Ingatlah

Bab 2

Abimanyu menyusul Abyseka menuju mobil mereka yang akan mengantar pulang ke Mension Abimanyu.

"Tidak bisakah kau sedikit saja perhatian pada gadis yang kau tabrak tadi?" protes Abimanyu pada Abyseka. "Setidaknya minta maaf. Sulitkah itu?"

"Tidak akan!." jawab Abyseka ketus. "Salah dia, tidak konsentrasi"

"Bukankah akan lebih baik, lebih gantelman bila laki-laki yang lebih dulu minta maaf dan memperlakukan wanita dengan lembut? Betul?"

"Persetan!"

Abimanyu menarik nafas kesal sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Aby....Aby... seandainya saja kau tau siapa itu Pelangi. Akankah sikapmu seperti tadi?Tidakkah kau tahu, kau bahkan berhutang tidak hanya nyawa kepadanya. Bahkan hatimupun ada dalam genggamannya... Aku ingin lihat,. bagaimana akhir perjalanan hatimu yang keras itu.

"Ayo pulang...bengong begitu jadi seperti patung museum."

Sekali lagi Abimanyu menghela nafasnya melihat kelakuan sepupunya yang sedingin es batu.

###########

Baru saja Pelangi keluar dari kamar mandi, setelah berkutat di pabrik yang lumayan panas. Hpnya menjerit notofikasi sebuah pesan baru saja masuk.

Tuan Abimanyu

'Maafkan kelakuan Abyseka.Aku harap kau tidak terlalu tersinggung atas perbuatannya hari ini. Apa ada yang terluka? Besok periksa saaj ke rumahsakit. Biaya pengobatan akan di tanggung oleh perusahaan.'

Pelangi

'Tidak ada yang terluka Tuan. Saya baik-baik saja, jadi tidak perlu ke rumahsakit. Terimakasih atas perhatiannya Tuan.'

Tuan Abimanyu

Sudah kubilang jangan memanggilku Tuan. Ok, sekarang masih kumaafkan. Suatu saat bila kita sudah menjadi saudara, hapus panggilan itu. Geli rasanya dipanggil olehmu Tuan, rasanya seperti aku jadi Datuk Maringgih!'

Tuan Abimanyu

'Baiklah, selamat beristirahat. Besok aku ijinkan libur satu hari. Aku tau pasti ada bagian tubuhmu yang sakit karena jatuh tadi.'

Pelangi

Terimakasih Tuan. Saya baik-baik saja. Besok saya tetap masuk, karena memang tidak ada yang terluka Tuan.

Selamat malam'

Pelangi mengakhiri percakapannya. Tuan Abimanyu memang sangat baik dan penuh perhatian padanya. Terkadang Pelangi merasa tidak enak hati. Apalagi bila sampai di ketahui oleh karyawan lain. Serasa jadi pelakor. Karena Tuan Abimanyu sudah memiliki istri yang baik hati dan cantik bak boneka India.

Abimanyu sendiri sedang duduk di ruang d keluarga sambil menikmati secangkir kopi yang dibuatkan Almitha istri tercintanya.

"Wa siapa Ayah?" tanya Almitha. Wajahnya dipenuhi tanda tanya

Abimanyu mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.

"Tidak usah cemburu, aku wa Pelangi. Tadi sebelum pulang kantor dia bertabrakan dengan Aby. Sampai terpental...."

"Ya Tuhan....dia tidak apa-apa?" Mata Almitha melebar.

"Dia baik-baik saja. Yang pasti, hatinya tidak baik-baik saja. Aby malah memarahinya dengan ketus bahkan minta maaf saja tidak."

"kasihan Pelangi....kenapa Ayah tidak mencoba mendekatkan mereka sih? Kan banyak kesempatan kalau di kantor."

"Pelan-pelan dong Nda. Kalau cepat-cepat nanti karyawan lain jadi bertanya-tanya. Belum lagi gosip miring pasti ada. Miring kiri, kanan. Bikin ribet saja."

Abimanyu menyesap kopi di hadapannya.

"Rencanaku, Pelangi akan kupindahkan ke Departemen Umum yang lebih dekat dengan kerja para direktur. Terus di pindahkan jadi sekertaris Aby. Bagaimana? Ide brilian?"

"Ok juga idenya. Secepatnya saja di laksanakan."

"Melaksanakan apa?" tiba-tiba saja Abyseka sudah berdiri di belakang mereka.

Abimanyu mengedipkan matanya pada Almitha.

"Aku ingin mengubah susunan karyawan di kantor. Ada bebera karyawan yang kuanggap lebih berpotensi di bidang tertentu."

Abyseka menyatukan alisnya,"Bagaimana dulu sewaktu penyaringan masuk. Apa mereka tidak di teliti dengan benar?"

"Sudah, namun lama-kelamaan potensi mereka yang sebenarnya baru terlihat." Abimanyu melingkarkan tangannya di pinggang Almitha dan menggesernya untuk lebih rapat dengan dirinya. "Lagipula untuk pembukaan perusahaan barumu akan butuh karyawan juga. Kau bisa mengambilnya dari tempatku."

Memang kedatangan Abyseka dari rumahnya di Ibukota ke lain daerah dimana Abimanyu berada adalah untuk mengembangkan perusahaannya yang ada di Ibukota. Papa Rahardi menganggap Pabrik milik YT Group yang berada di pinggir kota sangat berpotensi untuk di kembangkan menjadi lebih besar.

Abyseka melirik kelakuan sepupunya Abimanyu yang dengan terang-terangan di hadapannya mulai menciumi pipi dan rambut istrinya.

"Bisakah kalian lebih sopan sedikit?" Protesnya.

"Mau adegan dewasa di kamar sana. Bukan pamer di depanku. Memalukan!"

Abimanyu tersenyum jail, "Makanya cari istri...jomblo kok jadi hobi. Lagipula ini rumah aku...bebas dong."

"Bocah mesum akut!" Abyseka beranjak dari ruang keluarga sembari bersungut-sungut. Ia langsung naik menuju kamarnya. Diiringi tawa jail milik Abimanyu.

Untuk sementara Abyseka tinggal di Mension milik Abimanyu. Selama masa transisi pengembangan usahanya. Awalnya ia tidak habis pikir mengapa papanyanya pemilik YT Group menyuruhnya untuk mengembangkan pabrik di kota Y yang terletak di pinggir kota. Namun setelah ia sendiri mensurvei potensi layak tidaknya pabrik itu. Abyseka sangat yakin perusahaan itu bisa berkembang sangat pesat

Apalagi ia sendiri yang akan memimpin semua pengembangan produk.

Abimanyu menghabiskan tegukan kopi terakhirnya.

"Kita ke kamar saja yuk. Lebih enak di sana sambil istirahat."

"Yuk..."Almitha bergelayut manja di lengan Abimanyu.

"Rencana pengembangan perusahaan, apa ada kaitannya dengan kisah Abyseka dan Pelangi tidak ya?" Abimanyu mengusap dagunya.

"Om Syailendra tahu tidak tentang mereka berdua?"

"Kelihatannya tidak. Yang tahu hanya Tante. Itupun kita yang menceritakannya."

"Kasihan Pelangi....."

########

Selesai melakukan sholat subuh,Pelangi langsung masuk ke kamar mandi. Bersih-beesih diri dan bersiap ke kantor. Hari ini rencananya team mereka akan sekali lagi mengecek ulang semua laporan dan kerja keras selama ini. Berangkat pagi, untuk mengantisipasi bila harus ke pabrik yang letaknya lumayan jauh.

"Ibu karier.....pagi bener siapnya." sapa Linda teman satu kost Pelangi.

"Biasa....banyak cowok yang harus dikerjain ."

Linda tergelak, "Aku kasihan sama cowok-cowok itu. Kalau Kak Pelangi yang ngerjain mereka, bisa-bisa mereka patah hati sampai ke tulang-belulangnya."

"Kamu tidak berangkat kerja?"

"Berangkat Kak, mau cari sarapan dulu. Mau kubelikan sekalian?"

"Tidak usah, terimakasih. Aku beli di cafe kantor saja.Ok, pergi dulu ya....by"

"By..."

Sampai di tepi jalan, Pelangi baru saja hendak memesan ojol tiba-tiba Surya datang menghampirinya.

"Udah lupain Abang ojol kesayangan. Ayo....bareng aku aja." kata Surya sambil mengulurkan helm pada Pelangi.

"Sesuai aplikasi ya Mas...."

"Ya Mbak. Kemana saja saya antar. Asal tidak ke neraka....Abang takut...."

Dengan senyum sumringah Pelangi naik kebon boncengan Surya. Dan membelah jalanan ibukota menuju kantor. Hari ini sengaja Pelangi mengenakan celana panjang berwarna dongker dan blazer dengan warna senada. Iner yang di kenakan juga berbahan catton yg nyaman di pakai. Karena hari ini perkiraan ia akan kembali ke pabrik di pinggir kota.

Sampai parkiran basemen Pelangi menyerahkan helm yang di pakainya pada Surya.

"Nanti sekali lagi kita ngebut ke pabrik." kata Surya sambil mencantelkan helm pemberian Pelangi.

"Pake motor?"

Surya memandangi Pelangi sejenak,"Tidak apa-apakan? Supaya cepat saja maksudku. Atau terlalu melelahkan? Kita pakai mobil Felix saja kalau begitu..."

"Pakai motor saja supaya tidak terlalu lama terkena macet."

"Woke..."

Dari tempat parkiran ketika hendak masuk lift menuju lantai tempatnya bekerja Pelangi kembali bertemu dengan Abimanyu dan Abyseka.

"Pagi Tuan Abimanyu, Tuan Abyseka" sama Surya dengan sedikit mbungkuk. Diikuti oleh Pelangi..

"Pagi semuanya." sapa Abimanyu. Sedang Abyseka hanya menganggukkan kepalanya sedikit. kemudian pandangannya lurus kembali.

Pelangi dan Surya menuju lift yang biasa di gunakan karyawan. Sedang Abimanyu dan Abyseka menuju lift yang khusus digunakan untuk CEOdan para direktur.

Sekilas Pelangi melirik pergelangan tangan Abyseka, dilihatnya ada lilitan gelang dari anyaman rumput akarwangi.

Dia masih mengenakan gelang rumput itu. Apakah dia masih mengingat sesuatu tentang gelang itu, atau karena gelangnya tidak bisa di lepas?Akankah dirimu menyadari sesuatu Mas Arjun? Ingatkah tentang kita?

Mata Pelangi menghangat. Sekeras apapun ia berusaha melupakan kenangannya bersama Abyseka, rasanya sia-sia saja. Semakin keras ia berusaha semakin dalam kenangan itu tenggelam dalam ingatannya.

"Kau baik-baik saja?"tanya Surya." Wajahmu seperti ingin menangis "

Pelangi menggelengkan kepalanya, " Aku tidak apa-apa. Apa wajahku sesuram itu?Mungkin karena belum sarapan nasi uduk ya..."

Surya melengkungkan bibirnya ke bawah, "Hmmm...kebiasaan Indah menular...Berwajah suram kalau belum makan atau telat makan semenit saja."

Setelah keluar dari lift, Surya dan Pelangi langsung bergabung dengan rekan-rekan mereka . Kembali larut dalam pekerjaan yang seolah tidak pernah berhenti.

Pukul sepuluh, Pelangi dan teamnya harus kembali ke Pabrik. Kali ini untuk melakukan foto produk agar team yang lain bisa membayangkan seperti apa detail dan warna produk.

Kali ini mereka menggunakan motor. Karena menurut penglaman, bila mengendarai motor maka waktu akan terbuang di jalan karena terjebak macet. Pelang membonceng Surya dengan motor besarnya sedang Felix sendiri yang juga sama besarnya dengan milik Surya.

"Pegangan yang kuat, jangan sampai kamu terbang terbawa angin" kata Surya ambil memasangkan helem di kepala Pelangi. Kemudian membantu mengancingkan juga.

"Heh???Memang kamu akan ngebut sekali? Apa iya aku akan terangkat bila tertiup angin?" Pelangi mencengkeram lengan jaket Surya.

Sesaat Surya hanya memandangi Pelangi, "Ya ampun.....ini perusaahan keliru kali ya...ngangkat pegawai o'on macam ini."

"Ih!..."Pelangi gemas dengan jawaban Surya, sambil memukul lengannya.

"Kalian mau unyu-unyuan di sini atau mau kerja?" tanya Abimanyu yang tiba-tiba ada di samping Surya dan Pelangi.

"Ma..Maaf Tuan, kerja." jawab Pelangi sedikit gugup. Apalagi dilihatnya Abyseka berdiri kaku di belakang Abimanyu.

Abiseka sudah melihat keakraban Surya dan Pelangi sejak keluar dari lift khusus. Tanpa sengaja ia mengerutkan bibirnya.

Mengapa gadis itu bisa santai bergurau dengan lelaki lain? Batin Abyseka, yang seperti itu seharusnya tidak perlu di pertontonkan di hadapan umum. Apalagi dihadapanku! Menjijikkan!

Setelah Surya dan Pelangi menghilang dari hadapan mereka, Abimanyu menyikut Abyseka.

"Pasangan serasi ya mereka. Kinerja dan hasil kerja mereka juga ..begini."

Abimanyu mengacungkan jempolnya.

"Nggak kebanyakan

bacot. Ayo berangkat!"

"Ayook..." bibirnya menyunggingkan senyum. Cemburu? Bilang boss...nggak pake marah gitu dong.

Begitu sampai pabrik, Pelangi dan Surya langsung menuju showroom. Tempat di mana beberapa produk baru akan di pertontonkan pada CEO, para direktur dan investor.

Produk baru terpajang berderet di meja dan berapa lampu sorot juga menerangi produk di atas meja. Memang rencananya sehari sebelum di lempar ke konsumen beberapa produk elektronik akan di perkenalkan pada para direktur dan investor tertentu. Bila semua investor, dan direktur di undang ,takutnya akan mengalami kebocoran sebelum produk di lempar ke pasar.

Pelangi membantu mengatur letak lampu dan bunga-bunga hiasan di atas meja. Juga beberapa makanan ringan dan minuman. Tanpa disadarinya ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya dengan tajam namun tersembunyi diantara dokumen-dokumen yang bertumpuk di sebuah meja.

Abyseka memperhatikan gerak-gerik Pelangi yang bergerak lincah kesana kemari, pastinya dengan diam-diam. Jangan sampai Abimanyu memergokinya, bisa habis diejek dan di tertawakan olehnya.

Sekian kali tanpa sengaja Abyseka bertemu dan melihat Pelangi, dia merasa ada yg salah dengan matanya. Matanya selalu tertarik ke arah dimana Pelangi berada. Seolah ada magnet pada pelangi yang menarik matanya untuk selalu melihat atau melirik padanya. Sedikit banyak hal ini mengganggu Abyseka.

Ada banyak rasa tidak nyaman di dada Abyseka setiap melihat keberadaan Pelangi. Marah, rindu? Buat apa? Mengapa? Sedih, nyeri? Tapi juga senang dan antusias. Abyseka mengusap wajahnya dengan kasar.

Ada apa denganku? Rasa ini membingungkan ku. Belum pernah ada sebelumnya. Apakah aku jatuh cinta pada gadis itu, atau malah patah hati? Apakah dia salahsatu orang yang ada dalam masa amnesiaku? Siapa yang seharusnya kutanya? Abimanyu? Papa? Mama? Siapa?!

Abyseka menggebrak meja tanpa sadar.

"Sabar bro...." Abimanyu bergegas mendekati Abyseka dan menepuk pundaknya.

"Ada yang salah? Apa yang membuatmu marah?"

Abyseka hanya menggeleng cepat, "Tidak ada apa-apa." kemudian meninggalkan Abimanyu yang menggaruk tengkuknya bingung.

Ada yang lagi galau nih. Batin Abimanyu

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

keren, kak.. suka ceritanya..😍

2024-07-11

0

Sulfia Nuriawati

Sulfia Nuriawati

kelamaan g up jd lupa sm crta awalnya, kirain gantung aja

2024-07-11

0

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

apa Abiseka pernah amnesia yaaak....🤔🤔🤔

2024-02-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!