BAB 17
Sudah dua Minggu sejak Ratry melukainya. Menurut Abyseka ia sudah protes pada keluarga Ratry. Yang kebetulan adalah rekan kerja Papanya. Abyseka juga mengancam akan mencabut kerjasamanya dengan keluarga Ratry, seandainya Ratry masih berulah.
Lusi dan Pelangi tinggal dalam satu apartemen. Tempat tinggal Pelangi ada dua kamar. Pelangi menempati kamar utama sedang kamar satunya di tempati oleh Lusi. Semua di atur oleh Abyseka, agar pengawasan terhadap Pelangi selama duapuluh empat jam.
Awalnya Pelangi merasa risih mendapat pengawalan selama duapuluhempat jam. Namun seiring berjalannya waktu, ia sudah mulai terbiasa. Bahkan Lusi sudah seperti teman dekat.
Pagi ini setelah menyerahkan beberapa map dokumen yang harus di tandatangani Abyseka, Pelangi dan Lusi hendak membeli beberapa keperluan kantor sekaligus memesan makan siang di resto dekat kantor.
Setelah memesan makan siang dan meminta pihak restoran untuk mengantarkannya ke kantor. Pelangi menuju toko buku yang lumayan besar untuk membeli beberapa peralatan kantor.
Pelangi dan Lusi hendak menyebrang, menunggu lampu merah dan perjalan kaki diperbolehkan berjalan. Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka.
Sigap Lusi langsung menarik Pelangi hingga keduanya jatuh terjerembab ke atas trotoar. Baru saja Lusi hendak menolong Pelangi berdiri, sebuah tongkat besi menghantam punggungnya. Membuat Lusi langsung ambruk kembali.
Seorang pengendara motor telah menyerang Lusi. Sebelum orang-orang di sekitar mereka menolong. Pelangi juga sempat mendapat beberapa pukulan dari pengendara motor. Sampai Pelangi tidak sadarkan diri juga. Darah segar mengalir dari pelipis kiri Pelangi. Membasahi kerah blazernya yang berwarna gading.
Beberapa orang datang menolong dan ada beberapa juga yang berusaha menangkap pengendara motor. Bahkan seorang pedagang bakso keliling dengan sengaja menabrakkan gerobaknya ke arah pengendara motor yang hendak kabur. Alhasil motornya terjungkal ke aspal hitam.
Lusi dan Pelangi di larikan ke rumahsakit terdekat. Lusi mengalami retak tulang punggung. Sedang Pelangi harus mendapat tujuh jahitan dibpipisnya. Retak tulang lengan, dagunya yang menyentuh trotoar kasar juga terluka gores. Lebam di pinggul, pinggang dan paha kiri.
Begitu sadar dalam perjalanan ke rumah sakit, Lusi langsung menyalakan tombol sos yang langsung terhubung dengan Zaki dan otomatis menyalakan GPS agar mudah mencari mereka.
Abyseka datang tergesa-gesa saat Pelangi masih dalam tindakan pengobatan dan belum sadarkan diri. Hatinya terasa hancur melihat keadaan Pelangi yang lebam di mana-mana.
Kemarahan Abyseka sudah sampai batasnya. Ia langsung menghubungi Abimanyu dan mengabarkan keadaan Pelangi . Kemudian menghubungi Desma, asisten Abyseka yang selama ini tidak pernah terekspose. Desma di juluki assassin, seorang tangan kanan Aby dan dan sangat kejam. Hidupnya selalu di bawah bayang-bayang Aby dan banyak melakukan pekerjaan kejam yang di perintahkan Aby kepadanya.
"Des, bisa kau bereskan kekacauan ini?"
"Ya."
"Buat mereka jera berurusan dengan cara curang seperti ini."
"Baik."
"Kumpulkan juga beberapa barang bukti, cctv di jalan dan bila ada yang merekamnya. Ambil, jadikan barang bukti.
"Baik."
Abyseka kembali menemani Pelangi. Pelipisnya sudah di jahit, dagunya juga sudah di perban. Pelangi baru saja sadar dari pingsannya.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Abyseka, "Biar dokter memeriksanya."
"Sakit semua. Lusi bagaimana. Apa dia baik-baik saja?"
"Ya. Punggungnya tidak ada yang patah. Hanya memar saja."
"Sudah di ketahui siapa pelakunya?"
"Sudah di ketahui, hanya belum di laporkan dan di tangkap."
Pelangi memejamkan matanya dan mendesis menahan rasa sakit di bagian kepalanya.
Abyseka hanya bisa menahan amarah melihat keadaan Pelangi. Sepanjang hari ia hanya duduk menemani Pelangi di samping tempat tidur.
Zaki mengetuk pintu.
"Masuk...."
"Tuan, apakah tidak sebaiknya memberitahu keluarga Nona Pelangi?"
"Besok saja bila keadaan Pelangi suda agak membaik. Tadi sudah kuberitahu adiknya. Tapi kularang memberitahu Papa dan Mama dulu."
Pintu kamar tiba-tiba di ketuk seseorang.
"Itu mungkin Ulfah.... Masuk."
Benar saja, Ulfah muncul dari balik pintu.
"Kak..."Ulfah menggenggam tangan Pelangi.
"Feh...jangan kasihtau Papa sama Mama dulu ya."
"Iya. Tadi Kak Arjun juga bilang begitu."
"Feh, pulang sekolah nungguin kakakmu dulu ya. Bilang ke Mama belajar kelompok. Sore baru pulang. Malam biar aku yang nunggu."
"Ya. Mama di kasihtau kalau sudah agak baikan aja. Kalau di kasihtau pas sudah sembuh nanti bakalan marah."
"Begitu ya?"
"Iya..."
"Dari sekolah ke sini nanti biar Pak Hadi yang antar jemput."
"Ya..."
"Tadi sudah bawa beberapa bajukan?"
"Sudah. Wah...apartemen kakak bagus banget. Tadi aku ambil baju kakak dulu. Boleh ya kapan-kapan aku nginep di apartemen Kakak?"
"Boleh..."
"Nongkrong di balkon sambil makan mie instant kayaknya enak lho."
"Ufeh....anak kecil tuh belajar."Abyseka menarik hidung Ulfah, "Malah bercita-cita bengong lagi"
"Ihh ..sakit Kak.
"Ganti baju seragammu dulu. Lalu Zaki akan mengantarmu makan siang. Bungkuskan juga buat Kakak."
"Ok..." Ulfah berjingkrak ke kamar mandi. Mengganti baju seragamnya dengan t-shirt berwarna hijau muda.
"Sudah ganti. Ayo Pak Zaki kita beli makan siang."
Zaki sedikit membelalakkan mendengar panggilan Ulfah pada dirinya.
Pak? Apa aku terlihat setua itu ya? Padahal dengan Pelangi aku hanya lebih tua dua tahun.
Abyseka tertawa di kulum. Mendengar panggilan Ulfah.
"Panggil saja Kak, Feh....Usianya nggak lebih tua dari Kak Arjun."
"Eh...beneran? Wah....cogan brondong kalo gitu dong. Nanti foto bareng aku ya Kak. Mau pamer di sosmed biar pada tau...Ulfah bisa dapet cogan tajir...."
"Ok...ya. Baiklah..." jawab Zaki menjawab tanpa mengerti apa yang Ulfah maksud.
Abyseka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pelangi menggeser tidurnya karena di rasa punggungnya terasa panas, karena selalu tidur terlentang.
"Kenapa?" tanya Abyseka.
"Punggungnya panas..."
Abyseka membantu menggeser tidur Pelangi.
"Aku pastikan ini adalah perbuatan terakhirnya. Tidak akan kubiarkan Ratry atau siapapun menyakitimu!"
"Sudah kau serahkan pada polisi?"
"Tidak! Aku punya caraku sendiri."
"Bagaimana dengan polisi?"
"Tenang saja. Aku juga punya caraku sendiri."
#####
Di belakang gudang peralatan bengkel yang terletak jauh dari pemukiman. Desma sedang berdiri di hadapan seorang gadis yang terikat di sebuah kursi besi dengan mata di tutup.
"Apa mau kalian?" teriak gadis itu.
"Siapa namamu?" tanya Desma.
""Kau tidak perlu tahu. Apa urusanmu denganku? Aku bisa membuatmu menderita."
Desma meremas pundak gadis itu diikuti teriakan kesakitan.
"Kamu sudah salah berurusan dengan seseorang. Dia memintaku membuatmu jera dan tidak akan mengulangi perbuatan jahatnya lagi."
"Siapa? Berapa dia membayarmu? Aku akan membayarnya dua kali lipat."
"Dia membayarku dengan nyawanya. Apa nyawamu ganda jadi bisa membayarku?" suara datar Desma memenuhi kuping si gadis.
Si gadis terdiam. "Apa yang akan kau perbuat?"
Desma mendekati telinga sang gadis, "Siapa Namamu?" bisiknya tetap dengan suara datar.
"Ra...Rat..ry... Ratry..."
"Rraattrryy....mau tau rasanya di pukuli pakai tongkat besi?...Sshheeperrrtii yang kau perbuat pada....Pe...la...ngi.."
"Dia yang membayarmu? Ak...aku akan membayarmu lebih ba...banyak."
"Dia...menghidupkan ku lagi...nyawaku tergantung padanya..... kau sanggup membayar dua kali lipat?"
"Ak..ku.."
Tiba-tiba saja sebuah tongkat besi menghantam pelipis Ratry. Ia menjerit kesakitan. Darah segar mengalir membasahi pipinya.
"To...tolong ..hentikan..."
"Jangan pernah menyakiti Pelangi..."
"Ya...ya...aku berjanji. Hu...hu..hu...tolong...hentikan...."
"Apalagi mendekatinya..."
"Y...ya..."
"Hukumanmu tidak hanya sakit fisik. Aku bisa membuat sepuluh laki-laki mengacak-acak tubuhmu...sampai kau tidak akan bernafsu lagi pada laki-laki." Desma meraba perut Ratry.
"Huaaa...ja...jangan..tolong..."
Tongkat besi kembali menghantam punggung dan pinggul Ratry. Gadis itupun jatuh pingsan. Tidak tahan oleh rasa sakit yang harus di terimanya.
Setelah Ratry pingsan Desma kemudian membawa Ratry ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Ketika Ratry siuman, dirinya sedang berbaring dalam ruangan Rumahsakit dan beberapa perban melilit kepalanya. Seorang suster sedang mengecek tetesan infus.
"Suster...."
"Ah...anda sudah sadar. Ingat apa yang terjadi? Siapa nama anda?"
"Ratry...saya kenapa Sus?"
"Nona Ratry, Anda ingat apa yang terjadi? Ada keluarga yang bisa di hubungi?"
"Saya di siksa..."
"Nona Ratry....anda tidak di siksa....anda korban tabrak lari...Ingat?"
"Bukan... saya di siksa..."
"Yang harus anda ingat adalah, Nona Ratry korban tabrak lari. Ok?!"
"Baik ..."
"Gadis pintar... Ingat! Tabrak lari! Kalau anda mengaku di siksa....akan ada tabrak lari berikutnya. Paham?"
"Ya..."
"Nah...sebentar lagi akan ada keluarga yang datang. Saya permisi dulu..."
Ratry memejamkan matanya menahan sakit dan airmata. Meratapi kejadian yang menimpa dirinya. Amarah dan sakit hati mengelilinginya. Ingin rasanya membalas penyiksaan terhadap dirinya. Tapi mengingat ancaman yang di terimanya mbuat mental Ratry menciut.
Sebuah sentuhan halus di rasakan Ratry di tangannya. Iapun membuka mata dan pecahlah tangisnya.
"Ma....sakit Mah...."
"Iya sayang mama tahu. Di tahan sebentar ya..."
"Ma...sakiiitt..."
"Iya sayang...Iya..."
#####
Abyseka sedang berada di apartemennya ketika teleponnya berbunyi. Desma.
"Ya..."
"Sudah saya atasi Tuan. Sekarang ada di rumahsakit."
"Baik. Kita lihat apa dia masih punya nyali."
"Ya Tuan."
"Ada sedikit hadiah buatmu. Lihatlah di lokermu."
"Baik Tuan. Terimakasih."
Desma menutup telepon. Kemudian menuju loker penyimpanan di kolam renang elite di sebuah hotel bintang lima. Loker nomer 303.
Di ambil ya sebuah tas olahraga berukuran kecil dari dalam loker. Sebuah Lunchbox berwarna biru ada di dalam tas. Desma membukanya dan mendapati beberapa bendel uang kertas.
Setelah memasukkan beberapa foto dalam tas dan mengambil luncbox. Desma menutup kembali loker dan menguncinya.
Sore yang cerah, Desma menghilang diantara para pejalan kaki yang mulai ramai bila sore hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ummu Jihad Elmoro
rasain..
2024-07-11
0
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
mati kutu lah Ratry kini dia juga sama sakit nya dg Pelangi....rasakan.😡
2024-02-13
1