"Uhuk... Uhuk... Dokter" panggil Viara pelan yang baru saja siuman
"Alhamdulillah kamu sudah sadar Viara" ucap Dokter Citra bernafas lega
"Apa yang terjadi dokter?" Tanya pelan Viara yang melihat selang infus ditangannya
"Kau pingsan saat dibawa kesini Viara, aku sedang menunggu kedatanganmu sejak tadi, tapi syukurlah kau baik-baik saja" Ucap Dokter Citra senang
"Apa obat semalam sudah tidak berfungsi dokter?" Tanya Viara kembali
"Obatnya masih bagus kok, emangnya kenapa?"
"Aku sudah meminumnya semalam tapi tetap saja obatnya tidak bekerja" jawab Viara lemah
"Itu karena kamu ketakutan Viara sehingga obat yang kamu minum tidak berfungsi dengan baik di tubuhmu" kata dokter Citra menjelaskan
"Dokter tolong jangan katakan penyakitku ini kepada orang lain yah dok, biarlah ini jadi rahasia kita saja" pinta Viara berusaha untuk bangun
"Baiklah Viara, teruslah jaga kondismu dengan baik, aku akan memanggil temanmu yang ada di luar" Ucap Dokter Citra membantu Viara bersandar
"Teman?" Tanya Viara terkejut
"Iyah Viara, sejak 2 jam yang lalu dia menunggumu di depan. Sebentar aku panggilkan" tutur Dokter Citra berjalan keluar ruangan
Tak berselang lama, pintu ruang IGD terbuka menampakkan Pandu yang tersenyum cerah pada Viara
"Dek, maafin abang yah, karena abang menakutimu kamu jadi seperti ini" ucap Pandu memegang tangan Viara
"Nggak apa-apa bang" Ucap Viara menyunggingkan senyuman
"Nggak apa-apa gimana, abang udah nyakitin kamu sampai seperti ini"
"Iyah juga yah bang, ngomong-ngomong apa abang siap adek hukum?" Tanya Viara kembali
"Iyah dek abang siap, tinggal pilih saja dek mau kamu abang pushup shitup atau pullup?"
"Tidak ketiganya bang" ucap Viara menahan tawa
"Lalu, adek mau apa sama abang?" tanya Pandu. Tiba-tiba perut Viara berbunyi nyaring mewakili pikirannya Viara saat ini
"Mau makan? Yaudah ayo kita cari makanan sama-sama" ajak Pandu diangguki Viara sambil tersenyum
"Dokter, teman saya sudah boleh pulang kan?" Tanya Pandu pada dokter Citra
"Boleh bang, silahkan saja kalau mau dibawa pulang. Tapi ingat jangan lupa sebar undangannya padaku yah" ucap dokter Citra membuat Viara melongo tak percaya
"Ihh dokter apaan sih" ucap Viara dengan wajahnya yang memerah
"Siap dokter, nanti kasih alamat dokter biar tukang posnya nggak salah alamat" jawab Pandu kembali membuat Viara menganga
"Hahha Oke bang, silahkan dibawa pulang" lanjut dokter Citra senang
"Ayo dek, kita pulang" ucap Pandu menarik tangan Viara
"Awas kamu dokter"
______
"Abang ngapain sih, malah setuju sama ucapan dokter tadi" ucap Viara cemberut
"Ya nggak apa-apa kali, lagipula dokternya kan benar" balas Pandu tersenyum melihat tangannya yang digenggaman Viara
"Benar darimana? Emang abang mau nyebar undangan?" Tanya Viara sedikit kesal
"Iyah dek, undangan makan malam"
"Kalau undangan tentang itu sih nggak apa-apa, adek nggak diundang juga seneng" kata Viara tersenyum mengejek
"Loh mau kamu nggak di undangan makan?"
"Mau toh, kan adek pintar masak, jadi tinggal set set set jadi" ucap Viara menjulurkan lidahnya pada Pandu
"Ohh yaudah kita langsung pulang nggak ada acara makan-makan" kata Pandu berjalan cepat meninggalkan Viara
"Ehh ehh bang jangan gitu dong, kan abang udah bilang mau tebus kesalahan" ujar Viara menahan tangan Pandu
"loh, katanya nggak mau, jadinya nggak usah" ucap Pandu menahan tawanya melihat wajah cemberut Viara
"Ahh Iya deh bang, siap salah. Yaudah kita langsung ke warung yuk, udah laper nih" ucap Viara menarik tangan Pandu agar mengikutinya
Setelah keluar dari gerbang rumah sakit, kebetulan ada warung makanan di seberang jalan hingga Pandu dan Viara memutuskan untuk makan diwarung tersebut
"Bang, ini makannya mahal-mahal semua" kata Viara melihat kertas menu di tangannya
"Nih bang, masa nasi ayam bakarnya 25 ribu, padahal di kampung adek cuma 20 ribu loh" Ucap Viara menunjukkan kertas menu
"Cuman beda 5 ribu toh dek, nggak usah nego lagi"
"Iyah sih bang, tapi tetap aja mahal"
"Jadi mau pesan apa selain nasi ayam bakar dek?" Tanya Pandu mencoba tetap sabar menghadapi gadis di depannya
"Abang hitung sampai 3 kalau nggak ada yang dipilih biar nasi ayam bakar aja. Setiap hitungan maka sambalnya nambah"
"Tapi bang... "
"Tiga"
"Aduh mana mahal semuanya lagi" gumam Viara cemas
"Dua" ucap Pandu tersenyum melihat wajah kebingungan Viara
"Sa...... "
"Iyaiya nasi sama mangut lele aja bang"ucap Viara cepat
"Yakin nasi mangut lele aja?" Tanya Pandu kembali
"Iyah bang yakin" jawab Viara cepat
"Oke mbak, mangut lelenya 2 porsi yah, tingkat pedasnya level 30" ucap Pandu membuat Viara membulatkan matanya
"Jangan mbak, nggak usah pake level-level pedasnya" pinta Viara memohon
"Jangan denger dia mbak, levelnya tetap level 30" tutur Pandu
"Jangan mbak, nggak usah pake level-level" pinta Viara memohon
"Aduhh kalian ini, saya pusing tahu, Lama-lama saya tambahin levelnya jadi 50 nih" ucap mbak pelayan
"Boleh mbak, malah lebih bagus lagi" ucap Pandu tersenyum mengejek pada Viara.
"Baiklah pesanan saya sudah tulis jadi nggak bisa diubah lagi" ucap pelayanan itu mencatat pesanan Pandu di buku kecilnya
"Mbak sini biar saya aja yang nulis" ucap Pandu diangguki pelayan itu yang langsung menyerahkan buku kecilnya ke tangan Pandu
"Awas aja kalau nambahin levelnya lagi" ancam Viara menatap tajam lelaki di depannya
"Oke dek, abang tambahin lagi levelnya" kata Pandu tersenyum kembali menulis di buku kecil itu
"Jangan dong bang, kepedasan itu mah, adek nggak sanggup tahu" bujuk Viara menarik lengan Pandu
"Lebih baik adek duduk diam, kalau adek masih melawan abang tambahin lagi levelnya" Ucap Pandu sedikit tegas. Viara akhinya pasrah dan menyentak-nyentakkan kakinya menuju meja mereka
"Ini mbak, jangan lupa baca note nya di lembar dibelakangnya" ucap Pandu
sambil tersenyum dan segera menyusul Viara.
Pelayan itu membuka lembaran dibelakangnya dan membaca tulisan yang tertera disana
Tolong pedasnya level 10 aja yah, tapi buatlah kuahnya menjadi warna merah seolah level pedasnya 50. Saya nggak sanggup jika lihat teman saya nangis karena kepedasan. Oke
Pelayan itu tersenyum dan segera ke dapur untuk menyiapkan pesanan pandu
"Dek" panggil Pandu
"Apa!!!" jawab Viara tegas
"Loh dek, jangan marah-marah toh" bujuk Pandu
"Bagaimana nggak marah, masa pesanannya level pedasnya sampe level 50, Lama-lama telinga adek bisa jadi cerobong asap tahu. Mulut adek juga bakalan keluar api" kesal Viara
"Bagus toh dek kalau mulutnya keluar api, bisa bakar satenya di mulut adek" goda Pandu
"Huhh daripada bakar sate, mending bakar abang aja" kesal Viara membuat Pandu menahan tawanya
"Ini pesanan kalian" ucap pelayan tadi menyerahkan pesanan Pandu di meja mereka
"Mbak, sesuai level kan?" tanya Pandu mengedipkan matanya pada pelayan itu
"Iyah bang, kebetulan stok cabe di dapur banyak, jadi levelnya ditambahin jadi level 70" tutur mbak pelayan
"APAA" Kata Viara keget
"Bagus sekali mbak, ini uangnya plus bonus buat mbak" ucap Pandu menyerahkan 3 uang biru ketangan pelayan itu dan mulai melahap makanannya. Sementara Viara hanya diam menatap Pandu yang begitu lahap memakan makanannya
"Kalau aku makan nih, langsung mati kayaknya" batin Viara bergidik ngeri melihat merahnya cabe di piring makannya
"Kenapa cuman dilihat, ayo makan" perintah Pandu
"Nggak mau, nanti adek sakit lagi" tolak Viara
"Loh dek, ini ungkapan terimakasih abang untuk adek karena udah maafin abang, nggak baik loh dek kalau di tolak" Ucap Pandu berpura-pura murung
"Ini bukan ungkapan terimakasih, tapi ancaman tembuhuhan" ucap Viara memberanikan dirinya untuk menyantap makanan di depannya
"Jika adek mati, maka adek akan hantui abang kemanapun abang pergi" ancam Viara menodongkan garpu tepat di depan wajah Pandu yang menahan tawa melihat gadis di depannya
"Semoga nggak mati setelah ini" gumam Viara cemas. Dengan ucapan bismillah, Viara pelan-pelan memasukkan makan ke mulutnya. Ketika makan itu menyentuh lidah Viara, Viara tertegun karena rasa pedasnya tidak seperti dipikirannya, justru rasa pedasnya sudah pas sesuai seleranya
"Loh kok nggak pedas sih,pasti gara-gara abang nih" Ucap Viara tak percaya
"Oh mau pedasnya nambah yah dek, Oke mbak..mbak..."
"Ehhh jangan, sudah pas kok pedasnya. Makasih abang ganteng" ucap Viara menatap tajam Pandu dan melanjutkan makannya. Sementara Pandu hanya diam menahan tawa melihat gadis di depannya
"Ternyata Viara yang ini beda sama Viara lain yang kutemui di desa, yang ini jauh lebih menarik" batin Pandu menyunggingkan senyumnya menatap gadis di depannya
Setelah selesai menyantap makanan mereka, Pandu meminta izin ke depan untuk menerima panggilan. Viara yang mencari sepasang sandalnya tertegun saat melihat secarik kertas di lantai dan langsung mengambilnya
"Kertas apa ini?" gumam Viara menatap kertas di tangannya. Karena rasa penasaran yang tinggi, Viara lantas membuka dan membaca yang tertulis disitu. Seketika Viara mengembangkan senyumnya membaca note yang ditulis Pandu pada pelayan tadi
"Selain menyebalkan dan bar-bar, ternyata dia perhatian juga yah"
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Maya Puspita
semoga Andra cepat mengetahui klau itu viaranya thor
2022-07-20
1