"Kau memberikannya perhatian saat dia tertembak peluru. Apa saat itu kamu mulai mencintainya Viara?" Tanya dokter Citra
"Iyah dokter, tapi saat itu aku takut untuk mengatakan perasaanku padanya. Aku takut dia akan menolak cintaku karena saat itu aku masih remaja dan usia kami berbeda 8 tahun. Aku tidak ingin merasakan patah hati diusia sekecil itu" ucap Viara menjelaskan
"Lalu kamu menunjukkan cintamu dengan memberinya perhatian. Kamu memilih memendam perasaanmu sendiri dan mengaguminya dalam diam?" Tanya Tasya diangguki Viara sambil tersenyum
"Lalu bagaimana kau tahu jika abang tentaramu mencintaimu? Apa dia pernah mengatakan padamu sebelumnya?" Tanya dokter Citra kembali. Demi menjawab rasa penasaran kedua temannya, Viara mengontrol nafasnya dan mulai menceritakan kisahnya kembali
Flashback on
Ting...Ting....Ting..
Bel pulang telah berbuyi, semua warga sekolah berbondong-bondong keluar kelas dan pulang ke rumah masing-masing
"Hei Viara, lihatlah abang tentaramu ada disana" Kata Tasya menunjuk kearah depan gerbang. Viara mengikuti arah pandang Tasya dan tersenyum melihat Andra yang berada di seberang jalan sambil menatap kearah sekolahnya
"Aku menemuinya dulu yah"
"Iyah Viara semoga sukses". Viara mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya mendekati Andra
"Abang sudah pulang dari rumah sakit?" Tanya Viara senang setelah berdiri didepan Andra
"Iyah dek, baru tadi siang"
"Luka abang bagaimana?" Andra tersenyum melihat raut cemas Viara dan mengusap kepala Viara dengan lembut
"Alhamdulillah lukanya sudah membaik dek, terimakasih sudah menolong mengeluarkan peluru dibahu abang"
"Alhamdulillah,Sama-sama bang" balas Viara bernafas lega mendengar penuturan Andra
"Abang ngapain disini?" Tanya Viara kembali
"Mau jemput adek, temani abang jalan-jalan yuk." Viara mengangukkzn kapalanya dan mulai menaiki jok belakang motor Andra.
Setelah Viara siap, Andra kembali menjalankan motornya mengelilingi desa ditemani gadis kecil yang dirindukannya. Sepanjang perjalanan Andra dan Viara menceritakan pengalaman mereka dan sesekali bercanda sehingga tawa riang terdengar dari keduanya
"Saat-saat seperti ini yang aku tunggu, tertawa bersamamu tanpa adanya hambatan. Aku ingin kita seperti ini selamanya bang, aku ingin bahagia bersamamu" batin Viara menatap pantulan Andra dari kaca spion
"Dek, menurut adek di desa ini dimana tempat yang paling adek sukai?" Tanya Andra lembut
"Tempat yang adek sukai itu diatas bukit bang, disana terlihat jelas pemandangan matahari terbenam dan perumahan warga desa" seru Viara
"Kita kesana yah dek" Viara mengangguk mengikuti kemana Andra membawanya. Viara berpikir jika bersama Andra maka dia akan selalu aman dan baik-baik saja.
Setelah sampai di bukit, Viara segera turun dan mencari posisi yang aman untuk duduk di tanah. Viara tersenyum melihat pemandangan desa dan cahaya matahari senja yang semakin menambah keindahan desanya. Andra beranjak duduk disamping Viara dan terus memandangi wajah Viara yang berbinar melihat pemandangan di depannya
"Bang, terimakasih telah membawa adek kembali ke tempat ini. Sudah lama sekali adek ingin datang kesini" seru Viara masih menatap indahnya matahari senja
"Abang senang jika kau bahagia dek." Viara tertegun mendengar ucapan lembut Andra dan menoleh menatap Andra
"Apa maksud abang berkata seperti itu?" Tanya Viara menatap mata Andra. Andra tersenyum manis dan meraih kedua tangan Viara dan menggenggamnya erat
"Abang sayang kamu dek." Viara merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar pengakuan Andra. Viara mencoba mencari kebeneran di mata Andra, namun yang Viara lihat hanyalah ketulusan yang terpancar dimata Andra. Viara mengembangkan senyumannya dengan wajah yang telah merah merona
"Adek juga sayang sama abang. Selama ini adek sembunyikan perasaan ini karena adek takut abang akan menolak adek" Ucap Viara lembut
"Kenapa adek berpikir seperti itu?"
"Karena usia kita yang berbeda jauh dan terpaut 8 tahun. Nenek bilang agar adek jangan terlalu berharap dengan cinta adek. Karena nenek tidak mau adek terluka dengan harapan adek yang ketinggian. Jadi adek lebih memilih mencintai abang diam-diam" kata Viara. Andra mengusap pipi merona Viara dengan lembut dan mengusap puncak kepala Viara
"Nenek memang benar dek, adek jangan berharap lebih sama abang. Setelah abang mengungkapkan perasaan abang padamu, maka adek jangan terlalu berharap sama abang. Abang takut adek terluka karena abang juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Teruslah belajar dan kejarlah cita-citamu setelah itu pikirkan tentang cintamu. Jika kita memang berjodoh, maka Allah akan tetap mempersatukan kita sejauh apapun kita terpisah" Ucap Andra lembut yang diangguki Viara sambil tersenyum. Andra mengontrol nafasnya dan kembali menatap Viara yang tersenyum manis padanya
"Dek, besok abang akan segera kembali" ucapan singkat itu berhasil meluluh lantakkan hati Viara. Viara yang baru saja merasa bahagia kembali menjatuhkan air matanya
"Udah yah dek, abang tau ini berat untukmu, tapi ikhlaskanlah abang pergi yah" ucap Andra mengelus air mata Viara
"Tapi bang hiks.. Adek nggak sanggup jika jauh dari abang" lirih Viara semakin terisak
"Iyah dek, abang juga merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi ingatlah pesan abang, tetap jadi wanita yang baik dan penuh senyuman saat abang tidak disampingmu. Teruslah ceria dan tersenyum melewati hari-harimu. Jangan selalu memikirkan abang, karena itu akan menambah harapanmu pada abang, sedangkan hanya pada Tuhanmu lah kamu berharap dek. Jika adek merindukan abang, maka teruslah berdoa agar kita segera dipertemukan. Jangan pernah bosan meminta, jodoh itu ada di tangan Allah, jadi rayulah sang pemilik hati agar dia yang selalu kamu nanti segera dipersatukan" turur Andra lembut sambil mengusap kepala Viara mencoba menenangkannya. Viara menghapus air matanya dan meraih kedua tangan Andra
"Terimakasih bang, terimakasih karena telah berbagi cerita bersama adek, terimakasih telah membuat hari hari adek bahagia. Dan juga terimakasih karena telah membalas perasaan adek kepada abang. Adek akan mengikhlaskan abang pergi, tapi ingatlah pesan adek ini Bang
"Katakanlah dek" kata Andra lembut. Viara tersenyum dan mengenggam kedua tangan Andra
"Aku menantimu bukan karena kau tampan, mapan, atau karena jabatan. Tapi aku menantimu karena aku butuh bimbingan" Andra menganggukan kepalanya mendengar penuturan Viara dan membawa Viara ke pelukan hangatnya. Mereka tersenyum bersama sambil menikmati pemandangan matahari senja yang perlahan-lahan terbenam.
"Aku berharap semoga kita dipertemukan kembali suatu saat nanti, aku hanya akan mencintaimu selalu, karena bagiku kau cinta pertamaku setelah ayahku dan cinta terakhirku, jika aku pergi meninggalkan dunia suatu saat nanti, maka wajah ingin terakhir kulihat hanyalah wajahmu saja" batin Viara bersandar di dada bidang Andra sambil menyunggingkan senyuman
"Ngomong-ngomong, besok abang kembali pukul berapa?"
"Pukul 6 pagi dek. Sekarang kita pulang yuk, pasti nenek udah nungguin adek di rumah." Viara tersenyum dan melangkahkan kakinya disamping Andra yang mengenggam tangannya erat. Viara tersenyum bahagia karena untuk pertama kalinya tangannya digenggam oleh Andra setelah selama ini dia hanya mengaguminya dalam diam.
__________________
"Astaghfirullah nak, nenek sama mbak lena cariin kamu kemana-mana, Tasya bilang kamu pergi sama abang tentara" ucap nenek lula
"Maaf yah nek, saya ajakin Viara nggak ijin dulu" Kata Andra
"Tidak apa-apa nak, nenek merasa Viara aman jika bersamamu"
"Kalau begitu saya pamit dulu yah, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam abang sayang" ucap Viara diangguki Andra sambil tersenyum, sedangkan nenek lula dan mbak lena melongo tak percaya dengan ucapan Viara. Setelah Andra pergi, nenek Lula dan mbak Lena segera menghampiri Viara yang memandangi Andra yang telah menjauh
"Apa yang kau ucapan tadi? Abang sayang?" Tanya mbak Lena
"Hehe Iyah mbak, emang salah yah?"
"Itu tidak salah sayang, nenek hanya takut ucapanmu menganggu pak tentara" Tutur nenek lula
"Tidak nenek, itu tidak akan menganggu pak tentara, karena Viara udah jadian sama pak tentara tadi"
"APA!!" Mulut nenek lula dan mbak lena kembali menganga, sedangkan Viara hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan keduanya yang terdiam mematung di tempat
Didalam kamarnya, Viara meloncat-loncat bahagia teringat pengakuan Andra tadi. Wajah dan senyuman Andra selalu terbayang di benaknya membuat Viara tak bisa memejamkan mata
"Aku harus segera tidur, agar aku tidak ketinggalan perpisahan dengan bang Andra besok" Ucap Viara memeluk bantal gulingnya dan perlahan-lahan menutup mata.
Keesokan paginya, Viara terperanjat kaget saat melihat jam di dinding tertera pukul 6 lebih lima menit. Viara segera meraih hijabnya dan langsung berlari keluar. Dengan sekuat tenaga, Viara berlari kearah Koramil meskipun dadanya yang terasa sesak karena kembali merasakan sesak nafas. Setelah sampai di koramil, Viara hanya melihat Tasya dan ayahnya yang tengah berbicara dengan beberapa Babinsa
"Tasya, dimana para tentara yang lainnya?" Tasya Viara dengan nafas tersengal-sengal
"Mereka sudah pergi 8 menit yang lalu, berbaliklah kebelakang" ujar Tasya. Viara berbalik dan tertegun melihat truk para tentara sudah berlalu dan hampir tak terlihat lagi diujung jalan. Air matanya tumpah menahan sesak didadanya. Viara menangis karena tidak bisa bertemu pujaan hatinya untuk terakhir kalinya
______________
"Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku belum melambaikan tangan padanya, aku belum memeluknya untuk terakhir kali dan aku bahkan belum mengucapkan kata perpisahan padanya" lirih Viara meneteskan air mata teringat masa lalunya. Tasya mengusap punggung bergetar Viara karena Tasya tahu perjuangan yang dilakukan Viara 8 tahun yang lalu sampai sekarang
"Apakah selama 8 tahun ini kalian saling berkomunikasi atau sekedar mengirim surat?" Tanya Dokter citra
"Tidak dokter, aku bahkan tidak sempat meminta nomor ponselnya dulu. Aku juga tidak tahu dimana tempatnya bertugas setelah pergi dari desaku" Ucap Viara menghapus air matanya
"Lalu bagaimana dia akan mengingat wajahmu setelah 8 tahun terpisah, tanpa komunikasi pula?" Tanya Tasya bingung
"Walaupun tanpa komunikasi, aku masih tetap rindu dan mencintainya seperti dulu. Dalam doaku aku selalu berharap agar dia mengenaliku meski sudah banyak perubahan di wajahku, aku harap dia bisa mengenaliku saat melihat mata ini" turur Viara sambil tersenyum
"Tapi Viara, jika kamu bertemu dengannya dan dia telah berkeluarga, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Tasya
"Aku akan mundur dan belajar untuk mengikhlaskannya. Meskipun akan sangat menyakitkan jika itu kenyataannya, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Aku hanya ingin sebelum aku terbalut kain kafan, aku ingin mengugkapkan padanya bahwa aku masih mencintainya dan setia menunggunya sampai saat ini"
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments