap kau tidak marah. Ayah Kaisar dan ibunda bukannya tidak ingin menyambutmu, namun mereka sedang sibuk mengurus urusan negara," sambungnya.
Yunza tersenyum. "Tidak apa, kakak ipar. Aku merasa senang, terima kasih sudah menyambutku," ucap Yunza. Rangkaian kalimat yang penuh sopan santun itu membuat mereka tak percaya dengan apa yang sudah didengarnya.
Shenshen menatap tajam Yunza. "Bukankah dia putri bodoh dari negara Long? Mengapa sekarang malah bersikap seperti itu? Benar-benar wanita dengan tipu muslihat."
Dia kemudian menghampiri Lin Jian. "Kakak, aku sangat merindukanmu," ucap Shenshen sambil bermanja padanya.
Siapa sangka, di depan adik perempuannya Lin Jian bisa tersenyum juga. Dia juga mengelus kepala Shenshen dengan sangat lembut. "Apa kau belajar dengan baik beberapa hari terakhir?" tanyanya.
"Tentu saja. Aku akan rajin belajar dan menjadi wanita terpintar di benua ini. Tidak seperti ... seorang gadis bodoh yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu!" sindirnya pada Yunza.
Yunza menoleh sebentar, lalu membalikkan tubuhnya sambil berkata, "rajin belajar tidak selalu membuat seseorang pintar. Jika Nona berpikir bahwa dengan kepintaran bisa menguasai suatu benua, maka itu sangat keliru. Berbicara mengenai kebodohan, aku jadi teringat sebuah pepatah 'buruk muka cermin dibelah'," balas Yunza sambil tersenyum.
Shenshen membelakkan matanya mendengar balasan Yunza. Ia merasa sangat marah karena penghinaan tersebut.
"Siapa yang kau sebut 'buruk muka cermin dibelah'?" berang Shenshen. Yunza tak menjawab, hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
Perdebatan singkat tersebut membuat keadaan menjadi canggung. Mei An yang turut mendengar hal itu merasa tidak enak pada Yunza.
"K-kalian sudah melakukan perjalanan panjang, masuk dan beristirahatlah." Mei An mengalihkan pembicaraan sambil merangkul tangan Yunza.
"Adik Lin Jian, ayo, ajak istrimu beristirahat," sambung Mei An.
Lin Jian melangkahkan kakinya. Namun, alih-alih mengajak Yunza, dia malah berjalan melewatinya. "Banyak urusan yang harus aku selesaikan. Suruh pelayan saja yang mengantar."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
"Candy75
Lin Jian sekarang marah nanti bucin hihihi...
2022-09-29
3
AbC Home
kasian yunza
2022-08-18
1
aflanufi
hati hati jadi bucin bang🤣
2022-08-01
3