Takkan kulepas

BAB 13

"Selama ini kamu sudah mengetahui siapa aku?" Abyseka menyapu pipi Pelangi dengan jemarinya.

"Ya. Dan sakit rasanya mencintaimu hanya dari sisiku saja."

"Maaf...aku janji tidak akan melepasmu lagi. Tidak akan mau melupakanmu. Bahkan ketika kau tidak lagi mencintaiku. Aku tidak akan melepasmu."

"Waaahhh....itu namanya terobsesi. Bukan cinta yang sehat itu Boss."

"Bodo amat. Kau tidak tahu rasanya sih...menginginkan seseorang tapi tidak tahu siapa orang itu. Gelisah tidak karuan, tidak nyaman apapun yang terjadi. Be te sepanjang hari! Nggak banget deh rasanya."

"Tapi sekarang terjawabkan apa penyebabnya."

"Ya, kalau tau dari awal kamu penyebabnya, Sudah ku kurung di apartemen tidak boleh keluar. Ngomong-ngomong siapa saja yang tahu aku melupakan masa amnesia?"

"Tuan Abimanyu, Tuan Zaki, keluargamu."

"Cukup Abimanyu dan Zaki saja. Tanpa embel-embel tuan. Gatel telingaku mendengarnya."

"Tuan Abimanyu dan Tuan Zaki juga protes aku memanggilnya dengan sebutan Tuan. Sebelum masuk perusahaan biasanya aku memanggil mereka Kak Abim dan Kak Zaki. Iya kali di kantor kupanggil Kak. Geger seluruh karyawan."

"Kita ke tempat Eyang sekarang?"

"Ya. Ayok, aku juga sudah kangen sama Eyang , Papa,Mama dan Ufeh."

Seluruh keluarga menyambut kedatangan mereka. Hampir tiga bulan Pelangi tidak bisa mengunjungi mereka. Karena jatah libur yang hanya sehari.

"Pelangi, persilahkan temanmu ke dalam." kata Papa. Pelangi sengaja tidak memberitahu mereka bahwa Abyseka sudah mengingat masa-masa amnesianya.

"Biar di teras saja. Lebih sejuk dan pemandangannya juga menenangkan." Kata Abyseka.

Ulfah keluar dengan membawa sepiring singkong goreng merekah dan dua gelas teh panas.

Abyseka mengicipi teh yang di sajikan Ulfah.

"Ini pasti teh buatanmukan? Enakan teh buatan Eyang." kata Abyseka, "Singkongnya pasti buatan mama. Bisa merekah bagus gini. Kamu bisanya apa Feh...Ufeh...Ufeh...belajar masak dong." Abyseka sengaja memancing kemarahan Ulfah.

Yang di goda malah berdiri bengong...sesaat kemudian mama langsung memeluk Abyseka sambil menangis.

"Kamu sudah ingat kembali Nak. Mama pikir kamu akan melupakan kami semua."

Eyang dan papa ikut memeluk Abyseka.

"Masa Arjuna melupakan kalian semua. Nggak mungkin. Inikan keluarga Arjun juga."

"Kapan kamu mulai ingat?"

"Baru beberapa waktu yang lalu."

"Kepalamu tidak apa-apa? Sakit atau berdenyut-denyut ?"

"Masih agak berdenyut Eyang, tapi tidak apa-apa."

"Bagaimana dengan ingatanmu Nak? Sudah pulih semua?"

"Belum Pah, belum semua. Rasanya masih sepotong-sepotong."

"Ayo masuk istirahat dulu. Berbaring dulu...jangan sampai kepalamu nanti meleleh..."Eyang menarik Abyseka ke kamar yang biasa ia gunakan selama ia tinggal bersama keluarga Pelangi.

"Meleleh? Siapa yang bilang kepalaku bisa meleleh Yang?"

"Ulfah..."

"Feh..."

"Cairannya nanti bisa keluar dari telinga. Ayo tiduran dulu dan di kompres air dingin."

"Ufeeehh...." Abyseka mencari sosok Ulfah yang tersenyum mengejek dari balik punggung Papa. Abyseka tak bisa menolak perintah Eyang. Wajahnya pasrah menerima perlakuan Eyang, yang membaringkannya di tempat tidur kemudian mengompres dahinya dengan air es.

Pelangi hanya tersenyum melihat pandangan minta tolong dari Abyseka. Eyang selalu memperhatikan semua cucunya dengan sama. Eyang memperlakukan cucunya seolah-olah kami semua masih kecil.

"Eyang, Kak Arjun di masakin gule babat iso. Biar kepalanya membeku." kata Ulfah , dia tau Arjun paling tidak bisa makan jeroan.

"Ufeh! Awas kamu..."

Ulfah menjulurkan lidahnya dan berlari keluar kamar sambil cekikikan.

"Fehhh..." tegur Papa.

"Papa nggak asik..."

"Sampai kapan aku berbaring seperti ini?" tanya Abyseka pada Pelangi.

"Sabar. Tuh sudah di bawakan sop iga. Ayo duduk, disuapin Eyang ya..."

"Lany, aku duduk di kursi makan saja. Aku sudah sehat."

"Tadi katanya kepalamu masih sakit."

"Sembuh langsung begitu diganggu Ufeh..."

"Biar Eyang hukum anak itu. Orang lagi sakit kok di gangguin."

Seharian penuh Abyseka dan Pelangi melepas rindu bersama keluarga. Bercerita hal-hal yang tidak penting namun menyenangkan. Terkadang memancing sebuah peristiwa agar Abyseka mengingat suatu hal.

Pukul tujuh malam mereka pamit kembali kerumah, karena besok harus bekerja. Begitu pula dengan Papa, Mama dan Ulfah.

"Kita makan dulu?" tanya Abyseka

"Apa belum kenyang tadi sudah makan di rumah Eyang."

"Sebenarnya aku hanya ingin bersamamu lebih lama. Rasanya aku ingin terus bersamamu."

"Besokkan kita ketemu lagi. Besok aku jadi sekertaris Tuan Abyseka, seharian kita akan bertemu."

"Mulai besok, kita berangkat dan pulang bersama."

"Nanti banyak gosip."

"Biarkan saja. Aku tidak perduli. Mampir di cafe depan apartemen ya. Sampai agak malam baru kita naik."

"Ok."

Berdua memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Pelangi memesan capuccino dengan rainbow cake sedang Abyseka memesan black coffe dengan sus roughut.

Baru beberapa menit mereka saling bercerita seseorang menegur Pelangi.

"Suka menghabiskan waktumu di sini juga?" tanya Arya.

"Ya, paling dekat dengan tempatku. Jadi kalau ngantuk langsung naik."

"Aku juga sering kemari. Terlebih sejak ketemu kamu waktu itu. Siapa tau kamu juga ada di sini. Eh...ternyata betul juga dugaanku."

"Ah ya...kenalkan ini..."

"Arjuna..." Abyseka memperkenalkan dirinya sebagai Arjuna.

"Oh...aku Arya. Teman masa kecil Pelangi. Iyakan?! Ok silahkan di lanjut. Aku gabung dengan temanku dulu ya. Dah Pelangi. Lainkali kutelpon ya."

Arya meninggalkan mereka diikuti pandangan menusuk dari Abyseka.

"Teman satu komplek?"

"Bukan, Teman waktu SMU. Mantan."

"What? Aku harus mengawasinya."

Ampun dah ini orang. Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru bertegur sapa sekedar basa-basi. Cemburunya sudah berlebihan.

#######

Pelangi dan Abyseka dalam perjalanan menuju kantor pusat. Pak Hadi menyetir dengan kecepatan sedang.

"Saya sudah mengecek Direktur keuangan. Ada kejanggalan dalam aliran dana pribadinya. Dia sering meminjam dari perusahaan dalam jumlah besar. Dua hari kemudian ada surat lunas yang di keluarkan pihak keuangan."

"Kita bisa meminta catatan aliran dana ke bank. Pengacara perusahaan yang akan mengurusnya."

"Beberapa orang penting akan terlibat."

"Kita lihat hasil rapat nanti."

Mobil memasuki halaman Perusahaan. Di pintu masuk utama Abyseka melihat Ratry bersama seseorang. Ia menahan Pelangi yang hendak turun, dan menunjuk ke arah Ratry.

"Bersama siapa dia?"

"Oh, itu Dirut keuangan. Apa itu ayahnya?"

"Jadi Dirut keuangan kenal dengan dia"

Abyseka menghubungi seseorang, "Apa hubungan mereka?Oh...begitu. Mengganggu...Ya,baik"

"Bagaimana?"

"Mereka paman dan keponakan. Ratry jadi anak angkatnya."

"Kelihatannya dia sudah pergi. Ayo..."

Abyseka langsung menuju meetingroom di perusahaan. Kali ini Pelangi tidak ikut ke ruang rapat. Pelangi pergi ke cafe dekat kantor dan bertemu dengan Tata. Mereka akan bertemu saat makan siang. Bersama Indah dan Emi.

"Gila....panas bener ya." Emi mengibas-ngibaskan tangannya.

"Ini dah kupesankan minuman kesukaan kalan. Cemilannya juga. Tinggal makan siangnya, pesan sendiri saja

Aku yang traktir."

"Udah kaya nih traktir kita?" Indah menepuk pundak Pelangi.

"Aku dan Tata dapat bonus besar. Ada ikan mas besar yang kejaring. Pokoknya mah, makan sampe bodong deh..,"

"Eh, ikan mas mana nih ?"

"Ada....nggak usah di.bahas takut ada yang dengar."

"Iya. Makan aja...ada boss barukan sekarang" Tata mengedipkan matanya.

Berempat langsung tenggelam dalam percakapan seru mereka. Dari cowok gebetan, pesaing , skincare, mode baju masih banyak lain. Yang penting tidak gibahin orang. Obrolan seputar dunia cewek-cewek.

"Akhir Minggu kemaren, aku ke toko kosmetik yang grosiran itu." kata Tata. "

"Ih...ke sana nggak ajak-ajak. Tata curang protes Indah. Dia yang paling kecanduan skincare.

"Ngajak kamu nanti vocerku abis. Yang penting sekarang kubawakan oleh-oleh."

"Bo'ong besar pasti."

"Eehh....nggak percaya lagi. Nih...sekantong buat Indah, sekantong buat Emi dan sekantong buat Pelangi"

"Kok Pelangi punya lebih besar kantongnya?" protes Emi.

"Seminggu yang lalu Pelangi minta tolong dibelikan handbody yang lagi viral itu lima botol. Jadinya dia punya lebih besar. Nggak usah iri deh...."

"Di sana toko kosmetik seperti itu nggak ada." Pelangi menyendok dessert yang baru saja di hidangkan oleh pramusaji.

"Habisin penggoda terakhir ini. Cepetan kita ke kantor lagi. Dah kelamaan kita ngerumpi." Emi melirik jam di pergelangan tangannya."

"Iya yuk. Pensonalia masih heboh Em?"

"Heboh pemecatan udah nggak. Tapi tambah ribet birokrasinya. Entah kenapa."

"Keuangan sih tenang aja...Kamu Indah?"

"Tanya tuh Pelangi. Bagian iklan nggak pernah nggak heboh. Persis kutu loncat. Liat nih, aku jadi nggak ada manis-manisnya sama sekali. Kucel!"

Teman-temannya saling berpandangan, si ratu skincare bilang dia kucel. Gimana penampilan yang lain?

"Dia aja kucel, apa kabar kita-kita? Kucel, kumel, kusam macam kuya"

"Hei para kuya' sudah waktunya kerja. Ayo...terlambat nanti di potong bonus asupan dana skincare."

"Yuk...yuk"

Berempat bergegas kembali ke kantor. Pelangi membayar ke kasir menggunakan kartu yang tadi di beri Abyseka untuk mentraktir teman-temannya.

Ketika hendak menyeberang jalan, menyusul teman-temannya, sebuah motor hampir saja menabrak dirinya. Untung gerak refleks Pelangi masih bagus, ia hanya terhempas di trotoar.

Ketiga temannya yang menyaksikan kejadian tersebut menjerit mengejutkan pengguna jalan lain. Sontak mereka menghampiri Pelangi dan membantunya berdiri.

"Gimana sih yang naik motor tuh orang?" runtuk Emi kesal.

"Padahal jalankan sepi, kenapa musti mepet-mepet pejalan kaki sih?" Indah tak kalah kesal.

"Udah yuk ke kantor. Aku nggak apa-apa kok. Liat, hanya lecet di tangan aja."

Kembali mereka menyebrang jalan dan kembali ke kantor.

"Orang tadi sengaja?" bisik Tata sambil menggamit lengan Pelangi .

"Ya."

"Mulai ada yang curiga?"

"Soal dokumen keuangan keliatannya bukan. Aku sekertaris Tuan Abyseka, pasti jadi sasaran empuk buat pengalihan."

"Ok. Hati-hati. Semua kebutuhanmu ada di skincare ya Say."

"Ok. Makasih"

Pelangi langsung masuk ke dalam kantor Abyseka. Dan mencuci tangan di toilet agar debu dan kuman yang ada di lukanya disingkirkan.

Zaki masuk ruangan, dilihatnya Pelangi sedang mengoleskan salep antiseptic ke tangannya.

"Kau terluka? Bagaimana bisa?"

Pelangi menceritakan kronologi bagaimana ia bisa terluka. Zaki mengepalkan tangannya geram.

"Siapa mereka?"

"Aku juga belum tau. Dari pihak mana orang itu? Keuangan? Pesonalia? Bisa siapa saja."

"Pengecut! Mengapa yang di serang perempuan?"

"Karena yang paling rentan di serang sekarang adalah aku. Perempuan, sekertaris Kak Aby pula."

"Kak Aby?"

"Kak Aby sudah ingat padaku sekarang. Meski belum seratus persen."

"Bagus kalau begitu. Mudah-mudahan ingatannya cepat pulih semua, agar dapat menyelesaikan masalah kecelakaannya waktu itu."

"Apakah itu juga kerjaan para pengecut itu?"

"Belum bisa di pastikan. Aku masih menyelidikinya. Aku akan menempatkan beberapa pengawal untukmu dan Tuan Abyseka. Agar tidak ada lagi kecelakaan."

"Akukan hanya luka sedikit. Tidak perlu ..."

"Siapa yang terluka?" Suara Abyseka menggema ke seluruh ruangan.

"Hanya lecet. Bukan hal yang serius." jawab Pelangi.

"Lihat sini. Mengapa kamu selalu terluka? Apa tidak bisa menjaga dirimu sendiri? Apa iya aku harus duapuluh empat jam ada di dekatmu, mencegahmu terluka?"

"Aku tidak apa-apa. Lihat, hanya lecet di tangan." Pelangi menceritakan apa yang di alaminya tadi.

"Genderang perang sudah di tabuh nih." Abimanyu sudah berdiri di dekat mereka berdua.

"Abim, ada dokumen baru yang di bawa Pelangi." kata Abyseka

"Oh ya?"

"Ya, tadi aku pura-pura makan di cafe dekat kantor. Tata memasukkan dokumen yang di ambilnya dari laci direktur keuangan."

"Kok bisa?"

Pelangi tersenyum, "Yang penting dokumen ini sudah ada di tangan kita. Tinggal eksekusi"

Pelangi menyerahkan beberapa lembar kertas pada Abimanyu.

"Rapat tadi kujadwalkan dua hari lagi. Melihat apa yang dialami Pelangi hari ini, kemungkinan ada kejadian berikutnya. Harus hati-hati.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

hati2, Pelangi.. btw, ceritanya bagus, runut dan bener2 kek Qt lagi nonton film...🥰

2024-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!