BAB 19
Siang .menjelang sore Abyseka baru sampai di dalam panthaousnya yang mewah. Papa Rahardi dan mama menyambut kedatangan Abyseka.
"Gimana kesehatanmu Aby?" tanya Papa.
"Baik Pah....Hanya kadang-kadang kaki ini masih ngilu kalau jalan terlalu lama."
"Kamu kamu sudah istirahat cukup, kita cek ke dokter Hung di Singapura ya." kata Mama. "Sekedar ngecek, keadaan kakimu dan pan yang di pinggang dan di kaki apa harus di ganti atau di perbaiki posisinya."
"Ya Mah...oh ya si Sar mana?"
"Lagi sok sibuk bikin skripsi. Saras, Aby.... si Sar kayak abang-abang di pengkolan..."
Abyseka tertawa mendengar jawaban mama.
"Abe ke kamar dulu Mah. Dan koper yang ini isinya oleh-oleh semua. Mama bongkar aja."
"Wohhh..mama paling suka bongkar koper oleh-oleh."
Papa Rahardi geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya. Sedang Aby langsung naik ke kamarnya yang sangat lega.
Abyseka merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan besar. Tangannya langsung menyambar hp di kantong bajunya. Menuliskan sebuah nama dan...
"Halo...aku baru sampai. Sedang berbaring sambil memikirkan Pelangiku sedang apa sekarang?"
******
"Belum pulang kantor? Apa perlu ku protes si Abim, membuatmu lembur."
*******
"Ok. Aku mandi dan istirahat dulu ya. Nanti malam kutelpon lagi."
******¹
Abyseka menutup telponnya dan mencoba untuk tidur. Mengistirahatkan fisik dan pikirannya. Karena besok ia harus mulai bergerak membereskan apa saja yang tidak berjalan sesuai rencananya.
Entah seberapa lama Abyseka tertidur, sampai di rasanya ada seorang yang memeluknya dari belakang. Spontan tangannya langsung memiting tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Aawww...Kak! Aaww...Sakiiit!"
"Sar? Makanya jangan ngagetin!"
"Iiihhh...manusia kejam! Nggak ada perasaan sama sekali!" Saras menggelus-elus tangannya yang sakit.
"Maaf. Ngagetin sih. Darimana kamu Sar? keluyuran melulu."
"Cari pengalaman hiduplah," Saras berbaring di kasur Abyseka sembari menyilangkan kakinya.
"Jangan terlalu sering gaul sama abang-abang di luar sana. Skripsimu sudah beres?"
"Sebenarnya....skripsimu sudah kelar Kak. Cuma...aku bilang sama mama belum selesai."
"Kamu...."
"Sabar....aku sedang ngerjain proyek sekolah 'akar rumput' punya kakak yang lama terbengkalai, karena kecelakaan itu."
"Terus?"
"Tinggal tunggu wisuda. Santai.... Oh ya Kak, "
Saras bangkit dan duduk bersila di tempat.
"Ada beberapa anak-anak didik yang melihat Kakak di cafe Senja ketika hari kecelakaan itu. Kebetulan mereka sedang berjualan air mineral di traficlight dekat situ"
"Mereka tau itu aku?"
"Tau dong, siapa yang nggak kenal dengan Paman Kaki Panjang?"
"Paman...apa?"
"Paman Kaki Panjang....yang di komic Candy candy. Ah sudahlah....orang kaku macam Kakak mana ngerti cerita komic."
"Lain kali bila mereka melihatku jangan berusaha menegur. Takutnya nanti ada orang yang berniat jahat, mereka kena imbasnya."
"Ya, itu sudah kuperingatkan pada mereka. Beberapa hari lalu juga mereka melaporkan wanita yang bersama Kakak hari itu ada di dekat sini."
"Ratry?"
"Tebak siapa yang ia temui?"
"Om Heru sepupu Papa?"
"Tepat!"
"Sudah kuduga. Besok aku mulai menyelidiki. Sekarang istirahat dulu. Ajak Papa dan Mama makan malam di luar. Sekalian memancing siapa saja yang bereaksi dengan kedatanganku kembali ke sini."
"Ok!" Saras melompat turun dari tempat tidur dan melesat keluar kamar Abyseka. Aby bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Menyalakan kran air panas di atas bathub kemudian merendam tubuhnya yang terasa sedikit lelah.
Malam harinya Keluarga Rahardi berkumpul di sebuah Resto yang sangat terkenal dan mewah. Makan malam dengan hidangan kelas atas. Keluarga Rahardi makan dengan santai dan penuh keceriaan.
"Papa tadi telpon Om Heru dan keluarganya supaya kumpul di sini. Juga telpon Sandra. Suruh ke sini sama Papanya, Om Hendra. Kasian bujang lapuk itu nggak ada yang masakin."
"Sandra setuju?" tanya Mama.
"Oh iya...nanti dia nyusul."
Om Hendra adalah kakak pertama Papa, putri tunggalnya bernama Sandra. Tante Hendra meninggal lima tahun lalu. Dan Om Hendra memutuskan untuk sendiri selamanya menemani Sandra di hari tuanya.
"Om Heru ngajak Tante nggak? Atau Ngajak Ruri dan Rian?" tanya Saras.
"Aku suruh semuanya datang."
Beberapa saat kemudian Om Hendra dan Sandra datang. Dengan senyum sumringah dipeluknya Abyseka.
"Kamu sudah benar-benar sehatkan sekarang?" tanya Om Hendra.
"Iya Om."
"Apa di sana suasananya menyenangkan? Kelihatannya wajahmu sumringah sekali."
"Di sana keseringan liat pelangi Om..." Saras menyela.
"Oh ya? Pasti kotanya menyenangkan ya..."
"Pasti Om...pelangi bikin wajah kakak jadi warna-warni."
"Apa Om pindah ke sana ya biar sehat seperti Aby?"
"Iya Om, terus tiap hari bisa di temani pelangi Om. Cerah ceria Om..." Saras nyengir menggoda kakaknya.
Wajah Abyseka sedikit memerah dan melotot ke arah Saras.
"Ayo Kak, di makan hidangannya." sela Papa, "Nggak usah ngelayani si Sar."
"Saras Pah...!" timpal Mama. Semuanya tertawa mendengar ucapan Mama. Ia paling kheki bila anak gadisnya di panggil Si Sar. Padahal yang bersangkutan santai saja. Menurutnya panggilan itu lebih membumi di bandingkan dengan Saraswati, yang terdengar sok elit.
Di tengah-tengah menikmati makanan, Abyseka pamit ke toilet. Ada seseorang yang di lihatnya masuk ke Resto dan langsung menuju toilet.
Keluar dari bilik toilet, Abyseka mencuci tangannya di wastafel, berdiri di samping seseorang berjaket kulit. Desma.
"Selamat datang kembali." kata Desma sambil menyodorkan sebuah flashdisk ke arah Abyseka.
"Ke kamarku nanti malam."
"Baik."
Merekapun berpisah seolah-olah tidak mengenal satu sama lain. Sebelum pergi Abyseka mengambil flashdisk yang di sodorkan Desma padanya.
keluarga Papa hanya terdiri dari tiga orang. Om Hendra andalah anak pertama, Sedang Papa anak kedua dari Keluarga Rahardi. Sedang Om Kendra adalah anak bungsu. Om Kendra meninggal ketika masih usia sangat muda. 25 tahun ketika Om Kendra meninggal.
Menurut Papa, sebuah kecelakaan menyebabkan Om Kendra meninggal. Sedang Mama adalah yatim piatu. Mama besar di Yayasan Yatim piatu yang di naungi keluarga Rahardi. Di sanalah Papa dan Mama bertemu.
Beberapa saat kemudian Om Heru datang bersama Tante Lia, istrinya dan si kembar Ruri dan Rian, putra mereka.
Makan malam pun menjadi sangat meriah. Cerita selalu tersambung satu sama lain. Selalu bersahut sahutan, saling berbalas cerita tanpa putus dan di selingi tawa canda.
Tidak nampak sedikitpun keganjilan di antara keluarga besar Rahardi. Abyseka tidak menangkap keganjilan pada diri Om Heru. Ia tampak biasa saja. Bahkan terlalu biasa.
Selesai makan malam bersama, kedua keluarga pulang ke Panthouse masing-masing. Abyseka langsung masuk ke kamarnya. Sudah pukul 11 malam, ia buru-buru menelpon Pelangi. Telepon ya sudah berdering beberapa kali namun belum juga di angkat.
Pelangi sudah tidur? Apa tidak khawatir aku hanya menelpon pagi tadi. Keterlaluan.....aku seharian memikirkannya, dia sedikitpun tidak memikirkan ku. Gerutu Abyseka.
Sampai pukul satu malam Abyseka masih sulit untuk tidur. Di kepalanya masih berputar-putar soal Pelangi. Tiba-tiba dari sudut tempat tidurnya yang king size, berkedip sebuah lampu kecil dan mengeluarkan suara berkedip yang halus. Hanya terdengar bila seseorang berbaring di tempat tidur saja.
Abyseka langsung bangun dan menuju rak buku yang tinggi menjulang sampai ke langit-langit kamarnya. Abyseka mengambil salah satu buku ensiklopedia yang berada di rak yang cukup tinggi. Menariknya sampai miring dan berbunyi biip! Rak buku bagian tengah perlahan terbuka berputar. Abyseka seka mengikuti perputaran rak, dan sampai di balik rak buku. Rak perputar kembali ke posisi semula. Ada ruangan kecil dengan lampu yang temaram, dan di salah satu dindingnya terdapat pintu berwarna gelap. Abyseka membuka pintu dan masuk dalam ruangan yang cukup besar dengan beberapa peralatan elektronik yang menyala berkedip-kedip.
Desma berdiri di balik meja putih di tengah ruangan.
"Kesulitan datang kemari?" tanya Aby.
"Tidak tuan. Saya menyamarkan pintu keluar masuk jadi kedai kopi dan pintu masuknya jadi Kantor pemiliknya."
"Kamu jadi pemiliknya?"
"Ya, hanya jarang datang. Kira-kira mau ke mari baru pura-pura mengecek kerjaan manager dan karyawan."
"Managernya bisa di percaya?"
"Si Zulian, anak yang kita tolong waktu operasi di daerah P tiga tahun lalu."
Abyseka mengangguk-anggukkan kepalanya, "Suatu saat aku akan mampir dan minum kopi di kedaimu. Apa namanya? Ada makanan ringan selain kopi?"
"Kedai Kopi Kenangan. Ada beberapa roti dan makanan kecil lainnya. Sekedar teman minum kopi."
"Ada perintah apa Tuan memanggil saya kemari?"
"Bagaiman Pelangi?"
"Hari ini menurut laporan, nona Pelangi bekerja lembur sampai jam sembilan. Karena persiapan pergantian Dirut Keuangan dan beberapa manager."
"Pantas dia cepat tidurnya. Aku minta kamu menyelidiki apa hubungan Paman Heru dan Ratry. Bagaimana mereka bisa saling kenal. Seberapa dekat mereka?"
"Baik."
"Aku akan memeriksa apakah masih ada kue yang tersisa di puing-puing mobil di belakang rumah."
"Anda yakin bisa? Mengapa bekas mobil itu tidak di buang saja?"
"Aku yakin bisa. Mungkin papa merasa ada yang salah atau sesuatu yang mengganjal, jadi rongsok mobil itu di simpannya."
"Atlas pernah manghubungimu?"
"Ya, sekali. Ketika berita anda kecelakaan saya terima."
"Dia mengetahui sesutu?"
"Kelihatannya tidak. Atlas mengatakan dia akan menyelidiki dari sisi yang lain."
"Aku akan menanyakan padanya suatu hari."
"Secepatnya Tuan."
"Ya. Oh...apa yang kau bawa itu?"
"Kopi tuan, dan pastry."
"Ayo duduk, kita cicipi kopi dari kedaimu."
""Baik Tuan."
Berdua mereka menikmati kopi yang masih hangat sambil bertukar cerita. Dua orang yang saling melindungi, saling menghormati sebagai bawahan dan atasan. Sekaligus sebagai teman bercerita. Sebuah persahabatan yang unik sekigus indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ummu Jihad Elmoro
MaasyaAllah.. makin ke sini ceritanya makin seru..😍
2024-07-12
0