"Gadis yang baik" batin Pandu tersenyum sambil terus menatap Viara
"Loh bang, daripada senyum-senyum sendiri mending langsung disamperin aja neng nya" saran bapak penjual sate
"Nggak usah ah pak, nanti dikirain saya cowok apaan" bantah Pandu sopan
"Tapi bang, jarang loh nemu wanita baik seperti neng itu. Giliran udah ada di depan mata, kenapa nggak ngajak kenalan aja. Siapa tahu bisa jadi calon nanti" tutur bapak penjual sate kembali
"Wah ucapan bapak benar juga, okelah saya samperin dulu" seru Pandu setuju
"Semangat anak muda" ucap bapak itu menepuk bahu Pandu.
Viara berjalan kaki untuk pulang ke rumah, namun Viara tak menyadari adanya ranting pohon besar diatasnya yang siap menimpanya
"Adek awas!!" Teriak Pandu berlari secepat mungkin dan mendorong sambil memeluk tubuh Viara hingga mereka terguling-giling ditanah bersamaan. Kantung sate yang dipegang Viara telah melayang diudara, beruntung bapak penjual itu dengan sigap menangkapnya dan berjalan menghampiri keduanya.
Kini, tubuh Viara berada diatas tubuh Pandu dan terus terdiam menatap wajah orang dibawahnya
"Mata ini, aku aku seperti pernah melihatnya" batin Pandu menatap lekat mata gadis diatasnya. Mereka saling bertatapan dalam diam cukup lama sampai bapak itu datang dan membuyarkan lamunan keduanya. Viara mulai bangkit dan berdiri dari posisinya yang berada di atas Pandu
"Ehh, makasih yah bang sudah nolongin saya" ucap Viara canggung, begitu juga dengan Pandu saat ini yang sama canggungnya dengan Viara
"Ehh Iyah, sama-sama" balas pandu canggung. Melihat kecanggungan diantara keduanya, bapak itu menghampiri Pandu dan membisikan sesuatu
"Kau ini tentara atau atau apaan? Masa sama cewek aja canggung. Ayo deketin dia dan berbicara santai dengannya seolah tidak terjadi apa-apa diantara kalian" saran bapak itu sedikit berbisik
"Akan saya coba pak" balas pandu setengah berbisik. Pandu mengontrol nafasnya dan mulai membuka percakapan dengan Viara
"Kamu guru yang bertugas disini kan? Yang tinggal di depan pos jaga?" Tanya Pandu sambil tersenyum
"Nah gitu dong baru lelaki sejati" ucap bapak itu setengah berbisik
"Iyah bang" balas Viara lembut.
"Saya permisi yah pak, bang saya harus segera kembali pulang" kata Viara mulai melangkahkan kakinya
"Kita barengan aja baliknya dek, disini sudah malam takutnya terjadi apa-apa padamu" pinta bang Pandu
"Iyah nak, tidak baik jika seorang wanita berjalan sendiri di jam-jam seperti ini" lanjut bapak penjual itu
"Baiklah bang, ayo" ajak Viara diangguki Pandu sambil tersenyum
"Kejar terus bang, jangan dilepaskan" bisik bapak penjual itu
"Siap pak, saya jalan dulu yah"
Setelah berbisik dengan bapak penjual itu, Pandu segera berjalan menyusul Viara dan berjalan beriringan disampingnya.
Dalam perjalanan itu, Pandu dan Viara sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing
"ahh kalau nggak ada pembicaraan malah semakin canggung nih. Ajaklah dia berbicara pandu " batin Pandu menyemangati dirinya sendiri
"Ada apa bang? Kok wajahnya kayak takut begitu. Apa disini ada hantu yah bang?" Tanya Viara sedikit cemas
"Mana ada hantu dek, hantu itu nggak" balas pandu yakin. Tiba-tiba terlihat benda putih yang jatuh bersamaan dengan ranting pohon di tengah jalan tepat di samping Viara
"Astaghfirullah abangg!!!!!" Teriak Viara panik. Viara refleks merangkul lengan Pandu dan menyembunyikan wajahnya di bahu pandu
"Ya ampun dek, itu hanya ranting pohon dek"
"Terus yang warna putih itu apa?" Tanya Viara gemetar ketakutan
"Itu cuman kain dek, lihatlah sendiri". Viara memutar pandangannya dan menatap benda yang jatuh di sampingnya tadi, ternyata ucapan Pandu benar jika benda putih itu hanya kain yang tersangkut di ranting tersebut. Viara akhirnya bernafas lega dan segera melepaskan rangkulan tangannya di lengan kekar Pandu
"Maafkan saya bang" ucap Viara kembali melanjutkan langkahnya. Viara terus menatap kebawah tak berani menatap Pandu yang sejak tadi selalu saja memperhatikannya
"Aku seperti pernah bertemu denganmu dek, tapi aku masih meragukan hal itu. Namamu persis seperti gadis remaja dari desa itu. Jika kamu memang gadis remaja itu, syukurlah aku telah menemukanmu. Tapi jika kamu bukan gadis itu, aku harus bekerja keras lagi untuk menemukannya" Kata Pandu dalam hati sambil melirik gadis disampingnya
Dari ujung jalan, telihat jika Syifa dan Ila tengah cemas menunggu kedatangan Viara di depan rumah dinas mereka
"Sekali lagi terimakasih yah bang sudah nolongin dan temenin saya pulang. Saya pamit yah teman-teman saya sudah menunggu saya di depan rumah, assalamu'alaikum bang" kata Viara ramah
"Iyah dek, Walaikumsalam" balas Pandu sambil tersenyum.
Setelah tiba di depan rumah dinasnya, Viara langsung dihampiri tatapan tajam kedua temannya seolah siap membunuhnya
"Dari mana saja kamu malam-malam gini? Apa kamu tidak tahu betapa cemasnya kami mencarimu. Baru kamu perginya nggak izin lagi" kesal ila
"Hehe maafkan aku teman-teman, aku tidak sempat beritahu kalian karena tadi kalian masih sangat sibuk. Tapi tenang saja, aku ditemani abang tentara didepan kok" ucap Viara membuat kedua temannya bernafas lega
"Syukurlah jika kau bersama bang tentara, maafkan kami yang marah-marah padamu yah" Ucap Ila meminta maaf
"Kalian memang wajar untuk marah padaku, tapi sudahlah. Ini aku membeli sate untuk kita makan bersama" Ucap Viara menyodorkan kantung kresek berisi 3 porsi sate ditangannya
"Wah alhamdulillah, ayo masuk aku akan menyiapkannya di piring" seru Ila berlari masuk kedalam rumah
"Dimana Devan sama Juna?" Tanya Viara yang tak melihat kedua temannya itu
"Mereka lagi beres-beres kamar Viara, tapi kita akan simpankan untuk mereka seporsi dari sate itu" saran Syifa
"Nanti aku yang akan mengantarnya ke kamar mereka" lanjut Syifa kembali
"Ohh yaudah, kita langsung makan aja yuk" ajak Viara langsung menyantap sate diikuti teman-temannya
Sementara di pos para tentara
"Hai bang, apa kau tidak menaruh curiga sama guru didepan??" Tanya Pandu pada Andra yang sedang duduk merokok
"Guru yang mana?" Tanya Andra bingung
"Itu guru yang namanya Viara, namanya persis kan seperti gadis remaja yang kita temui dulu" mendengar ucapan Pandu, Andra meletakkan puntung rokoknya dan beralih menatap Pandu
"Kau benar bang, aku memang sudah curiga padanya. Namun orang yang bernama Viara itu banyak di negeri ini. Tapi kita belum punya banyak bukti untuk mengungkapkan jika dia adalah gadis remaja yang kucintai itu" tutur Andra terlihat murung
"Benar bang, tapi jika guru itu menang Viara gadis remaja itu, apa yang akan kau katakan padanya?" Tanya Pandu. Andra menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan
"Aku juga bingung bang, aku ingin katakan padanya jika aku masih mencintainya hingga saat ini. Aku menolak semua wanita hanya demi dia seorang. tapi aku tidak tahu dimana dia sekarang"
Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Maya Puspita
semoga Andra dan Viara cepat ketemunya Thor,dan bisa mengungkapkan perasaan nya
2022-07-19
1