Panitia segera menghampiri para abdi negara yang baru masuk itu untuk berkenalan dengan para guru tersebut. Andra segera memanggil anggotanya dan berjalan bersama-sama menghampiri para guru untuk memperkenalkan diri.
Mereka saling lempar senyum dan berjabat tangan serta memperkenalkan diri.
Ketika Andra berdiri tepat didepan Viara, mata mereka beradu pandang dan saling menyunggingkan senyum. Jantung Viara berdegup kencang saat akan menyambut uluran tangan Andra padanya.
Dengan tangan gemetar, Viara memegang tangan Andra dan mulai menyebutkan namanya serta daerah asalnya. Andra tertegun mendengar nama Viara dan ingin sekali bertanya banyak tentang Viara, namun karena banyaknya pasukan yang mengantri dibelakangnya, akhirnya Andra hanya tersenyum pada Viara berjalan melewatinya. Sementara Viara terperangah dengan apa yang baru saja terjadi di depannya
"Apa dia sudah melupakanku?" Batin Viara bertanya-tanya.
"Aku akan mencobanya pada tentara yang satu ini. Semoga dia tidak melupakanku" batin Viara menjabat tangan tentara di depannya
"Perkenalkan nama saya Viara, saya berasal dari daerah........"
"Hai salam kenal, perkenalkan nama saya Pandu" Ucap Pandu. Pandu terdiam menatap Viara cukup lama, setelah itu Pandu tersenyum manis pada Viara dan kembali melewatinya sehingga Viara kembali bertanya-tanya
"Astaghfirullah, kenapa mereka tidak mengenaliku? Apa wajahku telah berubah jauh dari wajahku saat remaja dulu. Mengapa bang Andra dan Pandu sama sekali tidak mengenaliku" batin Viara khawatir.
Viara melihat tentara di depannya yang juga Viara kenali
"Bahaya jika tentara yang satu ini juga Melupakanku" batin Viara mulai mejabat tangan tentara di depannya
"Hai perkenalkan namaku..... "Ucap Viara terputus karena tentara di depannya langsung memotong ucapannya
"Viara, kau berasal dari daerah...... Dan anak dari paman Vian" jawab iqbal tepat
"Alhamdulillah kau masih mengenaliku, kupikir kau telah melupakanku" Ucap Viara bernafas lega
"Hahah, tidak mungkin aku melupakanmu Ara" ucap Iqbal melakukan tos pertemanannya bersama Viara hingga keduanya tertawa bersama.
Setelah semua acara selesai, Viara dan teman-temannya segera berjalan pulang menuju rumah dinas mereka. Para tentara juga berjalan bersama mereka karena pos mereka terletak tepat di depan rumah dinas para guru.
Telihat jika Viara dan Iqbal tengah berjalan beriringan di depan para guru dan juga para tentara yang berjalan pulang bersama keduanya
"Kak, bisakah kakak menjaga rahasiaku. Tolong kakak Jangan menceritakan darimana asalku dan siapa aku ketika ada teman-teman kakak yang bertanya tentangku pada kakak" pinta Viara sedikit berbisik
"Emang kenapa Ara?" Tanya Iqbal bingung
"Ada sesuatu yang harus kulakukan. Jika saatnya tiba nanti akan aku ceritakan pada kakak. Turuti permintaanku yah kak" bujuk Viara memelas
"Hahah, sifatmu yang seperti ini belum juga hilang yah. Baiklah akan ku rahasiakan semua tentangmu pada teman-temanku" balas Iqbal mengusap puncak kepala Viara. Mereka berdua kembali bercengkrama dan tertawa bersama hingga mengabaikan teman-teman mereka yang memperhatikan keduanya sejak tadi.
Setelah berjalan kaki selama 15 menit, kini mereka telah sampai di rumah dinas masing-masing dan para tentara juga telah kembali ke pos mereka.
"Kalau kau perlu sesuatu, atau apapun itu segera hubungi kakak yah, kakak harus segera kembali ke pos kakak" kata iqbal
"pos kakak bukan di depan sana yah?" Tanya Viara
"Bukan Ara, pos kakak ada di desa sebelah. ingat pesan kakak yah"
"Iyah kak" balas Viara sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada iqbal
"Hei Viara, siapakah tentara itu? Kalian terlihat sangat akrab" Tanya Syifa
"Dia sahabatku sewaktu kami kecil Ila" jawab Viara sambil tersenyum
"Apa dia sudah memiliki kekasih?" Tanya Syifa kembali
"Kenapa hayo? Kalau nggak ada kenapa?" Tanya Ila
"Alhamdulillah Kalo nggak ada" cengir Syifa
"Hahaha kalian ini, ayo masuklah. Kita harus mempersiapkan semuanya" tutur Viara diangguki oleh kedua rekannya
"Alhamdulillah aku bisa menemuinya hari ini. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku. Apakah dia telah menemukan orang yang baru?" guman Viara sedikit khawatir.
Untuk menghilangkan rasa khawatirnya, Viara keluar dari rumah dinasnya dan berjalan mengelilingi wilayah sekitar
"Wah, ternyata di daerah ini udara malamnya lumayan dingin sama seperti di desa nenek, jadi rindu nenek" gumam Viara berjalan di jalan setapak sambil membalas sapaan warga sekitar yang menyapanya
"Warganya juga ramah, jadi semakin betah disini untuk satu tahun kedepan" seru Viara senang.
Ketika Viara melewati penjual sate, Viara melihat ada 3 anak kecil diseberang jalan yang hanya bisa menatap para pembeli yang menyantap sate di hadapan mereka.
Viara menyunggingkan senyumnya pada anak-anak itu dan segera menghampiri penjual sate tersebut
"Bang, satenya 6 porsi yah" pinta Viara
"Maaf neng, satenya cuman tinggal 5 porsi aja" Ucap Pak penjual sate
"Ohh nggak apa-apa bang, 5 porsi aja" lanjut Viara
"Baik neng" ucap penjual tersebut dan mulai memanggang sate pesanan Viara. 10 menit kemudian, pesanan Viara telah jadi dan langsung diterima oleh Viara
"Alhamdulillah terimakasih pak, ini uangnya" ucap Viara memberikan 2 lembar uang merah
"Tunggu yah neng, saya tukar dulu kembalinya" kata penjual sate
"Ahh nggak usah pak, buat bapak aja" Ucap Viara ramah
"Alhamdulillah terimakasih neng, semoga makin dilimpahkan rezekinya yah neng" ucap bapak penjual itu bersyukur
"Aamiin, Sama-sama Pak" balas Viara tersenyum dan segera menghampiri anak-anak di seberang jalan tadi
"Dek, ini kakak punya sedikit rezeki, diterima yah dek" Ucap Viara lembut sambil merogoh kantung kresek di tangannya
"Tapi kak, kami tidak punya uang untuk membelinya" ucap anak itu menjatuhkan air matanya
"Adek nggak usah bayar, ini kakak kasih untuk kalian, gratis kok"
"Benaran kak?" Tanya ketiga anak itu berbinar
"Iyah dek, ayo dimakan" ucap Viara memberikan 2 bungkus sate yang langsung dilahap oleh anak-anak itu
Sementara di tempat penjual sate diseberang jalan
"Ehh pak, 4 porsi satenya yah" ucap bang pandu sambil merogoh dompetnya
"Yah maaf bang, satenya udah abis terjual" ucap bapak itu membuat mata Pandu membola sempurna
"Cepet amat habisnya pak, biasanya jam segini tinggal 5 porsi saja"
"Iyah benar bang, tapi sudah ada seorang gadis yang baru saja membelinya" tutur Pak penjual sate
"Baru saja? Lalu dimana gadis itu?" Tanya Pandu
"Disana bang" tunjuk bapak itu kearah seberang jalan. Pandu mengikuti arah pandang bapak penjual itu dan ikut mengamati gadis yang tengah bercengkrama dengan anak-anak kecil itu
"Kakak nggak makan sate? Sini kita makan sama-sama Kak" ajak anak itu menyodorkan 2 tusuk sate kepada Viara
"Kalian habiskan saja yah, makan sampe kenyang satenya, bagian kakak sudah ada kok" ucap Viara mengelus kepala ketiga anak itu
"Alhamdulillah terimakasih banyak yah kak, sudah lama pengen makan sate, tapi baru bisa sekarang" ucap anak kecil itu mengelap mulutnya
"Iyah dek, sama-sama. Tapi satenya kok nggak dihabiskan?" Tanya Viara lembut
"Sisanya untuk kasih bapak sama ibu di rumah. Mereka pasti senang bisa rasain sate ini. Kami pamit pulang dulu yah kak, udah nggak sabar pengen kasih orang di rumah. Assalamu'alaikum kakak" seru anak-anak itu menyalami tangan Viara satu persatu
"Walaikumsalam anak-anak" balas Viara tersenyum membalas lambaian tangan ketiga anak itu. Pandu yang sejak tadi mengamati Viara dan anak-anak itu menerbitkan senyumnya menatap Viara tanpa henti
"Gadis yang baik" gumam Pandu tersenyum
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Maya Puspita
lanjut thor,gmn reaksi Andra apakah masih ingat viara
2022-07-18
1