Jangan jauh-jauh

BAB 7

"Kalau kau mau, bisa lihat apartemen yang kutinggali sekarang," kata Vio. Setelah Pelangi menanyakan apakah ia tahu tempat kost di dekat pabrik. "Masih ada unit yang kosong."

"Jangan kost. Masa sekertaris boss tidur di kos-kosan. Malu-maluin boss, dikira kurang menggajimu."

"Sebenarnya aku tidak perduli, apa mau kost atau apartemen. Yang pasti kalau kost harganya lebih murah dibanding apartemen. Dan paling penting adalah tidak jauh dari pabrik."

"Tapi lebih nyaman apartemen. Luas dan banyak fasilitas yang bisa digunakan penghuni sekitar apartemen. Ruang publik, ruang fitnes, area laundry atau antar jemput laundry bila tidak sempat mencuci sendiri."

"Baiklah. Pulang kerja nanti aku ikut ke apartemenmu ya. Lihat-lihat apa cocok tidak dengan seleraku."

Pelangi dan Vio ada di ruang pantry untuk makan siang. Tadi mereka memesan makanan lewat aplikasi online

"Selama ini kamu tinggal di mana?"

"Di sekitar daerah B."

"Jauh amat. Jauh sekali itu dari sini. Apartemen apa?"

"Kost putri."

"Apa?! Kost?"

"Sstttt...Pelankan suaramu. Memang semengerikan itu ya aku tinggal di kos-kosan?"

Vio menepuk-nepuk dahinya, "Pelangi...secepatnya kamu harus cari apartemen."

"Ok. Aku sudah selesai nih makannya. Mau buat kopi untuk Tuan Abyseka. Biasanya sehabis makan siang, selalu minta di buatkan kopi pahit. Duluan ya..."

Setelah membuat kopi, Pelangi kembali ke ruangannya. Diletakkannya kopi di samping Tuan Abyseka yang ternyata sudah duduk di kursi kebesarannya.

"silahkan Tuan, kopinya."

"Hhmm...nanti sepulang kerja kita lihat apartemenmu."

"Apa Tuan? Apartemen?"

"Ya. Bukankah tempat tinggalmu sekarang jauh dari kantorkan?"

"Betul Tuan."

"Jangan lupa."

Tidak sengaja tadi Abyseka mendengar pembicaraan Pelangi dengan Viona. Selama ini ia lupa bila tempat tinggal Pelangi jauh dari pabrik. Ia terlalu asik menikmati kebersamaannya dengan Pelangi. Gadis itu sangat bisa di andalkan, semua jadwal kegiatan tertata rapi, dan on time. Limabelas menit sebelum kegiatan berikutnya,Pelangi sudah mengingatkan Abyseka. Tidak ada satupun yang terlewati.

Pantas saja, aku sering melihat kelelahan di mata gadis itu. Batin Abyseka, rupanya pekerjaan yang harus on time, juga karena waktu istirahatnya yang berkurang. Padahal sudah ku atur agar tidak ada lembur dan pulang kantor tepat waktu. Pimpinan macam apa aku ini sama sekali tidak memperhatikan karyawannya.

Pelangi segera memberitahu Vio bila nanti pulang kerja tidak jadi ikut untuk melihat apartemennya.

Sebelum waktu pulang kantor, Abyseka meminta Pelangi menemaninya keliling ruang produksi. Melihat langsung kegiatan operasional para karyawannya.

Selama dua Minggu Pelangi mulai bekerja

di pabrik, Abyseka mewajibkan Pelangi menghafal beberapa istilah dalam dunia elektronik. Tujuannya agar bila ikut dalam pertemuan antar investor dan klient ia bisa mengerti apa yang dibicarakan dan tidak mudah tertipu.

Selesai berkeliling,Pelangi di ajak juga melihat ruang kantin pabrik. Yang menurut Pelangi kurang memadai. Ruangannya bersih, tapi kecil dan kurang fentilasinya. Apabila di gunakan oleh karyawan pabrik yang banyak, maka saling berhimpitan. Selama ini, mereka sebagian akan makan di luar ruangan.

Sampai di ruangannya, Abyseka menghempaskan tubuhnya di sofa. Wajahnya kelihatan masam. Sudah datar, plus masam....haishhh...

"Pelangi bagaiman pendapatmu tentang ruang makan karyawan tadi?" tanya Abyseka.

"Maaf Tuan, menurut saya kurang luas dan kurang terang."

"Zaki, apa kau tau keadaan kantin karyawan seperti itu?"

Pelangi sekilas melirik ke arah Tuan Zaki. Pria muda dan putih itu membenahi dasinya. Gerah dia.

"Iya Tuan, sudah lama seperti itu."

"Pelangi..."

"Ya Tuan."

"Besok coba cari tau apa ada pengajuan perbaikan kantin dari pabrik ke bagian keuangan."

"Baik..."

"Lihat juga pengajuan lainnya. Seingatku pabrik pernah mengajukan kucuran dana untuk ruang hijau dan renovasi. Yang kena renovasi....mana ya?"

"Ok, Pelangi boleh kembali ke ruanganmu dulu. Ingat, nanti kita lihat apartemen yang di sediakan perusahaan untuk karyawannya."

"Baik Tuan. Saya permisi."

Sepeninggal Pelangi Abyseka meminta Zaki sedikit mendekat padanya.

"Sudah kau siapkan apartemennya?"

"Sudah Tuan, yang Permata hijau hanya tinggal satu unit. Saya kemudian melihat apartemen Langit Biru. Masih ada beberapa unit. Saya langsung memesan dua unit. Yang satu di lantai paling atas. Lantai sepuluh, sedang yang satunya di lantai sembilan."

"Langit Biru ya..."

"Ya Tuan, lingkungannya lebih asri dibandingkan Permata hijau. Tapi agak lebih mahal."

"Tidak apa-apa....Siapkan mobil, kita pulang. Siapkan juga barang-barangku. Aku pindah malam ini ke Langit Biru."

"Baik."

Zaki langsung undur dari ruangan, menelpon supir untuk membawa mobil dari tempat parkir ke depan loby pabrik.

Pulang kerja Pelangi bersama Abyseka, Zaki dan supir menuju apartemen Langit Biru yang akan di tempati Pelangi. Sebenarnya ia merasa kurang enak hati karena harus di antar oleh Tuan Abyseka dan Tuan Zaki.

Sesampainya di Apartemen Langit Biru mereka langsung menuju kamar 0910 yang akan ditempati oleh Pelangi. Abyseka memberitahu kode angka bila hendak membuka kunci apartemen.

Begitu memasuki unit apartemennya, Pelangi tak henti-hentinya mengagumi keindahan tataruang di dalamnya. Begitupula dengan furnitur yang sudah lengkap tersedia.

Tuan, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Pelangi.

"Tidak, " sahut Abyseka, "Menurutku ini malah lumayan sederhana. Liat saja toiletnya, tidak otomatis, wastafelnya, masih yang standar saja."

Pelangi mengangkat kedua alisnya, Semewah ini dibilang biasa. Orang kaya mah bebas. Apa aja sah di kritik kalau tidak sesuai standarnya.

"Tuan, maaf. Biaya sewa apartemen ini pasti mahal. Terlihat dari barang-barangnya. Saya pasti belum mampu membayarnya. Jadi..."

Abyseka melirik Pelangi, "Jangan khawatir ini perusahaan yang menanggung biayanya."

"Benarkah? Saya belum pernah liat aturan seperti itu dalam panduan peraturan perusahaan."

"Ada...ada yang seperti itu. Benarkan Zaki?"

Pelangi melihat ke arah Zaki, yang di lihat mengangguk kaget.

Memang ada ya peraturan seperti itu? tanya batin Zaki. Tuan Abyseka mengada-ngada ini. Wah...mulai bucin kelihatannya.

Wajah Pelangi melihat rlihat ragu, ke sekelilingnya.

Semua perabotan terlihat sangat Lux dan pastinya mahal. Jangankan menggunakannya, menyentuhnya saja Pelangi tak berani.

"Nanti malam, beresi barang-barangmu. Besok pagi biar sopir mengantarmu ke sini. Masuk kantor agak terlambat tidak apa-apa "

"Tapi, saya belum bersih-bersih tempat ini"

"Nanti malam ada team cleningservice yang akan mengerjakannya. Kamu tinggal bawa barangmu besok pagi"

Ternyata Arjuna orangnya suka memerintah seperti ini. Batin Pelangi, selama ini yang ia tahu Arjuna sangat kooperatif bahkan cenderung penurut.

Abyseka melangkah keluar di ikuti Pelangi dan Zaki.

"Code masuk apartemen ini adalah ulangtahunmu. Bila ingin mengubahnya, beritahu aku. Nanti kuajari"

"Baik. Ulangtahun? Tuan tahu?"

"Di biodatamukan ada. Ayo, kita pulang. Antar Pelangi dulu baru kita pulang."

"Baik," jawab Zaki.

Sebelum sampai tempat kost Pelangi, Abyseka mengajak mereka untuk makan malam terlebih dahulu. Pukul sepuluh malam barulah Pelangi bisa meluruskan punggungnya di kasur.

Ya ampun capeknya. Batin Pelangi. Belum lagi ngepak barang-barangku. Besok pagi pukul tujuh sopir sudah ada di depan rumah kost. Aku beresi baju-baju dan keperluan mandi dulu saja. Lebihnya biar pulang kantor baru angkut-angkut lagi.

Pelangi beranjak dari tidurnya dan mulai menata beberapa baju kedalam koper. Setelah selesai, rasa kantuk membuat Pelangi tidak lagi bisa menahan diri untuk membuka matanya. Baru saja tubuhnya menempel kasur, dengkuran halus langsung terdengar.

Pukul tujuh pagi, Pelangi sudah berlarian keluar kost, ternyata benar, Pak Hadi sopir yang biasa mengantar jemput Abyseka sudah berdiri di muka kost Pelangi.

"Pagi Pak." Sapa pelangi.

"Pagi non. Sini bapak bantu." Pak Hadi membantu mengangkat koper ke dalam bagasi mobil.

"Tunggu sebentar Pak ya, saya ambil yang lain sekalian pake baju kantor." Pelangi kembali berlari ke dalam kamar diiringi senyum Pak Hadi. Bagaimana tidak senyum-senyum, biasa melihat Pelangi mengenakan pakaian rapih dan sopan. Kali ini ia melihat pelangi hanya mengenakan celana selutut dan kaos yang kebesaran yang hampir menenggelamkan tubuhnya yang kecil.

Limabelas menit kemudian keluar dari kostnya dengan membawa sebuah tas besar dan sebuah tas kecil.

"Ayo Pak." Pelangi langsung masuk dalam mobil di samping Pak Hadi. Bergegas Pak Hadi masuk mobil.

"Non, sebaiknya non duduk di belakang saja."

"Lho...kenapa Pak? Tidak boleh ya, karena ini tempat Tuan Zaki?"

"Bukan begitu, kalau Tuan Abyseka tau Non duduk di depan, saya yang si tegur non."

"Kok bisa?Kan sama saja....di depan atau di belakang. Malah cepat sampai yang di depan dong."

"Non...jangan becanda ah."

"Pak, bukannya Tuan Abyseka tidak ada? Apa salahnya saya nyicipi duduk di depan. Ayok ah....nggak akan tau Tuan Abyseka atau Tuan Zaki."

"Ya deh, tapi jangan bilang-bilang ya Non."

"Wani piro?"

"Non ..."

"Canda Pak....canda. Beres deh, saya nggak akan bilang-bilang." Pelangi mengatupkan kedua jari telunjuk dan jempolnya, kemudian menggesernya di depan bibit. Tanda tutup mulut.

Selama satu jam perjalanan menuju apartemen, Pelangi banyak bercerita dan sesekali bercanda dengan Pak Hadi. Bayangkan perjalanan sejam dan harus diam saja, pasti rasanya tidak enak sekali.

Pak Hadi ternyata sudah bekerja pada keluarga Rahardi sejak Tuan Abyseka SMU, dan sikap dingin Tuan Abyseka muncul sejak ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya.

Sikapnya langsung berubah muram. Tuan Abyseka bukannlah orang yang ceria tapi ramah dan mudah tersenyum. Sejak kejadian itu, senyum ramahnya hilang berubah jadi muram. Lebih pendiam dan penyendiri.

Sampai di apartemen, Pelangi terkejut dengan semua perubahan yang terjadi. Kulkasnya sekarang sudah terisi penuh dengan berbagai macam sayuran, freezernya juga sudah terisi dengan makanan Frozenfood.

Di dapurnya sudah penuh dengan piring gelas dan semua pernak perniknya dengan gradasi warna senada. Ping muda dan biru muda. Meja makan dan meja sofa di atasnya sudah di hiasi pot besar berisi bunga segar. Yang harumnya semerbak memenuhi ruangan.

Pelangi membuka toilet yang ada di dekat dapur, tebakannya benar, sudah terisi dengan berbagai macam kebutuhan kebersihan dengan dominasi warna biru.

Kamar utama yang hendak ia tempati tidak mengalami banyak penambahan. Meja rias hanya dihiasi dengan vas bunga yang tidak terlalu besar dan sudah di isi dengan bunga mawar berwarna putih dan ping.

Ketika masuk dalam kamar mandi, Pelangi tidak terlalu terkejut lagi. Warna ping dan biru menghiasi semua perlengkapan mandi.

Pelangi memandangi koper bajunya, tiba-tiba rasa insecure menyergapnya.

Rasanya tidak pantas kamar semewah ini diisi dengan baju-baju milikku. Sangat timpang rasanya baju sederhana milikku masuk dalam lemari kayu yang terlihat kokoh itu. Hah...sudahlah. Paling ini hanya sementara. Bila ada waktu libur aku akan mencari apartemen yang lebih sederhana.

Pelangi keluar kamar, langsung menemui Pak Hadi yang menunggunya di ruang tamu.

"Ayo Pak, kita ke kantor."

"Tidak sarapan dulu Non?"

"Tadi sebum berangkat saya sudah minum sereal dan makan roti."

Di ruangannya, Abyseka sedang mengamati beberapa dokumen. Ketika teringat akan bagaimana reaksi Pelangi terhadap perubahan isi dari apartemennya, ia tersenyum sendiri.

Pasti Pelangi akan memekik kegirangan. Aku sudah meminta Zaki untuk mengisi beberapa perabotan ke dalam apartemennya. Warnanya sesuai dengan warna seorang gadis namun sedikit maskulin. Aku tidak membelikannya kebutuhan makeup seorang wanita. Menurut Zaki setiap wanita memiliki kebutuhan makeup sendiri-sendiri. Satu orang dengan lainnya tidak sama. Bila si samakan maka akan terjadi masalah di kulitnya. Aku tidak mau itu terjadi. Lain kali saja akan kubelikan kebutuhan makeupnya, biar Pelangi yang memilihnya sendiri. Yang penting, sekarang Pelangi tidak berada jauh dariku.

Zaki yang berdiri tak jauh dari Abyseka, memandang Tuannya dengan heran. Mengapa Tuan Abyseka senyum-senyum sendiri.

Apakah dokumen itu sangat menarik sehingga Tuan Abyseka senyum-senyum sendiri? Lain kali kubawakan lebih banyak dokumen dari kantor pusat agar Tuan selalu tersenyum.

Terpopuler

Comments

Ummu Jihad Elmoro

Ummu Jihad Elmoro

asiikk...udah mulai bucin..

2024-07-11

0

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

mulai jatuh cinta agak nya Abyseka...💖

2024-02-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!