Pembuat onar

BAB 10

Untuk beberapa hari ini Abyseka merasa was-was. Takut Ratry kembali dan membuatnya tidak nyaman. Abyseka merasa tidak enak hati pada karyawan yang melihat keangkuhan Ratry terutama pada Pelangi.

Abyseka sempat menelpon papanya, protes atas kerjasama papanya dengan keluarga Ratry. Abyseka tidak suka bila urusan kerjasama itu disangkut pautkan dengan Ratry dan dirinya.

"Permisi..." Pelangi mengetuk pintu kaca kantor Abyseka.

"Masuk..."

Pelangi menyerahkan beberapa berkas yang harus di tandatangani Abyseka.

"Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan denganmu."

"Baik." Pelangi duduk di sofa tidak jauh dari meja kerja Abyseka. Selesai menandatangani dokumen Abyseka duduk di samping Pelangi.

"Sudah dapat keterangan soal mengajuan dana renovasi ?" tanya Abyseka.

"Sudah, saya ambilkan berkasnya." Pelangi bangkit dari duduknya mengambil bukti pengajuan dana.

"Sebelum saya meminta copy file ke manager arsip keuangan, saya minta copy dari Tata teman di bagian keuangan. Yang ini."Pelangi menyerahkan dua lembar surat kepada Abyseka.

"Dua hari kemudian saya menghadap Presdir Keuangan dan Manager data keuangan. Mereka mengeluarkan laporan yang sangat berbeda."

Abyseka diam sambil memperhatikan kedua file yang isinya sangat berbeda. Meskipun pengajuan renovasi di keluarkan di tanggal yang sama.

"Surat yang diberi temanmu masih ada tidak ya di perusahaan?"

"Yang bisa mengakses arsip adalah Anda dan Tuan Abimanyu. Direktur keuangan dan manage arsip keuangan juga bisa."

"Banyak yang terlibat di sini. Ayo, kita ketemu Abimanyu." Abyseka berdiri.

"Baik."Pelangi menelpon Pak Hadi dan Tuan Zaki.

"Zaki biar di sini saja, kita pergi berdua."

"Baik." Pelangi kembali menelpon Tuan Zaki.

Abyseka berjalan menuju loby dan pintu keluar utama pabrik,, diikuti oleh Pelangi. Sampai di luar, Pak Hadi sudah siap dengan mobilnya.

Pelangi membiarkan Abyseka masuk terlebih dahulu kemudian dia mengitari mobil hendak masuk lewat pintu yang lain Tiba-tiba tubuhnya di tahan.

"Aby...Aby..." Nona Ratry menahan Pelangi yang hendak masuk ke dalam mobil.

"Ada apa lagi?"tanya Abyseka kesal

"Bisa tidak kita bicara baik-baik, tidak kejar-kejaran seperti ini?"

"Kamu yang mengejarku bukan aku. Pelangi...ayo naik!"

Pelangi berniat masuk ke dalam mobil, namun Ratry masih berada di depan pintu. Diam Mandang tajam pada Abyseka.

"Permisi...Nona." Kata Pelangi. Tak di sangka Ratry menyentakkan tangannya dengan kasar. Pelangi yang belum siap-siap untuk di dorong, kehilangan keseimbangannya. Alhasil ia terjerembab ke tanah dan berkas-berkas yang ada di tanah berhamburan.

Melihat kejadian itu Abyseka langsung keluar mobil. Dilihatnya Zaki berlari keluar kantor untuk menolong Pelangi.

"Apa yang kamu lakukan?"Suara Abyseka meninggi. Dilihatnya Zaki sedang membantu Pelangi berdiri.

"Itu....itu...kesalahan. Aku tidak mendorongnya kuat. Dia saja yang lemah." Ratry berusaha membela diri.

"Apa tindakanku belum jelas padamu? Apa aku harus bentindak kasar?" bentak Abyseka.

"Aby...coba pikirkan hubungan baik keluarga kita. Tidak bisakah kita..."

"Itu keluargamu dan Papa. Bukan Aku!" Abyseka memeriksa keadaan Pelangi.

"Ada yang terluka? Pelu kita ke dokter? Harus cepat di bersihkan lecetmu. Zaki!"

"Ya Tuan. " Zaki langsung berdiri, sedari tadi ia dan Pak Hadi sibuk memunguti kertas-kertas yang berserakan.

"Awasi perempuan ini sampai dia pergi. Instruksikan pada security jangan sampai perempuan ini masuk dalam kantor. "

"Baik." Zaki menyerahkan kertas-kertas yang berhasil di kumpulkan ya pada Pak Hadi.

"Tolong jadikan satu dengan yang lainnya Pak. Taruh saja di kursi samping Pak Hadi."

"Baik Tuan." Jawab Pak Hadi, dan segera menaruh tumpukan kertas di tangannya. Kemudian memegang pintu penumpang, membelakangi Ratry yang masih berdiri di sana. Tujuannya menghalangi jika gadis itu hendak menyerang Pelangi lagi.

Abyseka segera membantu Pelangi berjalan dan masuk dalam mobil. Ia sendiri mengitari mobil dan masuk melalui pintu yang lain.

Zaki mendekati Ratry, "Silahkan nona meninggalkan pabrik." mempersilahkan Ratry kembali ke mobilnya dan diharapkan segera pergi.

"Ayo Pak berangkat," kata Abyseka. "Nanti di jalan kita berhenti di apotik ya Pak."

"Ya Tuan." Pak Hadi pun menjalankan mobil menjauhi pabrik.

"Perih?" tanya Abyseka pada Pelangi. "Ini pake tisyu dulu untuk membersihkan lututmu itu dari kotoran."

"Tidak apa-apa Tuan, hanya luka kecil seperti ini." jawab Pelangi.

"Tuan, dekat pertigaan depan ada restoran, di sampingnya ada apotik. Kita berhenti di situ dulu, biar Nona Pelangi minum dulu untuk menghilangkan syoknya. Nanti saya yang ke apotik beli obat." kata Pak Hadi panjang lebar.

"Ya Pak. Begitu juga boleh."

"Tapi saya benar-benar tidak apa-apa Tuan. Nanti sampai di kantor pusat baru minta obat ke bagian kesehatan."

"Tidak. Kita ikuti saja saran Pak Hadi."

Pelangi sebenarnya merasa tidak terlalu sakit. Hanya lecet di lutut dan telapak tangan. Bukan hal yang harus dikhawatirkan. Lagipula luka seperti ini sudah biasa buatnya.

Sesampainya di resto Abyseka menggandeng Pelangi masuk, dan Pak Hadi langsung pergi membeli obat di apotik sebelah.

Tuan Abyseka langsung memesan teh panas untuk Pelangi, ice coffe untuk dirinya sendiri , dan black coffe untuk Pak Hadi.

Setelah Pak Hadi datang dengan obat-obatan luka, Pelangi hendak membersihkan lukanya. Dengan cekatan Abyseka berlutut di hadapan Pelangi dan mulai membersihkan lukanya.

"Tuan, biar saya saja yang membersihkan. Tuan berdiri saja. Tidak enak dilihat banyak orang." protes Pelangi sambil memegang tangan Abyseka.

"Aku tidak menerima penolakan Pelangi."

"Tapi ini tidak pantas Tuan."

"Biarkan saja..."

Sebenarnya selain tidak pantas, Pelangi merasa dadanya berdegup terlalu kencang hingga nafasnya sesak.

Tolong, jangan terlalu dekat seperti ini Arjun. Aku takut kau mendengar suara jantungku. Menjauhkan sedikit dariku Arjun. Jantungku jadi berdetak cepat dan tidak beraturan. Sakit. Sakit sekali.

Pelangi menutup matanya. Sakit ini tidak hanya terasa di lututnya tapi lebih sakit di dadanya.

"Apa sesakit itu Pelangi?" tanya Abyseka.

Pelangi membuka matanya yang terasa hangat. Wajah Abyseka terlalu dekat dengan wajahnya, dan pasti melihat mata Pelangi yang berkaca-kaca.

Dengan cepat Pelangi mengerjapkan matanya agar cairan bening tidak keluar dari matanya. Kemudian menegakkan tubuhnya yang sedikit membungkuk.

Jangan berwajah sedih seperti itu Pelangi, hatiku ikut sakit.

Abyseka duduk di hadapan Pelangi dan menyodorkan teh panas.

"Minum dulu biar lebih tenang."

Pelangi mengangguk, kemudian menyeruput teh panas di tangannya. Rasanya menjalar lewat tenggorokan terus ke perutnya. Dan sangat menenangkan. Teh panas memang tiada duanya. Pelangi tersenyum lega.

Abyseka tersenyum melihat cara Pelangi menikmati tehnya. Sederhana sekali membuat Pelangi tersenyum. Cukup teh panas saja.

Karena waktu makan siang sudah dekat, akhirnya Abyseka memutuskan untuk makan siang sekalian. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor pusat.

Sampai di pusat Abyseka langsung menuju ruangan yang biasa ia pakai.

"Abim, datang ke kantorku sekarang....Iya sekarang....di kantor pusat.....Berapa lama? Ada hal yang harus kusampaikan.....Ok, jangan lama-lama."

"Tuan Abimanyu tidak ada di tempat?" tanya Pelangi.

"Lagi makan siang dengan klien. Sebentar lagi sampai."

"Tuan, saya ke tempat Tata di bagian keuangan."

"Tata? Laki-laki atau perempuan?"

"Perempuan Tuan. Saya permisi dulu."

Abyseka menatap penuh selidik pada Pelangi. Di tatapnya punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu.

Apa lebih penting bertemu temannya daripada menemaniku? Awas saja, pekerjaanmu kutambah nanti. Batin Abyseka.

Pelangi mengirimkan pesan pada Tata, untuk bertemu di cafe perusahaan. Pelangi sendiri langsung menuju cafe dan duduk di sudut tempat biasanya dia berkumpul dengan para bestynya.

Tidak berapa lama Tata muncul, diikuti dengan Indah. Sontak mereka berpelukan melepas rindu.

"Ihhh...dah lama kita nggak ngerumpi di sini." kata Indah.

"Iya, paling yang sering ketemu Indah sama Emi tuh. Aku jarang bisa makan sama gibahin kosmetik." jawab Tata.

"Keuangan sibuk banget ya?" tanya Pelangi

"Banget! Tiap saat ada aja yang berubah... Belum lagi kalau ada yang nggak cocok neracanya. Langsung di tarik manager dan menghilang sementara. Besoknya banyak perubahan. Kita-kita juga yang harus ngerombak semuanya."

"Berkas yang aku minta ada?"

"Berkas awal yang kuberi sudah berubah bentuk. Dan yang terbaru sudah ada. Untungnya yang asli langsung aku ambil dan ada di tanganmu itu." kata Tata setengah berbisik.

"Bagus. Yang terbaru?"

"Ada. Aman di aku."

"Yang lama legalkan?"

"Legal dong. Ada cap perusahaan dan tandatangan asli Tuan Kesayangan."

"Hah?"

"Hah...heh...hah...heh! Abimanyu..."

"Oh...."

"Elu enak liat yang seger melulu. Tuan Abyseka dan Tuan Zaki. Nah Inyong...sepet terus pandangan." seloroh Indah.

"Cerah di mata, sepet di hati."

"Kok bisa?"

"Kerjaan numpuk mulu. Jamnya juga harus tepat...pat! Kurang dikit dapat semprotan cuka. Asem !"

Bertiga cekikikan menertawakan kerja mereka. Daripada stress. Mendingan di bikin lucu aja.

"Emi nggak bisa ikut kita gibah nih?" tanya Pelangi.

"Kata Emi banyak karyawan yang mau di audit atau di revisi ya? Atau daur ulang ya? Pokoknya di periksa deh. Jadi ya agak sibuk dia." jawab Indah.

"Agak aja, Ampe nggak bisa makan siang."

"Ya ampun! Kalian juga mau di daur ulang?"

"Iya ngkale. Dah Kerja banting kulit, tulang juga di bantingin. Tetep bakalan berpisah dengan Abimanyu kesayangan."

"Kalau gitu kita kembali ke ruangan aja. Goodybag yang kupesan dah ada?"

Tata menyodorkan tas kertas bertuliskan toko batik favorit Pelangi. Langsung di periksanya batik favoritnya. Di keluarkan dari kantong dan di bentangkan. Lebar dan panjangnya sesuai dengan keinginannya. Pelangi memasukkan kembali batik pesananya.

"Ayo balik ke dunia lain. Sebelum hantu-hantu pengawas muncul."

Bertiga langsung beranjak dari tempat mereka dan menuju ruangan masing-masing dengan canda gurau.

Sampai di ruang milik Tuan Abyseka, Pelangi mengeluarkan semua isi goodybag.

"Aku tidak butuh batik Pelangi. Lagipula buat apa punyamu di buka di sini?"

Pelangi menyerahkan beberapa surat yang dikeluarkan dari goodybag pada Tuan Abyseka.

"Tadi Tata memberikannya pada saya. Sengaja di masukkan dalam tas kertas biar tidak terlihat di cctv.

"Wah...kamu cerdik juga."

"Ayah Tata seorang polisi. Dia tahu beberapa trik. Berkas itu sebaiknya anda lihat kemudian simpan dalam tas. Keluarkan berkas lain untuk anda pegang."

"Ok." Abyseka membaca berkas yang di beri oleh Pelangi. Kemudian melipatnya dan memasukkannya dalam tas paling bawah. Hingga tidak mudah mengeluarkannya. Sedang duplikatnya ia taruh dalam map.

Tuan Abimanyu masuk dalam ruangan, langsung duduk di samping Abyseka.

"Ada apa sebenarnya? Kau tidak biasanya tergesa-gesa memanggilku?" tanya Abimanyu.

Abyseka menyodorkan beberapa kertas ke hadapan Abimanyu.

"Lihat sendiri, ini yang pertama, ini setelah di revisi."

Untuk beberapa saat Tuan Abimanyu tenggelam dalam tulisan-tulisan di kertas. Makin lama wajahnya makin mengeras. Memerah karena marah.

"Brengsek! Berani-beraninya mereka melakukan hal ini. Bahkan direktur juga terlibat?! Ba****an!"

"Kita harus hati-hati dalam menyelesaikan. Banyak yang terlibat di sini. Bukti sudah ada, tapi bila salah tunjuk, bisa-bisa orang yang tidak bersalah akan terkena imbasnya"

"Tuan," potong Pelangi takut-takut. Kedua boss besar di hadapannya melihat kearah Pelangi bersamaan.

"Bagian personalia juga sedang mengotak-atik karyawan untuk di ganti atau di pindah. Tapi lebih jelasnya saya belum tau. Teman bagian personalia belum bisa bercerita bebas pada saya. Karena pergantian karyawan membuatnya lembur terus."

"Aku tidak pernah memerintahkan penggantian karyawan atau pemindahan. Bahkan laporan lembur tidak ada. Apa mereka lembur tanpa dibayar?"

"Lalu bagaimana cara menghentikan mereka?Saya rasa banyak yang tidak bersalah atau yang tidak mau bekerjasama akan di pecat atau di pindah."

Abimanyu memandang ke Abyseka, "Bagaimana?"

"Pertama, buat aturan baru. Setiap pemindahan dan pengurangan karyawan harus atas persetujuanmu. Biasanyakan hak penuh pada Departemen Personalia?"

"Ya. Brengsek! Biar mereka tahu siapa pemilik Perusahaan ini! "Abimanyu mengepalkan tangannya.

"Papa aku Abim."

"Ya...ya... Sombong amat! Ok kita mulai peperangan ini..."Abimanyu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Eh Abe, Om Rahardi pasti bantukan?"

"Pasti. Nanti aku laporkan pada Papa. Mudah-mudahan kasus ini tidak sampai pada sidang pemegang saham. Jadi Papa-papa kita nggak usah ikut campur. Males aku dengar omelan mereka."

"Akur..."

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

seruhhhh....🔥

2024-07-11

0

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

radha mbulet tpi seru juga
..

2024-02-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!