...Aku mencintaimu tanpa melihatmu, kamu begitu jauh dari pandanganku. Tak ingin kusebut namamu, hatiku tak kuasa menahan rindu. Tak pernah berhenti aku berdoa kepada-Nya semoga rindu ini menjadi pertemuan...
(Viara)
______
Viara dan Laura membuka link pendaftaran online dan mengirim file berkasnya untuk mengikuti tes guru daerah terpencil. Viara tersenyum saat file-filenya sudah terkirim dan sekarang dia sudah mendapatkan nomor ujian
"Bismillah, semoga kita berdua lulus yah" ucap Laura senang
"Aamiin Ya Rabb" balas Viara tersenyum.
"Ya Allah, permudahkan urusanku kali ini dan janganlah engkau persulit langkahku. Janganlah engkau mengambil nyawaku sebelum aku bertemu dengannya. Kumohon jangan dulu ya Allah" Batin Viara menjatuhkan air matanya
"Viara, kamu nggak apa-apa? Apa kamu sakit?" Tanya Laura cemas
"Aku tidak apa-apa Laura" sangkal Viara menghapus air matanya dan mencoba tersenyum pada Laura
"kalau begitu aku pamit yah, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam Viara, hati-hati yah" ucap Laura diangguki Viara sambil tersenyum. Viara menaiki motornya dan melaju menuju sekolah dasar tempatnya mengajar
_______
"Bu Viara, apa ibu sudah memutuskan dengan baik tentang semua keputusan ibu?" Tanya kepala sekolah
"Iyah pak, saya sudah memikirkannya sebaik mungkin sebelum memutuskannya" balas Viara sambil tersenyum. Pak kepala sekolah menghela nafasnya dan menatap Viara
"Bu Viara, terus terang saya berat melepaskan kepergian ibu dari sekolah kami. Ibu adalah guru matematika terbaik di sekolah kami. Dengan semua bantuan ibu, para siswa mulai menyukai pelajaran matematika yang diajarkan ibu. Jika suatu hari nanti ibu ingin kembali mengajar disini, maka pintu gerbang kami akan selalu terbuka lebar untuk ibu" Kata Pak kepala sekolah
"Iyah pak, terimakasih atas semuanya. Saya tidak akan melupakan guru-guru dan murid-murid saya, karena bagi saya mereka adalah anak-anak murid terbaik saya, dan semua guru-guru disini sudah saya anggap sebagai keluargaku" Ucap Viara menjabat tangan kepala sekolah sambil tersenyum
"Iyah bu Viara, semoga sukses di luar sana"
_____________
Hari dimana tes guru di daerah terpencil pun tiba, Laura dan Viara tengah serius mengerjakan soal ujian didepan mereka.
Viara terus berusaha mengerjakan soal di depannya meskipun pandangannya yang sedikit buram. Viara berulang kali membersihkan kaca matanya dan membaca setiap kata dengan teliti. Dengan setiap kendala yang dialaminya, tak mematahkan semangat Viara untuk mengerjakan soal di depannya.
Setelah waktu ujian selesai, Viara dan Laura tengah menunggu hasil tesnya dengan perasaan tegang
"Aduhh, kok lama banget sih, udah deg-degan nih" ucap Laura cemas
"Kan ujiannya baru selesai, bersabarlah sedikit"ucap Viara mencoba bersikap tenang, meskipun detak jantung dan suasana hatinya sangat berbeda dengan ucapannya.
"Semoga kita berdua lulus Viara" Harap Laura
"Aamiin" balas Viara tersenyum.
Tak berselang lama, pengumuman mulai muncul dan terlihat di komputer masing-masing. Viara menutup matanya berdoa sebelum melihat hasil ujiannya dan ketika Viara membuka mata, Viara menyunggingkan senyumnya senang karena namanya dinyatakan lulus
"Alhamdulillah ya Allah" ucap Viara senang hingga air mata bahagia mengalir menghiasi pipinya
Ketika Viara melirik ke meja Laura, terlihat Laura tengah tersenyum getir melihat layar komputernya.
"Ada apa Laura?" Tanya Viara.
Laura mengela nafas kasar dan mulai menjatuhkan air matanya
"aku nggak lulus Viara." lirih Laura. Viara memeluk sahabatnya dan mengelus punggung bergetarnya mencoba untuk menguatkannya
"jangan patah semangat yah, tahun depan kamu bisa mencoba kembali"
"Iyah Viara, selamat atas kelulusanmu yah. Aku beritahu bang Yuda dulu jika aku tidak bisa menemuinya disana" ucap Laura berjalan keluar ruangan sambil terus menunduk.
"Kenapa yah, disaat aku tertawa, ada saja temanku yang dilanda kesedihan" gumam Viara ikut bersedih melihat punggung sahabatnya.
Drt.... Drt..
Viara merogoh ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari Tasya
"Assalamu'alaikum Viara, bagaimana dengan ujianmu?" Tanya Tasya di seberang sana
"Alhamdulillah aku lulus Tasya" ucap Viara pelan
"Alhamdulillah. Harusnya kau bahagia Viara, tapi dari suaramu sepertinya kau tidak terlalu senang dengan kelulusanmu" tutur Tasya menerka
"Bukan begitu Tasya, aku justru senang dengan kelulusanku. Tapi aku hanya sedih melihat Laura yang tidak lulus. Padahal Laura sudah berusaha keras untuk lulus agar bisa bertemu bang Yuda disana"
"Bagitu yah, kasihan sekali"
"Iyah Tasya, memang jalan hidup kita sudah ada yang mengaturnya"
"Benar Viara. Oh ya, dokter citra mengatakan agar sore ini kau ke ruangannya untuk jadwal kemoterapi selanjutnya. Dokter citra ingin mengatakan padamu, tapi ponselnya kehabisan baterai" tutur Tasya
"Baiklah aku akan kesana segera" balas Viara. Setelah mengucapkan salam, Viara segera membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar gedung untuk menemui dokter Citra. Sebelum menaiki motornya, Viara merogoh ponselnya dan mengetik pesan kepada Laura
📩Laura
Tetap semangat yah, semoga berhasil di lain kesempatan
Setelah pesan itu terkirim, Viara langsung memakai helm dan melajukan motornya menuju ke rumah sakit
_____
"Bagaimana hasil tes hari ini. Apa kau lulus Viara?" Tanya dokter citra setelah Viara memasuki ruangannya
"Iyah dokter alhamdulillah. Dengan begini aku bisa bertemu dengan bang Andra disana" seru Viara berbinar senang
"Wah selamat yah, aku ikut bahagia untukmu. Ternyata perjuanganmu selama ini membuahkan hasil" Ucap Dokter Citra
"Iyah dokter. Dokter, apakah dokter bisa memprediksi umur saya?" Tanya Viara pelan
"Aku tidak bisa memprediksi nya Viara, karena hidup dan mati seseorang itu ada ditangan Allah. Aku hanya bisa mengobatimu saja. Maafkan aku yah" kata Dokter Citra
"Iyah dokter, tidak apa-apa. Aku hanya ingin hidup lebih lama lagi agar aku bisa menemuinya disana. Aku takut jika setelah aku keluar dari ruangan ini, aku telah pergi menghadap pencipta" ucap Viara menahan air matanya
"Aku akan melakukan serangkaian tes padamu. Semoga hasilnya baik yah. Silahkan berbaring dulu" ucap Dokter citra diangguki Viara sambil tersenyum
Dokter citra mulai melakukan serangkaian pemeriksaan pada Viara. Mulai dari mengecek darah, dan masalah pernapasan Viara. Setelah 20 melakukan pemeriksaan, dokter citra segera menghampiri Viara dan membantunya untuk duduk
"Bagaimana hasilnya dokter?" Tanya Viara cemas. Dokter citra menatap Viara sambil tersenyum
"Semuanya baik Viara, karena pengobatan yang kau jalani selama ini berhasil mencegah dan memperlambat kanker yang menyebar di tubuhmu. Tapi kau harus tetap melakukan kemoterapi Viara agar sel kanker diparu-parumu tidak menyebar ke seluruh tubuh" ucap dokter citra memeluk Viara
"Alhamdulillah terimakasih Ya Allah, terimakasih dokter" ucap Viara bahagia dan membalas pelukan dokter citra
"Mulai sekarang kau tidak perlu memakai masker lagi. Jika kau mengalami masalah dengan pernapasanmu, maka gunakan saja alat bantu pernapasan yang pernah kuberikan padamu" tutur Dokter Citra
"Baiklah dokter. Apa dokter bisa merekomendasikan perawatanku selama aku berada disana?" Tanya Viara
"kebetulan Viara, di rumah sakit kota tidak jauh dari desamu berkerja, pamanku memiliki rumah sakit besar disana. pamanku memintaku untuk mengurus rumah sakit itu selama 9 bulan kedepan, jadi aku bisa melakukan pengobatanmu disana" tutur dokter Citra sambil tersenyum
"Alhamdulillah, terimakasih banyak dokter"
"Sama-sama Viara, terus tersenyum dan berusaha untuk tetap sembuh ya"
"Siap dokter, kalau begitu aku pulang dulu yah, aku harus mengurus keberangkatanku 2 hari yang akan datang. Assalamu'alaikum dokter" ucap Viara memeluk dokter citra
"Walaikumsalam, semoga sukses. Ketemu lagi disana yah" balas dokter Citra diangguki Viara sambil tersenyum
"Semoga keinginan dan impianmu segera tercapai Viara. Semangatmu untuk tetap hidup dan berjuang sangatlah tinggi. Semoga Allah membalas setiap perjuanganmu dengan hasil yang terbaik"
__________
Viara melangkahkan kakinya mengelilingi asrama dengan hati senang dan wajahnya yang selalu menyunggingkan senyuman. Baru kali ini dia bisa menghirup udara tanpa menggunakan masker kesehatannya. Viara sesekali menyapa ibu-ibu persit teman ibunya dan bermain dengan anak-anak mereka. Semua orang yang melihat wajah Viara tanpa tertutup masker hampir tidak mengenali Viara, namun wajah Viara yang mirip dengan ayahnya membuat ibu-ibu itu bernafas lega dan membiarkan anak mereka bermain bersama Viara.
Para prajurit yang melihat wajah seorang gadis yang begitu mirip dengan komandan mereka tertegun dan terus mengamati Viara dari jauh
"Sejak kapan komandan menyamar jadi wanita?" Tanya Rafael bingung
"Benar, dia bahkan menyamar menjadi wanita hanya untuk bermain-main dengan anak kecil" Lanjut bang Yandi
Kedua prajurit itu terus bertanya-tanya tentang komandan mereka hingga mereka tak menyadari jika orang yang mereka perbincangkan ada dibelakang mereka
"Ekhmm" Vian berdehem mengagetkan kedua prajurit itu
"Astaghfirullah, ehh ijin Danyon" Ucap Bang Rafael tersenyum kaku
"Apa yang ingin kalian katakan padaku? Jangan segan" ucap Vian ramah
"Ijin Danyon, kami melihat ada seorang gadis yang wajahnya begitu mirip dengan anda. Kami mengira dia adalah Anda yang menyamar menjadi wanita" Ucap Bang Yunda mendapatkan senggolan siku dari Bang Rafael
"Benarkah? Lalu dimana gadis itu?" Tanya Vian kembali
"Ijin danyon, dia disana" Tunjuk Bang Rafael pada Viara yang tengah bermain lompat tali bersama anak-anak. Vian mengikuti arah pandang Bang Rafael dan berjalan mendekati gadis itu sambil tersenyum. Bang Zardan yang datang bersamaan dengan komandan tadi tersenyum smirk dan mulai menganggu kedua temannya
"Wah kalian hebat, bagaimana bisa kalian mengira itu komandan?" Tanya bang Zardan menggoda temannya
"Lihat saja mukanya bang, wajah gadis itu seperti fotocopy dari wajah komandan" tutur bang
"Dia itu putrinya Danyon, tentu saja wajahnya mirip"
"APA" Ucap bang Rafael dan bang Yunda kaget. Bang Zardan memasukan pisang goreng kedalam mulut menganga kedua temannya
"Tapi bagaimana mungkin. Apa dia Viara?" Tanya bang Rafael tak percaya
"Iyah bang, dia itu Viara"
"Kesempatan" ucap bang Rafael menyeringai
"Kesempatan buat apa? Jangan macam-macam kamu" Tegas bang Zardan
"Yeee siapa juga yang macam-macam, aku hanya ingin berteman dengannya" lanjut Bang Rafael
Para prajurit terdiam dan ikut mengamati komandan mereka yang berjalan mendekati Viara di depan sana
"Viara, kemarilah nak" panggil Vian lembut
"Iyah ayah" ucap Viara berjalan mendekati Vian dan menyalami tangan ayahnya
"Kenapa maskernya dibuka sayang, kamu tidak bersin-bersin lagi mengirup udara luar?" Tanya Vian
"Viara nggak bersin-bersin lagi ayah. Alhamdulillah akhirnya Viara bisa menghirup udara ini tanpa bantuan masker lagi" ucap Viara tersenyum
"Alhamdulillah kalau begitu" ucap Vian mengelus puncak kepala putrinya. Vian melirik kearah prajurit yang mengobrol tentangnya tadi yang juga tengah menatap Viara tanpa henti
"Ayo nak, ayah perkenalkan pada para pasukan ayah" ajak Vian mengenggam tangan Viara
"Nggak usahlah ayah" Tolak Viara sopan
"Kenapa? Malu punya bapak komandan?"
"Hehe nggak kok, yaudah Viara ikut maunya ayah aja" balas Viara dan mulai mengikuti langkah ayahnya. Viara mulai memperkenalkan diri pada ketiga prajurit di depannya dan menjabat uluran tangan mereka. Sementara Bang Rafael terus menatap Viara tanpa berkedip meski Viara sudah berjalan pulang bersama ayahnya
"Hei mata itu disetting, daritadi lihatin anak gadis orang mulu" tegur Bang Zardan
"Sesekali cuci mata dong, nggak apa-apa kan"
"Hahaha dasar" ucap Bang Zardan meninju bahu Bang Rafael
"Gadis yang unik"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments