Tikungan itu

BAB 12

Pelangi merasa ada benda hangat dan lembut yang menyentuh pipinya. Dipaksanya membuka mata. Kemudian melihat Jam di atas nakas. Sudah pagi, pukul tujuh.

Perlahan Pelangi keluar dari kamar. Dilihatnya beberapa berkas berserakan di meja tengah dan sebuah laptop. Itu milik Tuan Abyseka.

Kemana Arjun? Apakah dia lembur di apartemen ku? Tapi kemana dia sekarang?

Pelangi duduk di atas sofa, tangannya mulai sibuk menumpuk kertas-kertas yang bertebaran. Menumpuknya jadi satu dan diletakkan di samping laptop. Kemudian merebahkan dirinya di atas bantal-bantal sofa. Enak sekali. Waktu libur seperti ini adalah waktu terbaik buat bermalas-malasan.

Tiba-tiba saja pintu apartemen Pelangi terbuka. Tuan Abyseka masuk.

Pelangi sontak duduk dari posisi tidurnya.

"Santai saja. Berbaringlah lagi bila badanmu masih tidak enak." Abyseka duduk di samping Pelangi dan menempelkan tangannya di kening Pelangi.

"Sudah tidak panas lagi seperti semalam."

"Tadi aku pulang sebentar dan mandi dulu. Aku juga bawa baju ganti. Siap tau harus menginap lagi."

"Akan saya siapkan sarapan."kata Pelangi.

"Tidak usah. Duduk saja nanti kamu lelah. Aku sudah memesan sarapan tadi. Sebentar lagi juga datang. Nah tuh...bel sudah bunyi."

Abyseka mengambil pesan antar dan menaruhnya di atas meja makan.

"Ayo sarapan."

Pelangi mengambil piring kemudian mereka makan bersama di meja makan.

"Libur begini apa biasanya kau hanya bermalas-malasan di rumah?" tanya Abyseka disela-sela mengunyah makanannya.

"Iya. Sebenarnya saya punya janji ketemuan sama keluarga. Sabtu Minggu ini. Berhubung masuk kerja, ya tidak jadi."

"Jauh tempatnya?"

"Tidak. Hanya setengah jam dari sini. Di Bukit Pinus."

"Habiskan makanmu. Kita ke sana. Kau sudah merasa baikan sekarang?"

"Apa? Ke sana? Betul nih?"

"Iya dong. Kamu pikir aku tukang tipu?"

Pelangi langsung melahap makanannya.

"Pelan saja nanti kamu tersedak."

"Saya mandi dulu. Tuan tunggu sebentar saja."

"Ok. Oh ya, aku pinjam charger, tadi buru-buru jadi lupa."

"Ya. Di laci nakas samping tempat tidur." Pelangi langsung melesat ke dalam kamar mandi dengan membawa senyum lebar di wajahnya.

Abyseka masuk kedalam kamar Pelangi dan membuka laci nakas mencari charger. Di samping charger yang tergeletak ada sebuah kotak kecil yang agak terbuka. Dari dalam kotak menybul sedikit sebuah tali yang sangat dikwnalnya.

Tali yang sama dengan yang ada di pergelangannya.

...Siapa pelangi? Selama ini aku selalu merasa mengenalnya. Merasa dekat dengannya. Mengapa tali ini ada padanya. Gelang anyaman yang penting, yang akan mengingatkanku pada seorang gadis. Siapa gadis itu? Aku hanya mengingat jemari kecil seseorang yang langsung menganyam rumput ini di pergelangan tanganku. Tanpa bisa mengingat wajahnya....

Abyseka menggenggam kuat gelang itu dan memasukkannya dalam kantong celana. Dadanya bedegup kencang. Bergemuruh tidak terkendali. Ia berusaha menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang seolah-olah akan meledak.

Akan kuselidiki milik siapa ini. Milik Pelangi atau bukan.

Abyseka menunggu Pelangi di ruang tamu. Wajahnya membeku, mencoba menenangkan hatinya.

"Ayo. Kita berangkat."

"kamu hafalkan arah ke sana?"

"Pasti...saya sering ke sana dan menggantikan papa menyetir."

"Ramai jalannya atau sepi?"

"Musim liburan pasti ramai. Tapi kalau hari biasa cenderung sepi. Jalannya sedikit menanjak dan menikung. Perlahan saja, tidak usah terburu-buru."

"Pemandangannya pasti indah."

"Ya, sejak masuk kawasan hutan lindung seperti sekarang ini. Pemandangannya cukup bagus. Meskipun agak memgerikan"

"Mengerikan?"

"Jalannya menikung dan naik. Letaknya di punggung gunung. Jadi sebelah pegunungan, sebelahnya jurang."

"Ya. Lumayan curam ya."

Pelangi mengangguk tanda setuju. Tidak ada jalan menuju bukit Pinus yang landai dan lurus. Dari arah manapun pasti naik turun dan berbelok-belok.

Pelangi teringat masa penyembuhan Abyseka. Bila melewati jalan tempat ia kecelakaan, ia akan bereaksi sangat ketakutan. Wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur deras. Nafasnya memburu dan hampir seluruh tubuhnya akan gemetaran hebat.

Oleh karena itu, setiap kali hendak melewati tikungan tempat kecelakaan, Pelangi akan menutup mata Arjuna dan terus mengajaknya bercerita. Sehingga ia lupa sudah melewati tikungan 'maut'.

Ketika sudah dekat dengan tikungan 'maut' Arjuna, Pelangi melirik Abyseka dengan diam-diam. Saat ini Abyseka sudah lupa masa itu. Apakah akan berpengaruh pada dirinya atau tidak. Pelangi harus mencari tahu.

Tikungan 'maut', "Pelan-pelan saja Tuan. Di depan ada tikungan."

Pelangi seperti mengalami masa de Javu dalam mode slow motion. Tiap detik ia memperhatikan reaksi Abyseka ketika hendak melewati tikungan 'maut'.

Abyseka sendiri menyetir dengan santai. Naikan, turunan dan tikungan ia lalui dengan santai. Ia mulai merasa ada yang aneh ketika tadi Pelangi memperingatkannya untuk pelan-pelan.

Entah mengapa tangannya mulai berkeringat, dan jantungnya berdebar-debar. Abyseka sendiri bingung dengan reaksi tubuhnya terhadap tikungan di depannya.

Tiba-tiba saja matanya seperti melihat sebuah kecelakaan dimana dia sendiri yang mengalaminya.

"Tuan, lebih baik menepi dulu. Biar saya yang menggantikan menyetir."

Abyseka menepikan mobil, dan keluar dari mobil dengan nafas tersengal-sengal.

Ada apa dengan diriku? Mengapa rasanya tidak mampu melewati tikungan itu?

Pelangi membantu Abyseka bernafas dengan menepuk-nepuk punggungnya perlahan.

"Kita istirahat sebentar. Apa yang anda rasakan Tuan?"

"Aku tiba-tiba merasa tidak mampu melewati tikungan itu. Tubuhku menolak melewatinya. Di kepalaku seperti ada gambaran kecelakaan yang mengerikan. Lihat, tanganku sampai gemetaran seperti ini."

"Anda takut?"

"Seharusnya tidak ada yang ditakutkan. Tapi mengapa seluruh tubuhku seolah ketakutan?"

"Anda ingin mencoba melewatinya? Kita coba berjalan kaki saja, melihat apa reaksi tubuh anda."

"Ok. Aku juga ingin tau mengapa reaksiku seperti ini."

"Perlahan saja Tuan. Kitakan tidak tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana dengan ingatan tuan selain kecelakaan itu? Apa ada yang lain?"

Abyseka menggeleng ia tetap berjalan melewati tikungan 'maut' khusus dirinya. Ketika sampai tepat di lengkingan jalan dimana Abyseka kecelakaan dan kendaraannya hampir masuk jurang, ia berdiri mematung. Melihat ke arah jatuhnya mobil.

Pelangi membiarkan Abyseka menggali memori kejadian hari itu. Ia hanya memegangi Abyseka dengan erat. Bersiap-siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Abyseka hanya berdiri mematung, wajahnya mengeras dan perlahan memerah. Ia menahan semua emosi entah itu sedih, marah atau takut. Wajah Abyseka saat ini sudah benar-benar merah dengan otot leher dan wajah yang mengeras. Beberapa bulir airmata mengalir di pipinya.

"Tuan...lebih baik kita kembali ke mobil. Anda kelihatan tidak baik-baik saja." Pelangi menghapus keringat yang bercampur airmata dari wajah Abyseka menggunakan tisyu yang dibawanya.

"Aku terlihat buruk sekali ya?" Abyseka menggenggam jemari Pelangi dengan kedua tangannya.

"Tidak. Itu reaksi biasa. Apakah anda pernah mengalami hal buruk di tikungan ini?" pancing Pelangi.

Abyseka mengambil tisyu yang di sodorkan Pelangi dan mengusapkan ke seluruh wajahnya.

"Silahkan minum dulu dan duduklah dimobil. Tenangkan diri anda terlebih dahulu."

Abyseka meminum sebotol air mineral yang diberi Pelangi sambil duduk dibalik setir mobil. Ia mencoba mengatur nafasnya hingga normal kembali.

"Aku mengingat sesuatu Pelangi."

"Apa itu?"

"Aku mengingatnya. Meskipun belum seluruhnya. Tapi ingat sekarang. Aku ingat!"

"Apakah lebih baik kita kembali Tuan?"

"Tidak perlu. Ayo kita lanjutkan."

"Ya. Tapi..."

"Pelangi"

"Baik."

"Aku akan hati-hati dan tetap fokus. Asalkan kau terus mengajakku bercerita. Jadi ingatanku tidak terfokus pada kecelakaan itu."

"Apakah anda yakin? Sepanjang pengetahuan saya anda paling tidak suka di ajak bercerita bila sedang menyetir."

"Tapi ini kasus yang berbeda Pelangi. Aku hanya butuh pengalihan. Agar semuanya berjalan lancar."

"Anda yakin Apakah saya tidak mengganggu? Biasanya perempuan cerewet akan mengganggu konsentrasi si supir."

"Kan sudah ku katakan Pelangi. Ini kasus pengecualian. Aku harus mendapatkan. pengalihan. Paham tidak sih?!"

"Paham. Sangat paham. Dan anda sudah melewati tikungannya sejak tadi Tuan. Dengan mulus"

"Hah?!"

"Jadi tidak perlu emosi."

Sebuah senyum lebar menghiasi wajah Abyseka, "Gadis pintar!"

"Sebentar lagi kita sampai dan langsung masuk parkiran saja. Nanti biar saya yang turun dan menemui petugas karcisnya."

"Kamu mengenal mereka?"

"Ya. Sebagian tanah perbukitan milik eyang. Mereka pemuda dari desa yang mengelola objek wisata bukit pinus."

"Maksudmu, kita masuk gratis?"

"Ya."

"Tapi aku bukan cucu Eyang."

"Kita lihat sajs nanti. Apa Tuan harus membayar atau tidak. Parkir di sana saja, dekat pintu masuk. Yap...sampai akhirnya."

Pelangi dan Abyseka masuk ke dalam kawasan Bukit Pinus. Di pintu masuk Pelangi berbincang sejenak dengan penjaga pintu dan penjaga karcis.

"Wah...sudah sembuh rupanya. Gimana? Sudah bisa normal jalannya? Tambah gagah saja Bro.." seseorang menepuk bahu Abyseka dengan akrab.

"Ah...ya. Sudah tidak terasa sakit."

"Lain kali hati-hati Bro, jangan sampai kita tandu lagi. Lain kali biar dokter Evalina yang nolongin. Biar habis di rayu dia." kata pemuda lainnya sambil tertawa.

"Silahkan masuk saja. Tuh Pelangi sudah menunggu."

"Ah ya...terimakasih."

"Mereka tidak meminta Anda membayarkan?"

"Tidak. Apakah aku pernah ke sini? Mereka tampak akrab sekali denganku."

"Coba di ingat-ingat lagi. Saya ke sana dulu beli minum Tuan tunggu sebentar di sini."

Abyseka melihat kesekelilingnya, ia merasa tidak asing berada di lingkungan ini. Udara sejuk, rumput yang tumbuh rapat nak karpet berwarna hijau. Pohon-pohon Pinus yang tumbuh menjulang tinggi, suara gemericik dedaunan. Angin.

Ayo jalannya pelan-pelan. Gunakan tongkatmu untuk menyangga tubuh. Ayo....

Ingatan apa ini? Siapa gadis yang menggandengku? Di sini?

Kamu cantik dengan ekor kuda begitu. Hei....orang sakit nggak boleh merayu...

Hadis berekor kuda...

Ingat gelang ini benda penting. Tidak boleh di lepas . Gelang inilah yang akan mengingatkanmu tentang aku. Ok?!

Gelang...

Sini tanganmu. Biar kubuatkan anyaman gelang dari akar wangi.

Pelangi, dia yang membuat gelang ini. Oh Tuhan....jadi selama ini dia selalu di dekatku.

Tapi aku melupakannya....cintaku....Laniku...

Abyseka terduduk di bangku bambu. Air matanya mengalir tanpa henti. Emosi yang selama ini terpenjara dalam ingatannya berhamburan keluar. Kepalanya terasa berdenyut-denyut.

"Tuan...ada apa? Anda kenapa?" Pelangi berdiri di sping Abyseka sambil membawa dua botol air mineral.

Sontak Abyseka memeluk Pelangi dengan erat. Ia tidak mau lagi kehilangan gadis itu. Rasa sakit didadanya yang selama ia rasakan karena teramat merindukan Pelangi. Tapi ia lupa siapa Pelangi dan tidak tahu siapa yang Abyseka rindukan.

"Tuan...tolong lepaskan sebentar."

"Tidak. Aku tidak mau kehilanganmu lagi."

"Tuan..."

"Arjun... Pelangi. Aku Arjun!"

"An...Anda sudah ingat?" Pelangi berusaha melepaskan diri dari pelukan Abyseka yang kuat. Pelangi merasakan pundaknya basah. Abyseka membenamkan wajahnya di sana sembari menangis.

Beberapa kali mencoba pun Abyseka tetap tidak mau melepaskan pelukannya. Akhirnya pelangi menyerah. Membiarkan Abyseka menumpahkan semua emosinya.

Setelah gejolak di dada Abyseka mereda, barulah ia melepas Pelangi.

"Sudah lega?" tanya pelangi sambil mengelap wajah Abyseka dengan tisyu.

"Jangan menangis di udara dingin begini. Nanti..."

"Airmatamu membeku dan membuat wajahmu jadi kaku. Apakah aku kerap menangis?"

"Tidak selalu. Hanya bila kakimu terasa sakit dan putus asa. Takut tidak bisa berjalan lagi."

"Aku beruntung memilikimu."

"Apa Tuan..."

"Bisa tidak bicaramu biasa saja? Aku jadi merasa seperti Datuk Maringgih."

"Apa ingatanmu sudah kembali semua?"

"Belum. Tapi yang terpenting adalah aku mengingatmu. Aku sangat tersiksa dengan perasaanku. Merindukan seseorang tapi tidak tahu siapa. Ingin selalu dekat denganmu, tapi merasa menghianati seseorang. Jatuhcinta padamu tapi juga mencintai orang lain. Sakit rasanya di dalam."

"Siapa yang jatuhcinta padaku? Arjunkah atau Tuan Abyseka ?"

"Aku rasa keduanya. Lihat, bahkan ketika aku melupakanmupun hatiku tetap memilihmu."

Abyseka mengeluarkan gelang anyaman, Ini milikmukan?"

"ya. Anda...kamu mengambilnya di laci?"

"Ya, mau kupastikan bahwa ini milikmu. Akunya keburu ingat semua. Ayo di pakai lagi, dan jangan pernah kau lepas lagi. Aku bisa marah."

"Baiklah. Aku melepasnya karena merasa sudah tidak ada kesempatan lagi menunggumu. Kau sudah benar-benar melupakanku. Aku bukan siapa-siapa di matamu."

"Mengapa kau tidak menceritakan yang sebenarnya?"

"Dokter melarangnya. Pernah sekali waktu kau berusaha mengingat karena terus di desak Tuan Abimanyu. Hasilnya kepalamu sakit dan jatuh pingsan selama dua hari..."

"Dokter menyarankan untuk membiarkan ingatanmu kembali karena usahmu. Bukan paksaan. Kita-kita hanya perlu memancingnya perlahan-lahan."

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

meleleh aku, Thor..😭

2024-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!