Viara yang ketakutan setengah mati berlari masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam
"Astaghfirullah Viara, ada apa? Kayak dikejar maling aja" ucap Ila khawatir
"Diluar.. Diluar..." kata Viara mencoba mengontrol nafasnya yang memburu
"Diluar ada apa Viara? Kenapa kamu ketakutan seperti ini?" Viara yang akan menjawab Ila kembali merasakan sesak didadanya. Viara segera berlari mengeluarkan obatnya dari laci mejanya dan meneguknya dengan cepat
"Jangan dulu ya Allah, jangan dulu ambil nyawa hamba" batin Viara merasakan sesak yang teramat sangat hingga sudut matanya mengeluarkan air. 2 menit kemudian, nafas Viara perlahan-lahan teratur dan pikirannya mulai tenang
"Ada apa diluar Viara?apa ada hantu?" Tanya Syifa cemas
"Ahh nggak ada apa-apa diluar, kupikir aku melihat hantu, ternyata hanya kambing di depan rumah" sangkal Viara yang tak mau membuat temannya ketakutan
"Ya ampun, lihat kambing aja kamu sampe mau mati. Udah keringat dingin lagi"
"Heheh maaf" cengir Viara
"Ehh Viara, kenapa obat yang kamu minum banyak sekali?" Tanya Ila menunjukkan kantung obat Viara yang langsung diambil oleh Viara
"Ini...ini semuanya Vitamin kok" sangkal Viara gelagapan
"Sebanyak itu?" Tanya Ila tak percaya
"Iyah, semuanya memiliki manfaat yang berbeda-beda" jawab Viara mencoba tersenyum disaat ketakutan masih menjadi didalam tubuhnya.
"Teman-teman, jangan buka pintu kamar yah malam ini" pinta Viara memohon
"Kenapa Viara?" Tanya Ila bingung
"Yah jangan aja, please" bujuk Viara diangguki kedua temannya.
"kamu aneh Viara, pasti ada sesuatu yang tidak beres denganmu" batin Ila menatap Viara yang merebahkan dirinya di ranjangnya.
Viara merebahkan dirinya di ranjang dan memakai selimut sampai menutupi kepalanya berusaha menyembunyikan ketakutannya.Di dalam selimut itu, Viara terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan yang menutupi hidungnya. Rasa ketakutannya begitu besar sehingga nafasnya ikut menjadi sesak
"Tenanglah Viara, tenang. Agar obat di tubuhmu bisa bekerja dengan baik" gumam Viara mencoba menenangkan hatinya. Namun pikiran Viara tetap tak menentu mengingat kisah masa kecilnya yang berkaitan dengan ular. Sudah berkali-kali Viara mencoba menghilangkan ketakutannya, namun ketakutan yang melanda hatinya tak kunjung hilang
______
Keesokan paginya, Ila beranjak dari duduknya dan membangunkan Viara yang masih tertidur didalam selimutnya
"Viara bangun, ini sudah pukul 6 pagi"
"Ayo Viara bangun" ucap Ila lembut. Viara perlahan-lahan membuka mata dan beranjak bangun dengan kantung mata yang begitu hitam membuat Ila tersentak kaget
"Astaghfirullah Viara, kenapa bisa begini? Apa kamu tidak bisa tidur semalam?" Tanya Ila cemas
"Iya Ila, aku baru tertidur pukul 4 tadi" ucap Viara lemah
"Ada apa Viara? Apa yang terjadi padamu?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya aku...." Viara yang akan menjawab Ila membulatkan matanya melihat jam yang tertera di dinding
"Astagfirullah, aku bisa telat ke rumah sakit nanti" batin Viara segera mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi
"Aku yakin ada yang tidak beres denganmu Viara" kata Ila dalam hati.
Setelah selesai bersiap-siap dan meminta izin keluar pada teman-temannya, Viara melangkahkan kakinya keluar rumah menuju ke halte bus
"Hai dek, mau kemana?" Tanya Andra
"Mau ke kota bang, adek ada keperluan disana" jawab Viara tersenyum pada pemilik hatinya itu
"Ohh yaudah sekalian sama personil abang aja, mereka juga akan ke kota hari untuk membeli kebutuhan logistik" ajak Andra lembut
"Apa mereka nggak keberatan bang, takutnya adek malah nyusahin mereka nanti?" Tanya Viara kembali
"Sama sekali tidak dek, ayo naiklah ke truk, sini abang bantu" ucap Andra membantu Viara naik ke truk
"Kok abang nggak naik juga?" Tanya Viara setelah naik di truk
"Abang ada rapat sama Kepala Desa hari ini jadi nggak sempat ikut dek. Ada bang Pandu dan rekan abang yang akan menjagamu, adek tenang saja yah" ucap Andra diangguki Viara sambil tersenyum.
Setelah semua prajurit menaiki truk, pratu Bayu mulai mengemudikan truknya, sedangkan Viara tersenyum membalas lambaikan tangan Andra padanya
"Adek mau ke kota juga?" Tanya Pandu pada gadis disampingnya
"Iyah bang, kenapa emangnya?" Tanya Viara
"Yah nggak apa-apa sih dek, tapi adek nggak takut soal ular semalam" Kata Pandu kembali membuat Viara ketakutan sehingga Viara meremas boneka beruang kesayangannya. Pandu kembali menahan tawa melihat wajah ketakutan gadis di sampingnya,sementara bang Rama yang tidak tega melihat wajah ketakutan Viara bergeser dan duduk di samping kanan Pandu
"Hei bang, sebenarnya ular itu nggak ada kan, hanya abang saja yang suka nakutin Viara" bisik Rama
"Suiit diamlah, nanti dia denger bagaimana?" ucap Pandu berbisik
"Sebaiknya abang hentikan saja mengerjai Viara, apa abang nggak tega mel- wajah ketakutannya itu" tutur bang Rama
"Tidak Apa-apa Rama, semuanya aman-aman saja kok, lagipula Viara nggak kenapa-napa" bisik Pandu tersenyum
"Hati-hati bang, nanti kualat kamu baru tahu rasa" bisik Rama segera bergeser menjauhi Pandu.
Viara yang ketakutan kembali merasakan sesak nafas hingga darah keluar dari hidungnya. Karena tak kuat lagi menahan sesak dan sakit di kepalanya, Viara akhirnya menutup mata dan ambruk tak sadarkan diri
Brukkkk
"Astaghfirullah Adek!!..." Teriak Rama dan Pandu serentak. Pandu segera mengangkat kepala Viara dan diletakkannya di pangkuannya
"Dek bangun dek, astaghfirullah adek" ucap Pandu cemas melihat darah yang terus saja mengalir di hidung Viara.
Iqbal yang mendengar keributan di belakangnya segera turun dari kursi depan dan memasuki belakang truk. Setelah menaiki truk, alangkah terkejutnya Iqbal melihat Viara terbaring lemah dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya
"Astaghfirullah Ara, apa yang terjadi padamu" cemas Iqbal. Pandu terus menepuk-nepuk wajah Viara namun Viara tetap setia menutup matanya.
Pandu yang khawatir segera memercikkan air di wajah Viara, namun usahanya nihil karena Viara terus saja menutup matanya
"Apa yang terjadi padamu Ara, kenapa kau seperti ini?" Tanya Iqbal cemas sambil menyumpal darah di hidung Viara.
Merasa ponselnya bergetar, Pandu lantas mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari Devan
"Halo Devan, ada apa?" Tanya Pandu
"Maaf ini bukan Devan, tapi aku Ila, temannya Viara. Danru bilang jika Viara pergi bersama kalian di kota, apa dia baik-baik saja? Kondisinya kurang sehat karena semalam dia tidak bisa tidur" Tanya Ila di seberang sana
"Kenapa Viara nggak bisa tidur?" Tanya Pandu cemas
"Entahlah bang, setelah kembali dari pos kalian, Viara langsung masuk dan mengalami ketakutan yang sangat hebat. Entah ketakutan apa yang dirasakannya sehingga membuatnya hanya tidur 2 jam saja semalam" ucap Ila membuat Pandu tertegun
"Astaghfirullah, apa karena ular semalam jadinya dia seperti ini?" batin Pandu mulai ketakutan
"Ya Allah dek, bangun toh dek jangan tidur terus, abang khawatir sama kamu. Bangunlah dek, bangun. Jangan buat abang tambah cemas lagi" kata Pandu terus menepuk-nepuk pipi Viara yang wajahnya sangatlah pucat
"Maafkan abang yang menakutimu semalam dengan ular itu sehingga kondisimu seperti ini dek, maafkan abang" lirih Pandu mengusap wajah pucat Viara diatas pangkuannya.
"Apa maksudmu bang? Abang menakuti Viara dengan ular!!!?" Tanya Iqbal dengan suara meninggi. Pandu tertunduk dan menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Iqbal
"Keterlaluan Kamu PANDU!!!" geram Iqbal dan langsung membogem mentah pipi Pandu
Bugh...
Sebelum Iqbal melakukan sesuatu yang nekat, bang Rama segera menahannya
"Apa kau tidak tahu kalau Viara trauma dengan ular" geram Iqbal menatap tajam Pandu seolah siap membunuhnya
"Trauma?"
"Tentu saja Viara trauma akan ular hiks..hiks.. " amarah Iqbal langsung hilang dan merengkuh tubuh lemah sahabatnya
"Bangun Ara, bangun hiks... hiks.. " lirih Iqbal menjatuhkan air matanya.
"Aku tidak mau kehilanganmu Ara, cukup adikku saja yang pergi, tidak denganmu Ara hiks.. hiks...." lirih Iqbal memeluk Viara. Iqbal yang terdengar tegas dan garang kini menjatuhkan air matanya melihat kondisi sahabatnya saat ini.
"jika sesuatu terjadi pada adikku, akan kubunuh kamu Pandu" Tegas Iqbal dengan matanya sudah sangat merah menahan amarah dan tangisannya.
"Sudah bang, sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan, tapi memikirkan cara agar Viara segera bangun" ucap Rama mencoba menenangkan Iqbal.
Setelah sampai di kota, Iqbal mengendong Viara dan berlari memasuki rumah sakit
"Dokter tolong adek saya dokter" Teriak Iqbal memanggil-manggil dokter. Dokter Citra yang mengenali suara itu segera menhampiri Iqbal dan alangkah terkejutnya ia melihat wajah Viara yang terbaring lemah di gendongan Iqbal
"Citra, tolong adikku" pinta Iqbal dengan matanya yang sembab
"Baiklah perawat cepat bawa brankarnya kesini" Teriak dokter Citra
"Ayo Iqbal, baringkan dia disini" Iqbal segera membaringkan Viara di brankar dan membantu perawat mendorong brankar itu
"Tunggu disini Iqbal, aku akan melakukan yang terbaik untuk Viara" ucap Dokter Citra dan segera masuk ke ruang IGD.
Iqbal yang merasa bersalah karena telah memukul Pandu segera menghampiri Pandu yang juga tengah menahan tangisnya melihat ruang IGD di depannya
"Bang Pandu, maafkan aku karena telah memukulmu, aku dimakan emosi jadinya seperti ini" Ucap Iqbal
"Aku yang harusnya minta maaf karena telah melukai adikmu bang. Aku memang layak mendapatkan pukulanmu. Jika kamu masih mau memukulku maka pukul saja aku bang, pukul aku" ucap Pandu menarik tangan iqbal dan di pukulnya ke wajahnya sendiri
"Sudahlah Pandu, tidak apa-apa. Ara akan baik-baik saja setelah mendapatkan perawatan yang baik" ucap Iqbal mengelus punggung Pandu yang bergetar hebat
"Tadi abang bilang Viara mengalami trauma akan ular? Bisa ceritakan padaku bang?" pinta Pandu. Iqbal menghela nafasnya dan mulai menceritakan kisah semasa kecilnya bersama Viara
"Sewaktu kami kecil, Aku berteman baik dengan Viara, begitu juga Viara yang menjadi teman baik adikku Tasya dan Risya. Saat kedua adikku bermain bersama Viara di depan teras rumahku, adik kecilku Risya tak menyadari ada ular dibelakangnya. Ular tersebut akhirnya mematuk adikku hingga adikku meninggal karena itu. Aku dan adikku Tasya sangatlah terpukul dengan kepergian adik kami, tapi Viara jauh lebih terpukul daripada kami. Bagi Viara, Risya adalah teman terbaiknya, kemana-mana Viara pergi maka Viara selalu mengajak Risya bersamanya. Sudah banyak kenangan Viara bersama Risya, bahkan ada 1 album foto tebal yang semuanya berisi foto kebersamaan Viara dan Risya. Semenjak kepergian Risya, Viara selalu menangis dan ingin sekali bermain dengan Risya. Namun Risya saat itu telah menyatu dengan tanah yang selalu ditatap oleh Viara gundukannya. Semenjak saat itu, aku dan adikku Tasya selalu ada dan bermain untuk menghilangkan kesedihan Viara. Karena kebersamaan kami bertiga, Viara akhirnya mulai tersenyum dan ceria seperti semula. Viara sudah mengikhlaskan Risya untuk pergi dan menyambut hidupnya yang akan datang. Karena kebersamaan kami, aku sudah menganggap Viara sebagai pengganti adikku Risya. Aku selalu berusaha untuk membuat kedua adikku tersenyum, oleh karena aku tidak bisa harus kehilangan mereka lagi. Biarlah Risya yang pergi, tapi tidak dengan kedua adikku lagi" tutur iqbal menghapus air matanya
"Maafkan aku yah bang" lirih Pandu tertunduk
"Tidak apa-apa Pandu, kamu jagalah Viara disini yah, aku akan keluar untuk membantu teman-teman membeli kebutuhan logistik" ucap iqbal diangguki Pandu sambil tersenyum. Iqbal menepuk bahu Pandu dan melangkahkan kakinya keluar rumah sakit
"Maafkan aku Viara, aku janji akan menebus kesalahanku padamu" gumam Pandu menatap nanar ruang IGD di depannya
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Suryani Syafar
lanjut
2022-07-20
1
Maya Puspita
lanjut thor,terus semangat upnya
2022-07-20
1