“Hai kalian menyingkirlah!” teriak sang kusir ketika melihat Aruna dan Ji Yan yang tetap berada di sisi sebelah kiri.
Karena kedua orang yang tidak mnyingkir, akhirnya dengan terpaksa sang kusir dengan tergesa-gesa membelokkan kemudinya pada kuda yang mengakibatkan goncangan besar pada kereta. Akibat kereta yang melaju dengan kencang dan berhenti mendadak.
“Hei kau mau mati ya!” teriak seorang wanita dengan keras dari dalam kereta.
“Maafkan saya Nona. Ada beberapa orang dengan kudanya yang tidak mau menyingkir.” Jawab sang kusir membela diri. Memang begitulah kenyataannya.
“Huh!” mendengus. Seorang wanita di dalam kereta mendengus dengan kencang sebelum menyibakkan tirai keretanya.
“Siapa yang berani menghalangi jalan nona ini?” seorang wanita berdiri dengan angkuh di samping kereta. Seorang gadis cantik dengan hanfu berwarna orange. Rambutnya yang panjang dibentuk sedemikian rupa dengan berbagai hiasan yang menancap disana.
Semua orang di kekaisaran tahu identitas gadis cantik itu. Terkecuali Aruna tentunya. Bagi Aruna tidak penting mengenal orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Gadis itu bernama Tang Lin Hua. Dia putri sah di kediaman perdana menteri Tang. Sifatnya sombong dan suka menindas masyarakat dengan kedudukan yang dimiliki keluarganya.” Bisik Ji Yan. Aruna mendengarkan setiap penjelasan yang diucapkan Ji Yan tentang gadis cantik di depan mereka.
“Sepertinya anda harus segera mencari kusir baru Nona Tang. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melewati jalan yang begitu lebar. Akan terjadi masalah jika suatu saat anda diharuskan melewati jalan yang sedikit sempit. Pasti anda tidak akan sampai di tujuan dengan keadaan yang baik dan tapat waktu.” Bukannya jawaban yang diberikan Aruna. Justru sebuah sindiran.
“Siapa kamu? Berani sekali menantangku? Kau tidak tahu siapa aku?” Lin Hua berkacak pinggang. Tangan kanannya mengibaskan kipas lipatnya dengan sombong.
“Tidak penting untuk mengenal anda Nona. Anda tidak ada artinya dalam hidup saya yang sangat sibuk. Permisi.” Aruna segera menjalankan kudanya kembali. Sungguh dia sudah membayangkan minuman dinginnya di depan mata.
“Pengawal! Tangkap mereka.” Teriak Lin Hua pada lima orang pengawal yang selalu mengikutinya.
Para pengawal itu mematuhi perintah atasannya. Menyerang Aruna dan kelompoknya dengan pedang yang mereka bawa. Namun di pihak Aruna hanya menanggapinya dengan santai. Aruna dan Ji Yan bahkan hanya menyaksikan pertarungan dari atas kuda mereka. Tiga orang yang mereka bawa saja sudah cukup untuk mengatasi lima pengawal milik Lin Hua dengan tangan kosong.
Dalam sekejap pertarungan selesai dengan kekalahan diderita oleh Lin Hua. Semua pengawal yang ia bawa tergeletak di tanah dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Pedang yang mereka gunakan bahkan sudah berserak di tanah.
“Hah. Cukup seru bukan Nona Tang. Beruntung teman-temanku hari ini. Kami baru saja gagal melatih otot kami yang sudah kaku akibat pertarungan yang tidak membutuhkan banyak gerakan. Dan sekarang, ini cukuplah sebagai latihan.”
“Sombong! Awas saja kau. Kalau aku sampai tahu siapa kamu aku pastikan keluargamu akan menerima hukuman atas kekurang ajaranmu itu.”
“Oh aku sampai lupa. Kita bahkan sudah berbicara banyak hal. Tapi aku lupa memperkenalkan diri. Aku akan dengan senang hati memberitahukan identitasku. Aku tidak yakin kalau orangmu mampu menemukanku setelah pertemuan ini.”
“Jangan banyak omong.”
“Oh hoho baiklah. Perkenalkan aku Aruna. Han Aruna. Salam kenal.”
“Kau...”
“Ya... aku Aruna. Aaah sudahlah. Aku sudah sangat merindukan minuman dinginku. Aku permisi dulu Nona Tang.”
Ketiga anak buah Aruna sudah berada di atas kuda. Mereka segera mengikuti Aruna yang sudah melajukan kudanya dengan kecepatan sedang.
Teriakan makian begitu banyak terdengar dari mulut gadis cantik yang pengawalnya baru saja dikalahkan. Namun orang yang diteriakinya justru mengulum senyum.
Hari ini ia tidak banyak melatih lidahnya untuk berbicara dengan tuan Gong. Tapi ia malah mendapatkan gantinya dengan lidah Nona Muda kediaman perdana Menteri Tang yang terkenal sombong. Ini latihan untuk mengasah ketajaman lidah yang baik.
Sedangkan Lin Hua. Gadis itu masih sibuk memarahi anak buahnya yang dinilai tidak becus. Segala umpatan, makian, hinaan dan ancaman ia tujukan pada lima orang yang bahkan berdiri saja hampir tidak mampu.
“Kamu sudah besar mei mei. Kamu tumbuh sangat dengan sangat baik. Tapi kamu jauh berbeda sekarang.” bathin seorang tuan muda tampan yang sejak tadi memperhatikan perdebatan menarik antara dua orang nona Muda dari dua kediaman yang kuat di kekaisaran.
Wajahnya sendu mengingat wajah yang sepuluh tahun tidak ia lihat namun masih bisa ia kenali dengan sangat baik.
“Bukankah Nona Han sangat menarik tuan Muda Jang?”
“Ya benar. Dia memang sangat menarik.” dia adalah adikku. Bagaimana aku tidak memperhatikannya. Meskipun wajahnya sudah berubah begitu banyak, namun ada sesuatu yang tidak bisa dibohongi. Lagipula cahaya mata dan senyumnya tidak pernah berubah sejak terakhir kali aku melihatnya. Namun, meskipun semua yang ada padanya berubah. Tentu aku tidak akan pernah tidak mengenali adikku sendiri. Darah yang mengalir pada tubuh kamu adalah darah yang sama. Itu tidak akan bisa dirubah dan diganti oleh siapapun di dunia ini. Lanjut Jang Hai Shan dalam hati.
“Ohoho. Apakah aku tidak salah mendengar? Tidak biasanya tuan muda Jang memperhatikan seorang gadis.” Tuan muda Nan Si terkekeh. Baru kali ini ia mendapati Jang Hao San memuji seorang gadis. Apakah matahari masih terbit dari timur?
Hari ini, beberapa tuan muda yang ada di kekaisaran mendapatkan tugas untuk mempelajari perekonomian di ibu kota kekaisaran. Bukankah sangat mujur bagi mereka mendapati adegan yang sangat menghibur?
“Aku tidak menyangka jika Nona Muda Pertama Tang ternyata memiliki perangai yang sangat kasar.” Ucap Jun Bei Zi. Tuan muda pertama dari kediaman menteri keuangan Jun.
“Anda benar. Padahal di istana kelembutanlah yang terdengar.” Nan Si mengusap dagunya.
“Itu hal yang sangat wajar bukan. Nona Tang adalah salah satu calon putri mahkota di masa depan. Tentu saja hanya akan ada citra baik yang ditunjukkan.”
“Aku rasa putra Mahkota bukanlah seorang yang buta maupun bodoh sehingga memilih wanita yang kasar seperti itu untuk menjadi ibu negara.” Kata Jang Hao Shan.
“Putra Mahkota adalah orang yang sangat bijak. Kabarnya Yang Mulia bersumpah bahwa Yang Mulia tidak akan pernah mengangkat selir nantinya dan Yang Mulia sendirilah yang akan menentukan siapa permaisuri yang akan mendampinginya.” Kata Jun Bei Zi.
“Tapi bagaimana itu mungkin. Kekaisaran ini memerlukan banyak dukungan di masa depan. Jika putra mahkota memiliki niat seperti itu, apakah ia layak menjadi kaisar di masa depan?” Nan Si adalah anak dari menteri hukum yang sangat mengerti peraturan dan kebiasaan yang ada di kekaisaran.
“Dukungan dari para selir itu sejatinya adalah untuk menguatkan posisi para pejabat di sisi kaisar. Bukan menyangkut berdirinya sebuah kekaisaran. Lagi pula sudah banyak cerita mengenai kerasnya kehidupan Harem di istana belakang. Jika dalam istana saja banyak terjadi permusuhan lalu dukungan seperti apa yang bisa membantu?”
“Tuan muda Jang memang benar. Sebenarnya berada di antara para selir di istana belakang jauh lebih menegangkan daripada berada di perbatasan.”
Meninggalkan para tuan muda yang masih sibuk membahas politik di istana, gadis yang menjadi awal mula pembicaraan mereka justru tengah asik meminum air kelapa yang dicampur dengan perasan jeruk nipis yang menyegarkan.
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Of Han Aruna_12☆~...
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
Jadilah pembaca budiman yang rajin kasih like vote dan hadiah untuk Author kayak akoh....😎
Hehehehe...😘
Just kidding, tapi beneran 🤔✌️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Meigha
es degan itu....🤤🤤
2023-01-29
0