Dia lagi

BAB 16

Sudah beberapa hari Pelangi bekerja dengan bayang-bayang Lusi di belakangnya. Para karyawan lain melihat Lusi sebagai sekertaris yang disiapkan untuk menggantikan Pelangi. Di lihat dari penampilan dan postur tubuh Lusi yang sangat mendukung. Tinggi, kulitnya berwarna Tan dan wajah yang terlihat cantik sekaligus tegas.

Dibandingkan Pelangi yang terlihat putih pucat karena menggunakan makeup yang tipis. Tubuhnya pun tidak terlalu tinggi.

Pelangi memperhatikan Abyseka dari balik tirai jendela kaca pemisah ruangan. Belakangan ini Abyseka terlihat sangat sibuk. Mereka jarang mengobrol panjang lebar seperti biasanya.

Berangkat dan pulang kantor mereka masih bersama. Namun tidak ada obrolan yang berarti. Abyseka lebih banyak memperhatikan handphone atau laptopnya. Perbaikan struktur karyawan perusahaan dan pertemuan dengan investor membuat Abyseka seolah tidak punya banyak waktu untuk mereka berdua.

"Anda merindukan Tuan, Nona?"pertanyaan Lusi membuyarkan lamunan Pelangi.

"Ya. Tapi kelihatannya dia tidak merasa ada apa-apa Kak Lu." Pelangi mulai terbiasa dengan kehadiran Lusi.

"Mungkin sedang sibuk jadi melupakan perasaannya lebih dahulu untuk sementara."

"Ya, aku yakin itu. Tapi...makin lama aku merasa seperti ada sebuah tembok transparan yang berdiri diantara kami berdua. Bisa saling melihat namun tidak bisa saling menyentuh."

"Itu hanya perasaan Nona saja."

"Kita ke cafe dekat pertigaan yuk. Aku pingin makan es krim yang banyak biar moodku baik lagi."

"Mari..."Lusi membantu menggeser tempat duduk Pelangi. Berdua keluar dari kantor dan bejalan menyusuri trotoar menuju cafe gelato yang di inginkan Pelangi.

Lusi memesankan gelato kegemaran Pelangi, coklat stroberi dan rasa coffe latte untuk dirinya sendiri.

Begitu pesanan sampai, Pelangi langsung menyantapnya dengan lahap.

"Haahh...nikmat banget.Kak Lu selalu pesan yang rasa coffe?" tanya Pelangi.

"Ya. Apapun rasanya lebih nikmat kalau rasa coffe."

"Sate atau sayur asem rasa coffe enak nggak?"

Lusi tergelak tertahan, "Kapan-kapan akan kubuat masakan itu. Mudah-mudahan enak."

Pelangi mengaduk-aduk gelato di hadapannya. Dinginnya gelato belum mampu mendinginkan hatinya yang berkecamuk tidak beraturan.

"Masih galau soal Tuan Abyseka?"

"Haaahh....entahlah. Rasanya tidak nyaman saja punya rasa tidak menentu seperti ini."

"Kak Lu liat sendiri kan perbedaan kami terlalu mencolok. Dulu, aku pikir ketimpangan ini tidak akan terlalu mencolok. Apalagi Kak Aby jarang mengenakan pakaian resmi. Tapi saat ini, rasanya semakin jelas. Aku seperti hanya bayang-bayang tidak jelas."

"Menurut Tuan Zaki, Non Pelangi adalah orang yang sangat penting buat Tuan Abyseka. Jadi beliau mewanti-wanti untuk menjaga Non dengan sangat ketat."

"Aku juga ragu seberapa berartinya aku buat Kak Aby."

"Pasti sangat berarti. Buktinya, saya harus selalu di dekat Non Pelangi. Kalau tidak, buat...."

"Hai..."sapa seseorang. Ratry.

Pelangi dan Lusi sama-sama menoleh ke arah suara. Dengan santainya Ratri langsung duduk di hadapan Pelangi. Dan seperti biasa, ia mengenakan baju yang kurang bahan. Banyak belahan dan benjolan di sana sini.

"Lagi santai? Nggak ada kerjaan? Enak ya, karyawan yang bisa ngerayu Boss, bisa santai sepanjang hari."

"Apa maksudmu?"

"Hmm... semua orang sudah tahu, kalau sekertaris Abyseka adalah kekasihnya. Siapa sih yang tidak kesengsem sama Boss ganteng dan tajir? Tinggal nyodorin badan sama rayuan gombal aja, pasti langsung klepek-klepek."

"Kau pikir Kak Aby orangnya seperti itu? Kalau memang Kak Aby suka yang berdada besar dan sexy kenapa tidak mempan kau rayu?"

Ratry mencibir,"Gimana mau mempan, sudah di goyang olehmu duluan."

"Nona!" Lusi langsung mencekal pergelangan tangan Ratry. "Maaf saya tidak kenal anda, tapi perkataan anda sudah sangat keterlaluan. Sebaiknya anda pergi."

"Heh! Jangan sok ya. Baru jadi sekertaris aja belagu!" Ratry mengibaskan tangannya. "Calon perayu Abyseka juga kamu?"

"Nona! Silahkan pergi! Atau saya bisa berbuat kasar pada anda!"

"Aku jadi penasaran, ajian apa yang kamu pakai sampai Abyseka takluk padamu? Secara kalau dilihat, fisik nggak banget deh. Burik! Jelek! Kekayaan? Miskin macam kamu banyak di sini! Apa kau pernah melakukan sesuatu yang fulgar di hadapannya? Menari....erotis mungkin?!"

Sontak Pelangi langsung menyiramkan gelato yang ada di hadapannya pada Ratry. Dengan wajah terkejut Ratry langsung berdiri dan spontan membalas perbuatan Pelangi dengan melayangkan tangannya pada wajah Pelangi.

Reflek Pelangi memundurkan wajahnya, namun karena space yang kurang luas, jemari Ratry masih menjangkau pipi dan dagunya. Alhasil empat kuku jari Ratry sempat menggores kulit Pelangi.

Lusi dengan sigap langsung meringkus Ratry dan menundukkannya di atas meja. Keributan kecil menarik perhatian pengunjung lain. Dan satpam cafe gelato langsung mendatangi Lusi.

"Lepaskan! Perempuan sialan!" Ratry memberontak berusaha melepaskan diri dari himpitan Lusi. Dengan sekali hentak Lusi langsung membawa Ratry keluar dari cafe gelato. Setelah mendorong Ratry keluar ia langsung memberi penjelasan pada satpam cafe dan bergegas menemui Pelangi.

"Anda tidak apa-apa?" tanya Lusi. Ia memperhatikan luka cakar di pipi bawah dan dagu Pelangi.

"Kita ke toilet dulu." Pelangi mengajak Lusi ke toilet wanita. Lusi membantu membersihkan luka cakaran dan menempelkan handyplast.

"lebih baik kita kembali ke kantor."

"Ayo."

Baru saja mereka keluar cafe, Abyseka tiba-tiba sudah menghampiri Pelangi dengan wajah khawatir tapi juga marah.

"Apa yang terjadi!?" kata Abyseka dengan suara keras pada Lusi. "Aku menyuruhmu menjaganya bukan?!"

"Maaf..."

Abyseka mencengkeram lengan Pelangi, "Sudah kubilang jangan jauh-jauh dariku! Apa kau tidak memperhatikan itu? Apa harus....aahhhh!" Abyseka melepas cengkeramannya dengan kesal.

"Tuan, kita mengobati luka Nona Pelangi dahulu," Sela Zaki diantara kekesalan Abyseka.

Abysekapun menggandeng tangan Pelangi masuk kedalam mobil. Diikuti Zaki dan Lusi.

Sesampainya di kantor, Abyseka langsung memeriksa luka di pipi Pelangi.

"Zaki, tanyakan pada Lusi kronologinya. Sampai se detail mungkin. Aku mau tau apa maunya perempuan itu."

"Baik,"jawab Zaki. Kemudian mengajak Lusi ke ruangannya. Abyseka mengajak Pelangi ke ruang istirahatnya.

Sampai di dalam sontak Abyseka langsung memeluk Pelangi dengan kuat-kuat.

"Kau tau betapa paniknya aku ketika lampu sos yang dikirim Lusi pada Zaki berkedip-kedip. Aku sudah membayangkan sesuatu yang buruk terjadi padamu."

"Aku tidak apa-apa. Lihatkan, hanya tergores sedikit."

"Aku khawatir begitu melihatmu tidak ada di tempat. Aku mencari ke ruang Viona, kau tidak ada juga. Aku tambah panik ketika lampu sos itu menyala. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku tidak akan sanggup melihatmu tergeletak...atau...akhh..."

Pelangi menepuk-nepuk punggung Abyseka perlahan berusaha menenangkannya.

"Berjanjilah tidak akan jauh-jauh dariku lagi."

"Iya...aku janji."

"Setelah kejadian ini selesai tuntas, aku segera melamarmu. Aku akan ke Ibukota dan langsung meminta Papa melamar."

"Tapi...Kak. Aku...apa tidak terlalu buru-buru?"

"Kenapa? Siap belum siap harus mau. Tidak ada tawar menawar Apalagi menolak."

"Kak...mmmhhh" belum lagi Pelangi melontarkan argumennya sudah di bungkam dengan ciuman Abyseka.

Awalnya ciuman seperti biasa saja. Namun ketika Pelangi mulai membalasnya yang biasa menjadi intens dan memburu. Keduanya larut dalam pagutan yang membara. Sampai batas nafas yang membuat mereka berhenti.

"Kita berhenti di sini dulu..." kata Pelangi sembari mengatur nafasnya.

"Ya...atau kita akan melangkah lebih gila lagi. Aku tidak akan bisa menahannya."

Pelangi mengurai pelukannya, wajahnya memerah mengingat apa yang barusan ia lakukan. Abyseka tersenyum dan mencubit pipi Pelangi.

"Sakit Kak..."

"Pipi kamu nggemesin. Kaya udang goreng..."

"Iiihhh...!"

Ketika sampai di Apartemen, Abyseka tidak langsung menuju apartemennya, ia masih menemani Pelangi bahkan makan malam di apartemen Pelangi.

"Yakin bisa kutinggal?" tanya Abyseka,ketika dilihatnya Pelangi mulai mengantuk.

" Bisa dong. Aku tidak apa Kak. Nanti kalau aku tidak bisa tidur dan mimpi buruk, aku langsung menelpon Kak Aby."

"Betul ya..."

"Ya..."

"Ok, Aku ke rumahku dulu. Kalau butuh apa-apa langsung telpon. Jangan keluyuran sendiri. Mengerti?"Abyseka mengcup puncak kepala Pelangi kemudian keluar apartemen. Dipastikannya Pelangi menutup dan mengunci pintu terlebih dahulu baru ia kembali ke apartemennya di lantai sepuluh.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

sempurna banget kehidupan pelangi..😍

2024-07-11

0

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Diuuuuh ..sensi bgts Aby...😃

2024-02-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!