Jangan terluka lagi

Bab 3

Beberapa Direktur dan Investor yang di undang Abyseka sudah hadir, merekapun kemudian mengikuti arahan Abimanyu dan mendengarkan penjelasan Abyseka soal produk baru dan tentang promosi yang akan dilakukan agar produk laris di pasaran. Abyseka dan Abimanyu bergantian menjelaskan dengan panjang lebar.

Tanpa sadar sudah satu jam berlalu. Sudah waktunya istirahat dan mencicipi hidangan yang di sediakan.

Pelangi paling menyukai acara makan begini, akan ada banyak pastry yang cantik-cantik. Es krim yang bertumpuk-tumpuk, juga kue-kue yang menyilaukan matanya.

"Hati-hati tuh mata. Jangan sampai melompat keluar." Bisik Felix melihat Pelangi yang tersenyum sumringah dengan mata berbinar melihat deretan hidangan.

"Sumpah....demi apapun. Airliurku sudah bercucuran." Pelangi mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Perlu kupakaikan celemek?" sindir Surya.

"Sabar....kita urutan kesekian. CEO dan orang-orang atas dulu baru kita."

"Hhhhh...."

Pelangi dan beberapa pegawai lainnya akhirnya mendapatkan giliran juga untuk mencicipi hidangan yang menggoda. Mereka menikmatinya sambil berbincang-bincang ringan.

Suasana santai yang tidak terlalu riuh dengan suara para pegawai. Karena sudah jadi rahasia umum bila pemilik perusahaan, yaitu Tuan Abyseka, tidak menyukai suara bising dan kerumunan banyak orang.

Braakk....!!

Tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh yang sangat keras dari arah Tuan Abyseka berada. Reflek semua mata memandang ke arah Tuan Abyseka.

"Ya...Tuhan!"

"Astaga!!"

Semua orang berseru terkejut. Tuan Abyseka tergeletak dengan kaki tertindih penyangga lampu sorot. Darah mulai merembes keluar dari celana panjangnya dan menggenang di sekitar kakinya.

Spontan Pelangi berlari ke arah Tuan Abyseka sambil melepas syal tipis yang menjadi aksesori bajunya. Kemudian dengan cekatan dililitkan pada luka di kaki Tuan Abyseka.

Sementara semua orang masih termangu kaget menyaksikan kejadian yang tidak terduga di hadapan mereka.

"Cepat..! Panggil ambulance atau siapkan mobil! Bawa Tuan ke rumahsakit!" teriak Pelangi.

Ya Tuhan....jangan sampai luka lamanya terbuka kembali. efek sampingnya akan lebih parah lagi. Batin Pelangi sambil tangannya sibuk membalut luka di kaki Abyseka. Dan wajahnya yang penuh kekhawatiran.

Mendengar teriakan Pelangi Abimanyu langsung menyuruh supir perusahaan menyiapkan mobil . Dia sendiri berlari mendekati Abyseka.

"Abe...Abe... bangun! Sadar Abe..." kata Abimanyu memangku kepala Abyseka.

Perlahan sambil menahan sakit Abyseka duduk di bantu Abimanyu. Matanya langsung tertuju pada Pelangi yang sedang sibuk mengikat kain pembalut lukanya. Baju dan tangannya berlumuran darah.

Sekelebat di kepala Abyseka terlintas sebuah memorry. Dimana dia juga sedang dirawat kakinya oleh Pelangi, dengan penuh kesabaran dan senyum manisnya.

"Sari..."panggil Abyseka lirih.

"Ya..." jawab Pelangi spontan sambil menoleh ke arah Abyseka. Reflek ia langsung menutup mulutnya. "Maaf....saya....ah. Maaf...permisi" Pelangi langsung berdiri dan menjauh dari Abyseka dan Abimanyu yang masih diam termangu.

Abimanyu tertegun mendengar Abyseka memanggil dengan panggilan kesayangannya pada Pelangi. Sedang Abyseka kaget dengan nama yang keluar begitu saja dari bibirnya ketika melihat Pelangi.

Pelangi berjalan tergesa ke arah toilet,berniat membersihkan tangan dan bajunya dari lumuran darah. Matanya menghangat, buliran bening airmatanya seolah berlomba ingin keluar.

Tuan Abyseka memanggilku dengan nama itu.Batin Pelangi. Tapi mengapa? Dan kenapa juga aku harus menjawabnya panggilan itu. Ini sangat menyakitkan! Bukankah seharusnya aku melupakan segalanya? Ini menjengkelkan.

Dalam bilik toilet yang tertutup, Pelangi mengurai tangisnya tanpa suara. Seharusnya sejak awal ia tidak menerima tawaran Tuan Rahardi untuk bekerja di perusahaan ini. Seharusnya ia bisa memperkirakan apabila suatu saat pasti akan bertemu dengan Abyseka.

Sementara itu, Abyseka langsung dibawa ke rumahsakit untuk memeriksa luka di kakinya. Abyseka dan Abimanyu naik mobil yang sama sedangkan Zaki dan Rizky, para asisten naik mobil berikutnya.

Dengan hati-hati Abimanyu memegangi tubuh sepupunya itu.

"Bagaiman rasanya? Apa kau masih bisa menggerakkan kakimu? Atau rasanya mulai kebas? Apa yang kau rasakan?" tanya Abimanyu dengan wajah cemas.

Abyseka menjentikkan bahunya, "Cuma luka gores, bukan hal besar. Sakitnya masih bisa kutahan. Jangan lebai!"

"Begitu...Kau ini. Aku takut kau kenapa-kenapa lagi. Luka kakimu dulu saja hampir membuatmu lumpuh. Kalau saja tidak di tolong oleh...."

"Oleh siapa?"

Abimanyu terdiam, "Suatu saat bila kau ingat masa amnesiaku. Aku akan mengatakan apa saja yang kutahu. Selama kau tidak mengingatnya , aku tidak akan menceritakan apapun padamu."

"Mengapa?"

"Menurut dokter kau harus berusaha mengingatnya sendiri. Jangan di paksa atau sengaja di masukkan memori tentang saat itu. Kerena ingatan yang di paksakan bisa memanipulasi kebenarannya. Apalagi bila itu memori buruk, alam bawah sadarmu akan menolak dan menutupinya dengan ingatan yang lain."

"Kita semua ingin kau ingat semua secara alami. Memang sih harus di pancing sedikit demi sedikit. Pelan-pelan saja."

Abyseka termangu. "Tidak terpaksa itu sama seperti tiba-tiba Aku memanggil Pelangi dengan nama Sari?"

Abimanyu mengangguk mengiyakan.

"Apa dia salahsatu orang dalam keadaan amnesiaku?"

Abimanyu mengangguk lagi. "Caritahulah sendiri. Jangan di paksa, bila di paksa pasti kepalamu langsung berdenyut-denyut kesakitan. "

"Baiklah..."

Sesampainya di rumahsakit, para dokter jaga di IGD langsung menyambut mereka dan melakukan tindakan pada Abyseka. Sedangkan Abimanyu beserta kedua asisten menunggu di luar.

Sementara itu Pelangi yang baru keluar dari toilet di cecar dengan beribu pertanyaan dari Surya dan Felix, yang merasa khawatir karena ia menghabiskan banyak waktu di toilet.

Setelah yakin tidak terjadi apapun pada Pelangi, Surya mengantar Pelangi pulang lebih awal. Tentunya setelah meminta ijin pada Kak Wisnu dan manager mereka. Menurut mereka Pelangi harus beristirahat lebih awal melihat keadaan Pelangi yang mengerikan dengan baju berlumuran darah.

#########

Flashback on

Pelangi menyupir mobilnya dengan perlahan. Ia menggantikan papa menyetir karena papa sudah sangat mengantuk. Mereka sekeluarga baru saja pulang dari rumah Eyang di desa.

Di samping Pelangi papa tertidur dengan pulas. Begitupula dengan mama yg duduk persis di belakang papa. Sedangkan Ulfah adiknya sedang asik bermain hp.

"Feh, ambilin cemilan dong. Asem nih mulut"

Ulfah mengangkat wajahnya," kripik pisang atau kacang oven?"

"Kripik pisang"

Ulfah menyodorkan plastik keripik pisang yang sudah terbuka. Kemudian kembali menekuri hpnya.

Pelangi menyetir dengan kecepatan sedang , malam hari bukan waktu yang tepat untuk ngebut. Perjalanan dari rumah Eyang membutuhkan waktu satu jam untuk sampai rumah. Tidak lama memang, hanya saja jalanan yang harus dilalui berliku dan naik turun. Meskipun tidak terlalu ekstrim, tapi tetap saja menurut Pelangi tetap harus ekstra hati-hati.

Sudah hampir satu jam sejak mereka meninggalkan rumah Eyang. Berarti sebentar lagi sampai. Pelangi berangan-angan sebelum sampai rumah ia ingin makan sop kaki sapi untuk menghangatkan perutnya. Sudah terbayang di benaknya nasi hangat,kuah sop yang mengepul ditambah emping kriuk-kriuk. Hhmmm....

Baru saja Pelangi membayangkan makanan enak di kepalanya, ia terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Begitu membelok, Pelangi melihat sesuatu yang berserakan di jalanan sepi dan gelap. Spontan ia menginjak pedal rem.

Ulfah yang masih sadar terhentak ke depan,

"Astaghfirullah.....ada apa Kak?"

"Liat Feh....ada apa ya?" Pelangi menunjuk keadaan jalanan di hadapan mobil mereka.

"Kecelakaan Kak?"

"Entah...." Pelangi mengguncang tahan papanya.

"Hhmmmm... Apa?"

"Pah.....pah....liat di depan"

"Apaan....?"Papa menegakkan duduknya. "Ini kecelakaan nih....Papa liat dulu ya. Kalian di dalam saja."

"Feh, di rekam. Untuk jaga-jaga." kata Pelangi. "Pah aku ikut. Mama di bangunin Feh...."

Pelangi kemudian menyusul papanya yang sudah turun dari mobil.

Pelangi melihat sebuah mobil berwarna silver yang sudah berantakan bagian sampingnya dan tersandar di tepi bukit sisi kiri jalan. Beberapa serpihan lainnya berserakan di jalan. Sebuah pintu yang terlepas dari badan mobil tergeletak di bibir jurang sisi kanan. Pintu itu tersangkut sebuah pohon yang tumbuh menjorok ke arah jurang.

"Sopirnya di mana ya Pah? kok nggak ada bekas darah atau tanda-tanda ada orang?"

"Iya ya....penumpang lainnya juga nggak kelihatan. Apa cuma ada sopirnya saja? Tapi di mana?"

Pelangi dan papanya melihat sekitar tempat kecelakaan, karena tidak terlihat tanda-tanda keberadaan sang sopir.

Perlahan Pelangi seperti mendengar rintihan dari sisi jurang.

"Pah...." Pelangi menunjuk arah sisi jurang sebelah kanan.

"Lampu...coba liat"

Pelangi menyalakan lampu hpnya dan menyorot ke arah jurang. Benar saja ada seseorang yang sedang berpegangan pada pintu mobil yang terlepas. Ia merintih dengan suara pelan.

Ia bersandar pada tanah yang tidak terlalu miring. Salahsatu tangannya berpegangan pada pintu mobil yang tersangkut, itu membantunya tidak melorot lebih jauh kedalam jurang.

"Ambil tali di mobil" parintah papa Pelangi.

Pelangi langsung berlari ke arah mobil dan meengambil tali di bagasi.

"Ada korban Kak?" tanya Ulfah.

"Ya kelihatannya sopirnya, belum tau ada yang lain atau tidak. Di vidioin Dek untuk dokumentasi dan bukti. Mama di sini aja, kalau ad mobil dari belakang kasih aba-aba supaya pelan."

"Ya. Hati-hati ngangkat korbannya."

"Ya Ma."

Pelangi dan papanya bahu membahu mengangkat tubuh korban. Dengan setengah sadar ia memberitahukan bahwa hanya dirinya saja yang berada di mobil silver itu. Segera Pelangi dan keluarganya membawa pria korban kecelakaan itu ke Rumahsakit.

Beberapa saat setelah di rawat di IGD, seorang perawat menanyakan identitas korban.

Pelangi dan papanya hanya bisa menggeleng tidak tahu siapa dan dimana alamat korban.

Dua hari pria korban kecelakaan tidak sadarkan diri. Dua hari juga Pelangi bolak balik ke rumahsakit untuk menjenguk. Pihak rumahsakit meminta untuk menjadi wali korban, karena tidak ditemukan satupun kartu atau keterangan identitas korban.

Saat istirahat siang Pelangi mendapat kabar dari Rumahsakit bila pasien sudah sadar. Sepulang kerja Pelangi langsung menuju Rumahsakit.

"Ada keadaan khusus pada pasien yang agak sulit kita tangani." jelas Dokter Hermawan.

"Kenapa Dok? Apa yang terjadi?"

"Pasien tidak mengenal dirinya sendiri...."

"Amnesia..??"

"Ya...Kemungkinan akan kembali ingat itu ada. Hanya waktunya kita tidak bisa menentukan. Patah tulang di pahanya saya kira bisa di sembuhkan. Pertolongan yang Nona Pelangi lakukan pada saat dia di temukan sangat baik. Jadi tidak memperparah cedera pasien."

"Boleh saya langsung bertemu pasien?"

"Silahkan...suster Lia akan mengantar anda"

Pelangi mengikuti Suster Lia menuju ruang rawat inap, dan langsung masuk ke dalam kamar. Jantung pelangi berdebar mendekati tempat tidur pasien, ini pertama kali mereka akan bertemu saat dia sadar.

Pelangi berdiri di tepi tempat tidur. Dilihatnya seorang pria sedang tidur dengan beberapa luka di wajahnya, tangan kirinya terbalut perban, begitupula dengan kedua kakinya. Menurut Dokter Hermawan,kaki kirinya yang patah. Sedang kaki kanannya hany terluka sobek.

SusterLia menyentuh jadi tangan kanan pasien.

"Pak...." panggil Suster Lia setengah berbisik.

"Tidur mungkin Sus."

"Kemungkinan tidak Mbak. Baru saja belajar minum."

Sekali lagi Suster Lia menyentuh jemari pasien, dan mata tertutup itu perlahan terbuka.

Pelangi melihat warna hijau pekat di manik mata itu.

Natranya berwarna Jamrud. Orang asingkah dia? Kalau dilihat dari posturnya yang tinggi , sepertinya begitu.

"Halo..."sapa pelangi.

"Ini Mbak yang menolong bapak. "jelas Suster Lia, "Silahkan ngobrol,tapi jangan lama-lama pasien. utuh banyak istirahat.di

"Ya..."

"Terimakasih...Sudah menolong saya"

Pelangi tersenyum, "Panggil saya Pelangi. Jangan sungkan, kita pakai bahasa non formal saja. ok?"

"Baiklah...namamu Pel...ly?"

"Pe...la..ngi. Pelangi Hapsari."

"Anda ingat sesuatu? Menurut dokter untuk sementara anda lupa semuanya."

"ya, bahkan namakupun aku tidak tahu. Kau tahu? Ada dokumen yang bisa menunjukkan siapa aku?"

Pelangi menggeleng, "Kami tidak menemukan dokumen apapun di mobil anda. Bahkan plat mobil yang bisa menunjukkan kepemilikan mobil pun tidak ada. Kami sudah lapor polisi, tapi belum ada hasil."

"Kami?"

"Papa dan aku."Pelangi mengambil kursi di dekatnya duduk persis di samping tempat tidur.

Pelangi menangkap kecemasan dan ketakutan di wajah tampan pria di hadapannya. Sepontaan Pelangi menggenggam tangannya.

"Jangan khawatir, aku akan menolongmu sampai bisa menemukan keluargamu dan kembali pada mereka."

"Terimakasih."

"Untuk sementara aku akan memanggilmu dengan nama apa? Kau suka kupanggil dengan nama apa?"

Si pria menunjuk ke arah dinding. Pelangi melihat kearah pria itu menunjuk. Sebuah lukisan wayang tergantung menghiasi dinding ruangan.

"Ketika aku sadar, gambar itulah yang menyapaku. Siapa mereka?"

"Oh..mereka lukisan Pandawa. Empat bersaudara yang hebat. Tokoh pewayangan. Kau ingin menggunakan nama mereka?"

"Ya. Siapa saja mereka?"

"Yang sulung Yudistira. Raja Hastinapura yang sangat jujur dan berhati lembut. Kedua Arjuna, pangeran yang sangat tampan dan pandai memanah. Ketiga Bima, bertubuh sangat besar dan tinggi. Kuat luarbiasa. Dan terakhir si kembar Nakula dan Sadewa."

"Kelihatannya aku tidak kembar. Aku juga tidak kuat dan berhati baik. Bagaimana dengan Arjuna? Apa pantas?"

"Tentu saja, lagipula anda sangat tampan."

"Jangan mengejek tidak ada orang tampan dengan luka di wajah."

Pelangi membunyikan senyumnya. "Salam kenal Pak Arjuna. Saya pelangi"

Pelangi dan Arjuna bersalaman sambil keduanya melempar senyum.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

mas Arjuna.... salam kenal, yah... hihi

2024-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!