Selalu di sisiku

BAB 6

Pelangi mendapat cuti selama seminggu, setelah kejadian dirinya pingsan. Namun baru dua hari di rumah, Pelangi sudah bosan. Ia sudah merasa segar kembali. Terlebih lagi setiap hari ia mendapat kiriman makanan dari Abyseka.

Hari ini Pelangi sengaja datang ke kantor lebih pagi. Menghindari pandangan miring dan pertanyaan-pertanyaan nggak penting lainnya.

Begitu sampai di kantor, Pelangi langsung ngibrit ke ruangannya yang berada di lantai enam. Baru saja tubuhnya mendarat di kursi kerja, Olive sudah mendekat dengan menggeser kursinya.

"Kenapa sudah masuk kerja? Tuan Abimanyu aku dengar memberimu cuti satu Minggu."

"Bosen di rumah, lagipula aku sudah sehat. Ototku mulai lunak kalau tidak kerja."

Olive tersenyum, "Ada gosip baru tentangmu."

"Biarkan saja. Hidupku tergantung dari gaji, bukan gosip."

"Karena gosip itukah kau di pindah ke pabrik?"

"Hah!....Apa?Aku...di pindah? Lagi? Ke bagian mana?"

Olive menggeleng, "Coba saja tanya bagian HRD ,pasti tau."

Baru saja Pelangi hendak keluar ruangan, Pak Hendra Dirut Dept.Umum memanggilnya.

"Permisi Pak," sapa Pelangi di pintu masuk.

"Masuk...ini. Ambil berkas pemindahanmu ini."

Pelangi mendekati meja Presdir yang besar , kemudian mengambil map yang di sodorkan padanya.

"Baca di mejamu saja. Setelah itu langsung menemui bagian personalia."

"Baik."

Pelangi kembali ke mejanya dan mempelajari apa isi berkas yang diberi Pak Hendra.

Ternyata pemindahan atas dirinya ke bagian produksi. Berarti ia di pindahkan ke pabrik. Bahkan di tidak di beritahu bekerja di bagian mana.

"Aku di pindah ke bagian produksi mulai kemarin. Aku pamit semuanya. Terimakasih atas kerjasamanya selama ini." Pelangi berpamitan pada rekan-rekannya satu ruangan.

"Kapan kau mulai ke pabrik?" tanya Pak Vendo.

"Hari ini, aku akan langsung ke pabrik. Mumpung masih pagi."

"Apa karena kejadian waktu itu?" tanya Olive, "Padahal bukan salahmu kan pingsan. Padahal kita baru kenal dua minggu lho..."

Setelah menyalami rekan-rekannya Pelangi langsung ke bagian personalia untuk tandatangan pemindahannya dan kebagian keuangan untuk memverifikasi bonusnya selama dua Minggu di Departemen Umum.

Matanya membulat melihat angka-angka yang tertera di notif pemberitahuannya.

Apakah semua karyawan akan mendapat bonus sebesar ini? Atau ini bentuk kompensasi karena jatuh pingsan di jam kerja? Bodo amat, yang penting ini bonus dari Boss. Terserah si boss mau ngasih berapa. Halal pokoknya.

Sebelum keluar kantor, Pelangi menyempatkan diri ke bagian pemasaran, berpamitan dengan teman-teman lamanya.

Setelah semua selesai, ia baru memesan mobil sewaan melalui aplikasi. Tidak mungkinkan untuk naik kendaraan umum, karena akan menghabiskan banyak waktu.

Setelah sekian lama, Pelangi sampai juga di pabrik. Beruntung ia sudah pernah kesana jadi bisa langsung tahu kemana harus mencari ruangan personalia. Karena harus melapor kepindahannya sambil menyerahkan beberapa berkas.

Pelangi di antar seseorang dari bagian personalia ke sebuah ruangan. Meja kerjanya lumayan besar dan hanya di batasi penyekat dari kaca dengan ruangan lain yang ternyata sangat luas. Salah satu sudutnya terdapat meja-meja besar dengan benda-benda elektronik yang berserakan. Pada bagian lain ada meja kerja yang besar dan di dekatnya terdapat sofa berwarna biru Benhur.

Ruangan ini berkesan sangat maskulin. Pasti seorang pria penguasa ruangan ini. Tapi siapa?

Mudah-mudahan bukan pria kejam yang gila kerja.

"Di samping ruang ini ada sebuah ruang istirahat. Mari saya tunjukkan." kata gadis personalia yang mengantar Pelangi. Ia membuka sebuah pintu dan terlihat seperangkat meja makan, sofa yang terlihat empuk dan tempat tidur ukuran doblebad.

"Seminggu sekali sepreinya akan di ganti dan cleaning Service rutin membersihkan ruangan ini juga. Jadi jangan lupa mengawasi mereka. Dari ruang kerja inilah akan ada produk baru untuk perusahaan. Jadi mohon di jaga kerahasiaannya."

"Oh...baiklah."

"Ruanganmu ada di balik kaca itu tadi ya. Pantri di ujung lorong sebelah kanan, yang kiri toilet. Di ruangan ini juga ada toilet, tapi khusus buat Boss."

"Ya..."

"Selamat bekerja..."

"Eng...apa yang harus saya kerjakan...."

"Oh ya...tugasmu ada di meja. Sebentar lagi Boss akan datang. Lebih baik langsung dikerjakan. Boss orangnya agak keras..." gadis personalia itu tersenyum.

Pelangi mengulurkan tangan,"Saya Pelangi... mudah-mudahan kita bisa bekerja sama. Banyak yang saya tidak tahu."

"Viona...panggil saja Vio."

Pelangi memperhatikan meja kerjanya. Cukup lebar, terbuat dari kayu berkualitas. Ada sebuah laptop dan beberapa map. Satu demi satu Pelangi memeiksa isi map. Beberapa jadwal rapat, tugas-tugasnya dan lain sebaginya.

Rupanya Boss besar ini cukup sibuk. Bahkan hari sabtupun masih ada jadwal pertemuan. Batin Pelangi. Berarti aku juga hanya akan libur hari Minggu saja. Tidak bisa liburan ke tempat Eyang dong.

Pelangi mulai memilah-milah kegiatan hari ini. Sampai waktu makan siang, tidak ada jadwal rapat ataupun pertemuan di luar. Berarti makan di kantor.

Apa di sini ada cafe seperti di pusat? Bila tidak ada, makan di mana?

Pelangi melirik jam di dinding. Hampir waktunya makan siang. Ia berdiri hendak ke bagian personalia bertemu Vio dan mengajaknya makan siang bersama.

Baru saja tangannya hendak meraih handle pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka. Seseorang berdiri di sana dengan wajah datar.

"Tuan Abyseka..."

"Mau kemana?"suaranya datar dan tajam.

"Ke personalia, mau mengajak Vio makan bersama ."

"Kita makan di luar. Bawa buku catatanmu."

"Ba...baik"

Pelangi kembali mengambil buku catatan dan tas tangannya. Kemudian menyusul Tuan Abyseka.

Bertiga Pelangi dan Tuan Abyseka dengan seorang supir berada satu mobil menuju sebuah restor yang entah dimana. Pelangi tidak begitu mengenal daerah pinggir kota ini.

Pelangi duduk di samping Tuan Abyseka dengan tegang. Belum pernah ia merasa setegang ini. Ditambah debaran jantungnya yang semakin keras.

Kenapa harus Arjuna sih yang jadi atasanku? Batin pelangi menggerutu. Hai jantung, Tenang sedikit ya, jangan sampai suaramu terdengar keluar. Bikin malu.

Abyseka sendiri sedang berusaha mengendalikan rasa antusisnya saat ini. Tadi Abimanyu mengatakan kepadanya bila Pelangi sudah di pindahkan ke pabrik dan menjadi sekertaris. Sontak ia langsung menuju pabrik.

Di perhatikannya Pelangi melalui sudut matanya. Mengamati setiap gerak-gerik gadis itu, di balik sikap dingin Abyseka. Ada senyum di sudut bibir Abyseka yang biasanya datar, melihat kegugupan Pelangi.

"Resto biasannya Tuan?" tanya sopir. Memecah lamunan Abyseka.

"Ya."

"Baik. Tuan Zaki sudah menunggu di sana."

Sampai di sebuah resto, sopir membukakan pintu mobil untuk Tuan Abyseka dan Pelangi segera keluar dari mobil berdiri di dekat jalan menuju pintu masuk resto. Setelah Tuan Abyseka melewatinya ia mengikuti dari belakang.

Di sebuah ruang privasi, Pelangi duduk berhadapan dengan Tuan Abyseka dan berbagai macam makanan tersedia di atas meja. Tuan Zaki sang asisten hanya mengantar mereka ke ruangan itu kemudian kelaur membiarkan mereka berdua di dalam ruangan.

Buset dah ini pasti bayarnya mahal banget. Batin Pelangi. Hanya makan siang aja pake ruang privasi segala. Alergi ya dia dengan orang-orang di sekitarnya.

"Makanlah."

"Baik." kata pelangi sedikit membungkuk.

Pelangi makan dengan kikuk. Karena belum pernah dia makan, makanan semewah ini. Salmon, daging kepiting, dan entah apa lagi namanya. Di tata dan di hias dengan sangat cantik. Kalau boleh memilih, Pelangi lebih memilih menyimpan makanan yang cantik ini daripada memakannya.

Selesai makan, Abyseka memerintahkan Pelangi mencatat kegiatannya dan mengingatkannya bila waktunya sudah dekat. Tidak ada yang boleh terlewat satupun.

Kemudian mereka kembali ke pabrik. Kali ini mereka berempat, Pelangi dan Tuan Abyseka duduk di kursi belakang. Tuan Zaki duduk di samping supir.

######

Sepulang kantor, Abyseka langsung membersihkan diri. Mengenakan celana santai dan kaos casual berwarna coklat, ia duduk di tepi jendela apartemennya yang lebar. Mandangi lampu-lampu rumah yang terlihat kecil seperti bintang-bintang yang bertebaran.

Pikirannya kembali pada kebersamannya seharian ini dengan Pelangi. Ada debaran asing yang ia rasakan saat bersama Pelangi. Entah apa itu. Seperti cubitan-cubitan kecil di dada. Tapi membuatnya kecanduan, ingin merasakannya lagi dan lagi.

Abyseka menghembuskan nafas berat. Kadang ia merasa sangat kenal dengan Pelangi. Rasanya senyum berlesung pipi itu tidak asing untuknya.

Senyum itu selalu terbayang, seakan aku sudah lama mengenalnya. Tapi...bila kuingat-ingat lagi, kapan aku mengenalnya? Atau pada saat aku amnesia? Benarkah?

Abyseka selalu berusaha mengingat saat-saat itu. Tapi makin ia berusaha mengingatnya, kepalanya akan semakin berdenyut-denyut sakit. Pernah sekali waktu Abyseka tidak memperdulikan sakit kepalanya. Ia terus berusaha membuka memorry saat amnesia. Hasilnya ia jatuh pingsan.

Abyseka mengacak rambutnya kesal.

"Akhh...mengapa aku melupakan masa itu? Apa yang terjadi waktu itu?"

Sudut matanya kemudian menangkap gelang anyaman yang ada di pergelangan tangan.

Siapa yang memberiku gelang ini? Aku hanya mengingatnya samar. Yang kutahu ini benda penting, mengingatkanku akan dirinya. Tapi siapa?

Kepala Abyseka kembali berdenyut sakit.

Sial! Mengapa sakit kepala ini selalu datang tiap kali aku berusaha mengingat saat itu.Menyebalkan sekali!

Ingatan Abyseka hanya sampai pada saat seseorang dengan jemarinya yang kecil sedang menganyam akar wangi langsung di pergelangan tangannya. Hanya itu. Tapi jemari siap itu?

Abyseka masih asik dengan kesendiriannya sampai waktu tengah malam, matanya baru mengantuk.

######

Teman-temannya seperti Indah, Tata dan Emi sudah ribut mengirim pertanyaan perihal dirinya pingsan di ruangan Tuan Abyseka. Begitupula pertanyaan seputar gosip yang menyebar dengan cepat.

Dengan sabar Pelangi menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya. Dan meluruskan gosip yang terlanjur mencuat.

Sudah dua Minggu lebih Pelangi menjadi sekertaris Tuan Abyseka. Ia harus berangkat ke kantor lebih pagi. Pukul setengah enam Pelangi sudah harus di shelter bus umum, menuju kantornya yang sekarang rasanya ada di ujung dunia. Nunjauh di sana.

Seperti hari ini, jam setengah enam sampai di shelter terdekat dengan kantornya. Pelangi masih harus berjalan kira-kira seperempat jam baru sampai gerbang besi di depan pabrik. Ia harus bergantian masuk dengan para pegawai pabrik yang rata-rata mengendarai sepeda motor.

Ada pintu gerbang lainnya, tapi biasanya digunakan untuk pintu masuk yang menggunakan mobil. Siapa lagi kalau bukan boss-boss papan atas.

Pelangi belum sempat mencari kost yang dekat dengan pabrik. Karena hari minggunya yang berharga digunakan untuk istirahat rebahan dan tidur.

Tuan Abyseka bekerja seperti mesin robot. Tepat waktu dan terus menerus tanpa henti. Bahkan Pelangi kerapkali mendapati bossnya itu melewatkan makan siang. Dan Pelangi harus berulang kali mengingatkannya untuk makan.

Pelangi berencana membeli sepeda motor setelah mendapat kos baru di dekat pabrik. Ia tidak membelinya saat ini karena lebih nyaman menggunakan kendaraan umum. Karena sepulang kerja Pelangi pasti kelelahan dan bisa memejamkan matanya di bus meskipun hanya satu jam saja.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

semangat, Pelangi..!!!🥰

2024-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!