Si OG berjalan mendekati meja, dan mengambil selembar kertas yang di maksud pria di depan dinding kaca. Matanya tak bisa menahan rasa malu dan sakit hatinya. Kertas itu seperti membeli harga dirinya. Keano berbalik dan menatap reaksi si OG. Wajah merah dengan lelehan air mata.
Wanita lemah. Bagaimana dirinya berpikir tetap bertahan dan maju. Jika bertahan di dalam badai pun. Sudah menyerah.~ batin Keano menatap si OG dengan senyuman tipis nan sinis.
"Bagaimana?" tanya Keano.
Tangan si OG gemetar dan menggenggam selembar kertas berisikan kontrak tutup mulut. "Tuan, saya...."
"Yes or no?" Ano menatap si OG semakin tajam. "Jika tidak, Aku bisa menyewa orang untuk menyingkirkan mu."
"Ampuun, Tuan... Saya akan tanda tangan..." jawab si OG dan menyambar pulpen di atas meja, dengan tangan gemetar akhirnya satu tanda tangan tertera di atas materai.
Keano berjalan mendekati si OG dan mengambil kertas kontrak dengan santainya. Tanda tangan yang sederhana dengan coretan nama saja. "Vivian, itu namamu?"
"Iya, Tuan." jawab Via.
Keano mengambil telepon kantor dan menghubungi seseorang, membuat Via memegang handuknya dengan erat. Tanpa sadar, tatapan mata terpesona dengan sikap dingin pria di depannya. Tapi, ada rasa malu dan juga benci dengan wajah itu. Meskipun dirinya sadar, dua pria berbeda sudah melihat seluruh tubuh polosnya.
Telepon diletakkan kembali, dan ponsel diatas meja di ambil. "Kamu, tunggu saja Virla disini. Ingat, satu saja kebocoran terjadi. Nyawa keluarga mu jadi taruhan!" Keano berjalan meninggalkan Via dan keluar dari ruangan kerjanya.
Kepergian Keano, membuat tubuh Via luruh ke bawah. Otot dan tulang tubuhnya seakan tak berfungsi lagi. Kenangan dimana kegilaan disaat merayu salah satu bos perusahaan terlintas seperti sebuah iklan TV. Disisa rasa malunya, masih ada rasa syukur. Dimana kehormatannya sebagai wanita masih terjaga.
Apapun yang terjadi, sudah terjadi. Aku tidak boleh lemah, setidaknya sekarang ibu bisa melakukan operasi. ~batin Via dengan mengusap air matanya.
Ceklek....
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Via. Seorang wanita dengan wajah tegang dan satu paperbag mendekat ke arahnya. "Bu,..."
"Pake dulu! Aku tunggu disini," sela Bu Virla dan menyodorkan paper bag di tangan kirinya.
Via mengangguk dan bangun dari posisinya, menerima paper bag. "Makasih, Bu."
Bu Virla melambaikan tangan dan memilih memeriksa kontrak yang dimaksud oleh atasannya. Mata yang mulai memiliki kantung hitam itu membulat dengan mulut terbuka.
"Kompensasi atas insiden kecil dengan biaya transfer seratus juta? Astaga, bos ini mulia atau tengah berfoya-foya? Setahun kerja saja, blum tentu terkumpul sebanyak ini," Virla menggelengkan kepalanya karena tidak menduga anak buahnya yang ditolak bekerja sebagai OG justru menerima kompensasi sebanyak itu.
Hanya membutuhkan beberapa menit, Via sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian OG yang baru dan berjalan dengan wajah menunduk. Langkahnya menghampiri Bu Virla yang berdiri di depan meja kerja bos perusahaan.
"Apa yang terjadi?" tanya Bu Virla dengan wajah penasaran.
Virla menggelengkan kepala, membuat Bu Virla mendekati OG baru itu dan memegang kedua bahu gadis itu. "Cerita saja, biar tidak jadi beban...."
"Tidak ada apapun, Bu. Saya yang salah karena main tabrak pak bos. Maaf, boleh saya keluar?" Virla mengalihkan perbincangan demi keamanan keluarganya, ancaman dari pria pemberi kontrak masih terekam di otaknya.
"Baiklah, ayo kita ke ruangan manager dulu. Aku tidak mau masalah semakin larut," ajak Bu Virla dengan menggandeng tangan Via keduanya berjalan keluar meninggalkan ruangan kerja bos perusahaan.
Sementara ditempat lain, seorang pria harus berdiri dengan posisi yang lucu. Kedua tangan memegang telinga dengan posisi menyilang dan satu kaki kiri terangkat. Posisi seperti murid dihukum guru saat jam pelajaran sekolah. Senyuman manis perlahan luntur dari wajahnya.
"Senyum! Mau ku tambah hukuman mu?" ujar seorang wanita cantik dengan memainkan buah anggur di tangannya.
Pria itu kembali menerbitkan senyuman lebih manis dari sebelumnya. "Sampai kapan...."
"Sampai yang di bawah tidak keluyuran." sela wanita itu dengan senyuman sinis dan menatap ke depan dimana tongkat ajaib masih melakukan pemberontakan dari dalam.
Sontak tatapan si pria tertuju pada tongkat ajaibnya, di bawah sana dengan balutan celana hitam. Jelas sekali tegak dan membesar, rasanya sesak dan siap mendobrak pintu. Satu pikiran terlintas, membuat senyuman di bibir berubah.
"Aduuh, pusiing…. Aku membutuhkan wanita itu," ucap pria itu dengan mendramatisir keadaannya.
Bukannya terpancing, wanita cantik yang duduk di atas ranjang justru melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Belahan bukit kembar terlihat jelas putih mulus dan menggoda, membuat si pria meneguk saliva dengan kasar.
Astaga, kenapa jadi senjata makan tuan begini. Bagaimana aku terselamatkan.~batin si pria dengan tatapan haus kasih sayang.
"Pergilah! Nikmati wanita itu, dan biarkan aku memberikan semua ini pada seorang saja," tantang wanita itu dengan melemparkan kemejanya ke lantai.
Bruug…..
"Astaga, kenapa jadi seperti ini," keluh si wanita dengan bangun dari tempatnya.
...----------------...
...----------------...
"Malam, Reader's."
Othoor mau kasih semangat dan juga pengumuman sekaligus up novel. Setelah beberapa waktu gak bisa up.
Alhamdulillah setelah bersabar dan menanti dengan rasa yang tak menentu. Akhirnya akun kembali hari ini, dan othoor bisa up lagi.
Esok othoor lanjut lagi, stay tune dan tetap support othoor ya 🥰☺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Farlia♡V
biar pun cara dapat uang yang salah, setidaknya dapat uang buat kesembuhan orang tuanya.
2022-09-28
0
°•𝕃Ꭵɐ•°🫐°•ᒪ⅁•°
kamu sih sok-sokan gak mau lanjut sama Via, akhirnya kemakan karma kan. gak dapet kepuasan yang hakiki wkwk
2022-09-27
0
delete account
Saha yang nyesel
2022-09-27
1