Dalam bayangan

BAB 8

Sudah seminggu Pelangi tinggal di apartemen yang baru. Ia sudah seminggu pula tidak pernah membeli makanan di luar. Setiap hari Pelangi masak untuk sarapan dan makan siang. Kebutuhan bahan makannya sudah tersedia dalam kulkas. Bahkan sudah seminggu masih belum habis juga.

Abyseka bila melihat cara makan Pelangi, seakan-akan sering melihatnya. Tapi entah di mana? Senyum itu, suara tawa kecilnya yang renyah. Suara itu seakan menggema jauh dalam ingatannya. Seperti, sebuah bayangan yang terasa sangat nyata.

Abyseka memegangi perutnya yang terasa agak melilit. Mengapa sakit lagi? Rasa-rasanya lebih sering kambuh sakit perutku akhir-akhir ini.

"Pelangi, kemarilah,"kata Abyseka melalui interkom. Pelangi segera berdiri dan berlari-lari kecil masuk ke dalam ruang Angkasa.

"Yan Tuan, ada yang bisa saya lakukan?"

"Perutku sakit lagi, bisa Carikan obat dan bawa kemari?"

Pelangi segera mencari obat yang dimaksud Abyseka di dalam meja dalam ruang pribadinya. Setelah menemukan, langsung di serahkan pada Abyseka.

Kemudian membantunya meminum obat tersebut.

"Apa Tuan sudah makan pagi?"

"Sudah beberapa hari belakangan ini aku tidak sempat sarapan,"

"Tapi sarapan itu penting Tuan."

"Malas rasanya harus pesan makanan terus. Kadang datangnya terlambat, padahal aku sudah harus berangkat ke kantor."

"Apakah Tuan Zaki tidak membelikannya buat anda?"

"Tidak."

"Makan siang saya masih utuh Tuan.Apa tuan mau memakannya? Kelihatannya Tuan lemas sekali."

"Apa kau memasaknya sendiri? Di jamin bersih."

"Jangan khawatir tuan. Dijamin bersih. Sebentar, saya ambilkan." Pelangi berlari menuju mejanya dan mengambil bekal makan siangnya. Membuka di hadapan Abyseka.

"Silahkan..."

Bau harum masakan rumahan yang sudah lama tidak di ciumnya langsung mengurung Indra penciuman Abyseka.

"Kelihatannya enak."

Abyseka pada awalnya menyicipi masakan Pelangi sedikit. Namun setelah mengetahui rasanya, tanpa ragu-ragu ia melahapnya dengan semangat.

Pelangi meninggalkan Abyseka dan menuju kantin kantor untuk memesan makan siang.

Setiap kali terlambat makan kau memang selalu sakit perut. Batin Pelangi. Habiskan makananku, jangan membuatku selalu khawatir dengan perutmu. Ingatkah kau pernah diare parah ketika ada bakteri yang tanpa sengaja masuk dalam makanmu. Wajah putihmu akan semakin pucat.

Selesai makan siang Pelangi menuju pantri dan meminjam botol kaca yang sudah kosong. Kemudian diisinya dengan air panas dari dispenser. Botol di balit dengan kain dan di bawanya ke ruangan Abyseka.

Pelangi tidak melihat Abyseka di balik mejanya.

"Tuan..." Pelangi mengetuk pintu ruang istirahat Abyseka. Kemudian masuk setelah mendengar jawaban dari Abyseka.

Dilihatnya Abyseka sedang berbaring di atas tempat tidur.

"Tuan, ini taruhlah di perut. Untuk sementara bisa pakai botol ini. Besok saya bawakan karet untuk airpanas."

"Bisa pakai ini?"

"Ya bisa. Botolnya di taruh di perut dan di peluk. Biar hangat"

Samar Abyseka seakan-akan pernah mengalami kejadian ini. Pelangi memberinya botol air hangat dan menyuruhnya memeluk botol itu. Biar hangat. Suatu ketika, namun entah kapan.

Sebelum keluar dari ruang istirahat, Pelangi menyelimuti Abyseka.

Abyseka memegangi tangan Pelangi, "Jangan pergi."

"saya tidak akan ke mana-mana Tuan. Saya di ruangan sebelah, panggil saja jika butuh sesuatu."

Pelangi melanjutkan pekerjaannya. Sampai waktunya pulang ia meminta Tuan Zaki membantu Tuan Abyseka masuk ke dalam mobil. Pelangi sendiri langsung duduk di samping Abyseka.

"Pak Hadi, kita antar Tuan Abyseka dulu ya."

"Baik Non."

Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Abyseka.

Sampai di depan gedung Apartemen Langit Biru, Pak Hadi berhenti.

"Lho Pak, antar Tuan dulu. Bukan saya Pak." protes Pelangi.

"Apa nona tidak tahu, Tuan dan nona satu komplek apartemen?" jawab Tuan Zaki.

"Hah....? Benarkah?" Pelangi cukup terkejut. Ternyata selama ini ia satu gedung dengan Abyseka.

"Mari saya bantu Tuan Abyseka ke dalam lift."

Tuan Zaki membantu Tuan Abyseka menuju unit apartemennya.

"Berapa nomer unit Tuan Abyseka?" tanya pelangi.

"Sepuluh sepuluh,"jawab Tuan Zaki.

Tuan Zaki membantu Tuannya duduk di sofa.

"Apakah saya bisa memesan makanan sekarang Tuan?" Tanya Tuan Zaki pada Abyseka.

"Tidak usah." jawab Pelangi cepat. "Belum tentu makanan yang di pesan higenis. Bisakah saya saja yang memasak makan malam Tuan?" tanya Pelangi ragu. Ia masih khawatir sakit perut Abyseka akan berlanjut.

"Kau bisa memasak?"

"Bukankah tuan sudah merasakannya tadi siang? Apakah enak?"

"Lumayan. Baiklah kau masak, aku tunggu."

"Baik. Saya permisi dulu Tuan. Apakah Tuan Zaki juga akan makan malam di sini? Biar saya masakkan sekalian"

Zaki melirik Tuan Abyseka, yang dilirik langsung melotot. Tanda tidak menyetujui ide Pelangi.

"Ah...tidak. Saya sudah ada janji makan malam dengan teman." jawab Zaki, mengerti arti tatapan tajam Tuannya.

Pelangi bergegas menuju apartemennya. Ia segera memasak nasi dengan tekstur agak lembek. Kemudian membuat capcay sayur kesukaan Arjuna. Menggoreng Udang tepung krispi,ayam krispi, telur dadar ala warung makan Padang yang tebal, dan terakhir sop krim.

Sebelum mengantar makanan ke apartemen Abyseka, Pelangi mandi terlebih dahulu dan mengganti bajunya dengan yang lebih santai. Celana panjang jeans dan kaos oblong bergambar candi Prambanan. Rambutnya ia ikat ke belakang ala ekor kuda. Lebih segar dan ringkas.

Abyseka langsung membukakan pintu begitu Pelangi memencet bel apartemennya. Ia sedikit takjub, melihat Pelangi dengan dandanan yang berbeda. Ekor kuda itu, pasti akan bergoyang tak beraturan setiap kali gadis itu tertawa riang. Karena kepalanya akan bergerak-gerak.

Eh...bagaimana aku tahu? Rasanya rambut itu menggoda memintaku untuk menyentuhnya.

Abyseka duduk dikursi makan, menunggu Pelangi mengatur menu di atas meja. Senyumnya terkulum tanpa sengaja melihat gerak-gerik Pelangi.

"Makanlah bersamaku." perintah Abyseka.

"Tapi Tuan, saya..."

"Tidak ada penolakan!"

"Baiklah."

Pelangi duduk di hadapan Abyseka dan makan dengan kikuk.

Abyseka menyodorkan secarik kertas dengan tulisan beberapa angka diatasnya.

"Apa ini Tuan?"

"Code kunci apartemen. Hafalkan, jadi kau bisa masuk kapan saja kuminta atau kaumau."

"Tapi Tuan, bukankah sebaiknya saya tidak tahu code kuncinya?"

"Kamu pengecualian. Hafalkan."

"Tapi Tuan..."

"Pelangi..."

"Baik."

Selesai makan malam Pelangi menyiapkan secangkir kopi buat Abyseka dan meletakkannya di meja sofa di tengah ruangan apartemen.

"Tuan, saya akan kembali ke apartemen dulu. Besok pagi saya buatkan lagi sarapan untuk Tuan."

"Apakah tidak merepotkanmu?"

"Tidak tuan. Saya suka bingung takaran memasak buat sendiri. Sebab sudah terbiasa masak untuk dua atau tiga orang."

"Oh. Begitu ya."

"Ya Tuan.Di kost yang lama saya biasa memasak sarapan untuk tiga orang. Karena hanya saya yang bisa memasak dan bisa untuk tambahan pendapatan."

Abyseka menatap lekat Pelangi, "Baiklah. Buatkan aku sarapan. Begini....bagaimana bila soal makanku kamu yang mengurus? Terutama makan pagi."

"Bisa Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam."

Pelangi kembali ke apartemennya. Melihat-lihat ada apa saja di kulkasnya untuk membuat sarapan besok. Untung-untung bisa untuk makan siang juga.

Masih ada udang sedikit, cumi sedikit. Ayam juga masih ada. Pagi bubur ayam aja, sama....martabak ala-ala aja. Ada kulit pangsit sama daun bawang. Sip! Siangnya bikin capcai seafood sama goreng tahu bakso....apa lagi ya? Hhmmm...ada fishcake di goreng juga bisa nih.

Pelangi mulai mempersiapkan kebutuhan bahan untuk besok. Jadi besok bangunnya tidak terlalu pagi.

#########

Sudah seminggu Pelangi menyediakan makan pagi buat Abyseka. Terkadang Pelangi juga menyediakan makan siang, sekalian memasak untuk dirinya sendiri.

Siang ini Pelangi sudah menyediakan dua porsi menu makan siang. Untuk dirinya sendiri dan Abyseka. Tapi, sebelum tiba waktu makan siang, Abyseka sudah mengatakan siang ini ia makan siang bersama investor. Jadilah satu porsi nganggur. Pelangi langsung mengirim wa pada Vio

Pelangi

Makan siang ini aku ya g traktir ya. Ada menu nganggur nih.

Viona

Ok. Menu Tuan Abyseka lagi? Kita makan di mana?

Pelangi

Di taman samping kantor aja yang tidak begitu ramai.

Viona

Ok. Pasti menunya enak nih. Sampai nanti.

Sore ini sehabis pulang kerja,Pelangi berencana mampir ke pasar sore. Pasar tradisional yang buka sampai malam. Biasanya yang banyak berbelanja adalah para pekerja yang tidak mungkin pagi hari ke pasar.

Bahan makanan yang di belikan Tuan Abyseka sudah menipis, sudah waktunya mengisi kulkas. Sebuah tas belanja besar sudah di siapkan oleh pelangi. Lengkap dengan troli besi yang bisa di lipat dan roda di keempat sisinya. Senghingga memudahkan Pelangi untuk membawanya. Tinggal tarik saja.

Pelangi keluar kantor dan bertemu dengan Tuan Zaki di antrian absensi.

"Selamat sore Tuan," sapa Pelangi.

"Sore...untuk apa tas besar itu?" Tuan Zaki menunjuk tas besar yang si bawa Pelangi.

"Oh....ini." Pelangi mengangkat tas besarnya. "Ini tas belanja Tuan. Saya mau belanja ke pasar tradisional. Ini memudahkan say membawa belanjaan. Seberat apapun bisa saya bawa." kata Pelangi sambil tersenyum.

Keluar dari kantor Pelangi langsung menuju halte bus yang ada di dekat komplek pabrik. Baru menunggu beberapa saat, tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan Tuan Zaki keluar dari mobil kemudian menyuruh Pelangi masuk.

Awalnya Pelangi menolak, tetapi ketika Tuan Zaki menyuruhnya masuk dengan sedikit memaksa. Akhirnya ia masuk juga. Ternyata di dalam mobil sudah ada Tuan Abyseka.

"Tuan. Selamat sore..."

"Sore. Ayo berangkat."

"Kita mau ke mana Tuan?"

"Ikut saja, kau akan tahu."

Beberapa saat mereka berkendara menyusuri jalanan yang tidak terlalu macet. Kemudian sampailah di supermaket besar.

"Ayo...turun. Katanya kamu mau belanja." kata Tuan Abyseka.

"Tapi...bukan di sini Tuan. Disinimah lebih mahal harganya."

"Ayo..." Abyseka tidak memperdulikan perkataan Pelangi. Ia menggandeng tangan Pelangi masuk ke dalam supermaket.

Di dalam supermaket Pelangi melihat berbagai macam jenis barang. Dari elektronik, keperluan masak memasak, pernak pernik rumah, kamar mandi, dapur, taman pokoknya lengkap...kap...kap.

Bisa kalap nih kalau masuk sini. Apa aja ada. Ufeh kalau masuk sinikan pasti langsung lari ke bagian aksesori perempuan. Kalau mama pasti bagian perlengkapan dapur dan masak. Wah...lain kali pasti kuajak mereka ke sini....

Pelangi langsung mencari bagian bahan makanan. Ia tidak mau melihat bagian lainnya. Takut tergoda.

Pelangi sedang memilih-milih di bagian daging, sedang Tuan Abyseka memasukkan apa saja yang ia mau.

"Tuan,apa tidak berlebihan itu? Apa Tuan tau daging apa saja yang tuan masukkan? Bagaimana bila itu daging haram?" Tanya Pelangi.

Abyseka langsung mematung, dan segera memeriksa daging-daging yang tadi di ambilnya. Zaki langsung menyodorkan troli yang sudah penuh dengan berbagai macam kebutuhan rumah. Kemudian mengambil troli yang tadi diisi sembarangan oleh Tuan Abyseka.

Pelangi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua atasannya itu. Iapun memeriksa troli yang tadi di bawa Zaki. Memeriksa apa ada yang terlewati.

Kelihatannya sudah lengkap. Tinggal kebutuhan perempuan saja. Tapi ..bagaimana caranya menjauhkan kedua Tuan-tuan ini? Mereka mengikutiku terus.

"Tuan,"Pelangi menghadang Abyseka ketika ia akan masuk ke bagian kebutuhan perempuan.

"Ada apa?"

"Saya akan masuk bagian ini, Tuan lebih baik ke bagian makanan ringan di sebelahnya."

"Kenapa tidak boleh? Aku akan menemanimu...." belum selesai sanggahan Abyseka, dia melihat Pelangi menunjuk papan petunjuk yang bertuliskan kebutuhan perempuan.

"Oh...ak...aku dan Zaki akan ke bagian makanan ringan saja...Nanti...kalau sudah selesai..."

"Aby..."sebuah suara renyah memanggil nama Tuan Aby.

"Aby...kamu sudah sembuh total ya." seorang wanita dengan dandanan sexy mendekat dan bergelayut manja pada lengan kekar Abyseka. Terlihat sexy karena baju yang dikenakannya sangat minim. Rok pendek setengah paha dan baju atasan yang sangat ketat membungkus tubuhnya.

"Ah...Ratry." Abyseka langsung sedikit menghindar dan melepas pegangan tangan Ratri padanya.

"Ihh...belajar sombong ya kamu. Lagi belanja nih? Habis ini kita ngobrol di kafe depan yuk...Dah lamakan kita nggak ngobrol-ngobrol." Ratry tetap berusaha bergelayut manja pada Abyseka.

"Maaf...aku sudah selesai. Ayo Zaki, Pelangi kita pulang." Abyseka melangkah cepat menuju kasir.

"Baik." jawab Zaki dan Pelangi bersamaan. Kemudian mengikuti kemana Abyseka pergi.

Ratry menghentakkan kakinya kesal. Bagaimana tidak, Abyseka adalah salahsatu cogan incarannya. Siapa yang tidak kenal Abyseka, anak pemilik pengusaha Internasional di berbagai bidang.

Sayangnya Abyseka terkenal dengan sifat dinginnya. Dia akan mengcuhkan siapa saja yang ada di sekitarnya, apalagi yang berusaha mendekatinya. Beruntung keluarga Ratry kenal baik dengan keluarga Rahardi karena bisnis yang ayahnya jalani. Jadi Ratry punya kesempatan untuk bertemu dan mendekati Abyseka.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

horang kaya, mah.. bebasss...😔

2024-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!