"Astaghfirullah abang" teriak Viara terkejut melihat jika orang yang terbaring lemah itu adalah seorang tentara yang dikaguminya diam-diam selama ini.
Viara tertegun melihat jika darah terus menyembur dari bahu Andra. Viara segera membuka paksa seragam Andra dan menekan darah agar tidak keluar. Viara mengamati jika bahu Andra terdapat luka tembak dan peluru yang masih bersarang di dadanya
"Dia bisa mati hiks... hiks... " lirih Viara melihat wajah Andra yang begitu pucat.
Dengan bantuan pisau di tangannya, Viara membuka lebih lebar seragam Andra agar dia bisa mengeluarkan peluru di bahu Andra
"Bantu aku Ya Allah" kata Viara memantapkan hatinya dan berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Andra
"Astaghfirullah, pelurunya sangat dalam. Sangat sulit untuk mengeluarkannya dengan lubang sekecil ini. Tapi jika dibiarkan Bang Andra bisa mati. Aku harus bagaimana ini, bantu aku ya Allah" gumam Viara menjatuhkan air matanya tepat mengenai pipi Andra. Andra mulai sedikit sadar dan samar-samar melihat jika ada seorang gadis remaja yang ia kenali tengah menangis dan menahan luka di dadanya. Tak berselang lama, Andra kembali tak sadarkan diri tak mampu menahan sakit di tubuhnya
Dengan ucapan bismillah, Viara kembali berusaha mengeluarkan peluru yang sangat sulit dijangkau. Mau tidak mau Viara melukai sedikit luka Andra dengan pisaunya dan mulai menarik peluru yang telah terlihat. Viara mencungkil peluru itu dengan pisaunya dan menarik peluru itu dari dada Andra dengan pelan.
"Alhamdulillah" gumamViara bernafas lega setelah selesai mengeluarkan peluru di dada Andra. Ketika mengamati peluru yang berhasil dikeluarkannya, Viara mencium aroma peluru itu dan tersentak kaget karena peluru tersebut mengandung racun
Viara semakin ketakutan melihat wajah Andra yang bertambah pucat dengan mata yang masih setia tertutup
"Bertahanlah, aku akan manjagamu" ucap Viara mengelus wajah Andra dan segera berlari masuk ke rumah mengambil obat yang dia buat tadi. Viara membacakan doa di obat herbalnya dan mengoleskan obat tersebut di dada Andra yang terkena tembakan tadi.
"Astaghfirullah ada apa nak?" Tanya nenek lula yang menyusul Viara keluar
"Nenek, abang tentara Viara kena tembak hiks.. hiks.. Dan pelurunya ada racunnya" lirih Hana memeluk nenek lula erat. Viara kembali berjongkok untuk memeriksa denyut nadi Andra
"Bang Andra ada disini, dia sudah ditemukan" Kata bang Pandu yang baru saja datang melalui earpeacenya. Bang pandu dan pasukannya segera berjalan mendekati Viara yang menangis di dekat Andra
"Bang, bangun....apa yang terjadi padamu?" Tanya Pandu menepuk pipi Andra
"Bang Andra kena tembak bang, saya sudah mengeluarkan peluru ditubuhnya tapi peluru itu mengandung racun" Lirih Viara berlinang
"Astaghfirullah, kalian cepatlah. Bawa tandu kesini cepat" Teriak Pandu pada pasukannya. Setelah tubuh lemah Andra dibaringkan diatas tandu, para prajurit segera memangkat tubuh Andra dan berlari ke truk mereka
"Nenek, izinkan Viara untuk mengantar bang Andra ke rumah sakit hiks.. hiks." Pinta Viara memohon
"Baiklah nak, Hati-hati yah disana" ucap nenek lula tersenyum pada Viara. Viara memeluk neneknya dan segera berlari menaiki truk yang akan mengantar Andra ke puskesmas terdekat.
"Nek, kenapa nenek izinkan Viara keluar? Bukannya desa lagi ricuh" Tanya mbak lena bingung
"Tidak apa-apa lena, selama dia bersama para tentara itu dia pasti akan baik-baik saja"
___
"Bagaimana ini bisa terjadi dek?" Tanya bang pandu pada Viara yang menangis di sampingnya
"Adek juga nggak tahu bang, tadi terdengar beberapa suara tembakan di samping rumah. Setelah aman, adek keluar karena tadi adek sempat mendengar ringisan seseorang. Saat adek keluar, adek udah liat bang Andra terbaring di tanah hiks.. hiks..." lirih Viara masih dikuasai ketakutan
"Tenanglah dek, In Syaa Allah Andra akan baik-baik saja. Dia termasuk prajurit yang kuat loh dek" Kata Pandu tanpa sadar menghapus air mata yang menggenang di pipi Viara
"Benar begitu bang?" Tanya Viara menatap Pandu
"Iyah dek, apalagi adek udah keluarin peluru dari bahu Andra, pasti dia akan baik-baik saja. Tenanglah dek, berdoalah agar bang Andra baik-baik saja"
"Terimakasih yah bang" Ucap Viara tersenyum manis Pada Pandu.
Deg
"Ada apa denganku? apa aku juga mengalami masalah dengan jantungku?" batin Pandu berdebar menatap senyum tulus gadis kecil di depannya
__________________
Setibanya di rumah sakit, Andra langsung dibawa masuk ke dalam IGD. Pandu dan Viara masih setia menunggu di depan ruangan sedangkan para prajurit lainnya kembali berjaga di depan rumah sakit dan juga di desa tempat terjadinya kerusuhan
20 menit kemudian, dokter keluar ruang IGD dengan mengembangkan senyumannya
"Siapa di antara kalian yang berhasil mengeluarkan peluru ini dari dalam tubuh pasien?" Tanya dokter
"Saya dokter" ucap Viara mengangkat tangannya
"Lalu apa kamu juga yang menaruh ramuan herbal ini di luka pasien?" Tanya dokter lembut
"Ii..iya dokter, apa ada masalah dengan ramuan herbal saya?" Tanya Viara gugup
"Ramuan herbalmu ini sungguh luar bisa nak, peluru yang telah keluar dari dadanya mengandung racun yang cukup berbahaya bagi tubuh. Racun itu tidak menyebar ke seluruh tubunya karena berkat ramuan ini" kata dokter menjelaskan
"Benar begitu dokter, jadi bang Andra baik-baik saja?" Tanya Viara berbinar
"Iyah dek, hanya saja masih ada racun yang tersisah didalam tubuhnya. Tapi kami sudah memberikan pengobatan agar racunnya segera keluar dari tubuhnya" jawab dokter ramah
"Pak tentara, apa kamu yang mengeluarkan peluru dari tubuh pasien? Setelah saya teliti ukuran luka tembak itu cukup dalam dan sangat sulit bahkan perlu tindakan operasi untuk mengeluarkannya?" Tanya dokter pada bang Pandu
"Bukan saya pak, tapi gadis kecil ini yang mengeluarkan pelurunya". Dokter terkejut mendengar ucapan pandu dan kembali melirik Viara
"Nak, bagaimana bisa kau mengeluarkan peluru sedalam itu dari tubuh pasien tanpa operasi. Bisa ceritakan pada saya?" Tanya Dokter yang diangguki Viara. Viara mulai menceritakan saat-saat tegang dimana dia harus terpaksa melukai sedikit luka Andra agar memudahkannya untuk mencungkil peluru. Dokter manggut-manggut dan tersenyum mendengar penjelasan Viara
"Benar-benar anak yang pemberani. kamu telah berhasil menyelamatkan nyawa pasien nak, terlambat sedikit saja maka sangat sulit jika nyawanya tertolong. Terimakasih yah nak"
"Sama-sama dokter, jadi saya boleh ketemu bang Andra dokter?"
"Boleh nak, tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang rawatnya yah. Saya permisi dulu"
"Terimakasih dokter" Kata pandu dan Viara serentak. Setelah Andra dipindahkan ke ruang rawatnya, Viara segera memasuki ruang rawat Andra diikuti Pandu dibelakangnya
Viara menyunggingkan senyumnya dan bergegas duduk disamping brankar Andra yang masih setia menutup mata
"Cepat sadar yah bang, adek pengen lihat senyuman abang lagi" batin Viara memandangi wajah teduh Andra
"Dek, adek nggak mau pulang, ini sudah sangat malam dek?" Tanya Pandu
"Nggak bang, adek masih mau disini nemenin bang Andra" balas Viara lembut
"Apa adek nggak dicariin sama orang rumah?" Tanya Pandu kembali
"Tidak bang, adek udah izin tadi sama nenek"
"Ohh yaudah, sekarang kamu istrahat yah, abang mau lanjut patroli lagi. Kalau ada apa-apa beritahu prajurit yang berjaga di depan yah"
"Siap bang" Pandu tersenyum pada Viara dan berjalan keluar ruang rawat Andra.
Merasa tubuhnya semakin lelah, Viara duduk dan membaringkan tubuhnya di sofa yang terdapat di ruangan itu
"Cepat sadar yah bang" gumam Viara tersenyum pada Andra dan perlahan-lahan menutup mata
__________________
Keesokan paginya, Viara terbangun saat terdengar bunyi pintu yang terbuka menampakkan dokter yang masuk memeriksa Andra
"Kondisi pasien normal, denyut nadinya normal dan tekanan darahnya juga normal. Mungkin pengaruh luka dan racun yang masih ada di tubuhnya membuatnya belum sadarkan diri"
Viara yang sejak tadi terdiam memandangi aktivitas dokter mulai membuka suara
"Tapi bang Andra akan baik-baik saja kan dokter?" Tanya Viara
"Iyah dek, dia hanya koma sementara. Jika racunnya hilang maka dia akan segera sadar" ucap dokter menjelaskan
"Alhamdulillah" gumam Viara bernafas lega
"Loh dek, pasien ini siapanya adek. Kok adek ada disini?"
"Saya adiknya dokter" jawab Viara tersenyum
"Ohh adiknya. Lalu apa kau membawa pakaian ganti kakakmu dek, soalnya pasien harus segera dibersihkan"
"Tidak dokter, tapi bisakah saya pulang mengambilnya dulu?"
"Bisa dek, kalau adek sudah datang tekankan tombol di dinding itu, nanti saya akan segera datang"
"Terimakasih dokter" ucap Viara diangguki Dokter sambil tersenyum. Setelah dokter keluar ruangan, Viara kembali mendekati brankar Andra dan mengenggam tangannya
"Adek tinggal sebentar yah bang, nanti adek kembali lagi" ucap Viara dan segera berlalu dari ruang rawat Andra.
"Bagaimana aku pulang, masa jalan kaki sih, kan desa lumayan jauh dari sini" gumam Viara mondar-mandir di teras rumah sakit
"Ada apa dek, kok kayak bingung begitu mukanya?" Tanya pandu yang baru saja datang
"Bang pandu, Viara mau kembali ke desa untuk mengambil baju ganti bang Andra, tapi Viara nggak punya kendaraan untuk pulang"
"Yaudah yuk ikut abang aja, abang akan mengantarmu ke desa. Tapi sebelum berangkat kembali ke rumah sakit, abang akan mengantarmu pulang agar kau meminta izin sekali lagi pada nenekmu"
"Baik bang" ucap Viara yang telah duduk disamping kursi kemudi. Pandu tersenyum dan mulai melajukan truknya menuju ke desa.
"Bang, apa yang terjadi semalam. Kenapa ada bunyi bom meledak berkali-kali?" Tanya Viara
"Ohh semalam ada kerusuhan di perbatasan desa dek, dan bunyi ledakan itu karena ada orang yang melukan bom bunuh diri" jelas pandu
"Apa ada yang terluka karena semalam bang?" Tanya Viara kembali
"Ada 20 warga desa yang luka-luka dek, kalau korban jiwa nggak ada"
"Alhamdulillah" ucap Viara lega dan kembali memperhatikan jalanan yang mereka lewati
"walaupun wajahnya selalu tertutup masker, tapi dia terlihat sangat cantik. Dia juga berani mengeluarkan peluru di dada seseorang hingga orang itu masih bisa melanjutkan hidupnya sekarang. Aku mengagumimu dek" kata Pandu dalam hati sambil tersenyum pada Viara
Setelah sampai di desa, Viara melihat dari kejauhan jika banyak sekali tentara yang berdiri di dekat truk mereka
"Bang pandu, kenapa banyak tentara disana?"
"Ohh mereka pasukan yang dikirim semalam untuk membantu mencegah kerusuhan dan membawa obat-obatan dek" tutur Pandu
"Apa mereka teman-teman abang juga?"
"Iyah dek, mereka teman abang" balas Pandu sambil tersenyum.
Viara mengangguk dan terus mengamati salah satu dari bapak tentara yang ada disana dan tengah membelakanginya
"Sepertinya aku kenal dengan orang itu" batin Viara mengamati dari dalam truk. Setelah keluar dari truk, Viara terus memandangi punggung bapak itu dan mulai tersenyum karena Viara mengenal punggung itu. Punggung yang selalu dia naiki sewaktu dia masih kecil
"Ayah.... " ucap Viara memanggil ayahnya dan berjalan medekatinya. Vian yang mendengar suara yang tidak asing di telinganya segera membalikkan badan dan tersenyum melihat putri kesayangannya yang berjalan kearahnya
"Ayah, Viara rindu ayah hiks... hiks... " lirih Viara memeluk ayahnya erat
"Ayah juga merindukanmu sayang. Apa kau baik-baik saja setelah penyerangan semalam. Bagaimana nenek dirumah?" Tanya Vian menghapus air mata Viara
"Alhamdulillah Viara baik-baik saja ayah, nenek juga nggak apa-apa"
"Alhamdulillah" ucap Vian mengelus puncak kepala putrinya
"Ayah ayo kita ke rumah nenek, nenek pasti senang lihat ayah disini" seru Viara berbinar
"Maafkan ayah nak, ayah harus kembali lagi ke kota sekarang, karena ayah harus mengurus seuatu disana dan banyak yang perlu dilakukan untuk mengurus desa ini dari kekacauan" Tolak Vian lembut
"Jadi ayah akan pergi sekarang, tapi Viara masih kangen sama ayah" lirih Viara berkaca-kaca
"Ternyata putriku tidak berubah, dia masih sama seperti putri kecilku dulu" batin Vian menghapus air mata Viara
"Ayah janji yah nak, setelah urusan ayah selesai, ayah akan datang kesini dan menemuimu lagi. Ayah juga akan membawa bunda bersama ayah"
"Baiklah ayah, ayah sehat-sehat yah selama Viara nggak disamping ayah" ucap Viara kembali memeluk ayahnya
"Ijin komandan, kita harus segera kembali ke kota sekarang". Vian mengangguk pada salah satu bawahannya
"Iyah sayang, ayah pergi dulu yah, jaga diri baik-baik, assalamu'alaikum putriku" ucap Vian tersenyum pada putrinya yang menyalami tangannya
"Walaikumsalam ayah, katakan pada ibu jika Viara merindukannya".
Vian mengangguk dan melambaikan tangannya pada Viara yang juga melambaikan tangannya pada truk yang semakin menjauh
"Aku akan merindukanmu ayah"
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments