BAB 14
Pelangi langsung berlari masuk ke ruangan Departemen keuangan. Di carinya sosok Tata.
"Apa yang terjadi?" Pelangi menghampiri Tata.
Yang di tanya hanya tersenyum, "Ada yang naksir...mau nanya malu. Terus maksudnya menyapa tapi kebablasan."
Tata menunjukkan lengannya yang terluka. Kemaren sepulang kantor, Tata sengaja di serempet sepeda motor. Tata dengan sigap menghindar. Namun naas, ketika menghindar tangannya justru membentur pagar seng yang digunakan untuk menutupi gedung yang sedang dibangun. Alhasil tujuh jahitan menghiasi tangan kirinya.
"Kau tau ini akan terjadi?" tanya Pelangi.
"Ya, kau juga tahukan? Sejak kamu di serempet depan cafe kemaren."
"Ya. Tuan Abimanyu menyuruh kita semua untuk lebih waspada." Sampai besok."
"Aku akan tinggal bersama Emi untuk sementara waktu. Apartemennya lumayan luas. Jadi kita bisa saling menjaga."
"Ok. Aku kembali ke ruang Tuan Abyseka ya."
"Ok."
Pelangi menarik nafas panjang mengingat apa yang terjadi pada sahabatnya. Seharusnya ia mengingatkan Tata,Emi dan Indah lebih awal agar hati-hati. Karena yang menjadi lawannya adalah orang berduit yang mampu menyewa bodyguard terkuat. Sedangkan dirinya hanya seorang pegawai biasa.
"Ada apa? Dari tadi nafasnya di buangin gitu. Hidungmu tidak sakit'?" tanya Abyseka.
"Haaah... Tata tangannya terluka karena di serempet motor." Sama seperti aku waktu itu."
"Parah?" Berapa jahitan?"
"hanya tujuh jahitan."
"Zaki,"Abyseka langsung menelpon Zaki, "Berikan pengawal pada teman-teman Pelangi. Bawa juga Tata ke dokter terbaik untuk luka-lukanya. Ya...biaya ditanggung perusahaan."
"Apa itu tidak berlebihan?"
"Bagian mana yang kamu maksud berlebihan?"
"Pengawal. Bodyguard."
"Mereka akan menjaga jarak agar temanmu masih merasa nyaman. Tinggal besok, Bertahanlah"
"Aku pikir ini tidak hanya sampai besok. Masih ada orang-orangnya yang ada di luar perusahaan. Mereka bisa saja melakukan kekerasan setelah besok."
Abyseka tersenyum, "Bukan Arjuna namanya bila tidak memiliki pemikiran yang cerdas. Akan kuatasi semua."
"Benarkah? Aku percaya padamu" Pelangi tersenyum.
#####
Sepulang kerja, Abyseka mengajak Pelangi makan malam di sebuah resto seafood. Agak jauh dari keramaian karena lebih dekat ke area pantai.
Bersama Zaki dan Pak Hadi mereka berempat meluncur kearah pantai. Melewati jalanan yang agak sepi. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang.
"Tidak apa-apa kah kita lewat jalan sepi seperti ini?"
"Hanya jalannya saja yang sepi, nanti sampai di area pantainya sudah ramai lagi. Di sana tempat objek wisata pantai dan banyak resort di sana. Jadi pasti ramai."
Beberapa saat kemudian ada sejumlah pengendara sepeda motor yang mengelilingi mobil mereka. Spontan Pelangi memeluk lengan Abyseka.
"Pak, tunggu di mobil jaga Pelangi ya," kata Abyseka, "Zaki kita lihat apa mau mereka. Tepikan mobilnya Pak."
"Baik."
Abyseka dan Zaki keluar dari mobil. Belum lagi mereka berbicara, beberapa orang dari pemotor langsung menyerang Abyseka dan Zaki. Tendangan dan pukulan bisa di tangkis dan dihindari oleh mereka berdua. Bahkan tendangan, pukulan balasan dari Abyseka dan Zaki dapat melumpuhkan beberapa orang dari pengendara itu.
Tiga orang tersungkur jatuh terkena tendangan Abyseka. Yang lain.ulai maju menyerang lagi. Mereka menggenadarai motor sebanyak 5 buah. Masing-masing motor di naiki dua orang.
Ada dua orang yang berusaha membuka pintu mobil. Karena tidak berhasil, mereka memecahkan kaca jendela di samping Pak Hadi. Kemudian menyeret Pak Hadi keluar dari mobil sedang yang lainnya langsung menarik Pelangi keluar.
Dua orang yang menyeret Pak Hadi, salah satunya di pukul dan terhempas ke tanah oleh Zaki. Abyseka sendiri berusaha menolong Pelangi namun di halangi dua orang pengendara.
Sedangkan seorang yang masih menahan Pelangi, terus menyeret gadis itu menjauh dari mobil.
Sekali hentakan Pelangi bisa menahan dirinya dari seretan orang itu. Tangannya memegang tangan yang menekan tubuhnya kemudian menyikut dan membanting pengendara itu ke tanah.
Melihat rekannya tumbang, dua orang yang sedang mengeroyok Abyseka langsung berbalik hendak melumpuhkan Pelangi. Namun dengan sigap Pelangi menendang dan memukul titik-titik lemah lawannya. Ia berlari ke arah mobil dan mengeluarkan sebuah tongkat besi yang biasa digunakan untuk menaikkan dan menurunkan dongkrak. Dengan gesit Pelangi menggunakan tongkat besi itu untuk melumpuhkan dua orang penyerang. Kemudian .enyerahkan tongkat pada Zaki yang ada di dekatnya.
Abyseka mundur dan mendekati Pelangi. Ia dibuat takjub atas aksi Pelangi. Tak di sangkanya Pelangi mampu melawan orang-orang yang hendak menyandranya.
"Kau istirahatlah," Abyseka memegang lengan Pelangi yang hendak kembali maju. "Biarkan Aku, Zaki dan Pak Hadi yang menghadapi mereka."
"Tapi aku ingin membantu, rasanya adrenalinkusudah mulai meningkat."
"Cukup! Jangan mempermalukan kami yang laki-laki. Ok?!"
"Tapi..."
"Pelangi...."
"Baiklah. Tak ada penolakan..."
Hampir semua para menyerang tergeletak di tanah. Zaki dan Pak Hadi menyeret salahsatu dari mereka dan mengintrogasi. Siapa yang menyuruh mereka dan apa motivasi mereka sebenarnya.
Pelangi tidak tahu apa yang mereka bicarakan,
ia disuruh Abyseka berada pada jarak yang cukup jauh dari mereka.
Hampir setengah jam Pelangi menunggu di mobil barulah. Abyseka,Zaki dan Pak Hadi kembali ke mobil.
"Bagaimana? Siapa mereka?Apa ada kaitannya dengan kasus yang kita akan selesaikan besok? Mereka mengaku? Mereka mau menjadi saksi?"
"Pelangi..."
"Ayolah Kak Aby....Kak Zaki...aku penasaran nih."
"Jalan Pak. Kita makan dulu, "kata Abyseka.
"Kak Aby...."
"Sekarang, kamu harus jelaskan ke kita. Bagaimana kamu bisa berkelahi? Di biodatamu tidak pernah menyebutkan ikut kursus beladiri manapun."
Pelangi tersenyum. Nyengir kuda kata orang Jawa.
"Pelangi..."
"Aku.dan Tata ikut latihan karate sejak kecil. Kami pernah satu SD dan SMP."
"Ya, itu aku tahu. Terus?"
"SMU Tata pindah kota. Kami berjumpa lagi ketika kerja di perusahaan yang sekarang. Aku terus melanjutkan karate sampai lulus SMU. Karena kuliah harus pindah ke kota Y,jadi berhenti karatenya."
"Mengapa tidak di cantumkan dalam CV mu?" tanya Zaki.
"Banyak perusahaan yang menolakku karena kumasukkan karate itu. Tadinya aku tidak mengetahuinya. Suatu saat di sebuah perusahaan, aku memberanikan diri bertanya mengapa mereka menolakku. Ya....itu tadi. Karena aku bisa berkelahi, mereka tidak menerima karyawan yang berpotensi membuat keonaran."
"Apa warna banmu?" tanya Abyseka.
"Coklat."
Zaki bersiul terkagum, Pak Hadi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Fuuhh!...Kita ternyata tim yang lengkap ya."
"Maksudnya?"
"Aku sudah mewanti-wanti para pengawal untuk menjagamu dengan ekstra ketat. Aku agak lega, karena bila keadaan mendesak, setidaknya kamu bisa melindungi dirimu sendiri."
"Simpaiku bilang, setidaknya jika terdesak kita bisa pakai jurus langkah seribu dan parkur. Maka akan sulit di kejar."
"Kau bisa parkur juga?"
"Ya sedikit...belum ahli. Setidaknya antar tembok tetangga, bisa kulewati."
"Aku tidak tahu...kejutan apa lagi yang bisa kau perlihatkan padaku."
Nyengir lagi," Itu rahasia. Tunggu tanggal tayangnya."
"Ayo turun. Makan yang banyak biar energimu pulih."
"Woke....asal jangan menggerutu bila kukuras rekeningmu untuk makan malamku kali ini."
Abyseka mengacak rambut Pelangi. Kebiasaan! Dia tidak akan merasa dirugikan bila semuanya untuk kebutuhan Pelangi.
Abyseka senang melihat Pelangi begitu bersemangat menghabiskan menu seafoodnya.
"Pelan-pelan saja. Semua untukmu kok...."
"Ihh...Kak Aby"
Pak Hadi dan Zaki yang duduk berlainan meja namun tidak jauh, tersenyum mendengar candaan kedua sejoli itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ummu Jihad Elmoro
MaasyaAllah.. pelangi ternyata multi talenta .🤭
2024-07-11
0
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Hmm...mulai ber bunga2 nech Aby & Pelangi.....💖
2024-02-13
0