"Nak, tadi Tasya menelpon, dia bilang akan ada pengajian malam ini di mushala. Kamu mau pergi kesana nak?" Tanya nenek lula setelah selesai makan malam bersama
"Iyah nek, Viara akan pergi kesana" ucap Viara sambil menahan sensasi berputar di kepalanya
"Apa kamu yakin nak,wajahmu sangatlah pucat. Apa kamu sakit sayang?" Tanya nenek lula cemas
"Nggak nek, mungkin Viara hanya kelelahan saja. Tapi setelah Viara istirahat sedikit, Viara pasti baikan kok nek" Ucap Viara mencoba tersenyum pada neneknya
"Yaudah istirahat sebentar yah nak, jika kamu ingin pergi ke pengajian itu, jangan lupa minum obat"
"Iyah siap nek, Viara pamit ke kamar dulu yah nek" Nenek lula tersenyum sambil menganggukan kepalanya pada cucu satu-satunya itu
"Maafin Viara yah nek, Viara nggak bisa ceritain masalah Viara pada kalian semua. Tapi semoga tubuh Viara baik-baik saja" gumam Viara berlalu ke kamarnya
Drrrt... Drrt..
Viara yang baru saja selesai meneguk obatnya segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan video dari ibunya
"Assalamu'alaikum Bunda, ayah. Kalian sehat?" Tanya Viara melihat wajah kedua orang tuanya
"Walaikumsalam nak, Iyah kami sehat. Bagaimana kabar kalian semua nak?" Tanya Hana diseberang sana
"Alhamdulillah kami semuanya sehat bunda"
"Tapi nak, kok wajah putri ayah yang cantik ini pucat?" Tanya Vian melihat wajah putrinya yang terlihat sangatlah pucat walaupun dari layar ponsel
"Viara baik-baik aja ayah, Viara hanya sedikit kelelahan jadinya begini" ucap Viara kembali berbohong
"Jangan terlalu banyak bekerja dan cukuplah istirahat yah nak, Bunda nggak mau anak bunda sakit. Nanti nenek sedih loh, siapa nanti yang bakalan jagain nenek"
"Hehe Iyah bunda, bunda tenang aja. Bunda sama ayah nggak usah mikirin nenek, kan Viara pernah berjanji sama bunda untuk jagain nenek selama Viara ada disini" tutur Viara sambil tersenyum
"Iyah sayang, kami percaya padamu" ucap Hana tersenyum manis pada putrinya
"Sayang, ayah dengar di desa pernah terjadi penyerangan. Jika penyerangan terjadi lagi segera berlindung di tempat yang aman dan jagain nenek selalu yah. Ayah sudah memerintahkan pasukan ayah disitu untuk melindungi kalian dan warga-warga di desa" ucap Vian menjelaskan
"Iyah siap ayah" balas Viara
"Ngomong-ngomong ayah nggak kesini yah, Viara rindu ayah sama bunda loh" ucap Viara memelas
"Maafkan ayah sama bunda yah sayang yang belum bisa mengunjungimu di desa, tapi ayah janji setelah urusan ayah disini selesai, ayah akan menyempatkan waktu untuk menemui mu di desa"
"Janji yah ayah" ucap viara menghapus air matanya
"Iyah sayang ayah janji. Apa pernah ayah mengingkari janjinya pada putrinya sendiri"
"Hehhe nggak pernah ayah. sudah dulu yah ayah bunda, udah adzan isya disini. Viara mau ke mushala karena setelah shalat isya ada pengajian bersama disana"
"Baiklah sayang, jangan lupa pesan ayah sama bunda yah"
"Siap komandan. Assalamu'alaikum ayah bundaku sayang"
"Walaikumsalam sayang" Viara tersenyum pada kedua orang tuanya dan memutuskan sambungan videonya
Nenek lula yang sejak tadi mendengar percakapan Viara bersama kedua orang tuanya tersenyum dan perlahan-lahan menutup pintu kamar Viara
"Kalian memang orang tua yang hebat"
____________________
Setelah Shalat isya bersama, para jamaah belum meningalkan tempat karena mereka akan mengikuti pengajian di mushala. Tak berselang lama, tirai pun terbuka dan menampakkan pak ustad yang mulai sedikit berceramah.
"Berhubung malam ini adalah malam jum'at, kita akan membaca surah Al-kahf secara bersama-sama. Karena Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum'at"
"ayo dek Viara, silahkan maju" perintah pak ustad ramah. Viara mengangguk dan segera maju kedepan untuk memipin pengajian.
Viara yang akan memimpin pengajian mulai melantunkan ayat-ayat dari Surah Al-kahf. Suaranya sangatlah merdu sehingga semua orang yang mengikuti pengajian merasakan tenang dan nyaman membaca bacaan ayat-ayat suci itu. Andra tertegun membiarkan lantunan indah itu menyentuh lembut indra pendengarannya. Setelah Viara selesai membaca semua ayat-ayat surat Al-kahf, Andra tak henti-hentinya menatap kagum pada Viara sambil menyunggingkan senyumnya
Setelah pengajian selesai, Tasya dan Viara berjalan kaki untuk pulang kerumah diikuti beberapa tentara dibelakang mereka termasuk Andra
"Wah Viara, suaramu sangatlah merdu tadi. Dimana kau belajar mengaji, aku juga ingin melantunkan ayat-ayat Al-quran semerdu tadi" ucap Tasya berbinar
"Aku tidak belajar di TPQ atau semacamnya Tasya"
"Jadi kau belajar dimana?" Tanya Tasya penasaran
"Aku belajar dari ayahku. Sejak aku kecil, ketika ayahku selesai melakukan shalat isya, aku selalu datang dan duduk di sampingnya, karena pada saat itu ayahku melantunkan ayat-ayat suci yang memenangkan hatiku. Aku terkadang sering mengikuti ayah untuk mengaji dan alhamdulillah aku bisa melantunkan ayat-ayat suci itu sama seperti ayahku" ucap Viara tersenyum mengingat ayahnya. Bagi viara ayahnya adalah laki-laki terhebat sekaligus cinta pertama bagi seorang putri. Ayahnya sangat penuh kelembutan dan sama sekali tidak pernah memarahi atau melakukan kekerasan pada keluarganya. Itulah mengapa viara selalu berdoa agar kelak pendamping hidupnya nanti juga sehebat dan sebaik ayahnya
Para prajurit yang mendengar ucapan Viara manggut-manggut sambil terus berjalan dibelakangnya
"Wah ternyata paman Vian sangatlah hebat"
"Benar Tasya, dia adalah lelaki sekaligus prajurit kebangaanku. aku bangga menjadi anaknya" kata Viara mantap
Para prajurit menyunggingkan senyumnya dan mulai berdiskusi dibelakang Viara yang sudah berjarak agak jauh dari mereka
"Ternyata ucapanmu benar bang, dia putrinya Danyon"
"Benar-benar wanita idaman, siapapun yang akan menjadi pendamping hidup Viara, pasti dia sangatlah beruntung memiliki wanita sehebat Viara" seru Pandu mengamati punggung Viara didepannya
"Tapi dia masih remaja loh, mungkin dia bukanlah pendamping salah satu dari kita nanti" kata Bayu pasrah
"Jodoh ditangan Allah, meskipun umur beda jauh, tapi jika Allah berkata itu jodohmu, maka kalian akan tetap dipersatukan" ucap Andra mantap yang diangguki teman-temannya. Sebelum masuk ke barak, Andra menghentikan langkahnya dan beralih menatap punggung Viara dari jauh
"Gadis yang unik. Semoga kamulah pendamping hidupku nanti"
_________
Setelah pulang dari mushala, Viara segera memetik tanaman obat yang ditanamnya di halaman belakang rumah. Setelah mencuci bersih daun obat tersebut, Viara mulai bergelayut dengan lumpang dan alu sambil terus membaca buku panduan di depannya
"Menurut buku ini, obat seperti ini dapat digunakan untuk penanganan pertama saat terkena racun. Manfaatnya cukup banyak bagi tubuh walaupun bahan dasarnya dari tumbuhan seperti ini" gumam Viara sambil terus menumbuk tanaman obat tersebut.
"Ini sudah jam 11 malam, tapi kok ada keributan di luar yah" gumam Viara yang seperti mendengar suara keributan tidak jauh dari rumahnya
"Ahh sudahlah, mungkin itu warga yang ronda malam" gumam Viara kembali menumbuk tanaman obatnya. Viara yang kembali merasa sesak nafas segera mencium aroma dari obat yang dibuatnya. Tak berselang lama, nafas Viara kembali teratur meski keringat membasahi keningnya
"Ternyata obat ini ampuh juga, jadi nggak usah minum obat jika masih bisa menggunakan obat herbal seperti ini" gumam Viara senang dengan khasiat obatnya
"Tunggu, keributan apa itu?" gumam Viara cemas karena bunyi keributan yang semakin besar dan mendekat
Boooooomm
"NENEK!!!!" Teriak Viara ketakutan setelah mendengar ledakan cukup keras
"Viara kamu tidak apa-apa sayang, sini ikut nenek ke kamar nenek"kata nenek lula cemas karena mendengar teriakan cucunya dan ledakan barusan
Nenek lula segera membuka buku di lemari kamarnya dan lemari itu kemudian terbuka memperlihatkan ruang rahasia didalamnya
"Ayo sayang masuk, kita aman disini" ucap nenek lula kemudian menutup kembali pintu yang berbentuk lemari itu setelah cucunya masuk
"Nenek, apa yang terjadi diluar?" Tanya Viara ketakutan
"Ada kericuhan di luar sayang, warga desa sebelah mulai menyerang desa kita"
Boooooomm
"Nenek Viara takut hiks..." lirih Viara ketakutan setelah mendengar ledakan yang cukup keras lagi. Nenek lula terus mendekap Viara erat dan ditemani mbak lena yang juga bersembunyi di ruangan rahasia itu
"Bagaimana ini nek, ada beberapa pemberontak di depan rumah" ucap Mbak lena ketakutan
"Tenanglah, jangan cemas. Kita akan baik-baik saja" ucap nenek lula memeluk keduanya
Dooor...
Dooor....
Dooor...
"Tiarap" perintah nenek lula diikuti oleh mbak lena dan Viara yang ketakutan setengah mati.
Dooor...
Dooor..
Dooor..
Kembali terdengar bunyi tembakan di halaman rumah nenek lula sehingga Viara menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar
"Ayah Viara takut" batin Viara mengingat ayahnya karena selama ini ayahnya selalu ada dan melindunginya disaat keadaan genting. Tapi sekarang keadaannya jauh berbeda. Ayahnya tidak ada disini untuk melindunginya. Hanya neneknya saja dan mbak lena yang memeluknya erat sambil tiarap
Dooor....
Dooor
Dooor
Aarrhhggg
Ringis kesakitan seseorang di samping rumah nenek lula. Tak berselang lama, suara tembakan dan keributan di luar rumah tidak lagi terdengar
"Nenek apakah sudah aman di luar?" Tanya Viara cemas
"Iyah nak, sepertinya semua sudah aman. Tapi kita harus tetap waspada"
"Siapa yang terluka nek, nenek denger nggak suara ringisan seseorang tadi?" Tanya Viara
"Tidak nak, nenek cuman denger suara tembakan saja"
"Viara keluar dulu yah nek, siapa tahu ada seseorang yang terluka di luar"
"Iyah sayang, Berhati-hatilah. Jika kamu mendengarkan keributan lagi, segera masuk ke dalam yah dan bawa pisau ini untuk jaga-jaga"
"Iyah nek" balas Viara mengambil pisau dari genggaman neneknya. Dengan ucapan bismillah, Viara melangkahkan kakinya mencari sumber suara ringisan tadi. setelah membuka pintu belakang rumah,Viara tertegun melihat dari arah yang sedikit gelap terdapat seseorang yang terbaring disana. Viara melanjutkan langkahnya untuk mendekati orang itu dan alangkah terkejutnya ia melihat orang yang terbaring lemah di depannya
"Astaghfirullah abang!!!!!"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments