Viara tersenyum menatap punggung Andra yang sudah semakin masuk kedalam pos dan kembali melamun tentang cintanya pada Andra. Namun lamunan Viara seketika buyar saat mendengar seseorang berbicara dengannya
"Lagi ngapain dek" Tanya Pandu
"Astaghfirullah abang!!! ucapkan salam dulu sebelum berbicara kali" ucap Viara mengelus dadanya
"Hehehh Assalamu'alaikum adek"
"Walaikumsalam abang, abang darimana? Kok bawa jambu air sama mangga?" Tanya Viara menatap kantung kresek di tangan Pandu
"Ohh ini dikasih sama pak dimas, habis tangkap ular besar di kebunnya tadi" Ucap Pandu sambil memikirkan sesuatu untuk gadis di depannya
"Kebun pak dimas?" Tanya Viara sedikit cemas
"Iyah dek,kebun yang dibelakang rumah dinas adek. Ularnya ada dua dek, satu berhasil ditangkap dan satunya lepas dek" kata Pandu mencoba menakuti Viara
"Lepas? Terus kemana ularnya bang?" Tanya Viara ketakutan. Pandu yang melihat seorang anak lelaki memainkan ular mainan di samping teras rumah dinas Viara mengedipkan matanya pada anak itu. Anak itu yang mengerti maksud Pandu berjalan mendekati Viara dan meletakkan ular mainan dilantai tepat dibelakang Viara
"Di belakang adek" mendengar ucapan Pandu, Viara berbalik perlahan-lahan dan terperanjat kaget melihat ular tepat dibelakang kakinya
"Astagfirullah Abang!!!!" Teriak Viara ketakutan meremas tangan Pandu dengan kencang
"Ya ampun dek, nggak ada ular disitu kok" Ucap Pandu menahan tawa
"Beneran bang? Tapi tadi ada ular" kata Viara dengan suara bergetar
"Coba lihat sendiri" kata Pandu menyeringai. Viara memberanikan diri untuk melihat ke belakang dan benar saja ular disana sudah tidak ada lagi
"Loh tapi disini tadi ada ular bang, adek nggak bohong" ucap Viara ketakutan berusaha menyakinkan Pandu
"Kalau memang ada dimana dek?" Tanya Pandu menahan tawa melihat wajah ketakutan Viara. Pandu memainkan matanya pada anak yang bersembunyi di balik teras agar anak itu segera pergi.
Sementara Viara hanya terdiam dalam ketakutannya. Dia meremas ujung bajunya dan menundukkan pandangannya karena merasa malu pada bang Pandu
"Tapi aku yakin disini tadi ada ular" batin Viara mengontrol ketakutannya
"Kenapa dek?" Tanya Pandu lembut
"Nggak Apa-apa bang" jawab Viara berusaha tersenyum pada Pandu
"Yaudah ke pos abang yuk, kita buat rujak dengan jambu dan mangga ini" ajak Pandu
"Baik bang" jawab Viara mengenggam tangan Pandu dan berjalan disampingnya. Pandu tertegun merasa detak jantungnya semakin cepat ketika tangan Viara menyentuh dan mengenggam tangannya
"Ada apa ini? Apa aku punya penyakit jantung yah?" batin Pandu sambil menahan dadanya merasakan debar jantungnya
Setelah sampai didalam pos, Viara mendudukkan dirinya di lantai karena masih dilanda ketakutan, sementara Pandu langsung ke dapur untuk mencuci buahnya.
Andra yang melihat wajah ketakutan Viara dari arah dapur lalu mengambil air dan berjalan menghampirinya
"Dek, ada apa? Kok kayak takut gitu mukanya. Ini minumlah dulu" ucap Andra menyodorkan air yang langsung diteguk oleh Viara
"Kamu ini dek, kayak habis lihat hantu aja" ucap Andra mengelus punggung Viara
"Bang.. Bang... " lirih Viara ketakutan
"Ada apa dek?" Tanya Andra lembut
"Disini aman kan? Nggak ada ular disini kan?" Tanya Viara mengenggam tangan Andra
"Disini aman dek, adek tenang aja yah nggak ada ular disini" kata Andra mengelus puncak kepala Viara. Viara menyunggingkan senyumannya menatap wajah Andra sedekat ini setelah terpisah dan tidak pernah lagi menatap matanya selama 8 tahun. Viara ingin sekali memeluk tubuh pria di depannya meluapkan rindu yang selama ini terpendam,namun Viara menahan niatnya agar rencananya tidak gagal nanti
"Terimakasih yah bang" ucap Viara sambil tersenyum
"Sama-sama dek. Daripada adek bengong disini mending ke dapur yuk, kita memasak bersama" ajak Andra diangguki Viara sambil tersenyum. Andra membantu Viara berdiri dan mengenggam tangannya sambil berjalan bersama ke dapur
Di dapur, sudah ada 4 orang prajurit termasuk Pandu yang tengah mengiris buah. Viara segera bergabung dengan para prajurit dan mulai membantu mengolah bahan makanan yang tersedia. Viara sangat senang bahkan tertawa mendengar candaan sertu Bayu dan sertu bagas, mereka berdua adalah prajurit yang ramah dan juga sangat baik bagi Viara
Sementara Andra terus mengamati Viara yang duduk disampingnya sambil tersenyum,begitu juga dengan Pandu yang sesekali melirik kearah Viara yang menyiapkan makanan di piring bersama Andra
"Gadis yang baik dan juga unik" gumam Pandu
______
"Ayo semuanya makan dulu" ajak Andra pada semua personilnya. Mendengar panggilan Danru mereka, para prajurit mulai berdatangan di ruang tengah dan duduk berjejer. Para prajurit mulai menyendokkan makanan di piring mereka dan menyantapnya dengan lahap. Sementara Viara yang duduk disamping Andra tengah menyendokkan makanan di piringnya
"Dek, boleh ambilkan ikan bakarnya nggak untuk abang" pinta Andra karena jarak piring ikan bakar jauh darinya
"Ini bang, dimakan yah" ucap Viara meletakkan pirinpg ikan bakar di depan Andra. Mereka pun makan bersama dengan khidmat, hanya suara dentingan sendok yang terdengar di ruangan itu
"Loh dek, adek nggak makan ikan bakar?" Tanya Andra
"Nggak usah bang, ini cuman cukup untuk abang-abang lainnya" jawab Viara ramah
"Yaudah kita makan bareng yuk dek, kita bagi dua ikannya yah, abang nggak tega lihatin kamu nggak makan ikan bakar. Kan kamu yang bantu abang bakar ikannya tadi" Ucap Andra memasukkan daging ikan di mulut Viara. Viara menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya pada Andra. Andra membalas senyuman Viara dan kembali memakan ikan bakarnya sambil memperhatikan gadis disampingnya
Sedangkan Pandu yang sejak gadis mengamati dua orang di depannya bmerasa sedikit kesal pada Andra yang terus menatap gadis disampingnya
"Kalau makan ikan itu perhatikan ikannya, bukan gadis di sampingmu" gerutu Pandu dalam hati
"Uhuk.. Arghh" ringis Andra yang tertelan tulang ikan
"Astaghfirullah abang" ucap Viara cemas dan segera mengambilkan air untuk Andra, begitu juga dengan prajurit lainnya yang cemas melihat Andra
"Diminum bang, pelan-pelan" ucap Viara mengelus tengkuk Andra yang tengah meneguk segelas air
"Masih nyangkut tulangnya bang?" Tanya Viara
"Iyah dek argh" ringsis Andra. Viara segera menggumpalkan nasi di piringnya dan langsung dimasukkan kedalam mulut Andra
"Jangan dikunyah bang, langsung ditelan nasinya" perintah Viara menyentuh tengkuk Andra. Andra mengikuti ucapan Viara untuk menelan nasi itu, dan benar saja tulang yang tersangkut di tenggorokannya sudah tidak ada lagi. Andra menatap wajah Viara yang berjarak sangat dekat dengannya, begitu juga dengan Viara yang menatap Andra dalam diam.
"Mata ini,seolah mata cemas ini pernah aku lihat" batin Andra menatap lekat mata Viara
"Ekhhmmmm" Pandu yang jengah dengan kedekatan keduanya berdehem dan membuyarkan tatapan mata keduanya
"Makanya makan itu diperhatikan bang, jangan asal makan aja" ucap Pandu sedikit kesal
"Yah enak sih, jadinya nggak diperhatikan tulangnya" sangkal Andra sambil tersenyum.
"Sudah-sudah bang, ayo lanjutkan lagi makannya" perintah Viara pada semua prajurit
Setelah makan bersama dan membersihkan semua piring bekas makanan, kini semua prajurit kembali ke aktivitas normal mereka. Sementara Viara masih berdiri dengan perasaan was-was di depan pos tentara, menatap horor pada jalanan di depannya
"Aduh bagaimana ini, aku pulang nggak yah? Nanti ada ular tadi bagaimana?" batin Viara cemas sambil mondar-mandir
"Ada apa dek? Lihat hantu lagi?" Tanya Andra
"Nggak lihat hantu bang, adek hanya takut balik sendiri" Ucap Viara sambil tersenyum
"Mau dianterin dek?" tawar Andra
"Mau sih bang, tapi takut merepotkan abang. Kan rumahnya cuman di depan sana" Ucap Viara
"Nggak Apa-apa, sebentar abang panggilin Pandu dulu yah, abang harus ketemu kepala desa malam ini soalnya" kata Andra lembut
"Ohh boleh bang" balas Viara tersenyum. Tak berselang lama, Pandu keluar dari dapur dan berjalan menghampiri Viara
"Kenapa dek? Takut pulang sendiri yah" goda Pandu
"Nggak lah bang, kan jaraknya dekat dari sini. Tapi adek masih takut sama ular itu bang" jawab Viara mengontrol rasa khawatrinya
"Hahha yaudah sini abang antar" ucap Pandu mengenggam tangan Viara dan berjalan bersamanya. Viara segera menghampiri Pak dimas yang kebetulan lewat di depan rumahnya
"Ehh pak, maaf sebelumnya apa ular yang lepas itu sudah ditangkap pak?" Tanya Viara cemas. Pak Dimas yang melihat isyarat Pandu yang berdiri dibelakang Viara mengerti dan mulai menjawab pertanyaan Viara
"Iyah neng, ularnya masih berkeliaran" ucap pak Dimas membuat Pandu tersenyum senang. Viara berlari cepat masuk ke rumahnya sambil ketakutan setengah mati dan meninggalkan dua orang itu
"Terimakasih yah pak" Ucap Pandu senang
"Sama-sama bang, tapi apa nggak apa-apa bohongin neng nya tadi, takutnya nanti terjadi Apa-apa" ucap pak Dimas sedikit khawatir
"Nggak usah khawatir pak, saya yakin gadis tadi akan baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu maka saya yang akan bertanggung jawab" jawab Pandu santai
"Baiklah bang, saya permisi" ucap pak Dimas segera berlalu meninggalkan Pandu
"Gadis yang manis, sepertinya aku punya hobi baru sekarang"
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Suryani Syafar
lanjut
2022-07-20
0
Maya Puspita
semoga Andra cepat mengetahui klau itu viaranya
2022-07-20
0