BAB 11
Sudah hampir dua Minggu Pelangi bolak balik pabrik dan kantor pusat. Memang pake mobil, di sopirin lagi. Tapi menurut Pelangi capeknya sama seperti habis hiking sepanjang hari.
Sabtu ini tidak jadi libur. Tuan Abyseka meminta Pelangi menemaninya melihat kinerja pegawai pabrik.
Keliling lagi, bakalan pegel ini betis. Sudah janjian sama Mama mau ketemuan di bukit Pinus. Nggak jadi deh. Batin Pelangi Kesal.
Selesai berisap-siap Pelangi langsung menuju halte dekat apartemennya. Untung tidak di suruh masuk seperti jam kerja biasa jadi pagi-pagi Pelangi agak santai.
Tiba-tiba mobil Tuan Abyseka berhenti di tepi halte.
"Pelangi..."panggil Tuan Abyseka. Pelangi menoleh dan langsung menghampiri.
"Ya Tuan."
"Naik..." setelah Pelangi duduk di samping Tuan Abyseka, "Kamu tidak membaca pesanku?"
"Pesan?...Tidak. Maaf"
"Aku sudah kirim pesan kalau kita berangkat bersama. Makanya jangan ngelamun saja, hp bunyi jadi tidak dengar."
Pelangi melirik Abyseka yang sedang menyetir. Bila hari Sabtu biasanya memang Abyseka ke kantor tidak menggunakan pakaian formal. Ia hanya menggunakan hem lengan panjang yang di tekuk lengannya dan celana panjang. Sedangkan Pelangi juga hanya mengenakan blous biasa. berlengan pendek, celana panjang dan flatshoes.
"Sudah makan pagi?"tanya Abyseka. Ia belum makan karena hari Sabtu tidak ada kewajiban Pelangi untuk membuatkannya sarapan.
"Belum...tapi saya biasanya makan di warung di depan pabrik."
"Di resto itu?"
"Bukan...di warung siomay, yang dekat mie ayam dan bakso."
"Apa di situ dijamin kebersihannya? Bahan makanannya dan caranya memasak. Apa gaji yang aku beri kurang sampai harus makan di pinggir jalan begitu?"
"Bukan begitu....kadang saya juga kangen sama makanan sederhana seperti...itu"
"Ok, kita akan pagi siomay yang lebih higenis dan layak."
"Tapi...kita akan terlambat ke kantor."
"Biar saja. Akukan bossnya."
Ya..boss besarnya. Mau apa juga bebas. Pelangi diam tidak berani menyanggah perkataan Abyseka. Apa kata alu dah Boss.
Mereka memasuki restoran yang menyediakan siomay keinginan Pelangi. Kali ini entah mengapa, rasanya tubuh Pelangi lebih lungkrah dari biasanya. Rasanya males untuk di ajak jalan kesana kemari.
Selesai makan, mereka berdua langsung menuju pabrik. Tidak banyak terjadi percakapan diantara mereka.
Sesampainya di pabrik Abyseka langsung menuju ruangannya untuk memeriksa beberapa dokumen. Kemudian mengajak Pelangi berkeliling.
"Ayo kita liat bagian produksi. Kan ada produk baru. Jadi kita liat juga prototipenya di ruang lab."
"Baik..." kata Pelangi ogah-ogahan. Kakinya terasa berat diajak melangkah.
Mereka melihat ke bagian produksi. Dimana tangan-tangan robot menyolder, menyambung, melipat dan entah apa lagi. Hanya ada sedikit pekerja yang menjadi operator mesin-mesin tangan robot itu. Lanjut ke bagian paking. Di sini banyak menyerap tenaga kerja. Karena membungkus bagian perbagiannya. Entah itu hp, charger, kabel-kabel, dan printilan lainnya.
Mereka lanjut lagi ke bagian paking dengan kardus-kardus besar untuk di salurkan ke berbagai kota dalam negri dan luar negri.
Pelangi merasa kakinya melemas, entah kenapa, kepalanya juga terasa berat.
"Pelangi..."samar ia mendengar Abyseka memanggil namanya dan tubuhnya serasa di peluk seseorang.
Abyseka sendiri sudah merasa ada yang tidak beres dengan Pelangi. Dia lebih pendiam dan matanya terlihat lebih sayu, tidak bersemangat seperti biasanya.
Abyseka mengira karena Pelangi belum makan pagi. Jadi di ajaknya gadis itu untuk sarapan.
Namun ketika berkliling melihat keadaan pabrik, Abyseka selalu mendapati Pelangi tidak konsentrasi dan menjawab pertanyaannya duakali lebih lambat dari biasanya. Bahkan kecepatan langkahnya juga melambat, Abyseka sampai harus diam berdiri di tempan menunggu Pelangi menyusulnya
"Pelangi...kamu kurang sehat?" tanya Abyseka, namun yang di tanya hanya diam, seperti tidak mendengar. Terlebih lagi suara pabrik yang sangat bising.
Sampai di bagian pengepakan untuk pengiriman keluar negri, Abyseka merasa langkah Pelangi sangat melambat. Untung saja ia melihat ke arah Pelangi dan di lihatnya gadis itu limbung seperti kehilangan keseimbangannya. Reflek Abyseka menangkap tubuh Pelangi dan menggendongnya ala bridalstyle. Kemudian membawanya ke dalam kantor.
Dengan hati-hati di baringkannya Pelangi di ruang istirahat pribadinya. kemudian menyelimuti sampai sebatas perut. Dengan telaten Abyseka melepas sepatu Pelangi, dan membuka pengait celana panjangnya agar pernafasannya tidak terganggu.
Dengan hati-hati Abyseka menempelkan minyak angin ke hidung Pelangi agar segera siuman. Setelah berusaha tiga kali, baru berhasil. Dilihatnya mata Pelangi berkedip-kedip.
"Pelangi..." panggil Abyseka perlahan sambil menepuk-nepuk pipinya. Pelangi mbuka matanya. Ia berusaha bangkit namun di. cegah oleh Abyseka.
"Jangan bangun dulu. Berbaring saja, aku tambah bantalnya biar agak tegak tidurmu." Abyseka membantu menegakkan tubuh Pelangi dan menambah bantal di punggung dan pundak.
"Bagaiman rasanya?" tanya Abyseka. "Pusing? Atau ada bagian tubuhmu yang sakit?"
Pelangi menggeleng, "Tidak ada yang sakit, ranya lemas saja."
Abyseka berdiri dari duduknya, mengambil teh panas dari meja kerjanya. Tadi ia sempat memesan kebagian apantri untuk membuatkan teh panas.
"Minum teh dulu. Aku bantu." Abyseka duduk di samping Pelangi dan membantunya minum. Di suapinya Pelangi sesendok demi sesendok. Kemudian mengelap air yang hampir jatuh dari bibir Pelangi. Sontak Pelangi merasakan pipinya menghangat.
"Cukup?"
Pelangi mengangguk. Cukup, cukup membuat pipi memerah dan jantung berdebar hebat. Tanda masih hidup.
Pelangi mengangguk, " Terimakasih Tuan."
"Berbaringlah di sini dulu, tidak usah tergesa-gesa pulang. Aku di ruang sebelah bila kau membutuhkan sesuatu. Panggil aku saja, ok?"
Sekali lagi Pelangi mengangguk.
Kenapa pake pingsan segala sih? Bikin malu aja...Apa iya cara badan ini ngerayu si Tuan Boss begini caranya? Bikin malu dunia perempuan Pelangi....Pelangi... nasib...nasib. Tapi, kalau cerita ke trio mupeng. Pasti Mereka teriak-teriak iri. Pengen di gendong juga sama Tuan Abyseka.
Pelangi menepuk jidatnya beberapa kali. Ayo kuat Pelangi ..kuat. Waktunya pulang dan tidur nyenyak di rumah. Pelangi berusaha bangkit dari tidurnya. Kemudian sedikit merapihkan tempat tidur lalu berjalan keluar.
"Tuan..." Pelangi menyapa Abyseka yang berada di meja kerjanya.
Abyseka berdiri dan menghampiri pelangi, "Sudah agak kuat? Mau pulang? Ayo aku antar." Abyseka menempelkan tangannya di dahi Pelangi. Tidak panas.
"Saya pulang naik taxi saja Tuan."
"Pelangi aku tidak..."
"Ya Tuan." Pelangi buru-menjawab. Ia sudah tau apa lanjutan perkataan Abyseka.
Keluar dari ruang kerja Abyseka sampai tempat parkir, Abyseka terus memegangi Pelangi. Tangan kanannya melingkar di punggung Pelangi dan memegangi lengan dari belakang.
Sedang tangan kanannya menggenggam jemari Pelangi.
Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir Pelangi hanya bisa menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.
Berpasang-pasang mata menatap ke arah mereka. Dan itu membuat Pelangi jengah. Sedang Tuan Abyseka tampak tidak perduli. Ia tetap membimbing Pelang isampai tempat parkir. Bahkan membantu Pelangi duduk di samping supir.
"Kita mampir beli makan dulu ya."
"Tuan, saya merasa pingin? langsung tiduran saja. Maaf, anda membeli makan lewat pesan antar saja ya. Maaf, sekali."
"Baiklah, kita bungkus saja."
Pelangi menyerah akan keputusan Abyseka. Orang paling jarang menerima penolakkan. Semua keputusannya harus di setujui.
Di sebuah restoran Abyseka memarkirkan mobilnya dan keluar untuk memesan makanan. Sedang Puspa tetap di dalam mobil sedikit merebahkan sandaran kursinya. Kemudian menutup matanya, ia merasa seluruh badannya lungkrah.
Setelah membawa pesanannya, Abyseka kembali ke mobil. Dilihatnya Pelangi tertidur. Perlahan Abyseka sedikit menurunkan sandaran kursi yang di pakai Pelangi, agar tidur gadis itu lebih nyaman.
Kemudian menyelimuti Pelangi dengan selimut yang ada di jok belakang. Abyseka menyetir mobilnya dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan Pelangi. Sesekali diliriknya gadis itu, apakah dia terbangun atau tidak.
Sesampainya di apartemen Abyseka menggendong Pelangi dan meminta satpam untuk membawakan tas serta makanan pesanannya.
"Kenapa Nona ini Tuan?"tanya satpam apartemen. "Bukankah ini Nona yang tinggal di lantai sembilan?"
"Iya Pak. Dia pingsan tadi di kantor. Tolong bawakan tas dan kantong makanan itu Pak. Saya akan membawa gadis ini ke apartemennya." kata Abyseka memelankan suaranya.
"Baik. Tuan tinggal di lantai sepuluhkan?" Apa Tuan mengenal Nona ini?"
"Ya, saya kenal Pak."
Abyseka menggendong Pelangi ala bridal style menuju lift untuk ke lantai sembilan. Pak satpam mengikutinya dari belakang. Setelah memasukkan code pintu apartemen, Abyseka langsung menidurkan Pelangi di kamarnya.
"Tuan, tas dan kantongnya saya taruh di meja ini ya. Saya permisi kembali ke pos Tuan." kata Pak satpam yang membantu Abyseka.
"Ya Pak terimakasih banyak."
Abyseka kemudian kembali ke apartemennya. Membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan kaos oblong dan celana panjang rumah. Agar lebih nyaman. Dan kembali ke apartemen milik Pelangi. Tidak lupa membawa laptopnya. Ia berniat menunggu Pelangi sambil bekerja.
Abyseka menempatkan makan malam yang di belinya ke dalam piring dan mangkuk yang di ambil ya dari kabinet di dapur Pelangi.
Kemudian masuk kamar melihat Pelangi yang masih tertidur pulas. Abyseka tersenyum sambil duduk di samping Pelangi. Ia mengelus pipi Pelangi yang mulus.
Bangun Pelangi, lihat aku. Jangan membuatku khawatir lagi. Mengapa setiap kali aku ingin lebih dekat dengannya, ia selalu pingsan. Apa aku begitu menakutkan? Seperti kata Abim?
"Pelangi....bangunlah. Pelangi...."Abyseka menyapu pipi Pelangi dengan punggung jemarinya.
Perlahan Pelangi membuka matanya. "Tuan."
"Ayo makan dulu, baru tidur lagi."
Pelangi membuka matanya ketika di lihatnya Abyseka begitu dekat dengan dirinya. Ia melihat kesekelilingnya.
Ini kamarku, tapi kenapa Arjun ada di kamarku?
"Tadi kamu tertidur di mobil, jadi aku angkat saja ke apartemenmu." seolah Abyseka dapat membaca pikiran Pelangi.
"Ayo aku bantu duduk. Makan malam dulu, tadi aku beli ikan fillet saus lada hitam. Cah kangkung dan perkedel kentang. Aku ambilkan."
Abyseka beranjak dari duduknya, Pelangi baru saja kendak menurunkan kakinya dari tempat tidur abiseka sudah menahannya.
"Sudah kubawakan makanannya.Tetaplah di tempat tidur. Aku suapi." Abyseka menyodorkan sesendok nasi dan lauk ke dekat bibir Pelangi.
"Tuan, say bisa sendiri. Saya tidak lumpuh total, masih bisa mengangkat tangan."
"Pelangi..." Abyseka tetap menyodorkan sendok ya ke dekat bibir Pelangi. Dengan terpaksa dan sedikit malu, Pelangi membuka mulutnya. Semburat merah langsung menyambar seluruh permukaan wajahnya.
"Tidak usah malu dan tidak enak hati begitu. Aku melakukannya denga ikhlas." kata Abyseka sambil terus menyuapi Pelangi. Sesekali di hapusnya nasi atau saus yang tertinggal disudut bibir Pelangi dengan tisu.
Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya, hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Pelangi lebih sering menunduk, menghindari tatapan Abyseka yang terasa masuk kedalam matanya.
Selesai menyuapi, Abyseka memberi Pelangi segelas air putih hangat dan obat penurun panas. Karena ketika tangannya menyentuh pipi Pelangi tadi, terasa agak panas.
"Tidurlah lagi. Aku ada di ruang tengah bila memerlukan sesuatu."
Abyseka membantu Pelangi berbaring dengan setengah memeluk tubuh Pelangi. Sekali lagi rasa panas menjalar ke seluruh wajah Pelangi.
Abyseka tersenyum gemas melihat pipi Pelangi merona.
"Tuan menginap di rumahku?" tanya Pelangi.
"Ya. Supaya bisa menjagamu lebih mudah. Daripada tetap di apartemen ku dan harus bolak-balik memeriksamu."
"Jangan khawatir, aku akan menjagamu bukan mencelakaimu. Tidur saja dengan tenang."
Abyseka mematikan lampu utama kamar dan.enyalkan lampu tidur agar Pelangi lebih nyaman. Kemudian keluar dan menutup pintu.
Sebelum memulai pekerjaannya, Abyseka makan malam terlebih dahulu. Kemudian mulai tenggelam dalam pekerjaannya.
Hampir tengah malam Abyseka merasa punggungnya mulai pegal. Iapun mulai meregangkan punggung dan tangannya. Ah...nyaman sekali.
Apartemen Pelangi memang di atur oleh pelangi dengan dekor yang home sekali. Terasa lebih hangat dan nyaman. Sofa dengan bantal-bantal yang lembut. Karpetnya juga berwarna coklat soft.
Tidak terasa sudah berjam-jam Abyseka duduk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku pasti ketagihan bekerja di ruangan ini. Nyaman sekali. Pelangi pintar sekali mengatur interior partemennya hingga terasa tidak membosankan.
Abyseka berdiri dan menuju kamar Pelangi. Dilihatnya gadis itu masih tidur dengan nyenyak. Abi menyentuh dahi Pelangi. Sudah tidak panas.
Dilihatnya gadis it tidur melengkung memeluk guling. Nyamankah tidur seperti itu? Abyseka merbahkan dirinya di samping pelangi.
Aku ingin melihat wajahnya yang tertidur damai. Sebentar saja.
Abyseka tidur dengan posisi miring menghadap kearah Pelangi. Sedang pelangi tidur meringkuk menghadap ke arah Abyseka.
Rasa nyaman menyergap Abyseka, melihat wajah Pelangi.
Andai saja bisa kulihat wajah damai seperti ini setiap hari.
Tanpa di sadari Abyseka ikut tertidur. Rasanya lelah dan penat menghadapi tantangan di perusahaannya terurai, terlepas satu demi satu melihat pemandangan damai di hadapannya. Ia ikut tenggelam dalam tidur yang pulas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ummu Jihad Elmoro
pipiku ikutan merona, Thor... hiks.. hiks..🫣
2024-07-11
0
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
mulai ada bintang2 cinta nech tnpa Abyseka sadari....💖
2024-02-12
0