"Halo assalamu'alaikum ayah, ada apa?" Tanya Pandu pada penelepon diseberang sana
(......)
"Belum ayah, Pandu belum temukan yang terbaik diantara yang terbaik"
(.....)
"Iyah sih Pandu tau, tapi kalau belum ketemu jodoh gimana"
(....)
"Jangan dong ayah, ayah tau sendiri kan Pandu nggak cinta sama dia"
(......)
"Iya-iyah nanti Pandu kalau dapat langsung bawa ke hadapan ayah, sudah dulu yaa ayah, assalamu'alaikum"
(.......)
Pandu pun mematikan sambungannya secara sepihak
"Kenapa lu bang?" Tanya bang Doni yang sibuk menyetir
"Ini bang, ayah angkat saya pengen banget saya cepat nikah" Ucap Pandu dengan raut wajahnya yang murung
"Lah, emang benar, abang sudah matang buat nikah loh" kata Bang Doni
"Iyah sih bang, tapi saya belum ketemu pasangan terbaikku" Ucap Pandu menghela nafasnya kasar
"Belum nemu atau lu masih nungguin seseorang bang?" goda Bang Doni
"Iyah sih saya lagi menunggu sekalian nyari orang itu, tapi sampai sekarang belum juga saya temukan bang" Ucap Pandu menempelkan lengan bawahnya menutupi wajahnya
"Hahha sabar bro, tapi bagaimana jika abang tidak temukan gadis itu, sementara orang tua abang udah nunggu-nunggu pengen gendong cucu dari abang. Terus abang mau apa?" Tanya Bang Doni kembali
"Yah kalau saya belum nemuin juga gadis itu, biarlah saya terima perjodohan itu" ucap Pandu pasrah
"Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan berusaha untuk menemukanmu gadis bermaskerku" batin Pandu tersenyum meningat gadis yang pernah ditemuinya dulu
"Ehh bang,saya naik kebelakang yah, nanti bang Bayu yang nemenin abang nyetir disini" ucap Pandu segera turun dan naik di belakang truk. Sebelum naik, pandu sudah lebih dulu memberitahu Bayu untuk bertukar posisi. Kini Pandu telah duduk nyaman disamping Viara yang tengah berbicara dengan bang Rama dan Bang Jaya
"Ohh guru matematika yah dek" ucap Rama diangguki Viara sambil tersenyum
"Ohh iyah dek, adek ini asalnya dari daerah mana yah?" Tanya Bang Jaya
"Dari kota B bang" Jawab Viara tersenyum
"Kota B provinsi Sulawesi******** yah dek?" Tanya Bang Rama
"Iyah benar bang"
"Abang juga dari sana loh dek,adek tinggal di bagian mana?" Tanya Bang Rama sambil tersenyum
"Tinggal di rumah dekat bata..... " Ucap Viara terhenti
"Dekat mana dek, Batalyon?" Tanya Pandu
"Dekat batas kota maksudnya heheh" sangkal Viara sambil tersenyum.Viara tidak ingin informasi tentangnya diketahui orang lain sebelum dia mendapatkan keinginannya selama ini yang dilakukannya dengan merahasiakan identitasnya
"Adek kenapa? Kok wajahnya pucat? Sakit lagi yah dek" Tanya Pandu cemas sambil menyentuh kening Viara
"Adek nggak apa-apa kok" balas Viara mencoba tersenyum saat nafasnya kembali sedikit sesak
"Kalau adek mengantuk, ayo bersandar aja di bahu abang" kata Pandu lembut
"Nggak apa-apa kok bang, adek nggak apa-apa" balas Viara tersenyum. Viara yang memang kelelahan setelah menjalani pengobatan di rumah sakit tadi perlahan-lahan menutup mata dan kepalanya bersandar di bahu Pandu.
Bang Rama dan Bang Jaya menyunggingkan senyumnya melihat dua orang di depan mereka
"Ehh bang, kesempatan buat lepas status jomblo tuh" kata bang Rama
"Iyah bang, pepet terus sampe dapat" goda Bang Jaya
"Kan orang tua abang udah minta abang bawa pulang istri, daripada abang nyari jauh-jauh, itu udah ada disamping abang" Saran Bang Rama
"Iyah juga yah, tapi nantilah setelah urusanku sama orang tua selesai, Lagipula aku belum terlalu kenal sama anak ini" jawab Pandu sambil melirik gadis disampingnya
"Haha makanya bang, deketin terus adeknya, biar cepat kenal lalu jadian gitu"
"Yaudah nanti kupikiran " balas Pandu tersenyum melihat wajah teduh Viara di bahunya
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, kini mereka telah sampai di pos mereka
"Dek, ayo bangun kita sudah sampai" Ucap Pandu menepuk pipi Viara
"Kita dimana bang, udah jam berapa sekarang?" Tanya Viara mengucek matanya
"Kita sudah sampai di desa dek, sekarang sudah jam 3 sore" jawab Pandu tersenyum
"Ayo dek bangun, udah pegal nih bahu abang kamu tindih selama 4 perjalanan"
"Ahh baik bang, maaf yah. Sini adek pinjatin" Ucap Viara dan langsung mengurut bahu Pandu
"Hahha nggak usah kali dek, abang nggak apa-apa kok" Ucap Pandu lembut
"Yaudah makasih udah bolehin adek pinjam bahunya yah" ucap Viara tersenyum dan segera berjalan keluar truk
"Selamanya bahu ini selalu siap menjadi sandaranmu dek" gumam Pandu tersenyum menatap punggung Viara
"Bang Doni, bang Iqbal dimana yah?" Tanya Viara yang tidak melihat Iqbal
"Bang Iqbal lagi di kota dek, ada yang harus diurus disana jadinya nggak pulang bareng" jawab Bang Doni
"Ohh makasih yah bang" ucap Viara tersenyum.Ketika Viara membalikkan badannya untuk melompat dari truk, Andra langsung mengendong Viara dan membantunya untuk turun
Deggg
Viara terpana dengan perlakuan Andra barusan, namun hatinya merasa bahagia melihat wajah Andra yang berjarak sangat dekat dengannya hingga Viara merangkul leher Andra dan tersenyum manis padanya
"Hai dek" sapa Andra tersenyum setelah menurunkan Viara dari gendongannya
"Hai Bang. Abang darimana? Kok bajunya kotor gini?" Tanya Viara berdebar-debar
"Abang habis bantu warga perbaiki gudang desa dek" balas Andra lembut.
"Adek pinjam dulu baretnya yah Bang" Ucap Viara melepas baret hijau dari kepala Andra. Viara membersihkan debu yang menempel di baret Andra dan kembali memakaikannya di kepala Andra. Andra menyunggingkan senyumnya dan sedikit membungkukkan badannya agar Viara dengan mudah memasangkan baret dikepalanya
"Sempurna" gumam Viara senang
"Terimakasih yah dek"
"Sama-sama Bang" balas Viara membalas senyuman Andra. Pandu yang mengamati keduanya sejak tadi merasa tidak nyaman dengan kedekatan keduanya. Pandu segera turun dari truk dengan wajah kusut dan mulai membantu menurunkan barang-barang yang dibeli dari Kota
"Loh bang, kusut amat wajahnya, kayak baju belum disetrika aja"
"Apa abang cemburu karena dek Viara dekat yah sama Danru?" goda Rama
"Ya nggaklah, siapa yang cemburu" balas Pandu tanpa menatap wajah Bang Rama
"Hahaha, gua tahu abang cemburu. Begini saja bang, sebentar malam kan ada pembukaan pasar malam tuh di lapangan desa,abang abang ajak saja Viara kesana, sekalian bisa kenal lebih dekat sama Viara sebelum abang telat" Saran Bang Rama
"Ohh Iyah yah, Oke bang" balas Pandu setuju dan kembali menurunkan barang-barang
______
Setelah shalat maghrib, Viara segera mengambil ponselnya yang bergetar diatas nakas
Ting..
📩Bang Pandu
Dek, sebentar selesai isya kita jalan-jalan yah ke pasar malam
📩Viara
Pasar malam? Dimana bang?
📩Bang Pandu
Di lapangan desa, mau nggak dek?
📩Viara
Ohh Oke bang, adek tunggu didepan rumah yah
📩Bang Pandu
Oke dek
Setelah berbalas pesan singkat dengan bang Pandu, Viara beranjak menyiapkan keperluannya untuk mengajar besok
"Ehh Viara, kami berempat mau kepasar malam, kamu mau ikutan nggak?" Tanya Ila
"Aku ikut, tapi nanti sama bang Pandu" Jawab Viara sambil merapikan bukunya
"Wah, rupanya kita telat yah" ucap Devan diangguki ketiga temannya
"Hahah, kalau begitu kami duluan ya Viara, sampai jumpa di pasar malam" Ucap Ila sambil tertawa
"Oke" balas Viara tersenyum.
______
"Bang Pandu, bisa temanin saya sebentar ke depan sana?" pinta Lani, salah satu perawat yang bekerja di desa ini
"Boleh, tapi cuman sampe depan aja ya" balas Pandu
"Baik bang" ucap Lani tersenyum dan segera berjalan bersama Pandu. Lani sebenarnya diam-diam mengagumi Pandu, tapi karena jarak rumahnya yang lumayan jauh dengan pos Pandu membuatnya sangat jarang untuk berdekatan dengan Pandu
"Sudah sampai, sekarang saya balik dulu yah" Ucap Pandu berjalan kembali namun Lani mencegahnya
"Bang, boleh temenin saya ke pasar malam nggak?" Pinta Lani
"Maaf saya nggak bisa" tolak Pandu sopan
"Tapi bang, saya pengen banget ke pasar malam, tapi saya takut diganggu sama preman nakal disana" tunjuk Lani pada sekelompok pemuda nakal yang berdiri tak jauh dari gerbang pasar malam
"Maaf dek, bukannya saya nolak, tapi saya ada urusan sama teman saya" jawab pandu
"Yaudah deh bang, makasih udah anterin saya sampe sini" ucap Lani dengan raut kecewa. Lani melepaskan pegangannya di tangan Pandu dan tetap berjalan maju menuju pasar malam. Para pemuda nakal yang melihat lani berjalan sendirian tersenyum licik dan mulai berjalan menghampiri Lani. Pandu yang kasihan melihat wajah kecewa Lani segera berlari menghampiri Lani sebelum pemuda nakal itu menganggunya
"Ayo biar saya nemenin" ucap pandu membuat Lani tersenyum cerah
"Makasih yah bang" ucap Lani senang dan langsung mengenggam tangan pandu. Pandu sebenarnya tidak nyaman digenggaman seperti itu, tapi karena para pemuda nakal itu yang masih terus memperhatikan Lani membuat Pandu pasrah digenggam oleh Lani
"Maafkan abang dek, maafkan abang karena tidak memenuhi janji untuk berkunjung ke pasar malam bersamamu" kata pandu dalam hati mengingat Viara
Setelah memasuki pasar, Pandu dan Lani tengah mengamati wahana rumah hantu di depannya. Pandu yang melihat teman-teman Viara segera menghampiri mereka untuk bertanya alasan Viara tidak terlihat bersama mereka
"Kalian semua, apa Viara ada bersama kalian?" Tanya Pandu ramah
"Loh, harusnya kami yang nanya sama abang, Viara nggak sama abang?" Tanya Devan yang dibalas gelengkan kepala oleh Pandu
"Yah bang, padahal Viara bilang tadi mau datang kesini bareng abang. Kami duluan datang kesini karena Viara ngomongnya gitu bang" tutur Ila
"Maafkan abang yah, pasti kamu nungguin abang sekarang"
________
Sudah 28 menit Viara menunggu Pandu di depan rumah sambil terus memperhatikan pos tentara didepan, namun orang yang ditunggu Viara tak kunjung terlihat
"Aduh bang pandu dimana yah, apa aku samperin aja ke pos nya?" gumam Viara yang sudah lelah menunggu. Viara memantapkan langkahnya dan berjalan menuju pos tentara didepannya
"Adek, ada apa?" Tanya Andra yang baru keluar dari pos
"Aduh jantungku, berhentilah berdetak kencang" batin Viara menatap wajah pria di depannya
"Adek" ucap Andra membuyarkan lamunan Viara
"Ehh bang, hehehe... Bang pandunya ada?" Tanya Viara salah tingkah. Sementara Andra menahan tawanya melihat wajah salah tingkah Viara
"Bang pandunya lagi keluar dek, abang nggak tau dia pergi kemana" jawaban Andra menimbulkan raut kecewa diwajah Viara
"Begitu yah bang" ucap Viara menghela nafasnya
"Emang ada apa sama bang pandu dek?" Tanya Andra kembali
"Sebenarnya bang Pandu mau ngajakin adek jalan-jalan ke pasar malam bang, adek udah semangat dan siap-siap sejak tadi, namun bang Pandu nggak datang-datang. Ternyata lagi keluar yah" ucap Viara menjelaskan dengan raut wajahnya yang murung
"Kalau begitu adek kembali ke rumah dulu yah bang" ucap Viara tersenyum pada Andra dan membalikkan badannya
"Setidaknya beri tahu aku jika abang membatalkannya, biar adek nggak terlalu semangat dan berharap seperti ini" gumam Viara menahan air matanya agar tidak tumpah
"Ayo dek, kita pergi bareng yuk" ucap Andra membuat Viara menerbitkan senyumnya
"Beneran bang? Abang mau pergi ke pasar malam sama adek?" Tanya Viara berbinar
"Iyah dek, ayo" ucap Andra tersenyum sambil memegang tangan Viara. Viara menatap genggaman tangan pria di sampingnya merasa bahagia dalam hatinya.Genggaman tangan yang selalu Viara inginkan sejak dulu,bahkan genggaman terakhir Andra delapan tahun yang lalu masih sangat terasa di tangan Viara
"Bisakah waktu berhenti untuk sementara waktu? aku masih ingin hidup di waktu ini, merasakan bahagia dalam hangatnya genggaman tanganmu"
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Maya Puspita
semoga viara sembuh dari penyakitnya dan bahagia bersama andra
2022-07-21
1