Entah mendapatkan keberanian dari mana, Aruna mendekatkan wajahnya, mempertemukan bibirnya dengan bibir pemuda di depannya. Efek afrosidiak telah menguasai dirinya. Apalagi melihat wajah tampan laki-laki di depannya itu, pertahanan Aruna runtuh seketika. Namun lebih penting lagi, dirinya harus segera menghilangkan racun sialan itu dari dalam tubuhnya. Dan sepertinya laki-laki ini bisa dipercaya.
Ciuman Aruna yang tergesa segera disambut oleh lawan. Hingga decapan terdengar berirama di halaman belakang yang sangat sepi itu. Suara ambigu itu memenuhi kesepian malam secara syahdu. Terdengar indah bertalu dengan suara binatang malam.
Sedangkan para penjaga bayangan dari kedua belah pihak, memalingkan wajah mereka yang ikut merona karena malu. Saling menoleh satu sama lainnya. Ah para tuan ini, seringkali melupakan keberadaan mereka. Sudahlah, nasib anj*Ng tunggal seperti mereka memang hanya sebatas jadi penonton yang tak dianggap.
Perlahan laki-laki itu mendorong Aruna ke belakang dan membaringkannya di tanah dengan hati-hati. Tangan kirinya menumpu tubuh agar tubunhnya tidak menekan gadis di bawahnya. Sementara tangan kanannya memegang erat tangan kiri gadis itu. Saling bertautan. Saling meremas jari.
Aruna mendongak saat pemuda itu menurunkan ciumannya. Memberikan sensasi lain di leher jenjangnya.
“Tolong jangan kelewatan.” Ucap Aruna setengah sadar. Pemuda itu menyeringai.
“Tenang saja. Meskipun aku laki-laki normal, aku tidak akan memanfaatkan wanita yang sedang tidak berdaya.” Ucapnya sebelum kembali membungkam bibir Aruna yang kini semakin merah merona. Basah dan menggoda.
Entah berapa lama Keduanya saling menikmati bibir masing-masing. Tangan kanan Aruna meremas punggung pria di atasnya saat sesuatu yang aneh ia rasakan. Hangat dan lega.
Aruna melepas tautan bibirnya. Sedikit mendorong tubuh jangkung di atasnya. Wajahnya memerah karena semua ini sangat memalukan untuknya. Hal ini di luar rencananya. Dia di luar kendali. Apalagi ia dengan jelas merasa ada sesuatu yang keras menabrak pahanya. Aruna sudah dewasa dan Ia tentu tahu itu apa. Mulai sekarang akan sangat canggung ke depannya.
“Kenapa?” tanya pemuda itu heran. Menaikkan alisnya saat menatap Aruna yang terlihat sangat bersalah.
“Ee...Sudah cukup. Saya sudah selesai. Terima kasih bantuan anda tuan.” Aruna mendorong tubuh tegap diatasnya dengan kuat.
Namun bukannya menjauh, pemuda itu malah mendekatkan wajahnya. Memperhatikan wajah Aruna yang semakin merona. Ia tidak akan melupakan momen sangat berkesan indah ini. Yang mungkin tidak akan hilang dengan mudah beberapa waktu ke depan. Wajah merona gadis ini sangat menawan.
“Nona Han, aku telah menandaimu sebagai milikku. Mulai saat ini ingatlah hal ini di hatimu.” Pemuda itu menunjuk satu kissmark di pundak kanan Aruna yang sengaja ia buat. Membuat gadis itu reflek menyentuh nya.
“Di masa depan, aku tidak hanya membuatnya di pundak, aku akan menandainya di seluruh tubuhmu.”
“Dasar mesum!” umpat Aruna membuat pemuda itu terkekeh pelan.
“Beberapa menit yang lalu, kamu sendiri yang melemparkan diri ke dalam pelukanku. Kemudian kamulah yang memulai ciuman yang sangat manis itu. Semua ini adalah pertama kalinya untukku. Jadi untuk seterusnya, hanya denganmu lah aku akan melakukannya di masa depan.”
“Omong kosong!” Aruna memalingkan wajahnya yang tersipu mendengarnya. Di sisi lain hatinya ia merasa senang karena ia adalah yang pertama untuk pemuda di atasnya. Memikirkannya ia juga tidak dirugikan karena Ini juga adalah ciuman pertamanya. Ia segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran anehnya.
“Nona Han. Kamu benar-benar pintar mematahkan hatiku.” pemuda itu dengan cepat merubah ekpresinya menjadi begitu teraniaya.
“Tolong menyingkir. Ini sudah sangat larut. Jika ada yang memergoki kita, akan menjadi hal yang sangat memalukan.” Aruna mendorong lebih kuat. Namun tubuh tegap di atasnya itu seperti batu sekarang. Sejengkal pun tidak berpindah. Sepertinya usaha yang dengan susah payah ia lakukan tidak berarti apa-apa untuk pemuda itu.
“Nona Han, kamu tidak boleh mendekati laki-laki manapun. Aku akan cemburu nantinya.” Ucapnya tegas.
“Kamu gila! Kita hanya sekali ini bertemu dan kamu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal seperti itu.” desis Aruna.
“Kamu memang gadis yang sangat menarik. Hanya kamulah gadis yang berani memanggil seorang Shen Su Huan sebagai orang yang mesum dan gila.”
“Anda....putra mahkota?” tanya Aruna membelalakkan matanya.
Pemuda itu mengangguk. “Jangan bereaksi berlebihan. Ya, itulah aku. Jadi ingatlah ini. Hanya kamu yang akan menjadi ratu di masa depan. Persiapkan dirimu.”
“Ini tidak masuk akal. Yang mulia, semua ini memang kesalahan ku. Tapi selain ciuman itu kita tidak melakukan hal lain. Jadi tidak bisakah anda melepaskan hamba?”
“Tidak. Sekali aku menandai milikku, tidak akan pernah aku lepaskan. Selamanya kamu hanya akan menjadi milikku.”
“Mohon putra mahkota jangan terlalu tidak punya malu.”
“Hahaha. Kamu membuatku semakin tertarik. Kamu sudah mengambil manfaat dariku tadi, dan sekarang mau pergi begitu saja?” Shen Su Huan memberikan kecupan manis di bibir Aruna sebelum bangkit dan merapikan bajunya.
Aruna segera berdiri. Merapikan hanfunya yang berantakan di bagian sekitar lehernya. "Tapi sepertinya bukan saya saja yang mendapat untung di sini."
Shen Su huan mengernyitkan alisnya. "Manfaat apa yang aku dapatkan?"
"Saya lihat anda juga menikmatinya tadi. jadi bisakah ini dianggap impas?"
"Tentu saja saya akan menikmatinya. Saya tidak akan keberatan untuk mengulanginya lain kali. Tapi tidak peduli apa. kamu sudah mengambil hak putri mahkota. Jadi kamu juga harus menjadi putri mahkotaku."
"Putra mahkota anda ini benar-benar keras kepala." Aruna berdecak kesal.
"Yah itulah aku." Shen Su Huan terkekeh. “Siapa yang telah berani memainkan trik padamu?” lanjut Shen Su Huan.
Gadis itu mengepalkan tangannya. Percayalah ia sedang mengutuk dengan begitu banyak di dalam hatinya pada pangeran Bai Tianli yang telah membuatnya terjebak dalam posisi yang sangat menyebalkan dan memalukan ini.
“Hanya seseorang yang tidak penting.” Jawab Aruna kesal. Bagaimana pun Bai Tianli adalah seorang putra mahkota dari kerajaan tetangga. Hubungan antara kedua kerajaan sangatlah baik, jadi dia tidak ingin memperpanjang masalah ini.
Shen Su Huan tahu jika Aruna tidak ingin membahasnya lebih jauh. Jadi dia membiarkan saja gadis itu merahasiakan nya. Memang kenapa jika gadis itu tidak memberitahu nya. Dengan kemampuan anak buahnya, hal itu tidak lah sulit untuk diketahui.
“Pergilah dari sini sebelum aku tidak bisa lebih lama lagi menahan diri.”
“Terima kasih yang mulia. Maaf karena hamba telah berlaku kurang sopan.” Aruna membungkukkan badannya.
“Tidak masalah. Kamu hanya cukup mengingat semua perkataan ku tadi karena aku sungguh-sungguh.” Ucap Shen Su Huan tegas.
“Emm untuk kejadian malam ini, hamba mohon yang mulia tidak memasukkannya ke dalam hati.” Ucap Aruna sebelum melompat ke atas pohon dan bergerak lincah menuju paviliunnya.
Shen Su Huan memperhatikan gadis itu bergerak lincah melompat dari atap ke atap dengan senyum di bibirnya. Semua ini sangat tidak terduga. Siapa yang akan menyangka jika seseorang seperti Han Aruna akan sampai di kediamannya dan memulai hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Ternyata rasa bibir gadis itu sangatlah manis. Pantas saja Bi Yun selalu memamerkannya padaku.” Gumamnya sambil menyentuh bibirnya yang masih basah.
“Lin Shi.” Ucapnya pelan. Namun seseorang dengan pakaian serba hitam segera datang dan menekuk kakinya memberi hormat.
“Saya yang mulia.”
“Cari tahu siapa yang memberi Han Aruna racun afrosidiak.”
“Siap laksanakan yang mulia.” Seseorang yang dipanggil Lin Shi itu segera bangkit dan pergi setelah memberi hormat. Melaksanakan tugasnya malam ini. Yah begitulah nasib para penjaga bayangan. Harus siap sedia kapanpun dan di manapun. Apapun tugas yang diberikan tuan mereka, tidak ada yang terlalu sulit untuk mereka lakukan.
Sementara itu, gadis yang baru saja merasakan nikmatnya berciuman dengan putra mahkota kini berguling-guling di atas ranjangnya. Kejadian beberapa saat lalu tidak bisa hilang dari pikirannya.
Setibanya ia di kamarnya tadi, ia kembali mandi dan membersihkan diri. Jujur saja, cairan yang keluar dari area bawahnya masih belum ia mengerti dengan jelas bagaimana bisa itu keluar dari tubuhnya. Yang jelas ada perasaan nikmat dan lega yang terasa.
Apalagi saat ia melihat sesuatu yang ditunjuk Shen Su Huan tadi pikirannya semakin kacau. Dia sudah mencoba untuk menghilangkannya dengan berbagai cara, namun sepertinya tanda merah gelap itu tidak akan hilang begitu saja. Aruna yang masihlah awam dalam hal itu tentu saja tidak tahu jika tanda itu hanya akan hilang setelah beberapa hari terlewati.
“Apakah dia vampir? Apa dia membuatnya dengan menggigit pundak ku?” tanyanya entah pada siapa saat ia tanpa sengaja kembali melihat tanda merah itu dari balik kain tipis baju tidurnya.
*
*
*
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Of Han Aruna_19☆~...
Terima kasih sudah mampir 😎
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke🤩
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
~Daf r r
oi ini pria bertopeng kemana
2023-07-18
1
Nanik Lestari
🤣🤣🤣
2023-04-01
0
Yoni Hartati
masih pw tdk haruna🤔🤔
2022-10-30
0