Malam yang mencekam kini telah berubah menjadi pagi yang cerah. Pandu dan Tara yang baru saja memasuki ruangan Andra tersenyum melihat Viara yang masih terlelap sambil memegang tangan Andra. Andra yang mulai tersadar menggerakkan jari-jarinya dan perlahan-lahan membuka mata
"Bang, kamu sudah sadar?" Tanya Pandu
"Iya bang, aku dimana?" Tanya Andra dengan suara serak
"Kamu di rumah sakit bang, karena mengejar perusuh dua hari yang lalu, abang tertembak di bahu kanan" Kata Pandu menjelaskan. Andra melirik kearah samping dan menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang terlelap di sampingnya dengan tangan Viara yang mengenggam tangannya erat.
Andra mengangkat tangannya untuk membangunkan Viara, namun Andra menghentikan tindakannya mendengar ucapan Pandu
"Tunggu dulu bang, dia baru saja tertidur" cegah Pandu
"Apa yang terjadi? Kenapa dia baru tertidur?" Tanya Andra bingung
"Selama abang di rumah sakit, dia yang selalu ada menerima abang disini. Semalam abang demam tinggi, jadi Viaralah yang menjaga dan merawat abang semalam" Pandu kembali menceritakan tentang Viara yang selalu menemani Andra hingga Andra menyunggingkan senyumnya. Andra tersenyum pada Viara dan mengusap lembut kepala Viara yang tertutup hijab dengan lembut. Viara yang merasa ada yang mengusap kepalanya terbangun dan tersenyum manis pada Andra yang telah membuka matanya
"Abang sudah bangun?" Tanya Viara dengan suara serak khas bangun tidur
"Kalau abang nggak bangun, siapa yang jagain adek. Melindungi orang yang diam-diam merawatku di malam hari" seketika wajah Viara merah merona mendengar ucapan Andra.Sementara Andra menahan tawa melihat wajah menggemaskan Viara,
"Wah bang, sepertinya situasi kita tidak tepat" ucap Tara
"Iya yah dek, kalau begitu kita keluar aja yuk" Tara mengangguk dan mulai berjalan keluar bersama Pandu
"Kak tara, bang Pandu jangan keluar" batin Viara melihat pintu yang mulai terturup. Andra yang merasa sangat haus akan mengambil air mineral di nakas namun Andra kesulitan karena luka di bahunya masih terasa sakit. Menyadari hal itu, Viara dengan sigap mengambil air mineral itu dan membantu Andra untuk meminumnya
"Terimakasih yah dek"
"Sama-sama bang" balas Viara tersenyum.
"sekarang abang makan yah. Adek yang suapin atau abang makan sendiri?" Tanya Viara sambil memegang semankuk bubur di tangannya
"Pilihan pertama bagus dek" ucap Andra membuat wajah Viara kembali merah merona. Dengan ucapan bismillah, Viara dengan telaten menyuapi Andra dan terkadang Viara mengusap lembut dagu Andra karena bekas makanan yang tumpah dan tertempel disana. Andra terkejut melihat tindakan Viara tiba-tiba namun dalam hatinya tersenyum melihat ada gadis remaja yang selalu menjaganya
"Alhamdulillah, abang tunggu disini yah, adek bawa piring kotor ini kedapur dulu. Adek akan segera kembali" ucap Viara yang diangguki Andra sambil tersenyum.
Rena yang sejak tadi melihat perhatian Viara pada Andra menjadi geram dan akan melakukan pembalasan kepada Viara. Saat Viara keluar dari ruang rawat Andra, Rena tersenyum licik dan berjalan mengikuti Viara. Merasa ada kesempatan, Rena dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Viara hingga Viara kehilangan keseimbangan terhuyung kebelakang, beruntung tubuh Viara langsung ditangkap oleh tangan kekar yang merangkulnya erat
"Ayah" ucap Viara tersenyum. Vian membalas senyuman putrinya dan berlalih menatap tajam kearah Rena seolah siap membunuhnya
"Apa yang kau lakukan Rena, apa begini caramu bersikap terhadap pengunjung rumah sakit?" Tegas dokter Rangga yang ikut mengamati tindakan kasar Rena saat tengah berkeliling rumah sakit bersama Vian
"Ma... maafkan saya dokter" kata Rena ketakutan
"Segera kemasi barang-barangmu dan pergilah mencari pekerjaan di rumah sakit lain" Tegas Dokter Rangga
"Tapi dokter"
"Tidak Rena, jika hanya sekali saya bisa memaafkanmu. Tapi jika sikapmu yang kasar tidak kau ubah bahkan kau berulah lagi, maka saya tidak bisa lagi mentolerir nya. silahkan pintu keluarnya ada di seberang sana" kata dokter Rangga menekan setiap kalimatnya.Rena merasa sangat malu dan segera berlari menjauh sambil menangis sesenggukan
"Viara, kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Vian lembut
"Viara nggak apa-apa ayah" balas Viara tersenyum manis pada ayahnya
"Ijin Komandan, kita harus segera menuju desa untuk memantau keadaan setelah bentrokan semalam" Ucap Serda Rendi. Viara yang mendengar ucapan Sersan Rendi tersenyum kecut dan beralih menatap mata ayahnya
"Ayah mau pergi lagi?" Tanya Viara pelan. Vian yang tahu jika putrinya ini tengah menahan tangis mengelus kepala putrinya dan membawanya kedalam pelukannya
"Iyah nak, maafkan ayah ya. Ayah hanya singgah sementara disini untuk mengantar obat-obatan. Setelah itu ayah harus kembali bertugas lagi"
"Iyah ayah Viara mengerti. Semangat ayah, jaga diri ayah baik-baik, Viara sayang ayah" ucap Viara berusaha tersenyum dan menyalami tangan ayahnya
"Terimakasih sudah mengerti ayah nak. Ayah pergi dulu yah Assalamu'alaikum putriku"
"Walaikumsalam ayah" balas Viara tersenyum dan melambaikan tangannya pada ayahnya. Setelah mengantar piring kotor ke dapur rumah sakit, Viara kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang rawat Andra
"Dek, makanlah dulu. Tadi Tara membawakan makanan untukmu. Pasti kamu juga lapar kan" ucap Andra setelah Viara memasuki ruangannya
"Enggak kok bang, adek nggak lapar" ucapan Viara bertolak belakang karena perutnya seketika berbunyi nyaring
"Aduh, bisakah kau bekerja sama denganku perut" batin Viara menundukkan pandangannya sedangkan Andra menahan tawa melihat wajah merona Viara
"Makanlah dek, tubuhmu juga perlu nutrisi"
"Baiklah bang" Balas Viara dan segera mendekati meja di dalam ruangan itu. Viara membuka masker yang selalu dipakainya dan mulai menyantap makanan dengan lahap. Andra yang penasaran dengan wajah Viara ingin melihat wajah itu, namun posisi Viara yang membelakanginya membuat Andra kesulitan melihat wajah Viara
"Bagaimana bentuk rupa yang tersembunyi dibalik masker itu" batin Andra yang terus mengamati punggung Viara
Tak berselang lama, perawat Tara masuk ke ruangan Andra untuk mengecek kondisi serta mengganti perban di bahu Andra
"Permisi bang, saya periksa dulu yah kondisinya" ucap Tara yang diangguki Andra. Tara mulai memeriksa kondisi Andra dan tersenyum karena kondisi Andra yang semakin sehat dan racun yang terdapat di tubuhnya perlahan-lahan menghilang
"Suster, kok bahu saya nyeri yah" ucap Andra yang mulai meringis kesakitan. Setelah meminta izin, Tara perlahan-lahan membuka kancing baju Andra hingga Andra bertelanjang dada. Tara tertegun melihat darah yang terus mengalir keluar dari perban di tubuh Andra, bahkan perban nya telah berubah warna. Viara yang mendengar suara ringisan Andra segera memakai maskernya kembali dan berjalan mendekati brankar Andra
Tara mengontrol nafasnya dan mulai menyentuh perban Andra, namun saat akan membuka perban itu Andra kembali meringis kesakitan sehingga Tara ragu untuk melakukannya
"Ada apa kak, kenapa nggak dibuka perbannya?" Tanya Viara cemas
"Tidak bisa dek, saat kakak menyentuhnya, pasien merasa kesakitan. Jadi kakak nggak berani untuk membukanya" ucap Tara menghela nafas
"Biar adek yang mencobanya yah Kak"
"Iyah silahkan dek" ucap Tara tersenyum.
Viara menutup matanya dan mulai berdoa, dan dengan ucapan bismillah, Viara menyentuh perban itu dan perlahan-lahan membukanya. Andra tersenyum melihat Viara yang tengah serius membuka perban nya
"Abang jadi penasaran dengan wajahmu dek" batin Andra terus menatap Viara sambil tersenyum hingga dia lupa dengan rasa sakit dibahunya. Viara dengan hati-hati membuka perban hingga Viara tak peduli dengan tangannya yang telah berwarna merah terkena darah yang ada di perban.
Setelah selesai membuka perban, Viara mengamati jika luka di bahu Andra sangatlah dalam dan masih terus mengeluarkan darah. Viara mengambil kapas yang dibawa Tara dan mulai membersihkan darah yang terus keluar dan mengusapnya lembut agar Andra tidak merasa kesakitan. Viara melirik wajah Andra merasa pipinya kembali memanas karena Andra yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum manis padanya
Tara tersenyum melihat kedekatan dua orang didepannya
Setelah membersihkan dada Andra, Viara memberikan obat di luka Andra dan kembali memasang perban yang baru
"Terimakasih kau telah menjagaku dengan baik. Kau seperti malaikat pelindung ku. Jika kamu tidak datang menolongku kemarin mungkin aku sudah meregang nyawa. Terimakasih atas kebaikan hati dan perhatianmu padaku. Jika Allah mengizinkan, di masa depan nanti aku yang akan menjagamu selalu"
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments