"Hei Andra, daripada bengong di pintu mending bantuin yuk" ajak Pandu. Andra menganggukan kepalanya dan ikut serta membantu para prajurit bekerja di dapur. Sesekali Andra mencuri pandang dan menyunginggkan senyumnya melihat Viara yang tengah mencincang pepaya muda
"Dek, buka dulu dong maskernya, apa adek nggak kepanasan?" Tanya Pandu yang bingung karena sejak tadi Viara terus saja memakai masker. Andra yang juga penasaran dengan wajah Viara mendongkakkan kepalanya dan menatap wajah Viara
"Nggak bisa bang, saya punya masalah pernapasan jadinya harus tetap memakai masker.Maaf yah bang" Tolak Viara sopan
"Iyah dek nggak apa-apa" kata Pandu sambil tersenyum
Para prajurit kembali melanjutkan pekerjaan mereka dengan penuh semangat, apalagi dengan adanya Viara yang membantu mereka jadi mereka tidak perlu bingung untuk mengolah bahan makanan dari alam itu.
Makan yang dibuat mereka juga beragam, seperti sayur kelor campur pepaya, bakwan jagung, ikan air tawar bakar ,sambal ijo, dan singkong campur yang mereka buat tadi.
Kini pada prajurit telah duduk berjejer rapi di lantai dan mulai memakan makanan buatan mereka
"Masya Allah enaknya" ucap salah satu prajurit yang dibalas anggukan para rekannya. Hati Viara menghangat melihat para prajurit yang begitu lahap memakan makanan yang bersumber dari idenya
"Dek ini enak loh, adek nggak ikutan makan?" Tanya Pandu pada Viara yang duduk disampingnya
"Enggak bang, adek udah kenyang saat makan dirumah tadi"
"Ohh yaudah dek, kalau adek lapar lagi nanti adek tinggal ambil saja yah"
"Iyah bang, adek permisi ke belakang dulu yah bang" Bang Pandu mengangguk sambil tersenyum manis pada Viara. Sementara Viara yang telah berada di dapur diam-diam mengamati Andra yang begitu lahap memakan makanannya
Setelah para prajurit selesai makan bersama, para prajurit segera membersihkan piring bekas makanan mereka. Viara yang baru saja keluar dari toilet kebingungan karena tidak mendapati adanya para prajurit di ruang tengah
"Bang Pandu, dimana prajurit lainnya, kok sepi?" tanya Viara bingung
"Mereka di sumur dek, nyuci piring. Kalau mau kesana sekalian bareng aja dek"
"Ayo bang" Viara tersenyum dan mulai mengikuti langkah bang Pandu menuju ke sumur.
Setelah tiba di sumur, Viara tersenyum dan menyapa semua prajurit yang tengah membersihkan piring bersama-sama
"Wah dek, lebih baik adek duduk cantik aja yah, biar abang-abang semua yang nyuci piring disini"
"Nggak apa-apa bang, adek bantu yah, adek jadi nggak enak sama abang-abang"
"Yaudah adek atur aja piringnya kedalam keranjang yah"
"Siap bang" jawab Viara dan mulai menata piring bersih kedalam keranjang
"Loh Iyah dek, kita kan baru bertemu dan kami semua belum tahu nama adek" kata Pandu yang ikut menyusun piring bersama Viara
"Ohh iya yah, perkenalkan nama saya Viara bang, kalau abang-abang siapa namanya?" para prajurit mengangguk dan mulai memperkenalkan nama mereka
"Adek aslinya orang sini?" Tanya Bayu
"Nggak bang, saya aslinya dari kota B, hanya saja saya tinggal dan sekolah disini untuk menjaga nenek saya" balas Viara sambil tersenyum
"Usia kamu berapa dek?" Tanya Andra yang sejak tadi terus terdiam sambil memandangi Viara
"Usia saya 14 tahun bang" balas Viara ramah
"Jadi masih kelas 8 yah?" pertanyaan Andra dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum
"Benar-benar gadis yang unik. Sekecil ini sudah bisa memasak dan membantu orang tua" batin Andra terus mengamati Viara yang tengah tertawa mendengar candaan prajurit lainnya
"Abang-abang semua, saya pamit pulang dulu yah, nenek saya sudah nungguin di rumah" pamit Viara
"Biar abang mengantarmu dek" ucap Andra lembut
"Nggak perlu bang, tante saya sudah ada di depan. Saya pamit pulang dulu yah, assalamu'alaikum semua"
"Walaikumsalam Viara" ucap para prajurit serentak membalas lambaian tangan Viara.
"Sepertinya aku pernah bertemu gadis itu, Ohh Astagafirullah aku lupa, gadis itu kan putrinya komandan. Dia gadis yang kulihat 2 bulan yang lalu. Kenapa aku sepikun ini astaga" batin Andra menepuk jidatnya
"Kenapa bang? Pengen gegar otak yah"
"Nggak lah, masa cakep-cakep gini penyakitan"
"Lalu? wajah abang kayak orang yang baru inget sesuatu"
"Aku hanya teringat seseorang, dan orang itu adalah gadis tadi" Kata Andra
"Apa maksudmu bang? Kita baru pertama kali bertemu Viara tadi. Emang abang tahu siapa itu Viara?" tutur Bayu
"Iyah, gawat kalian semua. Kalian berani-beraninya menyuruh dan menggoda anak gadis komandan" kata Andra menakut-nakuti teman-temannya
"Prankkk" gelas yang dipegang bang Pandu seketika terlepas dari tangannya
Saking terkejutnya para prajurit, mereka membulatkan matanya sempurna dan menatap tajam kearah Andra
"Apa maksudmu bang, jadi Viara adalah... "
"Iyah, dia adalah putri komandan kita, aku pernah melihatnya berjalan-jalan di batalyon 2 bulan yang lalu"
"Kenapa abang nggak ngomong dari dulu sih" kesal Pandu
"Aku juga baru teringat sekarang"
________
"Loh nak, baru menang undian yah. Senang amat mukanya" ucap nenek lula yang membawa cemilan ke kamar Viara
"Ini lebih dari menangin undian nek"
"Wah bagus dong, apa yang membuat hatimu sebahagia ini sayang?" Tanya nenek lula lembut
"Viara suka sama salah satu tentara tadi nek" Kata Viara menyunggingkan senyumnya mengingat wajah Andra. Sementara nenek lula yang mendengar penuturan cucunya menghela nafas kasar dan menaruh nampan makanan di depan Viara.
Viara menyadari jika wajah neneknya berubah kusut mulai berbicara
"Ada apa nek? Apa nenek nggak setuju jika Viara suka sama tentara itu?" Tanya Viara pelan
"Bukan begitu sayang, nenek justru senang jika kau bahagia. Tapi sekarang bukanlah waktumu untuk jatuh hati pada seseorang sayang. Jalanmu masih sangat panjang" turut nenek lula
"Tapi nek, ayah bilang tidak ada salahnya mencintai seseorang asal jangan berlebihan"
"Iyah sayang, ayahmu memang benar. Nenek takut jika kau mencintai seseorang secara berlebihan. Nenek takut kau begitu menaruh harapan pada seseorang yang belum tentu jodohmu"
"Jika nenek nggak mendukung Viara untuk mencintai seseorang di usia Viara sekarang nggak apa-apa nek. Nenek pasti punya alasan yang kuat. Nenek jauh lebih tua dan berpengalaman dari Viara" ucap Viara mencoba tersenyum pada neneknya
"Bukan begitu sayang, nenek akan selalu mendukungmu jika kau mencintai orang itu. Hanya satu pesan nenek, kejarlah cita-citamu lalu cintamu. Jangan pernah menaruh harapan yang lebih, karena nenek takut masa depan dan semua impianmu hancur sayang" ucap nenek lula mengusap kepala cucunya
"Iyah nek, Viara janji nggak akan menaruh harapan lebih padanya. Jika dia memang jodoh Viara, semoga didekatkan dengan cara yang terbaik menurut-Nya" kata Viara tersenyum pada neneknya
"Iyah sayang, teruslah berdoa yang baik-baik untuk hidupmu dan orang-orang tercinta mu"
_______
"Nenek Viara pamit yah, Viara mau pergi ke rumahnya Tasya untuk kerjain tugas" pamit Viara
"Iyah nak, Hati-hati dijalan"
"Iyah nek" setelah memakai masker, Viara melangkahkan kakinya di jalanan menuju rumah Tasya
"Assalamu'alaikum Tasya" panggil Viara setelah sampai di depan rumah Tasya
"Walaikumsalam Viara, silahkan masuk. Tasya nya udah tungguin di kamarnya" ucap ayahnya Tasya
"Baiklah paman" balas Viara tersenyum dan berjalan masuk kedalam rumah Tasya
Ketika tiba di ruang tamu, Viara tertegun melihat 5 orang tentara yang tengah bercengkrama dengan pak Dimas
"Hai Viara" sapa prajurit serentak yang diangguki Viara sambil tersenyum. Andra beralih menatap Viara dan tersenyum manis padanya membuat yang ditatap menjadi salah tingkah.
Sebelum merasa malu karena salah tingkah, Viara segera berlalu dan langsung masuk ke kekamar Tasya tanpa mengetuk pintu
"Kau ini Viara, bikin jantungan aja. Mau aku cepat mati?" Kesal Tasya sambil mengusap dadanya
"Aku yang mati jika terus berlama-lama di depan"
"Apa karena abang tentara Tamvan yang kau suka itu?"
"Yang kau maksud siapa?" Tanya Viara bingung
"Siapa lagi kalau bukan bang Andra, aku tahu jika kau menyukainya bukan" Jawab Tasya tepat mengenai sasaran
"Ba...Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Viara gugup
"Hahah nggak usah gugup kali Ara, aku tahu jika kamu mencintai lelaki itu. Tatapan matamu yang begitu dalam padanya seolah kau menyimpan namanya indah dihatimu. Ucapanku benar kan Viara?" Viara mengangguk megiyakan ucapan Tasya
"Sepertinya bang Andra juga tertarik padamu Viara" sambung Tasya yakin
"Bagaimana bisa kau seyakin itu. Dia bahkan belum terlalu mengenalku, bagaimana mungkin dia akan mencintai anak kecil sepertiku" bantah Viara
"Aku yakin dia juga tertarik padamu Viara, aku sering memergokinya diam-diam mencuri pandang padamu. Dari tatapannya melihatmu seolah dia juga ingin memiliki dirimu" Jawab Tasya kembali
"Baiklah budak cinta, aku percaya dengan ucapamu. Sekarang bukalah buku matematika halaman 78, aku akan menjelaskan cara menyelesaikan soal itu seperti permintaanmu tadi"
"Tapi Viara, pikirkan kata-kataku baik-baik" ucap Tasya dan mulai membuka bukunya
__________
Viara sejak tadi mondar mandir didalam kamar Tasya karena para tentara yang berada di rumah Tasya belum pulang, bahkan tawa mereka masih menggema sehingga menambah kegelisahan Viara
"Kenapa Viara, kayak dikejar maling aja?" Tanya Tasya sambil membaca buku catatannya
"Aduh tentara di depan rumahmu belum juga pulang Tasya" ucap Viara cemas
"Lalu apa yang harus ku lakukan untuk membantumu sobat?"
"Usir mereka semua" Tasya membulatkan matanya mendengar perintah Viara
"What? Jika aku mengusir mereka maka aku lah yang akan ditendang ayahku karena menganggu tamunya" Jawab Tasya tak percaya
"Jadi aku harus bagaimana lagi, jika aku meloncat dari jendela, 20 detik kemudian kau akan menangisi ku"
"Menunggu lebih baik Viara" Ucap Tasya tersenyum. Viara menghela nafasnya kasar dan kembali membaca bukunya
20 menit kemudian
"Ehh Viara, kayaknya semua tentara udah pulang deh" seru Tasya
"Iya yah suara mereka tidak kedengaran lagi"
"Sebentar yah aku cek dulu"
_____________________
"Mereka sudah pulang Viara" ucap Tasya yang baru kembali dari ruang tamu
"Alhamdulillah, kalau begitu aku pamit pulang dulu yah, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, Hati-hati Viara" Viara tersenyum dan berlalu ke luar kamar Tasya.
"Kok perasaanku jadi nggak menentu gini. Disaat bang Andra ada, aku takut menemuinya. Disaat dia nggak ada, aku malah ingin bertemu dengannya. Ada apa denganmu Viara" gerutu Viara menepuk-nepuk pipinya.
Viara yang sejak tadi melamun sambil berjalan tidak menyadari adanya Andra dibelakangnya
Andra membunyikan klakson motornya membuat Viara tersentak kaget dan mengepalkan tangannya
"Hei, bisa nggak..." kekesalan Viara sirna setelah melihat orang yang membuatnya terkejut
"Eh abang, hehehe" cengir Viara merasa pipinya telah memanas
"Maafin abang yang ngagetin kamu yah dek"
"Ehh nggak apa-apa kok, salah adek juga yang melamun dijalan" balas Viara tersenyum.
Deg...
"Mengapa senyumanmu selalu berhasil menggoda hatiku dek" batin Andra terus menatap senyuman Viara padanya
"Abang kok bengong?" Kata Viara berhasil membuyarkan lamunan Andra
"Ahh nggak dek, adek bisa nggak temanin abang sebentar?"
"Boleh bang, temanin kemana?" Tanya Viara lembut
"Temani abang jalan-jalan di desa ini yah dek, sekalian kita cari martabak jika martabaknya ada yang jual di desa Ini"
"Baiklah bang"
"Ayo naik kebelakang dek" Viara mengangguk dan mulai menaiki jok belakang motor Andra. Setelah memastikan Viara duduk dengan nyaman di belakangnya, Andra tersenyum dan menjalankan motornya membela jalanan desa yang asri
Selama jalan-jalan sore, Viara terus menjelaskan pertanyaan yang ditanyakan Andra mengenai desanya.
"Abang itu ada penjual martabak" Andra mengikuti arah pandang Viara dan menghentikan motornya di seberang jalan
"Kamu tunggu disini saja yah dek, abang mau kesana dulu" Viara tersenyum dan mengangguk kepalanya pada Andra. Andra mengelus lembut kepala Viara dan segera berlari menyebrang jalan untuk membeli martabak
"Wah nak, itu pacarnya yah" ujar ibu penjual martabak itu
"Bukan bu, dia teman saya. Tapi do'ain yah bu biar dia jadi pacar saya nanti" Ucap Andra setengah berbisik
"Aaamiin ini syaa Allah nak, jika kalian berjodoh, berapapun perbedaan usia kalian pasti akan tetap dipersatukan" jawab ibu itu tersenyum
"Iyah bu, terimakasih. Ini uangnya"
"Iyah nak sama-sama" balas ibu penjual tersebut tersenyum menatap Andra yang berjalan menghampiri Viara
"Dasar anak muda"
__________
Andra kemudian memberhentikan motornya tepat di depan rumah Viara
"Terimakasih yah dek telah nemenin abang jalan-jalan"
"Sama-sama Kak, adek juga senang kok nemenin abang?" ucap Viara tersenyum sambil menatap wajah indah yang ada didepannya
"Masya Allah senyumannya itu" batin Viara terus menatap Andra tanpa berkedip
"Abang tahu abang ganteng kok dek" Viara tersadar dari lamunannya dan langsung membuang mukanya yang telah memanas kembali
"Aduhhh, kenapa bisa lupa begini sih, sadar Viara sadar" gumam Viara yang masih bisa didengar Andra
"Hahaha, abang pamit pulang yah dek, cepatlah masuk udah mau magrib nih, assalamu'alaikum adek"
"Walaikumsalam bang" ucap Viara tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Andra
"Ciee yang lagi deket sama abang tentara" Goda Tasya yang berdiri dibelakang Viara
"Kamu, kenapa ada disni? Bukannya kita sudah bertemu tadi"
"Pantas dicariin nggak pulang-pulang ternyata lagi main sama abang tentara yah"
"Yeeee kegeeran lu, aku cuman jalan-jalan doang bareng bang Andra"
"Jalan-jalan ke mana, ke KUA yah" goda Tasya kembali
"Sudah ah, katakan apa alasanmu datang menemuiku?" tanya Viara serius
"Nih bukumu, kamu menjatuhkannya di depan teras rumahku tadi"
"Ohh alhamdulillah, terimakasih baby"
"Hmm sama-sama. Boleh nanya sesuatu nggak Viara"
"Emang harus minta izin dulu yah kalau mau ngomong sama sahabat sendiri" kata Viara sambil memperhatikan bukunya
"Hehehe, gimana caranya yah biar bisa dapat abang tentara juga. Pengen juga kayak kamu Viara" ucap Tasya memelas
"Aku juga bingung Tasya, tapi aku punya ide untukmu"
"Ide apaan?"
"Kalau pengen dapat abang tentara, langsung ke markasnya aja, terus bilang deh sama komandan, komandan, tentaranya satu buat gua bawa pulang"
"Yeeee dikira barang dagangan. Sudahlah biar nanti akun tanyain sama ayahku saja"
"Yaudah sana, kalau udah tahu caranya ngasih tau aku juga yah"
"Hmmm aku pamit, assalamu'alaikum baby"
"Walaikumsalam" balas Viara melambaikan tangannya pada Tasya.
_____________
"Habis dari mana nak, kok adzan magrib baru pulang?" Tanya nenek lula yang tengah memasak di dapur
"Habis nemenin abang tentara jalan-jalan nek" jawab Viara antusias
"Abang tentara? Pak Darman maksudnya?" ucap mbak lena yang baru saja datang
"Yeeeee yang itu mah sudah kakek-kakek, yang aku maksud itu abang tentara yang msih muda, ganteng lagi" ucap Viara sambil memikirkan wajah Andra
"Sudah-sudah, sekarang kalian masuk dan shalatlah, setelah itu kita makan bersama" perintah nenek lula lembut
"Baik nek" Viara segera berjalan meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim
Setelah mengaminkan doa nya, Viara tertegun melihat mukena putihnya yang terdapat beberapa bercak darah. Viara segera bangkit menghadap cermin dan alangkah terkejutnya ia melihat jika hidungnya telah mengeluarkan darah segar
"Ada apa ini? Apa masalah pernapasan ku makin parah yah" gumam Viara khawatir
"Nak, kau didalam. Segera keluar dan makanlah bersama" ucap nenek lula dibalik pintu kamar Viara
"Iyah nek, sebentar Viara beres-beres dulu" Viara segera membersihkan noda darah di hidungnya agar neneknya tidak khawatir melihatnya
"Semoga semuanya baik-baik saja. Berikanlah aku umur panjang Ya Rabb"
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Elviza mela
kok ceritanya hampir sama dg i love you om tentara sih..
2022-08-02
0