Tanda tanya

BAB 4

Pelangi melihat kesekelilingnya. Meja baru, ruangan baru, partner kerja juga baru. Ruangan Departemen umum ini memang beda. Departemen yang hampir membawahi semua Departemen di perusahaan ini. Pimpinannya pun langsung Direktur Dept. Umum.

Serasa naik level ke tingkat paling atas. Keren. Ruangannya di tata lebih eksklusif. Partner kerjanya hanya empat orang. Pelangi di percaya memegang bagian pemasaran. Dia menghubungkan semua bagian pemasaran dalam perusahaan.

Baru hari pertama pekerjaan Pelangi sudah menggunung. Ia harus memantau pergerakan promosi, apakah berjalan lancar atau tidak. Apakah iklan yang dibuat bagian periklanan sudah sempurna belum. Apakah dana dari bagian keuangan sudah bisa mencakup seluruh promosi atau tidak. Dan masih banyak lainnya.

Sampai waktu makan siang, temanya Tata sudah mengirimkan pesan untuk segera turun ke cafetaria.

"Bagian pemasaran siapa?"

Baru saja Pelangi berdiri, Pak Hendra, Presdir Umum mencarinya. Ia berdiri di pintu yang menghubungkan ruangan Pelangi dan ruang Presedir.

"Saya Pak."

"Laporan bagian periklanan belum masuk. Coba cek ulang."

"Baik Pak "

"Tanyakan langsung ke managernya."

"Baik Pak."

Pelangi langsung mengecek di komputernya lebih dahulu. Apa saja yang belum masuk. Kemudian berjalan menuju ruang manager Iklan.

Sampai waktu pulang pun Pelangi masih melototi komputernya. Sesekali di liriknya teman seruangannya. Ternyata mereka juga masih berkutat dengan komputer masing-masing. Tidak percuma Departemen Umum merupakan yang terkeren di perusahaan. Orang-orangnyapun sangat kompeten dalam pekerjaannya.

Pukul tujuh malam, Pelangi baru selesai dan bersiap hendak pulang.

"Pebaiki laporan ini, ini, ini ,dan ini." Tuan Abyseka tiba-tiba sudah berdiri di depan mejanya. "seminggu harus selesai!"

Pelangi mengangguk. Buset dah! Kerjaan seperti asap vapor. Bejubel, saling susul menyusul.

Sebelum meninggalkan kantor untuk pulang. Pelangi melihat ke arah ruangan yang biasa di pakai Abyseka.

Masih terang, berarti masih kerja. Selamat malam Arjun. Jangan kerja terlalu keras, jaga kesehatanmu.

"Jangan khawatir," tiba-tiba Abimanyu sudah ada di belakangnya.

"Tuan..."

"Aku akan mengingatkan dia untuk tidak terlalu keras bekerja.Kau merindukannya?"

Pelangi tersenyum samar, "Maaf Tuan, sudah waktunya pulang. Selamat malam."

"Malam." Abimanyu masih memperhatikan punggung Pelangi sampai ia menghilang dibalik pintu.

Sampai kapan kedua hati itu saling berjauhan?

Yang satu merindukan tanpa berani mendekat. Yang lainnya sangat merindukan, tapi lupa siapa yang di rindukan. Huh! Takdir emang membingungkan ya ...

Abimanyu tahu persis siapa yang dirindukan Abyseka. Karena ketika ia tidak sadarkan diri setelah bertemu keluarganya. Hanya nama Pelangi yang di panggilnya selama beberapa hari. Cinta itu tertanam kuat di akar hatinya.

Ketika Abyseka sadar, ia lupa semua yang di alaminya. Bahkan ketika Abimanyu menanyakan nama Pelangi yang selalu keluar dalam igauannya. Abyseka melupakan gadis itu. Miris sekali.

#######

Abyseka terkadang tidak mengerti, bagaimana ia sangat tidak suka pada Pelangi. Apalagi ketika mengetahui Pelangi sengaja menghindari dirinya. Entah Pelangi langsung berbalik dan bersembunyi ketika hendak berpapasan atau hendak bertemu dengannya. Pelangi juga akan menghindar bertatapan dengannya. Apakah wajahnya dengan bekas goresan karena kecelakaan itu sangat menjijikkan. Hingga gadis itu selalu menghindarinya.

Pegawai wanita yang lain akan dengan senang dan penuh senyum sumringah bila bertemu dengannya. Sangat bertolak belakang dengan Pelangi. Mengapa?

Abyseka juga merasa kesal bila sehari saja tidak ia tidak melihat wajah gusar dan ketakutan dari gadis itu. Rasanya kurang pas bila belum memberi pekerjaan pada Pelangi.

"Mau dibawa kemana file setumpuk itu?" tegur Abimanyu pada Abyseka, "Mau pelangi yang mengerjakan lagi?"

"Hhm..."

"Abe...pekerjaan Minggu ini belum selesai dia kerjakan. Masih mau di tambah lagi? Kasihan gadis itu...!"

"Bukan urusanmu!"

Bilang saja ingin bertemu setiap hari. Ngaku mazhe....

Pelangi menerima lagi setumpuk pekerjaan dari Abyseka.

"Semangat Pelangi," kata Olive yang meja kerjanya terletak di samping kiriPelangi.

Meja kerja Pelangi terletak paling ujung dekat pintu masuk.

"Pemeras tenagakerja..."kata Pak Vendo yang mejakerjanya persis dihadapan Pelangi.

Pelangi hanya tersenyum kecut. Mau bagaimana lagi? Apa bisa ia menolaknya? Sudah hampir seminggu Pelangi kurang tidur, kurang makan juga karena kerjaan yang diberi Tuan Abyseka.

Badannya terasa lungkrah, terlebih lagi ini hari kedua tamu bulanannya datang. Perutnya terasa semakin di pilin-pilin. Melilit.

Pelangi membawa beberapa map yang akan di serahkan pada Tuan Abyseka. Mengetuk pintu kantor Tuan Abyseka.

"Permisi," kata Pelangi.

"Masuk ..!"

Pelangi membuka pintu dan berjalan mendekati meja Tuan Abyseka. Dilihatnya Arjunanya tenggelam dalam kertas-kertas diatas meja.

"Ini sebagian berkas yang sudah saya selesaikan."kata Pelangi.

"Sebagian? Mengapa belum semua?"

"Masih saya kerjakan."

"Lamban!"

Pelangi menunduk, "Maaf, secepatnya saya sekesaikan." Pelangi meremas tangannya menahan perutnya yang tiba-tiba serasa di remas.

"Sebelum keluar, bereskan map-map di atas meja sofa itu. Atur sesuai warna, jangan sampai salah."

"Baik..." Pelangi mulai merapikan map-map yang berserakan. Di atas meja sofa maupun yang ada di lantai.

Map sudah di tumpuk sesuai warna, ketika Pelangi hendak menegakkan badannya badannya limbung. Pandangannya gelap, ia berusaha menggapai apa saja yang ada di dekatnya namun gagal.

Abyseka melihat Pelangi yang hampir terjatuh langsung berdiri melangkah cepat menangkap tubuh Pelangi sebelum terhempas ke karpet. Diangkatnya Pelangi dan di baringkan di atas sofa. Kemudian menyelimuti Pelangi

yang diambil dari ruang istirahatnya.

"Zaki, telfon dokter. Suruh datang ke ruangan ku. Ada yang pingsan." Abyseka menelfon asistennya.

Abyseka duduk di sofa dekat Pelangi terbaring, memandangi wajahnya.

Tolong buka matamu, bangunlah. Aku tidak tahu harus apa. Mengapa setiap melihatmu dadaku terasa sakit. Terlebih lagi mengetahui kau menghindariku. Rasanya seperti di remas-remas. Emosiku selalu meledak-ledak tidak terkendali.

Abyseka menepuk-nepuk dadanya perlahan. Ia bingung dengan apa yang dirasakannya.

Beberapa saat kemudian terdengar ketukan,

"Masuk..." Abyseka kembali ke mode datarnya.

Seorang dokter yang biasa langganan perusahaan, karena kliniknya dekat. Masuk bersama Zaki. Abyseka berdiri sambil menunjuk ke arah Pelangi yang terbarin.

Dokter Irwan langsung memeriksa Pelangi. Netra Abyseka terus mengawasinya. Tidak senang sebenarnya melihat tubuh Pelangi di sentuh oleh Dokter itu.

"Apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba dia pingsan?"

"Tidak ada yang serius. Kelihatannya nona ini hanya kelelahan. Apalagi dia sedang datang bulan. Pasti karena darah rendah."

"Biarkan dia istirahat. Setelah sadar,biarkan istirahat di rumahnya.Jangan menyuruhnya melanjutkan pekerjaan. Anda bisa kena pasal perburuhan."

"Baik, terimakasih sudah datang."

Zaki mengantar dokter Irwan keluar. Sepeninggal Dokter, Abyseka menggendong Pelangi ala bridalstyle. Kemudian membaringkannya di ruangan istirahat khusus miliknya. Ruang istirahat itu bersebelahan dengan ruang kerjanya.

Setelah menyentuh pipi Pelangi sekilas, Abyseka keluar dari kamar dan melanjutkan pekerjaannya.

Tak berapa lama kemudian, Abimanyu masuk ke dalam ruangan Abyseka dengan wajah tegang.

"Benar yang kudengar?" kata Abimanyu berdiri di hadapan Abyseka.

"Apa yg kau dengar?"

"Pelangi pingsan?"

"Ya...."

"Astaga Abe....kan sudah kuingatkan. Berbaik hatilah pada gadis itu. Di bawa ke Rumahsakit mana Pelangi? Kau sungguh membuatku marah!". Abimanyu meninggikan suaranya.

"Di sini, sedang istirahat."

"Apa?" Abimanyu

"Dengar ya, aku sekarang yang akan mengurus pagawaiku di sini. Kau, urus penemuanmu di pabrik sana."

Abyseka menegakkan duduknya, "Mengapa kau begitu marah? Kau punya hubungan khusus dengan Pelangi?"

"Kalau iya kenapa?"

Abyseka menggebrak meja, "Kau sudah beristri Abi!"

"Ya. Dan istriku tau hubungan kami.Kau tidak usah peduli lagi dengan gadis itu."

Hati Abyseka serasa terbakar. Sepupunya sendiri bermain api dengan pegawainya sendiri? Terlebih lagi itu Pelangi.

Apa-apaan mereka ini? Apa pikiran mereka sudah tertutup kabut sampai tidak bisa berpikir jernih?

Sayup Abyseka dan Abimanyu mendengar suara dari balik tempat Pelangi berbaring. Spontan Abimanyu berlari masuk. Diikuti Abyseka.

"Pelangi...bagaiman perasaanmu? Apa kau merasakan ada yang sakit?"tanya Abimanyu

"Tidak ada yang sakit Tuan. Hanya terasa lemas saja...nanti juga hilang." kata pelangi berusaha berdiri.

"Ayo, aku antar pulang." Abimanyu memegangi lengan Pelangi dan membantunya berjalan keluar ruangan

"Tapi Tuan, saya bisa sendiri. Tidak perlu membantu..."

"Tidak...tidak...aku akan tetap.membantumu."

Baru saja mereka sampai di pintu keluar ruangan, tiba-tiba Almitha istri Abimanyu muncul.

"Ayah..."

Mampus... Batin Abyseka, bakalan perang Baratayudha nih.

"Pelangi!! " jerit Almitha, langsung memegang lengan Pelangi. "Ya Tuhan, kita bawa ke Rumahsakit Yah. Di periksa semua, takut ada yang nggak beres!"

"Tapi....saya baik-baik saja Nyonya." kata Pelangi, "Hanya kecapean saja."

Hah...??

Abyseka terkesima dengan reaksi Almitha. Bagaimana mungkin, sekarang istri malah khawatir dengan selingkuhan suaminya?

Abyseka menelpon Zaki. "Zaki...siapkan mobil. Aku mau antar Pelangi pulang."

Tanpa basa-basi lagi Abyseka langsung menggendong Pelangi ala bridalstyle menuju tempat parkir.

Merah padam wajah Pelangi menerima perlakuan tidak biasanya dari Abyseka. Ia menutup wajahnya karena malu. Beberapa karyawan melihat Abyseka menggendongnya. Sudah pasti sebentar lagi pasti gosip menyebar ke seluruh kantor.

Sedang Abimanyu dan Almitha saling tersenyum penuh arti. Tindakan pancingan mereka terhadap Abyseka berhasil. Si mode datar itu terpancing mendekati Pelangi.

"Mulai overprotektif dia..."bisik Almitha.

"Satu langkah maju, berhasil. Tinggal langkah berikutnya."

"Untung tadi sempat kita buat sekenario dadakan ini."

Abyseka besikeras mengantar Pelangi pulang. Sampai di kost Pelangi langsung berbaring di kasurnya yang empuk, meskipun tidak terlalu besar.

Baru saja berbaring kamarnya di ketuk dari luar

"Ya....masuk saja."

Terre teman satu kost Pelangi masuk, "Ini Kak, cowok keren tadi yang anter Kak Pelangi balik lagi dan memberikan ini."

Terre meletakkan satu kantung plastik besar bungkusan. Pelangi memeriksanya. Ternyata isinya sebungkus nasi dan lauk seafood ,beberap cemilan dan obat-obatan.

"Wah...perhatian banget dia...cogan, perhatian. Jangan di lepas Kak. Kalau tidak kutangkap nanti."

"ijo deh kalo liat yang bening-bening."

Terre terkikik dan pergi meninggalkan Pelangi. Tidak tahu apa yang harus di lakukan, Pelangi hanya memandangi bungkusan makanan yang dibawakan Terre. Bodo amatlah, yang paling ia butuhkan saat ini adalah tidur. Badannya terasa sangat lungkrah.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

seru.. lanjut, kak...😍

2024-07-11

0

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

kn lah pelangi lemes kmu nti

2024-02-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!