Kini sinar matahari telah menghilang digantikan dengan cahaya rembulan yang menerangi angkasa. Viara segera memasuki ruang rawat Andra dan tersenyum melihat wajah teduh Andra yang masih setia menutup mata
"Cepat bangun yah bang" ucap Viara lembut dan mulai mengaji di samping brankar Andra. Pandu yang baru membuka pintu ruang rawat Andra tersenyum melihat Viara masih setia menemani Andra. Pandu menunggu Viara selesai mengaji baru dia akan bertanya kepadanya.
Setelah Viara selesai mengaji, Pandu yang sejak tadi bediri di pintu mulai mengeluarkan suaranya
"Dek, sekarang adek istirahat yah, biar bang Andra abang yang jagain. Pasti adek capek kan nemenin bang Andra seharian?"
"Tidak bang, adek nggak lelah kok, justru adek senang bisa nemenanin bang Andra disini. Adek juga udah minta izin sama nenek dan nenek menyetujuinya" Tutur Viara sambil tersenyum. Pandu akhirnya pasrah dan membiarkan Viara tetap menemani Andra
"Tetap disini yah dek dan jangan keluar dari rumah sakit. Di lokasi yang tidak jauh disini tengah terjadi keributan dan para warga saling serang. Jika terjadi sesuatu, segera temui abang. Abang ada di depan untuk menjaga tempat ini" tutur pandu
"Baik bang" Pandu tersenyum dan segera meninggalkan ruang rawat Andra untuk berjaga di depan rumah sakit
Drrtt.... Drrt....
Viara segera mengambil ponselnya yang bergetar diatas nakas dan menjawab panggilan dari neneknya
"Halo assalamu'alaikum nak, kamu dimana. Kamu baik-baik saja kan?" Suara nenek Lula terdengar cemas
"Walaikumsalam, alhamdulillah Viara baik-baik saja nek. Viara masih dirumah sakit menemani bang Andra. Lagipula di sini aman kok nek karena banyak tentara yang berjaga di luar rumah sakit"
"Alhamdulillah, jaga dirimu baik-baik yah sayang" Kata nenek lula bernafas lega
"Iyah nek, nenek juga jaga diri yah. Besok Viara akan segera pulang ke rumah"
"Iyah nak, sudah dulu yah sayang, assalamu'alaikum cucuku"
"Walaikumsalam nek" balas Viara tersenyum dan mematikan sambungan teleponnya.
Boooooomm
Boooooomm
Bunyi ledakan cukup keras terdengar dari arah pedesaan. Viara refleks mengenggam tangan Andra dengan bibirnya yang terus melafalkan doa-doanya kepada sang Pencipta untuk bisa menguasai ketakutannya.
Dalam mimpinya, Andra melihat jika Viara tengah bersembunyi di belakang tubuhnya karena takut mendengar ledakan keras dari rumah-rumah warga yang terbakar di depan mereka
"Abang adek takut hiks.. hiks..." lirih Viara terisak di punggung Andra. Andra tersenyum dan mengelus punggung ketakutan itu mencoba untuk memenangkannya
"Tenanglah dek, semuanya akan baik-baik saja. Abang akan ada dan melindungimu selalu" Kata Andra lembut didalamnya mimpinya.
Sedangkan Viara kembali menangis ketakutan mendengar ledakan yang kian menjadi-jadi
Boooooomm
Boooooomm
Boooooomm
"Ayah, Viara takut" lirih Viara memeluk kedua kakinya yang bergetar hebat. Viara melihat jendela ruang rawat Andra yang terbuka mencoba menahan rasa takutnya dan berjalan mendekati jendela itu. Viara telah berdiri di depan jendela dan tertegun melihat kobaran api dari arah desa dengan asap hitam yang menggumpal menghiasi langit.
Boooooomm......
Viara melihat rumah warga kembali meledak dengan kobaran api yang semakin besar langsung menutup jendela itu dan memeluk kakinya erat.
Berjam-jam Viara lewati dengan penuh ketakutan di rumah sakit itu karena sejak tadi ledakan terus terdengar dan menganggu suasana hati Viara.
Viara menghapus air matanya dan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12 lebih sepuluh menit. Viara beranjak bangun dari duduknya dan memilih tidur untuk menenangkan hatinya yang masih dilanda ketakutan.
Ketika Viara melangkah mendekati sofa, Viara melirik Andra dan terperanjat kaget melihat Andra yang mengigil dengan wajah yang sangat pucat.
"Astaghfirullah, demamnya tinggi sekali" Kata Viara saat menyentuh kening Andra, bahkan rasa kantuknya telah hilang saking terkejutnya Viara. Viara segera berlari keluar ruangan untuk meminta pertolongan dokter, namun suasana di dalam rumah sakit itu sangat mencekam dengan dokter yang terus mondar mandir karena kewalahan menerima pasien yang terus berdatangan.
"Bagaimana ini, semua dokter sangat sibuk membantu warga desa yang terus berdatangan" gumam Viara cemas. Viara segera mengambil air dingin dari Tara dan kembali berlari ke ruang rawat Andra.
Viara dengan telaten mengompres kening Andra yang begitu panas dengan bibirnya yang mengigil. Viara menjatuhkan air matanya melihat wajah pucat itu sambil terus mengompres kening Andra.
Pandu yang mengecek situasi didalam rumah sakit segera masuk kedalam kamar Andra. Seketika senyum pandu mengembang melihat Viara yang merawat Andra meski jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Pandu menutup pintu sangat pelan dan kembali berpatroli di dalam rumah sakit. 2 jam kemudian, Pandu kembali lagi ke ruang rawat Andra dan tertegun melihat Viara masih setia merawat Andra, bahkan Viara masih tetap terjaga di jam yang sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Bang pandu, pasien kembali berdatangan di luar, bisakah anda membantu saya mengantar mereka ke dalam ruangan?" pinta dokter jamal dengan nafas tersengal-sengal. Pandu mengangguk dan mulai membantu para dokter yang kelelahan karena korban dari serangan di desa yang terus saja berdatangan.
_________
Viara kembali memeriksa suhu tubuh Andra seketika menyunggingkan senyumannya karena suhu tubuh Andra sudah kembali normal. Viara melirik jam dinding dan tertera pukul 4 dini hari. Karena tak kuat lagi melangkahkan kakinya ke sofa, Viara akhirnya tertidur sambil terus mengenggam tangan Andra erat.
Pandu yang baru saja selesai membantu dokter segera datang ke ruang rawat Andra untuk memastikan kondisi Viara. Ketika Pandu membuka pintu, Pandu tersenyum melihat Viara yang sudah tertidur pulas dalam posisi duduk, sedangkan tangannya terus mengenggam tangan Andra erat
"Benar-benar gadis yang baik. Aku semakin mengagumi" gumam Pandu tersenyum dan berjalan mendekati Viara. Pandu mengambil selimut diatas sofa dan memakaikannya di tubuh Viara agar Viara tidak kedinginan
"Tidur yang nyenyak yah dek" gumam Pandu mengelus puncak kepala Viara dengan lembut. Setelah memastikan Viara dan Andra aman Pandu perlahan-lahan menutup pintu agar dua orang yang telelap didalamnya tidak terusik dengan keributan di luar
"entah apa yang aku rasakan, semoga hasilnya baik kedepannya"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments